
Hanin begitu kesal karena Fafa lebih memilih mengantarkan Rena daripada dirinya, apalagi saat Hanin melirik wajah Rena yang tersenyum penuh kemenangan.
Dan sekarang Hanin diantar Khaffi untuk pulang ke rumah, sepanjang perjalanan Hanin hanya menatap ke luar jendela. Ia selalu mengingat apa yang dikatakan Rena saat di toilet tadi.
" Kita lihat saja, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan, walaupun dengan cara yang kotor."
"Nin, Hanin. Kok kamu ngelamun sih,kenapa?" tanya Khaffi, ia melirik Hanin dari kaca mobilnya. Hanin terlihat pendiam sejak bertemu Rena.
"Tidak apa-apa fi." Hanin menghela nafas panjangnya
"Kamu cemburu sama Rena?"
"Aku tidak cemburu, mana ada!" sergah Hanin, ia menggelengkan kepala tidak percaya
"Terserah kamu Nin, hanya hatimu yang tahu kamu cemburu atau tidak."
"Ya ampun, aku kenapa sih! kenapa hatiku risau membayangkan Fafa dan Rena yang tidak - tidak." gumam Hanin dalam hati
" Khaffi, sedekat apa hubungan Fafa dengan Rena? Apa mereka berpacaran yang berlebihan, seperti layaknya suami istri?"
"Kau gila ya! Fafa bukan tipe pria seperti itu, dia memang bad boy tapi dia tidak akan menyentuh wanita yang tidak halal. Dan seharusnya kamu bersyukur Nin, Fafa pria yang baik dan bertanggung jawab,dia hanya bodoh karena mau di bohongi wanita matre itu."
" Wanita matre?!"
" Iya, Rena itu sangat matre. Keluarganya selalu hidup hedon, ayahnya terseret kasus korupsi dan bangkrut. Kedua orangtuanya bercerai. Ibu Rena selalu mencari kesempatan untuk menipu beberapa teman,dia menjual tas branded palsu. Namun, Fafa masih dibutakan cinta. Dia kekeh bersama Rena karena Fafa berfikir Rena setia dan dia adalah korban dari broken home.Dan sekarang dia tulang punggung ibunya.
"Jangan bilang dia ingin menikah dengan Fafa karena uangnya." ujar Hanin
"Memang kenyataannya seperti itu, Rena menyukainya karena uang."
"Kalau kamu memang menyukai Fafa, rebut hatinya. Buat dia jatuh cinta."
"Kamu ngomong apa sih Fi, nggak jelas." cebik Hanin.
"Hanin, aku serius. Lelaki seperti Fafa tidak pantas mendapatkan wanita seperti Rena. Kamu itu istrinya masa kalah dengan Rena." Khaffi sengaja memancing emosi Hanin.
"Siapa yang kalah! Eh, denger ya Khaffi. Aku Aura Hanin Dewantara, aku nggak pernah kalah dari siapapun. Kemarin saja karena si Adit itu aku kalah projek, coba kalau tidak, aku pasti menang. Aku nggak akan kalah dari si Rena itu, lihat saja nanti!"
"Aku pegang ucapanmu!" Khaffi mengulum senyum
" Ya ampun, aku pasti sudah gila! bagaimana caranya agar Fafa mencintaiku, sedangkan melirik aku pun tidak." gumam Hanin dalam hati
__ADS_1
"Tidak usah kebanyakan mikir!" Khaffi melihat raut wajah Hanin yang begitu cemas dan bingung. " Aku akan membantumu agar Fafa menyukaimu."
"Bagaimana caranya?"
"Pokoknya kamu harus menuruti semua ucapanku." perintah Khaffi
"Kamu sudah dikhianati Adit, dia lebih menyukai wanita lain,apa kamu juga ingin ditinggalkan suamimu juga!? Masa kamu diam tak bergerak. Hanin, cinta itu di perjuangkan bukan di tunggu!" sambung Khaffi kembali
"Akan aku coba." Hanin mengiyakan perintah Khaffi, ucapan Khaffi benar juga walaupun diantara mereka belum ada cinta, Hanin akan berusaha mempertahankan rumah tangganya. Fafa memang pria menyebalkan, tetapi ia pria yang tidak buruk menurutnya bahkan, ia rela menikah dengan Hanin karena permintaan ibunya.
* **
Hanin mulai berubah, ia mulai memasak di pagi hari agar Fafa bisa sarapan di rumah. Dengan melihat youtube ia mulai belajar membuat nasi goreng.
Fafa yang masih tertidur kini mencium aroma aneh, ia keluar kamarnya dan melihat Hanin yang sedang sibuk di dalam dapur.
