
Rio mengabarkan bahwa dia akan mengambil kesempatan untuk kuliah di luar negeri. Hari ini ia sedang berbahagia dan bergegas mengurus semua surat dan keperluannya namun berbeda dengan Raffa, ia merasa sedikit kesal karena ibunya pasti sengaja menyuruh Rio untuk kuliah bersamanya agar sang ibu bisa memantau kegiatannya di luar sana.
Hari ini ia berkunjung ke rumah Imelda, membicarakan beberapa hal yang penting kepadanya sekaligus pamit karena beberapa hari lagi ia akan pergi ke luar negeri.
"Tumben ponakan ganteng Mami kemari." sapanya,ia mengulurkan tangan dan Raffa mencium punggung tangannya.
" Kenapa wajahmu kusut begitu,kurang jatah dari Kinan" godanya sembari tersenyum. Ia melihat wajah Raffa cemberut tidak seperti biasanya yang selalu mudah tersenyum.
" Masih tunangan mih, belum menikah jadi nggak ada jatah." ucapnya dengan menggulum senyum
"Halah..., jaman sekarang pacaran saja sudah dapat jatah. One night stand aja sudah biasa, apalagi sudah tunangan mereka terkadang berpikir pasrah. Nggak ada jatah nggak betah"
"Tapi aku bukan penganut aliran iya-iya mih, kayak nggak tahu mama Navysah saja bisa-bisa aku dicoret dari daftar keluarga dan tidak dianggap anak" ucapnya sembari menghampiri Imelda yang duduk di seberang darinya dan bergelayut manja di lengan Imelda seperti dulu saat ia kecil.
"Kamu kenapa tumben banget kayak bocah, kalau kayak gini lebih mirip Keken yang sudah pasti ada maunya." cibirnya
Ia masih saja bersandar di lengan Imelda tanpa membalas perkataannya, ia tahu Mami Imelda memang memiliki mulut yang tajam. Apa yang dikatakan selalu to the point dan bukan tipe orang yang suka basa - basi. Suara ketusnya sudah terbiasa bagi sebagian orang, namun dibalik sifatnya yang terlihat angkuh sebenarnya dia orang yang sangat penyayang dan pelindung bagi keluarga.
"Mami, bantu aku membeli sedikit saham dari Daya Animation, aku mau itu mih." pintanya
"Apa...!, kau mau beli sahamnya.Kenapa?"
" Aku melihat perusahaannya cukup bagus, semuanya stabil, dan grafik nilai saham perusahaannya selalu bertambah. Aku yakin perusahaan itu akan maju untuk beberapa tahun kedepan. Orang lebih suka bermain game dan menonton animasi sebagai hiburan,aku ingin suatu saat bisa membuat studio animasi sendiri mih "
" Dari mana kau tahu tentang Daya Animation? " tanyanya dengan selidik.
" Dari Internet dan beberapa portal berita, aku sudah lama melihat rekam jejaknya. Dan juga... aku kenal dengan anak mereka. Aku pernah ke rumahnya dan melukis foto keluarganya. "
" Punya berapa duit? "tanyanya kembali
" Cuma satu miliar sekian, itu sisa pemberian uang jajan dari mama Navysah dan uang dari perlombaan animasi yang selalu aku ikuti. Tabungan terakhirku mih "
" Dih...!, uang segitu mah buat beli kuaci doang "cibirnya, ia sengaja mengejek Raffa dengan menjulurkan lidahnya." Sana minta uang sama Ayahmu, duit dia banyak. Ngapain modal segitu nggak level."
" Mamih...! "rengeknya," Itu hasil kerja kerasku selama ini memang sedikit tapi nanti juga bertambah banyak. Ya mih bantuin aku ya, mami kan jago dalam urusan bisnis ". Ia semakin mengeratkan pelukannya agar mendapat lampu hijau dari Imelda." Aku mau punya usaha sendiri tanpa modal dari Ayah "
" Tapi kurang modalnya kalau cuma segitu, tambahin lagi dikit "
" Yasudah, Raffa bantuin pijitin Mami biar dapet tambahan ya."
