
Fafa berada di ruang tamu keluarga Dewantara, ia terlihat begitu tampan dengan balutan jas berwarna putih. Berkali- kali Fafa menghela nafas panjangnya sembari meremas tangannya. Bukan ini yang ia inginkan, menikah dengan wanita yang tidak sama sekali ia cintai. Namun, semuanya ia lakukan demi ibunya. Hanya demi ibunya
Navysah masuk ke dalam kamar Fafa dan memeluknya dengan erat, "Terima kasih sudah mau menuruti keinginan mama sayang."
"Mama yakin kamu bisa bahagia dengan Hanin, menjaga hatimu dan sabar dengan Hanin. Anak mama pria yang baik, tidak akan pernah membuat istrinya menangis karenamu." sambungnya lagi.
" Mah, Fafa akan lakukan apa saja asal mama bahagia. Fafa sayang sama mama." Ia mencium kening ibunya.
" Berjanjilah untuk menyayangi Hanin, tidak ada wanita lain selain Hanin, jangan menyakitinya sayang. Kamu harus sabar, menjalani rumah tangga dengannya walaupun ini tidak mudah. "
"Tapi mah." Fafa urung berjanji pada ibunya, ia masih belum bisa melupakan Rena, bahkan hubungan dengannya masih berjalan mulus. "
" Mau kan berjanji pada mama? "tanya Navysah lagi.
" Iya mah. " ia hanya mengiyakan permintaan ibunya. Entah apa yang akan terjadi ke depan yang terpenting sekarang hanya menikahi Hanin dan menyelesaikan tugasnya.
Hanin kini menatap dirinya di cermin, tanpa terasa airmatanya mengalir begitu deras. Ia menatap nanar dan mencoba untuk ikhlas menerima segalanya. Walaupun dalam hati kecilnya, ia ingin sekali kabur dari pernikahan ini. Namun, Hanin masih memikirkan nama baik keluarganya dan juga keluarga dari tante Navysah yang begitu baik padanya.
"Jangan menangis terus, kamu sudah cantik. Semuanya pasti akan baik-baik saja Nin." Kinan mencoba melapangkan hati Hanin agar ikhlas menjalani pernikahan ini.
" Aku hanya takut dikhianati kembali." Hanin menundukan kepala, " Aku sudah trauma dengan kandasnya percintaanku dan kini menikah tanpa ada rasa cinta, apalagi si pria gila itu memiliki pacar, aku seperti pihak ketiga yang mengambil paksa dirinya dan aku tidak tahu akan kemana perjalanan rumah tanggaku."
" Kamu bukan pihak ketiga. " tegas Kinan," Lelaki itu mudah jatuh cinta tergantung bagaimana kamu akan membawa rumah tanggamu kemana, kandas di tengah jalan atau bahagia sampai akhir. "
" Fafa pria yang slengean tetapi dia akan mencintai seseorang hingga akhir. "sambung Kinan lagi
__ADS_1
" Kamu mau tahu caranya menundukan singa yang kelaparan?" Kinan mengulum senyum,sengaja mengoda Hanin dengan menaik turunkan alisnya
" Apa maksudmu? Gimana sih maksudnya? " Hanin benar-benar tidak tahu kemana arah pembicaraan Kinan.
" Dasar bodoh! kamu kuliah di luar negeri ngapain saja, sih!? "dengus Kinan dengan kesal.
" Belajarlah, masa pacaran. "sahut Hanin," Aku disana selalu dijaga dua puluh empat jam oleh pengawal ayah, walaupun aku suka minum dan keluar masuk club, tidak akan ada pria yang menggangguku. Dulu kak Raffa dan kak Rio yang selalu memantau kegiatanku. Mereka sangat baik dan menganggapku adik."
" Oh jadi Raffa selalu menjagamu. " gerutu Kinan," Enak sekali!, sedangkan aku disini selalu dicuekin dengannya. "
Hanin tersenyum penuh kemenangan karena merasa lebih diperhatikan oleh Raffa daripada tunangannya sendiri.
" Ingat, jangan berlebihan dalam bergerak! Lihat dadamu palsu, hahaha... " sindir Kinan. Ia sejak awal ditugaskan mama Navysah untuk menjaga Hanin agar tidak kabur. Disaat Hanin menggunakan kebayanya ia merasa tidak nyaman karena dadanya terlalu kecil sedangkan kebaya yang Navysah berikan berbentuk sabrina yang memperlihatkan dada dan bagian bahunya. Terpaksa ia menggunakan bra baru milik Kinan agar terlihat lebih besar dengan diisi beberapa sapu tangan agar terlihat penuh dan menantang.
