
Tiga hari kemudian,
Antoni datang ke perusahaan atas permintaan Rio, ia membawa dua orang temannya untuk membantu menyelesaikan masalah yang terjadi di Hara.
Hanin selalu melirik wajah Antoni yang begitu tampan menurutnya, kulit kuning langsat dengan warna rambut sedikit coklat. Tubuhnya tidak terlalu berisi dan memiliki sorot mata yang tajam.
"Apa kau tidak punya kerjaan, hingga selalu menatapku?" tanya Antoni tanpa melihat kearah Hanin. Ia masih berkutat dengan laptop dan jarinya dengan sangat terampil mengetik tuts komputer.
Hanin merasa malu karena ketahuan melirik Antoni, ia menundukan kepala dan pergi ke ruangannya.
" Gimana bro, butuh berapa lama untuk mengurus semua ini?" tanya Rio, ia melihat Antoni yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Aku butuh dua hari untuk mengurus semua ini, ini tidak mudah Yo.Aku akan menambahkan beberapa mini camera dan menguatkan sistem keamanan di kantor ini."
"Oke, kalau lu butuh apa - apa telepon gue aja."
"Gue cuma butuh ketenangan, jangan ada orang yang masuk ke ruangan ini terutama gadis itu!" pinta Antoni,
"Gadis!?, yang mana?" tanya Rio, ia merasa bingung gadis mana yang Antoni maksud karena sejak awal ada beberapa karyawan yang hilir mudik
"Si baju biru."
"Oh, si Hanin.Yasudah nanti gue bilang dia,gue tinggal dulu bro."
* **
Fafa merasa kesal karena Antoni pamit dua hari untuk mengurus masalah di Hara. Ia merasa beban kerjanya semakin bertambah saat Antoni tidak berada di kantor, sedangkan Keken masih seperti biasanya, dia selalu mengekor apa Fafa lakukan dan sibuk dengan handphonenya.
" Ken, kamu stay disini saja. Nanti siang rapat, ini filenya sudah aku kerjakan." Fafa menyodorkan sebuah USB pada Keken
"Biasanya kamu yang rapat, kenapa sekarang harus aku." cebik Keken, ia masih memandang foto pacarnya di layar handphone.
"Aku mau ke kota B, lihat progres pembangunan disana.Kemungkinan, aku langsung pulang mau kencan sama Rena. Bye.. Bye.. Keken." Fafa menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi meninggalkan kantornya.
***
Hanin pulang malam dari kantornya, ia merasa kelelahan karena harus membuat program dan mendesain game terbaru dari Hara. Disaat ia akan masuk ke dalam mobilnya, Hanin mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya.
"Hanin...!!" seru seorang wanita, ia mendekat kearahnya.
__ADS_1
"Oh, mmm... Kamu kan sepupu Adit kan ya!?" Hanin mencoba mengingat gadis itu yang pernah dilihatnya tiga hari lalu.
"Bisa kita bicara." pintanya dengan wajah memelas.
~Song Hang Cafe ~
"Maaf..." lirih gadis itu, ia menundukan kepala.
"Untuk apa kamu meminta maaf Ra?" Hanin masih dengan senyuman manisnya. Ia menyeruput secangkir kopi moccacino hangat
" Hanin, mmm... aku bukan sepupu Adit. Aku pacar Adit dan sekarang aku hamil,hiks.. hiks.. hiks.." ia menangis menutup wajahnya dengan tangan.
Bagai disambar petir di siang bolong saat mendengarnya. Hamin melolong tidak percaya.
"Prang!" Hanin menjatuhkan cangkir kopi hingga tumpah dan berserakan di atas lantai. Beberapa orang melirik kearah Hanin dengan tatapan menyelidik.
"Kau jangan bercanda, ini tidak lucu Ra!? Bagaimana mungkin Adit seperti itu." sergahnya, Hanin masih tidak percaya dengan ucapan Rara yang diakui Adit hanya sebagai sepupunya.
"Aku tidak bohong Nin, Aku hamil anak Adit, tetapi dia tidak mau bertanggung jawab. Dia ingin aku menggugurkan anak ini dan lebih memilihmu. Sejak tiga hari yang lalu, aku selalu menunggumu di basement tapi kamu selalu pulang dengannya. Adit selalu mengancamku agar tidak menemuimu. "
" Tidak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin, kamu bohong kan! "sentak Hanin, Ia masih terus menyangkal bahwa Adit pria yang baik.
