
Fafa dan Hanin akhirnya ke rumah keluarga Davian. Navysah menyuruh mereka untuk tinggal selama satu minggu disana, namun Fafa menolak. Ia beralasan ingin tinggal di apartemen agar lebih saling mengenal dan quality time bersama Hanin.
Akhirnya Navysah mengiyakan permintaan mereka dan hanya dua hari mereka harus tinggal di rumah keluarga Davian.
Hanin sebenarnya tidak mau untuk tinggal di rumah mertuanya, namun Fafa memintanya agar mama Navysah bahagia bisa melihat anaknya berkumpul bersama Hanin di rumah.
"Besok jangan kerja dulu ya Nin, bantuin mama di rumah." ujarnya Navysah di sela-sela makan malam keluarga.
"Memang ada acara apa mah?" Hanin mengenyitkan dahinya
"Mama ajarin kamu masak makanan kesukaan Fafa, biar dia betah di rumah."
"Nggak usah mah! Percuma ngajarin Hanin masak, dia tidak suka di dapur." sela Fafa pada ibunya, " Buang waktu kalau ngajarin dia mah! "
Hanin menginjak kaki Fafa karena kesal, harga dirinya seolah dinjak oleh suaminya sendiri.
"Besok, ajarin Hanin masak mah. Aku mau masak yang enak." sahut Hanin
"Yakin!?" ejek Fafa dengan senyum mengejek
"Yakinlah." kekeh Hanin dengan tegas.
" Ya sudah besok kita masak coto makassar kesukaan Fafa."
* **
Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, Hanin kini tiduran di kamar Fafa sembari memainkan laptopnya.
"Nin, gue pergi bentar ya." Fafa mengambil kunci mobilnya dan pamit dengan Hanin
"Kemana?"
"Mmm... ke rumah teman." Fafa menggaruk tengkuknya dan merasa kikuk karena berbohong.
"Bilang saja mau ketemu pacar lu."
"Iya deh, gue ngaku. Gue mau ketemu Rena. Nanti kalau mama atau yang lain tanya bilang saja aku pergi ke rumah Keken."
"Hmm..." Hanin menggerakan tangannya seolah mengusir Fafa dari kamar yang ia tempati.
" Dih! Si Janin ngusir gue, perlu lu tahu ya Nin, Ini kamar gue, lu nggak boleh berisik dan banyak tingkah. Kalau lu nggak mau tidur sama gue, lu bisa tidur di sofa itu! " Fafa menunjuk sofa miliknya.
"Aku nggak mau tidur di sofa, yang ada pegel badanku!"
"Terserah lu, bye.. bye Janin." dengan usilnya Fafa menjitak kepala Hanin.
"Fafa...!!! beraninya kamu jitak aku ya." teriak Hanin dengan keras. Dan Fafa hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya.
* **
Kini Fafa pergi ke apartemen Rena, ia begitu rindu karena sudah beberapa hari tidak melihat wajah kekasihnya itu.
Rena begitu semangat karena hari ini ia bisa bertemu dengan Fafa, lebih tepatnya bertemu pria bodohnya yang kaya. Rena memasang senyum termanis dan memakai gaun sexy agar Fafa tergoda dengannya.
"Fafa, aku merindukanmu." Rena memeluk erat tubuh Fafa, ia langsung mencium bibir Fafa dengan brutal
__ADS_1
Nafasnya mulai memburu dan ingin rasanya Rena menyerahkan dirinya di ranjang.
"Sentuh aku Fa." lirihnya dengan mata memelas
"Kamu masih milikku kan?" sambungnya lagi.
Fafa hanya menundukan kepala, ada perasaan bersalah pada dirinya karena sudah menikahi wanita lain dan ia masih saja berhubungan dengan Rena yang notabene bukan wanita halalnya.
