
~Flashback on~
Bu Rahmi
Bu Rahmi menelepon suaminya karena Antoni berkelahi dengan temannya, namun hingga malam ia menelepon handphone suaminya selalu tidak aktif. Ia bergegas ke rumah sakit untuk menemui nya.
Saat berada di lobby ia melihat suaminya keluar menggunakan mobil, ia penasaran karena wajah suaminya terlihat sangat marah. Bu Rahmi harus pura-pura pergi ke toilet untuk mengalihkan bodyguard yang selalu menjaganya. Ia harus keluar lewat pintu belakang rumah sakit dan meminta tukang ojek untuk mengikuti mobil suaminya.
Ia masuk ke dalam restoran Korea dan melihat suaminya masuk ke area private. Ia mengendap-endap mencoba mendengarkan apa yang dilakukan suaminya di dalam sana, bertemu dengan siapa suaminya sehingga membuat wajahnya berubah marah. Belum sempat ia mendengarkan pembicaraan, mulutnya dibekap oleh seorang pria dan membawanya ke ruang sebelah tepat di samping ruangan suaminya.
Pria itu akan melepaskan dirinya dengan isyarat satu telunjuk di mulutnya dengan arti ia harus diam dan Bu Rahmi mengiyakan permintaanya. Mereka berdua saling mendengarkan apa yang dikatakan oleh Davian dan Pak Riza di ruangan sebelah.
"Ada apa pak Davian mengundangku kemari, saya tidak punya waktu untuk mengobrol lama" ia mendengar ucapan suaminya. Bu Rahmi langsung berfikir, ia pernah mendengar nama Davian namun ia lupa.
"Siapa dia, Davian, Davian" gumamnya dalam hati, Ia mulai mengingat nama-nama sahabat suaminya yang ia kenal, namun ia tidak menemukan nama Davian dalam deretan nama sahabat suaminya. Ia terus mengingat siapa Davian itu, namun wajah seorang pria dihadapannya mengingatkan ia dengan teman Antoni. Ia pernah melihat pria itu mengantarkan Raffa ke sekolah,Raffa mencium tangannya layaknya seorang anak pada orang tua.
Saat itu ia dan suaminya pergi ke sekolah untuk mengantarkan Antoni lomba animasi tingkat sekolah. Raffa saat itu tersenyum dan menyapa kedua orang tua Antoni dengan santun. Ia dan Antoni sama - sama hobi dalam bidang animasi.Namun, anaknya menjadi juara tiga dan Raffa menjadi juara pertama. Dan dari situ ayah Antoni selalu memuji Raffa karena juara pertama dan sosoknya yang selalu baik dan sopan terhadap orang tua.
"Jangan - jangan yang berada di dalam itu Davian, ayah dari Raffa Raihan yang Antoni pukul" gumamnya dalam hati. "Dan orang yang ada didepanku ini mungkin adik dari Davian, karena saat itu Raffa begitu hormat padanya" sambungnya lagi.
__ADS_1
Ia ingin sekali menggunakan handphone nya untuk mencari tahu siapa Davian sebenarnya, namun ia tidak melakukannya, ia takut ketahuan karena handphonenya sudah disadap oleh suaminya. Antoni hanya bercerita ia memukul Raffa Raihan anak dari bos properti dari keluarga Ahmad.
Ia kembali mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang keluar dari mulut suaminya dan Davian. Ia sempat terkejut saat orang lain mengetahui rahasia terbesar di keluarganya. Ia berkeyakinan bahwa seorang Davian mampu menolongnya untuk lolos dari ikatan seorang Riza Kusuma.
Setelah terdengar suara pintu ditutup, dan suara suaminya tidak terdengar lagi, ia merasa sedikit lega. Ia menghembuskan nafas kasarnya.
"Boleh saya pinjam handphone bapak?" pintanya.
Kamil menyodorkan handphone nya dan ia langsung mencari di Internet siapa itu Davian Ahmad. Ia membelalakan matanya, di go*gle pencarian begitu terlihat jelas wajah seorang Davian Ahmad dan istrinya.
Ia pernah melihat wajah istri dari Davian Ahmad saat ia mengantarkan putri ke sekolah.Namun wajah dari pemilik bos properti itu, ia tidak pernah melihatnya.
