
Davian
Ia mendapatkan telepon dari istrinya bahwa Raffa berkelahi di sekolah, Navysah merasa cemas sehingga dia menelepon dan menceritakan pada suaminya.
"Kamil, tolong cari informasi tentang Antoni Kusuma anak dari direktur rumah sakit Mitra Bahagia " perintah Davian. " Aku tunggu informasi secepatnya"
"Siap" ucap Kamil, " Tumben banget lu nyari informasi tentang seseorang, apa ada masalah?" tanyanya penasaran.
"Raffa berkelahi dengannya,kata Kinan dia sering di bully. Aku akan memberi pelajaran untuk dia dan orang tua nya, berani sekali menganggu anakku" geram Davian, "Kenapa bodyguardmu bodoh sekali, mereka tidak bisa melindungi anakku" cibir Davian pada Kamil.
Kamil memutar bola matanya dengan malas.
" Mereka menjaga di area luar sekolah bukan di dalam sekolah. Kamu itu selalu menyalahkan orang saja saat kecolongan" protesnya.
"Cih..!" Davian mendengus kesal pada asisten sekaligus temannya.Matanya melirik tajam kearah Kamil.
"Kamu tenanglah, Raffa bukan anak yang cengeng. Dia pasti baik-baik saja" Kamil tahu Davian sangat menyayangi anak-anaknya walaupun dia terlihat cuek, tidak peduli namun jauh dari lubuk hatinya dia orang yang penyayang.
" Kamu atur ulang jadwalku, besok aku akan ke sekolah mengurus masalah Raffa. Oiya setelah kau dapatkan informasi tentangnya, buat janji dengan si Ayahnya Antoni.Aku ingin tahu seberapa hebatnya dia"pinta Davian
"Oke, Oiya Dav bagaimana tentang permintaan Ifa?" tanya Kamil.Ia tahu Ifa menginginkan Raffa menjadi menantunya karena kemarin Ifa datang ke perusahaan.
"Ah, aku tidak peduli dengannya. Bagiku yang terpenting Raffa kuliah dan mau menggantikan diriku. Masalah hati biarkan dia yang memilih aku tidak ingin memaksanya. Navysah juga tidak ingin anaknya tertekan dengan perjodohan ini. Kalau Ifa mau menarik saham propertinya karena marah silakan saja. Aku akan menjual saham restoran untuk menutupi semuanya "
Kamil menganggukan kepala tanda setuju, jika dihitung - itung saham restoran Davian masih mampu untuk menutup semuanya, namun dengan konsekuensi dia tidak akan memiliki restoran lagi.
" Baiklah, aku usahakan informasi akan kamu terima dalam tiga jam "
Tiga jam kemudian,
Davian menyeringai saat membaca informasi yang kini ia terima dari Kamil.
"Good job Kamil, kamu memang yang terbaik"
"Aku sudah membuat janji dengannya pukul delapan malam, kau bersiaplah" ucap Kamil.
" Oke" balas Davian
Korean Restaurant,
Davian masuk ke dalam private room dan menunggu Ayah Antoni datang. Setelah tiga puluh menit berlalu seseorang yang ditunggu kini masuk menemuinya.
"Ada apa pak Davian mengundang saya kemari, saya tidak punya banyak waktu untuk mengobrol lama " ucapnya dengan suara berat dan tanpa basa - basi.
"Wah...,anda ternyata suka to the point Pak Riza Kusuma" ucapnya dengan sedikit sinis. " Seharusnya anda terlebih dahulu meminta maaf karena terlambat datang"
"Anda yang meminta saya kemari, dan saya rasa tidak perlu meminta maaf untuk hal ini" tegasnya lagi.
__ADS_1
"Ternyata anda cukup sombong, tidak seperti apa yang terlihat di balik layar televisi yang begitu bijaksana dan ramah" ucapnya sembari menyesap secangkir teh macha. " Saya to the point saja. Anak anda dan geng nya sudah memukul anak saya hingga terluka. Anak anda sering melakukan perundungan di sekolah dan mengempeskan ban sepeda anak saya. Apa saya perlu melaporkan dia ke kantor polisi" ucapnya dengan wajah datar.
"Saya rasa anda salah paham Pak Davi, anak saya yang terlebih dahulu mendapat pukulan dari anak anda" ucapnya dengan menyeringai.
"Benarkah..?" tanya Davian, pura-pura bodoh.
"Tidak perlu membesar - besarkan masalah, mereka hanya anak ABG yang masih labil dan belum bisa berfikir secara dewasa. Saya kira anda bisa memaklumi mereka" ucapnya lagi,ia akan beranjak dari kursinya, namun ucapan Davian langsung menghentikan langkahnya.
"Saya lebih memakluminya karena dia bukan anak kandung anda, bukankah anak kandung anda tinggal di sekitar Duren Sawit" ucap Davian menyeringai. " Menyedihkan sekali nasibnya, harus ditukar dengan anak orang lain karena sang Ayah tidak menginginkan dirinya yang cacat fisik"
Riza Kusuma langsung berbalik arah dan menatap tajam ke arah Davian,mengenggam erat tangannya. Ia sangat terkejut bagaimana bisa rahasia yang ia tutupi selama belasan tahun kini diketahui oleh orang lain.
"Santai sajalah Pak dokter, wajahnya jangan pucat seperti itu" sindir Davian.
"Saya tidak mengerti maksud anda Pak Davian"
"Anda masih tidak mengerti. Ah!, saya rasa anda pura-pura bodoh. Seorang dokter spesialis Jantung dengan jabatan direktur masih tidak mengerti arah pembicaraan saya, Cih! " sindir Davian dengan berdecak.
