
Raffa dan Kinan melihat Keken yang sedang cemberut dengan setumpuk berkas yang ada di hadapannya. Keken benar - benar kesal dengan pagi ini. Mami Imel yang biasanya selalu menuruti keinginannya kini berubah seperti harimau betina yang siap menerkam mangsanya. Sejak pagi Keken uring - uringan karena semua fasilitas dan kartu miliknya diambil paksa oleh mami Imelda.
"Mas Raffa ngeselin!, liat aku sekarang sudah miskin, nggak punya duit!" Keken menatap tidak suka pada Raffa
"Masa setiap hari cuma dapat dua ratus ribu dari Mami." gerutu Keken kembali, "Mana pacarku banyak, tidak bisa ajak mereka belanja."
"Kalau kamu mau uang, kamu harus kerja jangan cuma minta!" tegas Raffa, " Kerja yang rajin nanti dapat gaji."
"Aku sudah bekerja keras lho mas hari ini." seru Keken kembali
"Ehem.. Ehem.." Anthoni berdehem dengan keras, ia ingin muntah saat Keken berkata sudah bekerja keras. Sejak pagi, Antoni melihat Keken hanya bertelepon ria dengan beberapa pacarnya hingga Antoni merasa jengah.
"Mas Raffa...!!" teriak Fafa, ia mendengar kakaknya berkunjung untuk memeriksa perusahaan.
"Gara-gara mas Toing, semua kartu dan fasilitasku diambil mama Navysah!" seru Fafa dengan wajah cemberut. Namun Kinan langsung menjitak kepala Fafa.
"Masa aku diberi uang saku dua ratus ribu, mana pak Ari tidak boleh anterin aku lagi." gerutu Fafa, sejak pagi ia kehilangan isi dompetnya. Ia melihat hanya ada uang dua ratus ribu dan sebuah kartu tanda penduduk yang terselip di dompet. Dan ternyata ibunya sendiri yang mengambil secara diam-diam saat Fafa tertidur.
" Dua ratus ribu itu banyak, bisa beli nasi bungkus di depan kantor." Raffa menggulum senyum saat adik dan sepupunya merasa kebakaran jenggot karena tidak mempunyai banyak uang.
"Gara-gara Pangeran Modosa ini, gue ikutan miskin!" seru Fafa kembali.
"Kok gue sih yang disalahin!" Keken menendang pelan kaki Fafa, "Lu juga mau kan ikut ke club jangan salahin gue dong!" Keken tidak terima dengan ucapan Fafa.
"Terus siapa dong yang harus gue salahin, masa si Fifi?!" serunya, mendengar nama Fifi, Fafa langsung teringat dengan temannya. "Gue telepon Fifi dulu ah." ia menekan tombol telepon.
"Apaan..?!" tanya Khaffi diujung telepon.
"Bagi gue duit, kartu lu bawa sini. Gue dan Keken butuh uang banyak."
"Kagak ada!, semua kartuku disita mama Ifa. Sejak pagi gue dapet siraman rohani,pusing gue!"
Kinan menarik sudut bibirnya saat mendengar suara adiknya. Fafa sengaja meloud speaker agar mereka mendengar jawaban Khaffi. " Syukurin Khaffi, emang enak aku laporin. "gumam Kinan dalam hati. Kinan tidak ingin adiknya mengikuti jejak Keken yang suka celap celup anak gadis orang,Kinan takut Khaffi tergoda melakukan hal seperti yang dilakukan Keken.
"Sh"**! beneran kan kita semua miskin, mana temen nggak ada yang mau minjemin, pasti mereka sudah diancam Mami! " dengus Keken dengan kesal." Masa gue naik bajaj lagi, apa kata orang nantinya. "
" Terima saja nasib, kerja yang bener biar dapat uang banyak. "Kinan menyungingkan senyum.
" Kakak ipar yang cantik jelita tiada tara seperti hutan belantara, tolong berikan Fafa sedikit uang kalau bisa kartu kredit agar Fafa bisa kembali hidup normal dan bernafas dengan lega. "Fafa merayu Kinan dan menadahkan tangannya agar Kinan memberikan kartu kredit.
__ADS_1
" Kamu fikir aku hutan belantara, hutan angker gitu. "gerutu Kinan
" Nih! " Kinan membuka dompetnya dan memberikan sebuah hadiah kearah Fafa.
Fafa yang awalnya merasa senang karena Kinan akan memberinya uang, kini tertunduk lesu saat ia melihat apa yang berada di tangannya saat ini. "Ishhh..., dendam ceritanya!" desis Fafa, ia melihat sebuah alat kontr*sepsi yang pernah ia berikan pada Kinan disaat pernikahan. Ia membuang kearah muka Keken, "Buat lu Ken!"
Keken memungut hadiah itu dan melihat ternyata sebuah barang yang tidak asing baginya, " Lu ngambil perisai gue Fa!?, Ini senjata keamanan tingkat satu, tiada duanya,tanpa ini gue nggak bisa perang huhaaaahhh." desisnya
Antoni hanya bisa menghela nafas panjangnya, sejak pagi Keken masuk dan bertelepon ria hanya ada obrolan mesum yang selalu ia dengarkan. Menjengkelkan berada di antara duo sengkleh.
" Satu saja bikin pusing apalagi dua. "bisik Antoni di telinga Raffa," Nggak sekalian orang sekampung yang kerja disini, cari yang modelnya mirip mereka. "sindir Antoni," Lama-lama aku minum obat tekanan darah tinggi setiap hari. "dengusnya dengan kesal
Raffa terkekeh dengan ucapan Antoni, ini pertama kalinya seorang Antoni menggerutu masalah pekerjaan.
