
Hanin terbangun saat matahari bersinar begitu terik. Suasana kamarnya terlihat sepi, ia tidak mendapati Fafa di sisinya.
"Fafa kemana sih! " Hanin mengucek matanya, ia menutupi tubuhnya yang masih polos dengan selimut.
Hanin melirik kearah nakas, ia melihat sepiring nasi goreng dengan sebuah catatan.
"Selamat pagi Janin, aku buatkan nasi goreng untuk istriku yang paling cerewet, aku kerja dulu untuk membereskan masalahku.
" Fafa itu, selalu bilang aku cerewet. " namun dirinya menyungingkan senyum saat membaca catatan dari suaminya. Wajahnya merona saat mengingat kejadian semalam, perlakuan Fafa begitu manis hingga akhirnya dia menyerahkan diri.
Hanin masuk ke dalam bathroom dengan hati-hati, bagian intinya terasa sakit karena Fafa berkali-kali menyentuh dirinya.
"Bagaimana aku bisa bertemu keluargaku jika diriku penuh dengan tanda merah seperti ini." Hanin hanya menghela nafas panjangnya, ia melihat tubuhnya penuh dengan jejak kepemilikan Fafa.
Halwa yang sedang sibuk dengan laptopnya kini melirik ke arah Hanin yang terlihat begitu aneh. Ia melihat kakaknya menggunakan jaket yang menutupi lehernya.
" Hanin, kamu sakit Nak?" bu Ria yang baru saja datang kini melihat anaknya seperti orang kedinginan.
"Nggak mah."
"Terus kenapa kamu pakai jaket? Ini siang hari panas lagi, malah kamu pakai jaket, aneh."
"Mama tidak tahu sih, tadi malam ada suara aneh,sebentar lagi mama akan mempunyai cucu." sahut Halwa sembari cekikikan
"Apaan sih kamu wa, nggak jelas!" wajah Hanin memerah menahan malu karena ucapan Halwa
"Kak Hanin pakai jaket gitu karena malu karena banyak tanda merah dari kak Fafa kan, hihihi..." bisik Halwa di telinga kakaknya dengan cekikikan .
Hanin mendelik sembari mencubiti lengan adiknya. Sedangkan, bu Ria hanya tersenyum saat melihat Hanin tersipu malu.
* **
Fafa
Fafa mulai sibuk dengan pekerjaan, ia dibantu Antoni dan kakaknya untuk menyelesaikan masalah saham yang menurun drastis satu minggu terakhir.
Di sela-sela pekerjaannya, Fafa selalu tersenyum mengingat kejadian semalam. Hanin begitu berisik dan menyebalkan saat Fafa menyentuhnya.
"Nggak usah senyum-senyum begitu, ngeselin!" sembur Kinan, ia saat ini libur kerja dan sengaja mengunjungi suaminya karena Raffa tidak punya waktu untuk bermesraan dengannya.
" Apaan sih mba, nggak usah rese deh!"
" Kamu yang rese Fa, gara-gara kamu mas Raffa dan aku tidak bisa quality time. Mas mu terlalu sibuk mengurusi perusahaan." gerutu Kinan
"Maafkan aku mba, kali ini Fafa akan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah aku lakukan."
Kinan tersenyum karena kali ini Fafa terlihat sungguh - sungguh.
"Bagaimana dengan kabar Hanin, aku rasa kalian semakin ada kemajuan."
" Fafa sudah unboxing mba." celetuk Keken dari balik pintu, ia tak sengaja mendengar obralan Kinan dan Fafa.
"Enak kan ya, Fa?" goda Keken, "Awas ketagihan."
Fafa hanya menggulum senyum
"Alhamdulillah, semoga keluarga tarzan selalu rukun, agar kami bisa tenang."
"Aamiin." jawab mereka bersamaan.
Fafa tersenyum saat Kinan meledeknya dengan sebutan keluarga tarzan, memang benar dirinya dan Hanin selalu ribut dan berteriak, itu yang membuat suasana rumah semakin ramai.
__ADS_1
"Fa, lihat deh video ini,terbaru lho."
Fafa mendekat kearah Keken.
Mereka melihat sebuah video vulgar kesukaan Keken.
"Wow....ada yang mengantung tapi bukan kuntilanak." Fafa menelan salivanya
"Iya, ada yang kendor tapi bukan ****** ***** aku." seloroh Keken
"Itu asli nggak sih Ken, kok bisa gede gitu. Jangan-jangan palsu, serba di permak kayak si Soun." Fafa melihat sesuatu yang aneh bagian dada wanita di video itu.
"Palsu dong, mana ada pepaya sebesar itu." jelas Keken
Kinan menjambak kedua pria gila itu, ia benar-benar jengah karena Keken dan Fafa tidak berubah, mereka sejak dulu suka melihat video panas.
"Lama - lama aku operasi otak kalian!" sembur Kinan,
"Ayo Ken kita rapat saja daripada kita dijambak terus." gerutu Fafa, rambutnya terasa sakit karena Kinan
"Ayo Fa, oh iya nanti pulang kerja nongkrong dulu ya di Cafe. Gue mau cari susu, haus." Keken menggulum senyum sembari berlari keluar pintu
"Keken!!! kalau mau ***** jangan ngajakin Fafa. Awas ya!!" teriak Kinan dengan kesal.
***
Fafa telah menepati janjinya untuk menginap di rumah orangtua Hanin selama seminggu, pak Dewa merasa anaknya kini bahagia bersama Fafa sehingga ia mengizinkan Hanin untuk kembali ke apartemennya.