Ia segera memijit bahu dan kaki Imelda dengan semangat agar mendapatkan uang tambahan untuk membeli saham dan Imelda hanya menggulum senyum, ia tahu ponakan yang satu ini pantang pulang sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Cuma pijit bahu sama kaki minta tambahan beli saham.Ampun banget dah, rugi bandar Mami ini" gerutunya, namun dalam hati ia ingin tertawa keras melihat perjuangan Raffa yang sedang meluluhkan hatinya.
"Ya sudah, Raffa bantuin masak sama beberes rumah selama beberapa hari. Nanti Raffa jadi sopir Mami deh, kemanapun Mami pergi Raffa anterin" tawarnya, ia tidak akan menyerah sebelum Mami mengiyakan keinginannya.
__ADS_1
"Oke, kamu kerja disini beberapa hari ya. Jangan mengeluh kalau capek"
"Iya mih, Raffa nggak akan mengeluh. Yang penting saham di acc, hehehe" ucapnya dengan cengengesan.
Setelah memijit Imelda hingga ia tertidur pulas, Raffa bergegas membersihkan rumah dan membantu bibi memasak di dapur. Asisten rumah tangga Imelda tidak enak hati karena Raffa bersikukuh membantunya. Ia merasa heran dengan tingkah ponakan bos yang satu ini.
Hingga sore hari ia sudah melakukan semua kegiatan membersihkan rumah Imelda sampai mencuci mobil dan mengantarkan Imelda untuk pergi shopping.
Ia pun mengikuti perintah Keken yang terbilang nyeleneh,ia menyuruh Raffa memandikan kucing kampung yang ia dapat dari jalanan. Keken iri karena Fafa mempunyai kucing kesayangan sedangkan dia tidak punya, ia selalu merengek pada ibunya namun tetap saja tidak diijinkan. Imelda tidak suka memelihara hewan di rumahnya.
"Terus ini mau diapain kucingnya?" tanya Raffa, " Kalau ketahuan Mami bisa-bisa kamu diomelin lagi Ken."
" Nanti nitip di Shafa, dia punya banyak kucing. Ia pasti suka dengan si Mpus ini"
"Kalau nggak boleh gimana, ini kan kucing kampung bukan kucing persia yang mahal."
"Harus mau!, Keken tidak menerima penolakan. Klo dia nggak mau, Keken kerjain tiap hari di sekolah" ancamnya.
Raffa hanya memutar bola matanya dengan malas," Miniatur Om Feri banget" gumamnya dalam hati.Dan mereka mengunjungi rumah Shafa yang tidak jauh dari rumahnya, Keken berjanji akan memberi makan setiap hari dan membantu Shafa untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama sehingga Shafa mengiyakan keinginannya.
Semalaman dia begadang bersama Om Feri, mereka bermain game hingga dini hari. Demi keinginannya, Raffa mengikuti semua keinginan keluarga Mami Imelda. Ia menginap disana selama dua hari.
* **
Kinan datang pagi hari ke rumah mama Navysah untuk bertemu dengan Raffa karena sudah dua hari dia tidak bisa menghubunginya. Ia meminta ijin untuk pergi ke kamar Raffa dan terlihat seorang pria yang sedang tertidur di ranjangnya dengan bertelanjang dada.
"Raffa, bangunlah sudah jam sembilan". Ia sengaja mengguncang tubuh pria yang tertidur pulas dengan memeluk guling. Walaupun rambutnya terlihat berantakan, baginya ia masih terlihat sempurna.
Raffa menggeliat dan menyipitkan matanya, melihat seorang gadis cerewet yang duduk di samping ranjangnya.
"Apaan.." lirihnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Bangun, kamu ngapain saja dua hari disana?" tanyanya, "Aku telepon nggak diangkat, kata mama Navysah kamu di rumah tante Imel"sambungnya dengan wajah cemberut.
" Aku sibuk ada urusan dengan Mami Imel, sebaiknya kamu keluar pergilah ke kamarmu sana. Aku masih ngantuk banget Nan. "jawabnya dengan mata terpejam dan masuk ke dalam selimut lagi.
Kinan masih saja cemberut, saat ini yang ia inginkan bisa menghabiskan waktu bersama tunangannya sebelum pergi jauh, namun Raffa masih seperti semula acuh tak acuh padanya walaupun status mereka sudah bertunangan.
"Aku ingin jalan denganmu" lirihnya, ia masih mengguncangkan tubuh Raffa.