"Apa-apaan ini." Fafa melihat dapurnya berantakan, ceceran bumbu terjatuh dimana - mana dan kotor
"Kamu lagi ngapain?" tanya Fafa
"Masaklah, masa main game." ujar Hanin dengan tersenyum manis.
"Jangan meledek kenapa, aku sedang berusaha masak untukmu. Kamu tidak mau menghargai usahaku." gerutu Hanin sembari mengerucutkan bibirnya
"Iya, iya, ya sudah aku mandi dulu. Ku tunggu masakan anehmu itu!" Fafa masuk ke dalam bathroomnya dan keluar dengan berpenampilan rapi.
" Silakan makan..." ucap Hanin dengan ceria, ia menyajikan sepiring nasi goreng pada Fafa.
"Apa ini." Fafa melongo dengan penampilan nasi goreng yang Hanin sajikan. " Kamu bikin nasi goreng kerikil arang!"
"Ishhh...!! Ini nasi goreng mata sapi." desisnya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Mata sapinya lagi sakit mata!? kok gini penampilannya, ada item-item gini." cibir Fafa, ia memijit kepalanya yang sedikit pusing dengan sajian Hanin. Nasi goreng buatan Hanin benar-benar ajaib, nasi dengan berlumur minyak goreng dan sedikit gosong.
"Aku sudah berusaha, kenapa kau mengejek masakanku." Hanin menundukan kepalanya, ia merasa malu dengan hasil masaknya sendiri
Fafa yang melihat Hanin sedih kini mau tak mau mencoba makanan Hanin. Ia menyuap beberapa kali nasi gorengnya walaupun harus dengan menelannya dengan cepat.
" Nanti kalau aku keracunan dan mati, aku tinggalkan sebagian warisan untukmu, sebagian lagi untuk mama Navysah."
"Ngomong apaan sih!, memangnya aku meracunimu!" sentak Hanin, "Kalau kamu ragu jangan dimakan nasi gorengnya!" Hanin begitu kesal seolah Fafa akan meninggal karena masakannya.
__ADS_1
"Bercanda Nin,nggak usah ngambek sih."
"Anterin aku kerja ya." pinta Hanin
Fafa mengenyitkan dahinya, seolah tak percaya seorang Hanin meminta ia untuk mengantarkannya, karena selama ini Hanin selalu mandiri dan tidak mau diantar olehnya.
" Kamu nggak salah minum obat kan ?" sambung Fafa kembali
" Kalau kamu tidak mau ya sudah." Hanin pura-pura mengambek, hilang sudah harga dirinya karena hari ini ia seolah mempermalukan diri dengan membuat hal konyol.
"Ya sudah nanti aku antar."
"Sore juga di jemput ya." pintanya lagi dengan senyuman termanis.
"Ini nih, manusia serakah! sudah dikasih hati minta jantung. Bunuh saja sekalian, bunuh aku Nin."
"Cepetan ganti baju sepuluh menit." sambung Fafa kembali
"Dua puluh menit, aku belum pakai make-up." Hanin berlari dengan cepat dan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.
" Jangan kelamaan pakai make up atau aku tinggal. " teriak Fafa dengan kesal
* **
Setiap hari Hanin menyiapkan makanan sebelum berangkat bekerja, resepnya ia selalu melihat dari youtube walaupun hasilnya terkadang tidak sesuai harapan. Dia pun selalu meminta antar kemanapun ia pergi hingga terkadang Fafa tidak mempunyai waktu untuk bersama Rena.
Fafa pun mulai curiga dengan perubahan sikap Hanin, ia merasa Hanin selalu ingin tahu kemana pun ia pergi.
"Janin, kamu waras kan ya?"
"Maksudmu apa, aku gila?!" sembur Hanin, sudah satu minggu berlalu Fafa tidak ada perubahan sikap padanya, ia selalu cuek dan bicara seperlunya padahal Hanin sudah berusaha bangun lebih pagi untuk membuat makanan.
"Kamu itu aneh, biasanya kamu selalu mengajakku ribut tapi sekarang kamu seolah menjadi istri beneran."
"Aku memang istri beneran, memang aku istri bohongan."
"Bukan begitu, kamu sendiri yang bilang kita masing-masing,tidak boleh ikut campur dengan urusan kita. Kenapa kamu berubah fikiran?"
" Memang aku salah jika aku mempertahankan rumah tanggaku ini? Fafa aku tahu kamu tidak mencintaiku, tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk bisa menjadi istri yang baik. "Hanin berkaca-kaca saat mengucapkannya, hatinya terasa sakit karena Fafa sama sekali tidak menghargai kerja kerasnya.
Belum sempat Fafa menjawab ucapan Hanin, terdengar suara seseorang memanggil dari luar pintu.
__ADS_1