Ia duduk tepat dihadapan Davian yang sedang menyesap teh macha nya.
" Perkenalkan Pak, saya Rahmi orang tua dari Antoni Kusuma" ucapnya,"Saya sebagai orang tua meminta maaf atas segala kesalahan anak saya. Saya belum mampu mendidik anak saya dengan baik" sambungnya lagi. Ia terlihat sangat menyesal dengan perbuatan anaknya.
"Antoni hanya korban dari keserakahan suami saya, ia tidak bersalah. Tolong maafkan anak saya" ucapnya lagi.
" Pak Davi, saya sudah mendengar anda akan melaporkan suami saya jika dia bertindak kasar pada kami, saya sangat berterima kasih banyak untuk itu. Bolehkah saya meminta tolong lagi?" pintanya.
__ADS_1
" Kenapa anda meminta tolong pada saya, kita tidak cukup mengenal "ucap Davian dengan senyuman kaku.
" Karena cuma bapak yang bisa menolong kami untuk lepas dari seorang Riza Kusuma, saya hanya wanita biasa tidak punya power untuk melawannya" ia menatap sendu ke arah Davian, ia menceritakan kejadian beberapa tahun silam yang mengharuskan suaminya menukarkan anaknya dengan yang lain, dan menceritakan betapa ringan tangannya dia pada anak dan istrinya.
" Saya hanya ingin menggugat cerai dengan alasan KDRT, agar hak asuh anak jatuh kepada saya . Saya ingin anak - anak tidak tertekan dengan sikap Ayahnya" ia mulai meneteskan air matanya. "Tapi itu sangat sulit di pengadilan, Riza Kusuma bukan orang sembarangan" ucapnya lagi. "Sebenarnya dia pria yang baik dan sayang dengan keluarga namun lima tahun yang lalu saat Ayahnya meninggal ia menjadi berubah kasar, selalu memukul anaknya, ia selalu mempertahankan posisinya di rumah sakit dengan cara apapun. Walau banyak orang yang ingin menendangnya dari jabatan direktur ia masih tetap tidak bergeming.
"Tolong saya untuk melancarkan semua urusan saya pak, saya tidak peduli walaupun harus tidur di jalanan ataupun mati ditangan nya yang terpenting anak saya tidak tertekan,psikis nya bisa terganggu dan saya tidak ingin itu terjadi,saya ingin mereka hidup bahagia dengan impiannya", ia menghiba pada Davian agar mau membantunya.
Davian hanya menanggapinya dengan wajah datar.
"Ini flashdish yang sudah saya copy,ini bukti pemukulan saat di halaman rumah dan saat di mobil,cuma ini yang saya punya karena Cctv dirumah selalu dia hapus sehingga saya tidak punya bukti lagi. Dan cuma bapak yang saya percaya" ia membuka kaos kaki nya dan menyodorkan flashdish kecil ke arah Davian. "Maaf flashdish nya saya simpan di kaos kaki ini karena ini tempat teraman untuk menyimpannya" ia sedikit malu pada Davian. "Saya permisi dulu pak, semoga bapak mau membantu saya" ucapnya dengan penuh harapan. "Saya permisi dulu" ia beranjak dari duduknya dan ingin bergegas pergi namun suara berat Davian menghentikan langkahnya.
" Besok ajukan surat ceraimu ke pengadilan, aku akan membantumu mendapatkan keadilan dan hak asuh anak. Hiduplah dengan nyaman dengan anak - anakmu" ucapnya.
Bu Rahmi terduduk lemas di lantai dan menutupi wajahnya, ia menangis keras karena tidak menyangka Davian akan membantunya semudah ini. "Terima kasih pak.. Terima kasih" lirihnya sembari sesenggukan. Ia merasa sangat lega, semua beban yang ada di pundaknya kini terasa ringan. Harapan berkumpul bersama kedua anaknya tanpa ada rasa tertekan kini mulai terlihat walaupun jika ia keluar dari rumah maka ia harus berjuang keras untuk membesarkan anaknya sendiri.
* **
Alhamdulillah 2 bab kelar, jangan lupa like, Vote and comment ya gaes. Matursuwun All reader πππβΊοΈ
__ADS_1