
"Mas Raffa" suara si mungil membuyarkan imajinasi Kinan.
"Sini sayang" Raffa mendudukkan haha di pangkuan nya. " Haha, ngapain saja sama mama?" dirinya sengaja mengajak adiknya mengobrol agar terbiasa bicara.
"Haha menyanyi dan menari sama mama" ucapnya lembut.
"Nyanyi apa? " Raffa menyelipkan anak rambut ke belakang telinga adiknya.
"Nyanyi lagu anak-anak tadi nyanyi naik - naik ke puncak gunung, pelangi - pelangi, banyak lagi yang lain"
"Haha bisa nyanyinya?"
"Bisa, Haha bisa nyanyi sama joget" ucapnya.
"Lalu kenapa di sekolah haha pendiam, kenapa nggak mau ngomong? Apa ada yang jahatin haha" Raffa memberondong beberapa pertanyaan pada adiknya.
" Mereka menyebalkan, haha nggak suka mereka yang jahil, suka bicara yang tidak penting, mereka bicara bukan tentang pelajaran mas. Mereka selalu bilang haha bisu karena haha nggak suka ngomong "
"Nanti kalau mereka jahil bilang sama bu guru ya, jauhi mereka tidak usah dibalas"
Dan mendapatkan anggukan dari adiknya.
"Anak pintar" Raffa mencium pipi adiknya. Kinan merasa terkesan dengan sikap Raffa pada adiknya, tenang, bijaksana, selalu menyayangi adik-adiknya.
"Mas, katanya mau cari jajan. Haha mau ikut" pintanya
"Oh iya mas lupa, tapi ada syaratnya kalau mau ikut"
"Apa?"
"Haha mulai sekarang harus berteman dengan teman lainnya, jangan diam saja. Cobalah untuk bertanya dan menyapa teman duluan. Jangan cuma mengangguk dan menggelengkan kepala. Mas tahu, haha sangat pintar dalam pelajaran tapi kita harus bersosialisasi dengan teman lainnya dek. Haha mengerti? " Dan dijawab dengan anggukan kepala.
" Haha mengerti?! " tegasnya, Raffa mengulang kembali pertanyaan yang sama.
" Mengerti "
" Nah gitu dong, harus dijawab bukan mengangguk dan menggelengkan kepala. Oke princess Inha yang paling cantik " Raffa memeluk adiknya dengan erat dan terdengar suara cempreng dan cerewet dari luar kamar.
" Kaka yang paling cantik bukan haha!" salaknya. Dirinya segera memeluk kakaknya dengan erat juga.
__ADS_1
" Iya kaka juga cantik" Raffa memeluk kedua adik kembarnya.
"Pokoknya cuma princess Inka yang paling cantik, yang kedua Inha" dirinya merasa iri melihat haha yang dipeluk mas Raffa sedari tadi.
"Tapi haha pintar juara satu" si mungil tak mau kalah dengan kembaranya.
"Tapi kaka juga juara dua, kaka yang paling ceria, cantik, suka menolong, dan... Dan apa ya?" dirinya bingung sembari menggaruk kepalanya.
"Dan cerewet, bawel, berisik, cempreng" Haha menimpali ucapan saudara kembarnya. Terdengar Raffa, Kinan tertawa lepas dan haha hanya tersenyum kikuk.
"Kamu itu ngeselin, kalau dirumah mau bicara tapi disekolah diam terus. Cerewet kenapa sih ha, biar mereka nggak menganggap kamu itu bisu"
Haha hanya menundukkan kepalanya,mendengar omelan kaka.
"Sudahlah jangan bertengkar, ayo kita motor - motoran cari jajanan"
"Asyik" ucap mereka bersamaan.
* * *
Mereka ber empat berkeliling komplek perumahan, si kembar terlihat senang bisa keluar rumah karena selama ini mereka jarang bermain di luar, teman mereka pun yang selalu datang ke rumah. Mereka menuju lapangan bola untuk melihat Fafa dan Keken yang sedang bermain bola namun ternyata permainan telah selesai. Mereka langsung memesan somay dan es kelapa yang mangkal di dekat lapangan.
"Kamu nggak dikasih uang sama mama? Yaudah minta saja sama abang somay nanti mas yang bayar. Keken mau beli apa ngomong saja nanti mas yang bayar"
Fafa menggelengkan kepalanya"Sudah dikasih mama seratus ribu tapi kurang"
Raffa mengenyitkan dahinya, uang jajan seratus ribu bisa kurang padahal adiknya cuma bermain bola tak jauh dari rumahnya dan hanya sekitar tiga jam dia keluar rumah. "Kok bisa kurang?" tanyanya.
"Buat traktir makan bakso tim bola lagi mas" ucap Keken cepat. "Kata Fafa, si abang bakso tinggal minta ke mama Navysah bilang saja Fafa gitu nanti dibayar"
Raffa mendelik ke arah adiknya yang sedang cengar cengir dan menggaruk kepalanya. "Fafa, kebiasaan kamu ya. Mau berapa banyak abang - abang lagi yang antri ke rumah karena tagihanmu itu" ucapnya dengan kesal. Dirinya mengingat sudah beberapa kali para pedagang yang meminta tagihan ke rumah karena Fafa sering mentraktir teman - temanya.