" Fa, lu beneran cuma dapat jatah dua ratus ribu sehari?" tanya Kinan
Fafa menganggukan kepala," Iya mba, tega banget ya mama sama aku, padahal aku kan sudah menjadi anak baik. " Fafa mendramatisir keadaan agar Kinan iba dengannya. Ia bergelayut di lengan Kinan dan merengek seperti anak kecil.
" Alhamdulillah." Kinan berucap syukur, "Baguslah, jadi kalian tidak kelayaban nggak jelas!"
"Apa yang kamu lakukan padaku itu, Jahaaaaattt...!!" Fafa memukul - pukul lengan Kinan dengan lembut seperti seorang wanita. "Jahat, jahat, jahat!"
"Ini untuk Keken." Kinan memberikan uang juga pada Keken.
"Itu modal awal untuk kalian, satu juta untuk satu minggu." sambung Kinan.
"What..!!" pekik Fafa dan Keken bersamaan, "Mana cukup mba!"
"Yasudah kalau tidak mau, balikin sini uangnya." Kinan menadahkan tangannya
"Uang yang sudah masuk ke saku Fafa
tidak boleh di ganggu gugat." ia segera memasukan ke kantong celana.
"Bener itu!, tidak boleh diambil lagi." timpal Keken, ia segera memasukan uang ke dalam saku kemejanya.
"Buaya-buaya apa yang bikin senyam - senyum sendirian? " tanya Fafa, ia mulai mencoba memberikan kuis dengan jawaban sesuka hatinya.
"Buaya buntung." jawab Kinan.
__ADS_1
"Salah!, yang bener itu buayangin kamu saat mandi. Eaa... eaaaaa." Fafa tersenyum penuh kemenangan.
" Ikan, ikan apa yang bikin cewek kesel? " tanya Keken, ia tersenyum kearah Kinan sembari menaik turunkan alisnya.
"Ikan apa ya." Kinan menggaruk kepalanya. Ia merasa bodoh karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari duo kentir. "Nggak tahu."
"Ih...kan kamu keluar duluan, aku belum puas tahu! " Keken berlagak seperti wanita manja dengan memukul lengan Fafa dengan gemas.
"Cuih!, Najis... najis.. najis!" Fafa menjambak Keken dengan kesal. Ia merengut dan pergi dari ruangan itu
Antoni dan Raffa hanya menatap jengah,jawaban Keken pasti tidak jauh dari wanita dan sel*ngkangan.
* **
Raffa mengajak Kinan dinner di sebuah restoran terbaik di Jakarta. Pemandangan indah terlihat dengan jelas, mereka bisa melihat cahaya dan keramaian Jakarta dari lantai atas. Kinan tidak menyangka Raffa akan membawanya ke restoran mahal dengan suasana romantis. Menikah dengan Raffa membuat dirinya sangat bahagia. Kinan diperlakukan seperti seorang ratu, apapun ia minta Raffa akan membelinya apalagi perhatian kecil yang selalu Raffa berikan, membuat dia menjadi seseorang yang berharga walaupun Raffa tidak pernah berkata romantis tetapi sikapnya selalu membuat Kinan jatuh cinta setiap hari.
"Ini sangat indah Raffa, terima kasih sudah memberiku surprise spesial ini." Kinan berkaca-kaca, ia sangat tulus mengatakannya.
"Aku senang kalau kamu suka." Raffa menatap Kinan dengan penuh cinta, ia mengenggam erat tangan Kinan dan menciumnya berkali-kali. "Terima kasih karena kamu sudah menungguku sepuluh tahun, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesetiaanmu Kinan." Raffa mengecup kening Kinan dengan lembut. "Maaf karena dulu aku sering menyakitimu."
Kinan menganggukan kepala, airmata lolos begitu saja mengingat dulu betapa sulitnya hubungan ia dengan Raffa, jarak dan waktu memisahkan segalanya hingga Kinan hampir menyerah dan selalu menangisi keadaan.
"Aku bahagia bisa menikah denganmu, Mas. Jangan pernah berpaling dariku, aku akan menunggumu pulang kembali."
" Aku akan pulang, kamu juga jaga kesehatan. Jangan bermain di belakangku."
" Aku maunya main di depan bukan di belakang hihihi. " ia menutup mulutnya, " Bagaimana aku bisa selingkuh kalau aku saja sudah cinta mati denganmu."
Raffa hanya tersenyum melihat Kinan yang selalu bergelayut di lengan kekarnya.
"Aku beri yang spesial malam ini, terakhir sebelum kamu berangkat." Kinan mengedipkan matanya, menggoda Raffa seolah hal wajib untuknya.
"Dasar Keken kedua." bisik Raffa di telinga Kinan.
" Enak aja! aku disamakan dengan Pangeran Modosa, Ogah!!" gerutu Kinan
Disaat mereka saling mengungkapkan isi hati dan tertawa lirih,Kinan melihat seseorang di seberang meja yang cukup jauh. Kinan merasa mengenalnya, mereka sedang saling menyuapi. Cahaya restoran yang temaram membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat jelas wajah orang tersebut.
" Itu seperti..?! " Kinan masih ragu untuk menyapa orang tersebut, namun tanpa diduga mereka melirik kearah Kinan.
__ADS_1
"Kurang ajar, gue di bohongin!" seru Kinan dengan geram.