
Kinan sangat cemas karena sudah enam bulan menikah dengan Raffa, ia belum kunjung hamil. Kinan selalu sedih saat tamu bulanan datang. Ia sangat berharap bisa segera mendapatkan momongan.
"Mas, kok aku belum hamil ya. Apa kita harus program hamil?" tanyanya di sela-sela sarapan
" Tidak perlu sayang, kita nikmati dulu masa pacaran kita. Kalau belum hamil ya tidak masalah, kan baru enam bulan."
"Iya, tapi aku ingin segera memiliki momongan. Aku ingin punya anak darimu mas"
" Percayalah , Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Kalau saat ini belum berhasil, kita coba terus. Toh, enak juga kalau bikin." Fafa menggulum senyum.
Kinan merona saat Raffa menggodanya.
"Iya, tapi aku ingin cepat hamil mas."
"Ya sudah kamu cek kesehatan reproduksi dulu ke dokter kandungan, nanti baru aku cek kesehatan."
"Iya mas."
" Oh iya, besok Jihan ingin bertemu denganku di kantor. Kamu jangan cemburu ya."
"Ada acara apa? Tumben Jihan ke kantor." Kinan sedikit cemburu saat suaminya membicarakan nama Jihan.
"Hanya main, kantor dia kan dekat dari Hara."
"Tapi kamu jangan macem- macem ya mas, awas saja kalau ketahuan selingkuh." ancam Kinan
"Bagaimana aku bisa selingkuh, kalau istriku cantik dan setia padaku." Raffa tersenyum melihat istrinya yang kini cemberut. Kinan tidak pernah berubah, ia sangat takut kalau Raffa bersama wanita lain.
"Iya mas, aku percaya padamu. Oh iya, hari ini pulang telat, ada operasi hernia yang harus aku tangani. Kamu tidak perlu menjemputku hari ini."
"Oke, istriku."
* **
Di dalam sebuah apartemen, sepasang suami istri masih bergelut diatas ranjangnya. Peluh dan keringat membasahi seluruh tubuhnya dan dengan ritme cepat Fafa memacu tubuh istrinya hingga berkali-kali hingga mengeluarkan pelepasannya.
"Aku capek banget A." Hanin mencoba mengatur nafasnya yang masih tersengal. Tubuhnya terasa remuk dan lengket karena Fafa menghukumnya berkali-kali.
Fafa mengecup kening istrinya dan berbaring di sisi istrinya.
"Iya sayang, ini sudah selesai tapi nanti malam nambah lagi." ucap Fafa dengan mata yang masih tertutup. Ia memeluk Hanin begitu erat
Hanin mencubit lengan suaminya dengan kesal. Mereka tertidur dengan tubuh yang masih polos hingga sore hari.
__ADS_1
Sore hari,
Fafa ingin mengajak Hanin untuk pergi ke pantai. Ia ingin melihat sunset dengan suasana romantis dan sedikit memberi kejutan untuk istrinya. Fafa telah menyiapkan dinner romantis di sebuah Cafe khusus untuk istrinya.
Hanin begitu bersemangat karena hari ini Fafa mengajaknya jalan-jalan.
"Ayo..., kita jalan A." Hanin membawa handbagnya dan tersenyum manis
Namun belum sempat mereka keluar, pintu apartemen berbunyi begitu keras.
Fafa membuka apartemennya dan terkejut melihat Rena datang dan memeluknya dengan erat. Rena menangis di pelukannya.
" Fa, maafkan aku Fa. Aku tahu aku salah, maafkan aku." ucapnya dengan menghiba
Hanin yang melihat suaminya di peluk wanita lain begitu kesal. Ia melepaskan pelukan Rena dari tubuh suaminya.
"Jangan peluk suamiku!" sentaknya, "Apa kau tidak punya malu datang ke apartemen suami orang." bentaknya dengan keras
" Aku ingin kembali pada Fafa, aku pacarnya.Dan hanya dia yang aku mau."
" Apa kau tidak malu mengemis cinta pada suamiku!" Hanin menarik tubuh suaminya agar berada di belakangnya. Ia tidak suka suaminya berdekatan dengan Rena.
Fafa hanya tersenyum melihat istrinya begitu galak melawan mantan pacarnya, Hanin benar-benar seperti singa betina yang ingin menerkam mangsanya.
"Fafa, kau maukan kembali padaku?" tanya Rena, ia mencoba meraih tangan Fafa namun Hanin menyentakan tangannya.
"Aku mencintaimu Fafa, sungguh." ucapnya dengan memelas, ia berharap mendapatkan satu kesempatan lagi bisa kembali pada Fafa.
"Aku sudah menikah, lebih baik kamu pulang."
"Apa kau mencintai istrimu?" tanya Rena
Fafa terdiam sesaat dengan pertanyaan Rena, ia melirik ke arah Hanin yang sedang menatapnya dengan tatapan datar.
