
"Assalamualaikum..." ucap Imelda sekeluarga
"Walaikumm salam..."
"Eh, itu Haha sudah pulang." Navysah melihat anaknya berjalan bersama Imelda, sedangkan Keken di belakang. "Haha, sini Nak! Ini ada tante Maya dan keluarganya.
Haha melirik satu keluarga dan tersenyum manis. Ia agak lupa dengan keluarga tante Maya karena sudah lama tidak berjumpa, namun ia tetap menyalam takzim pada keluarga Maya.
" Haha, cantik ya." Maya mengelus jilbab Haha.
" Ini Mba Imel ya!? " Maya beralih dan memeluk tubuh Imelda dengan erat, " Sudah lama kita tidak bertemu ya."
"Iya." balas Imelda dengan singkat
"Iya ampun, mba Imel masih seperti dulu masih cantik, irit ngomong dan ketusnya masih sama ya Nav." seloroh Maya
"Dan kamu juga masih tetap berisik dan gila seperti Navysah." balas Imelda
"Oh jelas dong, kalau tidak gila namanya bukan Maya hihihi... " Maya membanggakan dirinya sendiri.
Richi tersenyum penuh arti melihat sosok Inha yang kini tumbuh dewasa. Wajahnya begitu mirip dengan Inka. Gadis kecil bermata indah kini menjadi seorang gadis cantik, senyumannya masih sama seperti dulu, terlihat begitu manis.
Tanpa sengaja Imelda melihat Richi yang sedang memandangi Inha tanpa berkedip, Imelda tidak suka saat ada lelaki lain melirik ponakan kesayangan.
"Ehem... Ehem.." Imelda sengaja berdehem agar Richi memutuskan pandangannya pada Inha.
" Hmm.. Inha masih kuliah?" tanya Richi, ia begitu gugup saat mata laser tante Imelda meliriknya dengan tajam.
"Masih Om." jawab Inha, ia melihat Richi, pria dewasa yang lebih tua dari kakaknya.
" Kok Om, sih Ha. Panggil kakak jangan Om." pinta Navysah sembari mengelus jilbab anaknya. "Dulu mama titipkan kamu sama A Richi saat di Semarang, ingat kan?"
"Iya mah." balas singkat Inha
__ADS_1
" A Richi sekarang tinggal di Indonesia, dia dokter spesialis kulit dan kelamin dan juga punya bisnis klinik kecantikan. Kapan-kapan kita kesana ya, mama dapat voucher gratis dari Richi." Navysah menunjukan kartu voucher pada Inha.
" Mama sudah kaya masih saja tertarik dengan hal yang berbau gratisan."gerutu Inha
" Mama juga manusia biasa, kalau dapat rezeki ya jangan ditolak, hehehe... "
Inha hanya menghela nafas panjangnya," Kalau begitu Inha pamit dulu ke kamar, permisi Om dan Tante."
Inha hanya sebentar menyapa keluarga Maya, ia tidak ingin berlama-lama atau sekedar berbasa - basi.
"Maaf ya Inha memang pendiam seperti itu, tapi kalau sudah kenal Inha pribadi yang hangat dan cerewet." Navysah mencoba menjelaskan karakter anaknya.
" Tidak masalah Nav, beda anak beda karakter. Richi dan Richard juga begitu. Kelihatannya saja Richi sopan seperti ini nyatanya dia juga gila, suka bercanda seperti Ayahnya hihihi. " terang Maya
" Mah... " Richi merasa malu karena sang ibu membuka aibnya.
Fafa dan Keken yang menyingkir dari ruang tamu, kini mereka berada di ruang makan. Mereka mengobrol sembari memakan cemilan kacang dan minum kopi buatan asisten rumah tangga.
" Pangeran Modusa! Jelasin ke gue, ngapain lu pergi ke daerah utara setiap minggu! Lu ketemu siapa?" tanya Fafa dengan penasaran, ia selalu mendapat laporan dari asisten Keken bahwa bos nya selalu mencuri kesempatan untuk pergi ke suatu tempat di daerah utara.
" Makan soto di warung pak joko, eh warso ngapain lu disono! " ucap Fafa lagi dengan berpantun.