" Fa, mau makan apa?! "tanya Hanin, ia begitu sibuk menyiapkan bahan makanan untuk suaminya.
" Memang kamu sudah bisa masak apa?" Fafa masih sibuk dengan pekerjaannya, ia menjawab tanpa melirik istrinya
" Tidak bisa. "
" Mie instan mau?"
" Eh, Janin. Siapa pun pasti bisa memasak mie instan, masa keahlianmu hanya itu."
" Aku punya keahlian lain, yaitu membuat hawa dingin menjadi hawa panas denganmu." bisiknya di telinga Fafa sembari mengedipkan matanya
"Nggak usah merayu, aku sedang sibuk Nin."
"Fafa, tapi aku lapar."
"Ya sudah aku buatin makanan." Fafa akhirnya mengalah, ia masuk ke dalam dapur dan dengan terampil, ia membuatkan Hanin sayur sop ayam. "
" Sejak kapan kamu pintar memasak Fa? "Hanin hanya bisa melihat suaminya dengan tatapan bingung
" Sejak dulu, kami sering melihat mama Navysah memasak. Orangtua kami tidak pernah memanjakan anaknya, kamu saja yang tidak tahu. "
" Makanlah." sambung Fafa kembali.
Hanin mencicipi sop ayam buatan Fafa yang menurutnya begitu lezat." Ini enak banget, oke fix mulai sekarang kamu yang masak untukku. "
" Dikasih hati minta jantung, ini tidak gratis! kamu harus membayar dengan.... "Fafa mengerlingkan matanya pada Hanin."
" Libur, libur! Capek aku tiap hari di pupuk terus."
" Kan ada lagunya, beri pupuk supaya subur. Yuk kita tanam agar teratur." Fafa menyanyikan lirik lagu anak-anak yang telah di plesetkan.
Hanin tersenyum dengan tingkah suaminya, ia begitu bahagia karena Fafa begitu manis memperlakukan dirinya.
__ADS_1
" Besok aku mulai sibuk karena Hara akan meluncurkan game terbaru, aku akan pulang telat. Kamu jangan menungguku. " ujar Hanin di sela makannya
"Jangan terlalu capek kerjanya."
Hanin menganggukan kepala tanda setuju.
Dan benar saja Fafa meminta imbalannya, ia menyentuh Hanin berkali-kali hingga lelah.
* **
Alif yang sedang bekerja kini mendengar teriakan seorang anak kecil di lorong rumah sakit. Alif sempat tertegun, mencoba mengingat kembali siapa anak kecil yang memanggilnya.
"Om dokter masih ingat aku, kan?" tanya gadis cilik itu, ia bersama seorang lelaki dewasa dan wanita yang menggunakan kursi roda.
" Aku anak yang jualan bunga di lampu merah. Ini kartu nama Om dokter." sambungnya lagi, ia menunjukan kartu nama Alif.
"Iya, ya Om ingat sekarang." Alif tersenyum. "Kenapa baru datang sekarang?"
"Maaf Om, soalnya bapak takut kalau harus membayar biaya perawatan ibu." ucapnya dengan polos
" Saya Darman, orangtua Nisa dan ini istri saya yang sedang sakit dok, bengkak di kakinya belum juga sembuh dan dadanya terasa sakit."
"Mari aku kenalkan dengan dokter Juna, dia spesialis penyakit dalam." Alif membawa mereka ke ruang praktek Juna.
"Kak, tolong bantu bapak ini. Seperti biasa." Alif memberikan kode oke pada Juna.
Dokter Juna tahu Alif selalu memberi kode oke jika pasien yang dibawanya kurang mampu dan semua pembayaran akan di bebankan pada Alif
"Sip!"
" Pak Darman, saya tinggal dulu. Masih ada pasien lagi."
"Iya, terimakasih pak dokter." Ucap pak Darman
" Terima kasih Om dokter." ucap Nisa
Dengan telaten Juna memeriksa kesehatan istri dari pak Darman, ia melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
***
Alif pulang dengan terburu - buru, ia mencari ibunya ke semua ruangan.
" Mah, mama!"teriak Alif dengan keras, ia melihat ibunya berada di dapur bersama ayahnya.
" Iya Lif, kenapa? " Navysah bingung karena Alif berteriak,ini jarang terjadi. Mungkin jika Fafa yang berteriak, itu hal yang biasa.
Alif memeluk ibunya dari belakang, menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu kenapa sih Lif? Tumben seperti ini." sambung Navysah kembali.
Davian hanya melirik istrinya yang sedang dipeluk anaknya dengan erat.
" Tidak ada apa-apa mah, mama dan ayah harus sehat terus,Alif tidak ingin mama sakit .Tadi siang Alif melihat seseorang yang mirip mama masuk IGD, Alif jadi ingat mama." Alif berkaca-kaca saat mengatakannya.
"Oh, ya ampun,kasihan sekali ibu itu. Semoga dia sehat kembali. Ayo kita makan Nak."
"Alif, mau sampai kapan kamu memeluk ibumu." ujar Davian dengan wajah cemberut
"Ya ampun ayah, masa sama anak sendiri cemburu!"
"Ayah tidak cemburu, hanya mata ayah sakit kalau harus melihat kamu memeluk mama Navysah ."
__ADS_1
"Itu namanya cemburu ayah." ucap Alif, ia sengaja menciumi pipi ibunya agar Ayahnya bertambah cemburu.