" Aku menyayangi istriku dan mencintainya."
"Rena lebih baik kamu pulang, kita sudah tidak memiliki hubungan. Hiduplah dengan baik dan carilah lelaki yang baik."
Rena terdiam, ia tidak menyangka Fafa akan melupakan dirinya begitu saja. "Fafa, maafkan aku karena dulu memanfaatkanmu. Aku tahu aku salah Fa." Rena pergi meninggalkan apartemen Fafa sembari menangis, hilang sudah kesempatannya untuk bersama Fafa. Melihat mantan pacarnya kini hidup bahagia bersama Hanin, ia merasa sedikit sakit.
" Fafa..." lirih Hanin, ia tak kuasa menahan tangis karena ini pertama kalinya Fafa mengatakan bahwa dia mencintainya.
"Kenapa kamu menangis, hm?" Fafa mengusap airmata Hanin yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Ini airmata kebahagiaan, akhirnya aku tahu bagaimana perasaanmu padaku." Hanin menangis di pelukan suaminya.
"Terus bagaimana ini, jadi tidak kita pergi ke pantai? " Fafa mengelus lembut rambut istrinya
"Tidak jadi!"
"Kenapa?"
" Karena aku ingin kita melanjutkan ronde selanjutnya hihihi." Hanin mengajak Fafa masuk ke dalam kamarnya. Fafa dengan senang hati menerima tawaran istrinya untuk kegiatan panas selanjutnya.
"Bisa ae kaleng krupuk ngajakin olahraga sore hahaha..." seloroh Fafa sembari tertawa
"Kagak jadi! Enak saja panggil aku kaleng krupuk! Aku ini malaikat, ngerti nggak!" ketus Hanin
"Iya dah, serah lu dah Nin. Kamu memang malaikat" ucapnya lagi, " Tapi sayangnya kamu malaikat maut!" Fafa dengan cepat merobek pakaian,ia membungkam bibir istrinya dengan cepat agar ia tidak banyak bicara lagi.
* **
Kinan meremas hasil tes kesehatannya, ia menangis di ruangannya dengan terisak. Pagi hari, Kinan sengaja datang ke bagian obgyn untuk memeriksakan bagian reproduksinya namun kini ia sedikit terkejut saat dia tahu bahwa dirinya menginap PCOS dan terdapat benjolan kecil pada permukaan indung telurnya yang disebut kista.
PCOS adalah Polycystic Ovarian Syndrome( Sindrom Polikistik Ovarium) gangguan metabolisme yang terkait dengan keadaan hormon yang tidak seimbang yang dilepaskan oleh ovarium.
"Aku harus mengatakan yang sejujurnya pada Raffa, apa dia akan menerimaku? Aku tidak akan di ceraikan olehnya kan?" Kinan bermonolog, perasaannya begitu kacau, hatinya begitu kalut. Ia takut Raffa tidak akan menerima keadaan dirinya, apalagi penderita PCOS sedikit kesulitan untuk memiliki momongan.
Namun, perkataan dari dokter Cindy membuat dirinya sedikit tenang.
" Tidak perlu cemas, penderita PCOS masih bisa memiliki anak." ucap sang dokter , "Kita bisa melakukan operasi untuk menghilangkannya, memperbaiki hormonmu dan setelah itu kamu bisa merencanakan program hamil." sambung dokter Cindy, teman sejawatnya.
Kinan tetap optimis bahwa dirinya bisa hamil.
" Jangan menangis." ucap Raffa, ia memeluk Kinan yang menangis saat memberikan surat kesehatannya. Ia menceritakan tentang sakitnya pada Raffa.
" Kita lalui bersama, aku yakin kamu bisa sembuh dan kita bisa memiliki anak." Raffa mencium kening istrinya agar tenang.
" Raffa. "lirih Kinan," Kamu tidak akan meninggalkanku kan, tidak akan menikah lagi kan?" Kinan menatap wajah suaminya dengan wajah memelas
" Ngomong apa sih kamu Nan,memangnya aku boleh menikah lagi?" Raffa terkekeh saat mengatakannya
" Raffa.... huhuhu.... "Kinan menangis histeris, ia memukul dada suaminya dengan keras." Kamu jangan menikah lagi, aku tidak mau dimadu,huhuhu...."
"Kalau diracun mau?!" Raffa menggoda kembali istrinya, hingga Kinan bertambah kesal dan menangis keras.
Raffa mencium bibir Kinan dan ********** dengan lembut, "Jangan menangis,malu suaramu cempreng."
__ADS_1
" Dengarkan aku Nan, aku tidak akan menikah dengan wanita lain. Aku hanya ingin kamu, kita lewati semuanya bersama.Kita jadwalkan operasi untukmu, lebih cepat lebih baik sayang. Oke!?"
Kinan menganggukan kepala, ia merasa sedikit lebih tenang karena Raffa mau menerima kekurangannya.