"Rena, aku sudah menikah. Maaf."ucap Fafa dengan rasa menyesal
" Aku tahu, aku melihatnya saat pergi ke rumah wanita itu. Dan aku tidak diizinkan masuk oleh pengawal sialan itu! " geram Rena
" Jadi kamu datang saat pernikahanku!? " Fafa membelalakan matanya
" Aku datang karena aku begitu merindukanmu, ternyata kamu jahat karena membohongiku dan menikah dengan gadis lain. Kamu anggap aku apa! " Rena pura-pura menangis sembari memukul lengan Fafa bertubi-tubi.
" Maaf, semuanya aku lakukan demi ibuku." Fafa menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Rena, tentang kejadian malam itu hingga dirinya harus menikah dengan Hanin.
" Jadi kamu hanya menikah sementara dengan dia? Apa kamu ada perasaan cinta dengan gadis itu? jawab pertanyaanku dengan jujur Fa! "
" Ini hanya pernikahan simbiosis mutualisme dan aku sama sekali tidak ada perasaan dengannya. Mana mungkin aku suka dengan gadis cerewet itu. Kamu tenang saja, setelah dia meminta cerai, kita bisa menikah. " Fafa mengelus rambut Rena dengan lembut, tak lupa ia mencium keningnya kembali.
" Tapi kamu jahat Fa, aku dijadikan yang kedua. " Rena mulai duduk di pangkuan Fafa dengan santainya.
" Tenanglah sayang, kamu tetap satu-satunya. Sabar ya sayang. "
" Apa kamu tidak kangen dengan ini." Rena menuntun tangan Fafa kearah buah dadanya. "Ini kan kesukaanmu, sayang."
Fafa menelan salivanya, ingin sekali ia mereguk sesuatu yang sangat ia inginkan. Namun pesan dari ibunya selalu terniang di telinganya.
" Berjanjilah untuk menyayangi Hanin, tidak ada wanita lain selain Hanin, jangan menyakitinya sayang. Kamu harus sabar, menjalani rumah tangga dengannya walaupun ini tidak mudah. "
Fafa mengusap wajahnya dengan kasar, ia mencoba menahan hasratnya untuk tidak melakukan kegiatan yang menyenangkan untuknya.
" Aku pergi dulu, ini sudah malam. " Fafa menarik tangannya dan menurunkan Rena dari pangkuannya.
" Tapi sayang, kamu biasanya menginap disini dan tidur denganku. Aku ingin kamu peluk."
"Tidak bisa sayang, hari ini kami menginap di rumah mama. Kalau mama tahu aku tidak pulang dan ternyata dia tahu kalau aku disini bisa gawat, auto siraman rohani tiga jam tanpa henti."
"Ya sudah, tapi aku minta uang ada kan ya!?" Rena menadahkan tangannya.
Fafa membuka dompetnya dan memberikan semua uang yang ada di dompetnya,"Ambilah, belanja kali ini harus irit ya karena uangku sudah masuk ke perusahaan Hara."
" Kamu miskin sekarang sayang?!" tanya Rena penasaran,ia tidak ingin Fafa membatasi keuangannya. Rena sangat suka belanja dan menghamburkan uang Fafa dengan mudah.
"Aku tidak miskin, aku hanya berhemat. Aku tidak mungkin minta sama mama yang ada pasti dia akan curiga kenapa uangku habis. Dalam bulan ini aku akan sibuk dengan perusahaan dan mengambil job iklan lagi. Kamu sabar ya." Fafa mengecup dahi Rena kembali.
Rena hanya menganggukan kepala dan mengizinkan Fafa pulang dari apartemennya.
* **
Fafa pulang lewat tengah malam setelah mampir ke apartemen Keken, ia sengaja melakukannya agar Hanin tertidur terlebih dahulu hingga ia tidak mendengar suara cempreng istrinya. Saat Fafa mengendap-endap di ruang tamu yang sudah gelap ternyata ibunya masih terjaga menunggu dirinya pulang.
" Bagus, nggak usah pulang sekalian sampai pagi! " sembur Navysah, ia begitu gemas melihat anaknya pergi main tanpa mengajak istrinya.
__ADS_1
"Kumpul sama Keken mah." jawab Fafa
"Beneran sama Keken, bukan wanita itu?" Navysah begitu malas menyebut nama pacar Fafa yang sexy dan manja itu.