"Sore saja, sungguh aku ngantuk banget tadi baru tidur dua jam" balasnya dengan malas.
"Emang ngapain saja disana?" tanyanya penasaran.
"Bantuin Mami Imel biar dapat uang jajan" lirihnya, masih dengan mata terpejam.
__ADS_1
Kinan penasaran dan mendekatkan diri ke arah Raffa, "Dapat berapa uang jajannya?"
"Lima ratus"
"Lima ratus ribu selama dua hari disana" ucapnya lagi
"Lima ratus juta" balas Raffa dengan malas.
"Hah...!! " Kinan terkejut mendengar uang jajan lima ratus juta selama dua hari hanya dengan membantu tante Imel. "Kok banyak banget" sambungnya lagi.
"Iya, aku juga dapat dari Om Feri satu"
"Satu juta.." tanyanya lagi untuk memperjelas.
Ia menggelengkan kepala, " Satu Milyar" lirihnya.
"Hahhh...!!" ia terperangah kedua kalinya, " Kenapa banyak sekali, aku juga mau kerja dua hari dapat uang jajan satu Milyar setengah"
"Itu pengecualian, cuma aku ponakan tersayang mereka" ia masih memejamkan matanya.
" Wahhh, kalau aku jadi selingkuhan Om Feri pasti tinggal duduk manis di rumah. Tidak perlu capek kerja dapat uang banyak". Ia membayangkan bagaimana jika ia mendapatkan banyak uang dan menjadi selingkuhan dari seorang Feri.
Raffa membuka matanya dan melotot kearah Kinan, "Jaga mulutmu Kinan..!" bentaknya, " Bicara harus yang baik, jangan pernah berharap menjadi selingkuhan dari suami orang hanya karena alasan ingin banyak uang"serunya lagi dengan nada tinggi. Ia bersandar di kepala ranjang dan menatap Kinan dengan tajam.
" Kalau kamu mau uang, aku bisa memberi jatah uang jajan setiap bulan. Tidak perlu kamu berkata seperti itu. Dan walaupun kita tidak berjodoh carilah laki-laki yang baik dan single bukan perebut suami orang!" ketus Raffa, ia selalu emosi jika Kinan sudah bicara ceplas ceplos tanpa berpikir terlebih dahulu.
" Maaf, aku cuma bercanda." rengeknya, " Tadi cuma asal ngomong, kamu jangan marah seperti ini. Aku takut". Matanya mulai berkaca-kaca melihat Raffa yang emosi kepadanya. "Aku janji tidak akan bicara sebelum berpikir terlebih dahulu dan perkataan yang tadi jangan diucapkan lagi, aku mau menunggumu disini dan berjodoh denganmu bukan orang lain."
Ia segera memeluk Raffa dengan erat.
"Lepasin..!, nanti ketahuan mama Navysah bisa diomelin. Sudah sana pergi ke kamarmu. Aku mau tidur jangan ganggu" ucapnya dengan cemberut
"Tapi kamu mau maafkan aku kan?" ia masih berkaca-kaca, hanya dengan senjata ini Raffa akan luluh padanya.
"Iya, sudah sana pergi " ia bergelung di selimutnya kembali.
"Dan kamu mau pergi bersamaku hari ini kan, menuruti semua keinginanku kali ini?" pintanya lagi dengan wajah memelas
"Ya ampun, benar-benar deh kamu Nan selalu bikin aku kesal. Iya iya nanti dua jam lagi aku bangun, kita jalan kemanapun yang kamu mau dan mengikuti keinginanmu. Puas?" ia melirik wajah Kinan yang sendu, entah kenapa setiap melihat Kinan sedih ia selalu mengiyakan keinginannya ,seolah melihat adiknya yang sedang bersedih.
" Oke, makasih sayangku. Cup " ia mencium pipi Raffa yang begitu menggoda baginya dan berlari pergi dari kamar.
"Kinan.....!!!" teriak Raffa, ia sangat kesal jika ada seseorang yang menyentuh wajahnya.
* **
__ADS_1
Matursuwun sudah mampir, jangan lupa like, Vote and comment. Slow update ya gaes, lagi banyak kerjaan. Alon-alon asal kelakon 😊😁🙏😘😘❤️