"Nggak usah ngeledek!" ketus Hanin, " Ini tante Navysah yang salah bikin baju, sudah tahu dadaku kecil kenapa gaunnya seperti ini." gerutu Hanin dengan kesal.
Fafa menjabat tangan penghulu dan mengucapkan ijab qobul sebagai tanda sah nya pernikahan mereka. Dan disaat Hanin keluar dari tempat persembunyiannya, Fafa sempat melirik dan menatapnya dengan intens. Ia sedikit terkejut dengan penampilan Hanin yang begitu anggun dan cantik dengan kebaya dan siger khas sunda serta bagian dada yang besar.
"Itu asli nggak, sih!, saat aku remas kemarin sepertinya kecil " tanya Fafa dalam hati, ia benar - benar penasaran dengan dada Hanin yang penuh dan menantang.
"Lap dulu air liurmu." bisik Alif di telinga Fafa, ia melihat Fafa yang menatap dada Hanin tanpa berkedip.
" Nggak usah meledek, lama-lama ngeselin ya lif kamu itu." gerutu Fafa.
Fafa menyematkan cincin di jari manis Hanin dan tersenyum dengan kaku lalu membuang wajahnya kearah lain.
__ADS_1
Navysah dan bu Ria terlihat begitu bahagia, akhirnya anak mereka bisa menikah dengan lancar.
" Selamat ya sayang, akhirnya kamu menjadi menantu mama. Yang sabar ya hidup dengan Fafa, dia suka keluyuran dan nongkrong bersama temannya. Kini, tugas kamu harus membuat Fafa betah di rumah." Navysah memeluk Hanin dengan erat dan mencium pipinya.
"Iya mah." Hanin menjawab dengan sangat terpaksa, bagaimana caranya membuat Fafa betah di rumah,sedangkan melihat wajahnya saja ia merasa muak.
Acara begitu meriah karena Navysah mengundang beberapa kerabat dekat, namun sepanjang acara kedua mempelai tidak terlalu bahagia. Mereka hanya tersenyum terpaksa untuk menutupi semua perasaan sedih di hatinya.
Raffa sengaja meliburkan diri agar bisa melihat adiknya menikah walaupun hanya lewat video call. Ia begitu bahagia karena melihat adiknya kini telah menikah. Raffa berharap Fafa lebih bertanggung jawab pada hidup dan istrinya.
Di sisi lain,
Rena
Ia merasa aneh karena sudah dua hari handphone Fafa tidak pernah bisa di hubungi. Ia merasa gusar karena sekarang tidak memiliki uang dan Fafa salah satu atm berjalan baginya. Ia sengaja mampir ke perusahaan Fafa namun jawaban dari sekretarisnya mengatakan bahwa sudah dua hari Fafa ijin tidak masuk ke kantor dan di apartemennya pun terlihat kosong tak berpenghuni.
Ia begitu kesal hingga akhirnya ia berencana mampir ke kediaman keluarga Davian. Disana Rena tidak mendapati seorang pun, ia begitu sangat kecewa dan tanpa sengaja Rena menilik akun instagram milik tante Navysah.
Ia melihat secara live streaming acara pernikahan Fafa dengan seorang gadis bernama Hanin. Rena merasa kecolongan, bagaimana bisa pacar yang selalu setia padanya kini menikahi gadis lain. Fikirannya mulai berkecambuk, ia merasa frustrasi karena takut kehilangan semua fasilitas dan kenyamanan yang selalu Fafa berikan padanya.
"Kurang ajar!! Baru ku tinggal sebentar ke Bali dia malah menikah dengan gadis lain. Aku tidak bisa menerima semua ini." kilat amarah terlihat jelas di matanya. Ia meremas tangannya dengan erat.
"Apa yang sudah menjadi milikku, tidak ada yang boleh memilikinya. Aku harus bertindak walaupun harus dengan cara yang kotor." geram Rena kembali.
Ia melajukan mobilnya ke rumah keluarga Hanin, ia ingin sekali membubarkan acara pernikahan itu. Namun di saat ia meminta pengawal untuk membuka gerbangnya, ia sama sekali tidak diizinkan masuk.
__ADS_1
" Sial...!! beraninya mereka menolakku. Ia fikir aku akan mundur dari hidup Fafa, tidak akan!"
"Akan ku rebut Fafa kembali, dia milikku dan hanya aku yang dia cintai." Rena pergi dari kediaman rumah Hanin dengan kesal