" Lihat ayam sama kebo, dasar lu kepo! " Keken membalas pantun Fafa
"Pikiranmu itu tidak jauh dari wanita dan sel*ngkangan,pasti itu yang membuat kamu selalu pergi ke sana, iya kan?" Fafa menebak-nebak dan kembali menjitak kepala Keken.
" Nah itu lu tahu!, bisa lihatkan dari rona merah wajahku ini." Keken kembali tersenyum malu
" Wajahmu rona merah api neraka, ******! Sok-sok an malu - malu gitu padahal tiap cewek diembat juga. "
"Kali ini serius, bukan mainan." tegas Keken
" Nggak usah ngadi-ngadi, dulu lu juga bilang serius nyatanya udah dapat enak langsung ditinggalin." Fafa menggelengkan kepala dengan sikap Keken yang selalu plin-plan dengan wanita, setelah apa yang dia dapatkan Keken selalu meninggalkan wanitanya.
__ADS_1
"Kali ini beneran bukan mainan, sayangnya dia sudah punya tunangan dan wanita biasa bukan kelas atas.Gue takut dengan Ratu Medusa, pasti dia tidak akan setuju karena wanita ini jauh dari ekspektasi sang Ratu."
" Sebelum janur kuning melengkung wajib ditikung. " seloroh Fafa," Seorang Pangeran Modusa tidak bisa taklukin hati wanita, aku tidak percaya. "
" Kamu meragukanku. "
" Taklukan wanita itu, jangan cuma ngomong doang. "tantang Fafa," Kalau Ratu Medusa tidak setuju, beri dia cucu,hehehe. " kelakar Fafa
" Ngajarin nggak bener lu. "Keken menjitak kepala Fafa
" Lah, ngapain gue ngajarin lu nggak bener, hidup lu aja sudah nggak bener Ken! "
" Ini wanita berbeda dari lainnya, bukan wanita murahan ataupun wanita matre yang biasa aku temui. " Keken menghela nafas panjangnya, ia mengingat beberapa kali ia harus mencari kesempatan dan mencoba menarik perhatian wanita itu, namun selalu gagal.
" Kenalin gue, gue jadi penasaran seperti apa wanita cantik itu. " Fafa begitu penasaran dengan sosok wanita pujaan Keken.
"Dia tidak cantik tapi manis banget." Keken mencoba mengingat wajah dan senyuman sang gadis pujaan.
"Ya sudah kenalin ke gue, siapa tahu dia tertarik denganku." goda Fafa dengan menaik turunkan alisnya.
Keken menjambak rambut Fafa dengan cepat" Kagak bakal gue kenalin, enak aja! "
" Kenalin siapa A! Kamu mau cari wanita lain setelah aku hamil seperti ini. " Hanin begitu kesal saat mendengar suaminya ingin berkenalan dengan wanita lain. Ia menghampiri suaminya dan mencubiti lengan Fafa.
"Tidak sayang, cuma bercanda." Fafa merayu istrinya dengan lembut
"Bohong Nin! Tadi Fafa bilang dia minta dikenalkan dengan wanita cantik dan sexy." Keken sengaja berbohong untuk mengompori suami istri itu. " Fafa mau bini muda yang lebih segar, menarik dan sexy bukan celengan semar kayak lu Nin." Keken berlari dari tempatnya.
" AA...!! teriak Hanin," Maksudmu aku celengan semar." Mata Hanin melotot seolah ingin menerkam suaminya, " Aku begini kan karena kamu!"
" Keken...!! teriak Fafa, ia begitu kesal karena Keken memancing istrinya marah hingga cemburu dan sudah dipastikan Hanin akan mengomel sepanjang hari.
"Tidak begitu sayang, beneran itu si Keken ngadi-ngadi, yasudah ayo kita ke kamar yuk." bujuk Fafa pada istrinya.
__ADS_1
"Enak saja kamar, emang aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu. Malam ini tidur di sofa! " Hanin berjalan meninggalkan Fafa, ia begitu puas karena tidak ada jatah untuk suaminya.
" Ya ampun hari ini aku puasa." Fafa menatap nanar punggung istrinya yang pergi menjauh.