Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 116


__ADS_3

Kinan sampai di rumah Navysah, ia turun di luar pagar dan secara bersamaan bertemu dengan Fafa yang baru saja pulang dari kantor.


Fafa yang naik taxi melihat Kinan diantar seorang pria yang ia kenal, ia pernah melihat Juna beberapa kali berkunjung ke rumah ibunya dan di acara pernikahan.


"Kok masih dianter Jono sih?!" tanya Fafa dengan sinis, "Aku laporin mas Raffa nih biar mba Kinan diomelin."


"Namanya abang Juna bukan Jono!" salak Kinan


"Terserah dong, mulut - mulut Fafa."


"Memangnya kamu mau aku panggil Fafan?!"


"Kok Fafan?!" protes Fafa, " Nggak sekalian kain kafan." Fafa menantang Kinan


"Nah, itu bagus tuh sekalian saja dipakaikan kain kafan masukin ke kuburan!"


"See, tuh belain si Jono kan mba Kinan. Oke fix Fafa bakal aduin ke mas Raffa!"


"Masku lebih percaya aku daripada kamu."


"Wait! wait!, jangan salah. Mba tahu peribahasa darah lebih kental daripada air. So, Fafa yakin mas Raffa akan lebih percaya Fafa."


"Oke fix, kalau begitu subsidi naik taxi, mba cabut!" ancam Kinan, " Jangan harap bisa nongkrong di Cafe kopi - kopian, yang ada kamu makan di warteg selama satu bulan.


" "Kalau mau laporan, ya laporan saja. Orang mba sama abang Juna cuma teman." sambung Kinan


Fafa menunduk lesu, ia tak punya daya untuk membalas ucapan Kinan, daripada jatahnya hilang lebih baik ia mengalah. "Yasudah, Fafa kalah kali ini. Awas aja kalau lihat mba dianter lagi sama si Jono sipit, Fafa bakal laporin."


" Dih!, tumben banget mas Khilaf kalah." cibir Inka, ia sejak tadi mendengar kakaknya beradu mulut dengan mba Kinan.


"Apa lu Ka, diem lu bocil!"


" Enak aja bocil!" sembur Inka, ia tidak suka saat kakak-kakaknya masih menganggapnya anak kecil. "Khalif Khilaf, Khalif Khilaf, Khalif Khilaf." Inka berjoget - joget menggoda Fafa. Ia tahu Fafa tidak suka di panggil dengan nama Khilaf.

__ADS_1


"Nama gue Khaffa bukan Khilaf." protesnya dengan kesal, " Ini gara-gara emak nih kasih nama yang salah, seharusnya kan Khaffa dan Khaffi atau Khalif dan Khallaf,eh salah juga ya. Masa Khallaf sih, yang ada nanti dipanggil Kalap ya." Fafa bermonolog sendiri,"


"Wajah kami fotokopian dari ayah Davian banget ya. Coba mirip aktor India, pasti lebih tampan."


"Ngimpi!, sadar dong!" Kinan meraup wajah Fafa dengan gemas. " Aktor India mules lihat wajah lu Fa, pengen muntah."


"Sahamnya yang bikin bapak lu ya pasti mirip dialah, masa mirip tetangga. Mau lu mirip sama pak Roni tetangga sebelah."


"Oh No..!" Fafa bergedik geli, ia membayangkan wajah Pak Roni yang berkumis lebat dengan kacamata tebal dan sosok yang gempal. " Cuih!, cuih!, cuih!, jauh - jauh deh." umpatnya, " Cakepan Ayah kemana-mana."


"Makanya kalau ngomong difikir jangan asal ngomong. Mas Fafa fikirannya disini sih!" Inka memukul b*kongnya sendiri.


"Eh cumi!, durhaka sama gue ya. Benerin tuh biang keringat yang di pipi sampai merah - merah gitu." Fafa melihat adiknya memakai make up yang cukup tebal.


"Ini bukan biang keringat!" seru Inka


"Oh, kamu habis ditonjokin." goda Fafa kembali


"Ishhh... plak.. plak.. plak." Inka benar-benar gemas dengan Fafa,ia memukul ringan lengan kakaknya. "Ini blush on mas, blush on biar terlihat kemerahan dan cantik gitu. Aku cantik kan?!" Inka mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.