"Brengsek kamu!!, Apa yang ingin kau inginkan, cepat katakan" ucapnya dengan emosi. Ia sangat murka mendengar Davian begitu jelas mengucapkan nama anak kandungnya yang kini berada di tangan orang lain.
" Saya ingin anak anda meminta maaf pada anakku dan janganlah bertindak kasar dengan siswa lainnya. Bagiku, informasi itu sangat mudah walaupun ditutupi belasan tahun lalu. Saya tahu anda melakukan KDRT terhadap istri dan anak anda. Di depan layar seolah romantis, baik-baik saja namun di dibalik layar sungguh keluarga yang sangat *menyedihkan."ucap Davian*
" Perlakuan anda terhadap istri bisa saja dilaporkan ke polisi namun kekuasaanmu cukup untuk membungkam mereka.Istri anda masih sering menjenguk Iqbal bukan dan anda murka sehingga memukulnya" Davian menghembuskan nafas kasarnya. " Alih-alih Ayah anda menukar bayi yang normal dengan fisik sempurna namun kepribadiannya sungguh sangat bertolak belakang dengan si Iqbal yang baik dan penurut. Keluarga yang serakah akan kekuasaan dan tidak menerima keadaan cucunya saat itu, sungguh sangat miris"
"Saya peringatan sekali lagi, jika anda memukul istri dan anak anda lagi akan kuungkap kebenaran lewat media,tidak peduli anda akan menyerang balik saya. Saya sudah siap dengan semuanya!" ancam Davian dan berlalu pergi.
Riza Kusuma hanya mampu menatap nanar kepergian Davian. Kenangan belasan lalu kini mulai teringat kembali padanya.
~Flashback On~
__ADS_1
Di rumah sakit Mitra Bahagia ,
Seorang perempuan bernama Rahmi kini sedang berjuang untuk melahirkan cucu penerus dari keluarga Kusuma. Dia menahan segala rasa sakit demi melahirkan anak laki-laki pertamanya. Sang suami berada di sampingnya untuk menyemangati istrinya melahirkan, hingga terdengar suara seorang bayi laki-laki namun sang dokter dan beberapa perawat begitu terkejut dengan kondisi fisik sang bayi.
"Maaf Pak. Anak anda" ia memperlihatkan seorang bayi mungil dengan ari-ari yang masih menempel pada tubuhnya dan bau darah dari persalinan.
"Tidak mungkin anak saya seperti ini" ucapnya, ia melihat anaknya cacat pada bagian bibir. Rahmi mendengar suaminya berbicara, ia pun melirik anaknya, "Sus, saya ingin melihat anakku."
Dan ia terkejut melihat fisik anak kandungnya yang baru saja dilahirkan, ia tidak menyangka anaknya seperti ini. Saat ia hamil dan memeriksakan kandungannya, ia tidak terlalu jelas melihat gambar USG karena setiap kali diperiksa wajah sang bayi selalu tersembunyi, ia pun mengingat sejak kehamilan dia selalu makan makanan bergizi dan sehat namun kenapa Tuhan memberikan dia seorang anak yang cacat.
"Bersihkan dia sus" perintah Riza, ia buru-buru mengambil sang bayi dari dekapan ibunya.
"Baik Pak"
Rahmi selalu menangis saat ia melihat putra pertamanya. Dan Riza pergi melapor pada Ayahnya yang saat itu menjadi direktur di rumah sakit Mitra Sejahtera "
" Tukar bayi itu dengan yang lain, saya tidak mau penerus rumah sakit ini cacat secara fisik "ucap pak Isra Kusuma, ayah dari Riza Kusuma.
" Tapi pah dia anakku. Darah dagingku, penerus rumah sakit ini. Kumohon pah, biarkan dia bersama kami. Setelah dia satu tahun, ia bisa dioperasi.Kita akan melakukan operasi bibir sumbing pah"
"Papah tidak mau memiliki cucu cacat fisik,dia itu *cleft lip and palato* *atau labioplatoschisis* biarkan dia bersama orang lain. Ambil bayi lainnya dan beri dia uang" titahnya.
"Pah!, tidak semua bisa dibayar dengan uang. Aku tidak mau menukar anakku" kekehnya.
"Kau pilih dia atau kucoret kau dari daftar keluarga. Saat ini kamu hanya dokter umum,tanpa Papah kamu bisa apa! " ancamnya.
Seorang Riza keluar dari ruangan kerja Ayahnya, ia berjalan lunglai dan menuju ruang bayi. Ia menatap anaknya yang kini berada di box bayi nya "Maafkan Ayah Nak" ucapnya dengan berlinang airmata.
Ia bertemu seorang pria yang saat itu sedang melihat bayi nya juga. Ia melihat kearah bayi pria tersebut yang terlihat sangat menggemaskan, ia pun menceritakan keadaan dan meminta si pria itu menukar anaknya dengan jaminan uang dan pendidikan anak kandungnya. Awalnya pria itu tidak mau menukar anaknya namun karena keadaan dan ancaman ia mau menerima penawaran nya.
Rahmi menangis keras saat tahu anaknya bukan seorang bayi yang digendongnya saat ini. Ia tidak terima dengan ulah Papah mertuanya dan suaminya yang sudah menukar bayinya dengan bayi lain. Seburuk apapun anaknya ia akan menerima dengan ikhlas namun ancaman dari Papah mertuanya membuat sang suami gelap mata.
__ADS_1
\* \*\*
Cleft lip and palato/labioplatoschizis : bibir sumbing dengan celah bibir dan celah langit - langit mulut, merupakan kelainan kongenital.