"Kan kata mama Navy kita harus berbagi dengan yang lainnya, kasihan mereka kelaparan habis olahraga. Mereka kan dari kampung sebelah, mana nggak punya uang buat jajan. Sedangkan uang Ayah banyak.Tinggal bilang saja rumah pak Davian Ahmad, tagihan kesana" ucapnya dengan terkekeh tanpa dosa. Satu kata yang ampuh untuk membayar semuanya, rumah Davian Ahmad siapa yang tidak tahu.Dan semuanya akan beres dengan tagihan yang akan dibayar oleh ibunya.
"Jangan bilang sepeda kamu dianterin lagi sama pak Husni security kompleks" Raffa mengerti kebiasaan buruk adiknya yang selalu teledor dan ceroboh. Ia selalu meletakkan sepeda dengan sembarangan di kompleks perumahan dan pastinya sepeda akan diantar pak security ke rumah mereka.
"Nih mas, tugas security apa? Pasti menjaga keamanan kan" dirinya bertanya dan menjawab dengan sendirinya. Kalau Fafa bebas menaruh sepeda dimana pun dan sudah pasti pak Husni akan mengantarkan sepedanya kerumah, kan sepeda Fafa sudah ada tandanya di bagian frame ada tulisan K Ahmad alias Khaffa Ahmad,aku pintar kan.Tadi pak Husni sudah Fafa teraktir makan baso, kita kan CS. Hehehe "
Raffa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya yang satu ini, sejak kecil Fafa selalu membuat rusuh, otaknya sedikit tidak beres alias absurd.
__ADS_1
" Mana uangnya buat bayar abang baso? " pintanya lagi
" Berapa? "
" Lima ratus ribu "ucapnya
Raffa menghela nafasnya" Minta saja sama mama biar sekalian kamu dapat tausiah dua jam agar pikiranmu kembali lurus. Mas nggak bawa uang sebanyak itu"
" Memangnya pikiran Fafa bengkok kayak sendok, hehehe, Ea.. Ea.. Ea.. " ucapnya sembari cengengesan dan pecicilan.
Setelah menyantap somay dan minumannya mereka berkeliling lagi, Inka yang doyan jajan meminta berhenti di warung es cappucino dan kue pukis kesukaannya, setelah mendapatkan apa yang diinginkan si kembar mereka pulang ke rumah dan benar saja mama Navysah sedang mengomel ke Fafa karena dia pulang membawa seekor anak kucing anggora.
"Fafa, mama nggak suka kamu bawa hewan kerumah ini. Kasihan dia Nak" Navysah melihat seekor anak kucing berwarna coklat dengan campuran warna putih di atas kepalanya.
"Ini dari si Makaroni bantet mah, lucu kan. Hai mama Navysah, kenalin aku Leon. Jangan usir aku ya mah, tolong rawat aku, meong meong meong." dirinya bersuara seperti anak kucing.
Navysah menahan tawanya,anak yang satu ini ada saja idenya untuk merayu dan meluluhkan dirinya. "Siapa Makaroni bantet?" tanyanya penasaran.
" Si Aziz Anaknya Om Reza, rumahnya di blok G. Anaknya pendek dan gemuk makanya dijuluki Makaroni bantet sama teman - teman. Dia ngasih Leon sebagai ucapan terima kasih karena Fafa suka mentraktir dia. Rejeki anak sholeh" ujarnya.
"Anak Sholeh dari mana?" ucap Raffa dengan cepat. " Kalau disuruh ngaji banyak alasan " dirinya berlalu dan naik ke lantai dua. Sang adik langsung cemberut mendengar ucapan kakaknya.
Navysah tahu Fafa sering mentraktir teman - temanya hingga beberapa kali dirinya harus membayar tagihan si anak absurd itu. Namun disisi lain Fafa lebih banyak temannya daripada Alif yang pendiam dan jarang keluar rumah. Kalau Fafa sering bermain di luar hingga kulitnya sedikit gelap dari Alif. Pulang dalam keadaan dekil dan kotor sudah biasa bagi Fafa. Dan dia tidak takut kelaparan di luar karena teman mereka pun selalu bergantian memberinya makanan.
"Jangan panggil Makaroni bantet lagi, nggak boleh Fa. Dia punya nama yang bagus. Mengerti Nak"
"Iya mah" dirinya menganggukan kepalanya. "Tapi bolehkan pelihara si Leon ini" dirinya menunjuk ke arah kucing itu.
"Nggak boleh, kasihan ntar mati lagi" Navysah mengingat betapa absurd nya kelakuan si kembar Fafa dan Alif dari kecil. Setiap hewan yang datang ke rumah pasti bernyawa pendek.
"Nggak mah kali ini Fafa janji nggak buat kucing ini meninggal" dirinya mengiba agar ibunya mau mengizinkan.
Belum sempat Navysah mengiyakan permintaan anaknya, terdengar suara dari arah depan. "Assalamualaikum"
" Walaikumm salam"
Bersambung...
* ** Jangan lupa like, Vote and comment. Thanks you😘😘😘
__ADS_1