"Tidak mah, beneran sumprit eh sumpah."
"Mama percaya kamu, tapi ingat jika mama tahu kamu menyakiti Hanin sampai membuatnya menangis,lihat saja mama bawa Hanin pergi dari kamu." ancamnya
"Mama tenang saja, sih!
" Iya, mama akan tenang karena anak mama pria baik dan penyayang. Kamu harus tahu Fa, apa yang kamu lakukan bisa berakibat fatal. Bagaimana jika si princess kembar menikah dan punya suami selingkuh, apa kamu tidak marah?"
" Marah lah, Fafa hajar pria itu yang berani mempermainkan hati adik Fafa! "ancamnya," Fafa tidak rela adik Fafa diselingkuhi! "
" Seperti itu juga perasaan orangtua Hanin, mereka menitipkan anaknya padamu sayang. Mereka berharap kamu akan membahagiakan putri kesayangan mereka, jadi jangan sampai kamu menyakiti Hanin."
Fafa menelan salivanya, ibunya begitu pintar membuat dirinya tidak berkutik. Dan tanpa sadar, hati Fafa begitu nyeri karena perbuatan yang baru saja ia lakukan bersama pacarnya.
" Fafa masuk dulu mah. "
" Iya sayang, jangan lupa buatkan mama cucu selusin hihihi." Navysah terkekeh dengan ucapannya
"Mama kira Hanin produksi donat minta selusin." gerutu Fafa dengan mengerucutkan bibirnya.
Fafa masuk ke dalam kamarnya yang kini temaram. Dan terlihat Hanin sudah tertidur dengan pulas dengan memeluk guling yang menjadi penyekat di bagian tengah ranjang. Fafa hanya tersenyum saat melihat baju tidur Hanin yang menurutnya lucu. Hanin memakai baju tidur dengan motif spongebob berwarna kuning. Benar - benar terlihat seperti anak yang kecil. Terlihat sangat imut dan mungil.
"Sesuai dengan dia, motif kartun dengan suara cemprengnya sama seperti saat dia mengomeliku." dengus Fafa dengan kesal.
Fafa membuka kaosnya, ia suka bertelanjang dada saat tidur. Ia menendang kaki Hanin agar menjauh dari guling miliknya.
"Dasar si bawel." Fafa menjitak pelan kepala Hanin, entah kenapa ia suka berbuat usil pada Hanin.
Hanin yang merasa ranjangnya bergerak kini mulai terbangun. "Kau sudah pulang." lirihnya dengan suara serak.
"Hmm... tidurlah tapi jangan memelukku. Aku ogah dipeluk dada rata, nggak ada isinya." ejek Fafa
Hanin menggerutu dan sengaja menendang kaki Fafa dengan kesal. Mereka saling menindihkan kaki dan saling mengunci.
"Apaan sih Nin, rese banget!" Fafa kini duduk di ranjangnya. Ia sangat mengantuk namun Hanin kembali berbuat ulah.
"Kan kamu dulu yang mulai!" seru Hanin
"Ya ampun mau tidur aja ribut, sih! Apa-apa serba ribut."
"Makanya kamu jangan menarik guling ini. Biarkan dia di tengah dan jangan coba - coba menyentuhku." tegas Hanin, namun matanya melirik kearah dada Fafa yang sixpack dan berotot besar.
"Siapa juga yang mau denganmu!" seru Fafa
"Nggak usah ngiler!" sambung Fafa kembali, ia meraup wajah Hanin dengan cepat
" Apaan sih! " Hanin begitu malu karena ketahuan menatap tubuh Fafa tanpa berkedip, ia memunggungi Fafa dengan cepat.
" Norak! Kayak nggak pernah lihat tubuh pria sexy! " Fafa membalikan tubuhnya.
" Berisik! Lebih bagus badan kak Raffa daripada kamu tahu! "
__ADS_1
Namun Fafa tidak menanggapi ucapan Hanin karena dirinya begitu mengantuk.