"Nggak sekalian tuh gigi di pager, sama rambut di cat warna biar kayak perumahan, entar lu mas jual di bursa properti dengan diskon lima puluh persen, itu saja kalau ada yang mau." sambungnya lagi


"Nggak usah di maju-majuin bibirnya gitu, nggak usah sok imut! Bibir dah kayak ikan nemo aja sok-sok an manyun. Gue karetin juga lu Ka!" ucap Fafa dengan kesal, ia berlari menghindari amukan Inka yang mulai marah dengannya.


"Mas Fafa...!!!" teriakan Inka mulai menggelegar di seluruh ruangan.


* **


"Alif..., main yuk hihihi..." Fafa mulai masuk ke dalam kamar Alif dengan gaya cengengesan khasnya.


Alif yang sedang bermain laptop hanya menoleh sebentar kearah Fafa dan kembali sibuk dengan dunianya.


" Nggak usah banyak omong, aku sedang sibuk. Kamu mau apa?! "

__ADS_1


" Ya ampun, memang ya kamu paling tahu apa yang aku mau." ujar Fafa, " Minta si bengek boleh untuk menjadi istriku?" godanya sembari tersenyum


" Boleh, tapi aku dorong dulu kamu dari lantai dua ini. " ucapnya tanpa melirik kearah Fafa.


" Cie.. Cie..sekarang si Alif bisa bercanda hihihi. "goda Fafa kembali." Si bengek bukan seleraku Lif. "


" Dah kayak iklan Ind*mie aja, Ind*mie seleraku... " Alif menyanyikan lagu sebuah iklan mie instan. Ia hanya mengikuti gaya Fafa yang suka bercanda dengan lagu itu." Kok aku ikutan gila sepertimu ya Fa." gerutunya tanpa sadar, ia memukul pelan mulutnya sendiri.


"Hahahaha...bagus! Virus gilaku mengalir padamu Lif."


"Cuih!, Najis!, cepetan kamu butuh apa?!" salak Alif, ia masih mengetik beberapa berkasnya.


"Bagi duit Lif, semua uangku diambil mama. Aku cuma dapat dua ratus ribu sehari. Bulan depan aku ganti deh."


"Berapa?"


"Dua juta saja."


"Nggak ada!, uang cash di dompet cuma ada satu juta lebih. Besok aku kasih kamu lagi dan kamu tidak perlu mengantinya."


"Asyik!"


" Mana." Fafa menadahkan kedua tangannya. Ia berharap mendapatkan uang segera sebelum Alif berubah fikiran.


"Di tas kerjaku, ambil saja terus jangan ganggu, aku sedang sibuk,pusing kepalaku."


"Siap!" Fafa mengambil dompet Alif dan mengambil semua uangnya. Ia melirik beberapa kartu Alif yang sama seperti miliknya. Kartu yang mama berikan untuk uang jajan mereka. Namun Fafa lebih memilih kartu kredit Alif,ia tersenyum dengan licik.


"Makasih Alif." ucap Fafa sebelum menutup pintunya, " Semoga amal ibadahmu diterima dengan tenang."


"Eh, ******! Kampret lu, do'ain gue mati." Alif begitu kesal saat Fafa dengan sengaja menjulurkan lidahnya sebelum menutup pintu.


"Kok perasaan aku jadi nggak enak ya." Alif membuka dompetnya. Ia hanya menemukan satu lembar uang dua ribu rupiah, Alif juga memeriksa kartunya dan ternyata hilang satu.

__ADS_1


"Fafa...!!!" teriak Alif, "Kurang ajar kamu ya, ambil kartu aku, mana cuma disisain dua ribu." gerutunya dengan kesal. Ia mencari Fafa di kamarnya namun tidak ada. Dan para asisten pembantu mengatakan bahwa Fafa pergi kembali ke apartemen.Alif hanya bisa menghela nafas panjangnya melihat tingkah Fafa yang liar dan cerdik.


__ADS_2