Hanin berkaca-kaca, ia mencoba untuk tidak menangis dengan kenyataan pahit ini. Tangannya mulai gemetar hingga ia harus menyembunyikan di bawah meja. Hatinya begitu sakit dan nyeri saat mengetahui kebenaran bahwa pacarnya kini menghamili gadis lain.
"Aku tidak ingin menggugurkan anakku." lirih Rara, " Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa Adit tidak sebaik yang kamu fikir."
"Bagaimana aku bisa yakin kalau Adit bukanlah pria baik, karena selama ini dia selalu baik padaku."
"Datanglah ke DF club, kamu akan tahu Adit yang sebenarnya.Aku pergi dulu, permisi."
Hanin berurai airmata setelah Rara pergi darinya. Ia mencoba menguatkan hati bahwa semuanya hanyalah mimpi.
***
Di apartemen Rena,
"Mmmpphhh... Fafa.." lirih Rena, nafasnya mulai memburu saat pacarnya menciumnya secara brutal.Tangan Fafa mulai menjalar kearah dada dan meremasnya dengan lembut.
Rena yang berada di pangkuan Fafa kini mulai bergelinjang saat Fafa menyesap area lehernya dan memberikan tanda kepemilikannya.
__ADS_1
"Rena... kau memang selalu membuatku terlena." bisik Fafa dengan suara seraknya, matanya terlihat jelas penuh dengan gairah dan ingin segera melahap hidangan yang sangat menggoda imannya.
"Aku akan selalu membuatmu mabuk kepayang, kamu milikku sayang." Rena mulai mencium rakus bibir Raffa dan membuka kemejanya. Tubuh Fafa yang kekar dan putih terlihat sangat menarik bagi siapapun wanita yang melihatnya.
"Lakukan untukku Fa." bisiknya dengan suara sensual.
Fafa mulai hilang kendali saat Rena menyentuh bagian sensitifnya, ia meremas milik Fafa dengan lembut.
"Jangan Ren..., hentikan." Namun, ia masih menikmati setiap sentuhan Rena.
Rena yang sudah setengah tel*anjang dengan beraninya membuka pengait bra, ia memperlihatkan b*ah dadanya yang terlihat sangat menantang.
"Glek." Fafa menelan salivanya. Pemandangan di depan matanya begitu sangat menggoda dan ingin rasanya ia melahap dengan cepat.
"Kau milikku selamanya." Rena menyunggingkan senyum, ia mempercepat gerakan tangannya yang sudah menyulusup ke ****** ***** Fafa. Ia pun menekan tengkuk leher Fafa agar meny*sap buah dadanya.
"Ishhh.. Ren.. Rena.... aaa..." Fafa mulai berdesis dan merasakan sensasi luar biasa karena ulah Rena. Tangannya tanpa sadar mulai menjelajah ke area bawah Rena dan bermain disana.
"Ahhhh... Fafa...terus sayang... Ah..." desis Rena.
"Fafa, sayangku...Ahhhhhh... !! " Rena meledakan dirinya ke nirwana.
"Renaaaa...!! " suaranya terpekik bersamaan dengan pelepasannya, Rena yang begitu lihai membuat Fafa tidak berdaya.
"Cukup permainan kita untuk hari ini sayang." bisik Rena di telinga Fafa
"Aku yakin, kamu akan bertekuk lutut setelah ini. Dan kamu akan menikahiku dengan segera. Aku akan menjadi istrimu dan menguras habis semua tabunganmu Fa, dengan begitu ibuku tidak perlu lagi merengek meminta uang padaku karena saldoku tidak akan pernah habis ." gumam Rena dalam hati.
" Kamu luar biasa sayang" lirih Fafa sembari mencium pipi Rena, " Kamu sabar ya, kita akan menikah dan aku akan menjadi milikmu selamanya."
"Iya sayang."
"Sayang, berikan aku uang, aku ingin belanja." pinta Rena dengan manja.
"Apa sih yang nggak buat kamu sayang." Fafa memberikan sebuah kartu kredit pada Rena.
"Makasih sayang..."
Fafa masih selalu tersenyum saat mengingat kejadian yang baru saja mereka lakukan. Mereka memang tidak melakukan penyatuan namun adegan panas yang baru saja selesai selalu membuat Fafa terniang-niang dengan wajah Rena dan membuatnya ingin lagi dan lagi.
__ADS_1
"Aku akan bicara pada mama, aku akan segera menikahi Rena secepatnya." gumam Fafa, ia masih dengan senyum lebarnya