
"Apa ka?" tanya Kinan
"Kata mama mau ikut makan di restoran nggak? Kita semua mau makan di luar" Inka melihat rambut Kinan yang acak-acakan dan wajah yang kusut. " Mbak Kinan kayak Painah, hihihi" ucapnya sembari terkekeh.
"Siapa Painah?" tanyanya penasaran.
"Itu.., Orang gila yang ada di sekitar sekolah Kaka. Rambutnya acak-acakan suka gendong keranjang sampah, Lariiiiii...!! " ucapnya sembari berlari, takut diomelin Kinan.
"Kakaaaaa..!!! Masa aku disamain orang gila" decaknya, ia bergegas mencuci muka dan berdandan.
Terlihat Kinan yang sudah rapi dan cantik, ia memakai dress diatas lutut dengan motif bergaris sehingga membuatnya terlihat ramping.
"Ayo kita berangkat ke restoran." Navysah melihat tubuh Kinan dari atas hingga bawah. "Sayang, mau pakai baju itu, nggak mau pakai jilbab kayak Kaka dan Haha?"
Ia berpikir sejenak, dirinya sudah terbiasa memakai dress untuk kesehariannya. Mama Navysah pun sering mengingatkan dirinya untuk memakai jilbab, namun ia tidak pernah memaksa.Kinan melihat Inka dan Inha yang terlihat semakin cantik dengan jilbabnya." Kinan ganti baju dulu sebentar, salah kostum" ujarnya.
"Kalau kamu mau pakai dress itu nggak apa-apa, mama nggak maksa kamu pakai jilbab. " ucap Navysah dengan tersenyum.
"Kali ini Kinan yang mau" ia berlari menuju kamarnya dan kembali lagi menggunakan gamis dan jilbabnya
"Tuh kan, cantik banget anak mama pakai jilbab. Aura nya lebih bersinar tambah manis" Navysah memeluk Kinan dengan hangat layaknya anak sendiri.
Blush, seperti angin surga mendengar ucapan dari mama Navysah. Ia tersipu malu. "Memang aku nggak kelihatan tua mah?" tanyanya
"Enggaklah, kamu itu cantik apalagi kalau pakai jilbab cantiknya bertambah sepuluh kali lipat"
" Fafa, emang mba pakai kayak gini kelihatan lebih cantik?" ia sengaja bertanya pada Fafa, selera dia cukup baik dalam menilai kriteria cewek cantik, ia yang ceplas ceplos dan bergaul dengan banyak anak perempuan terlihat lebih meyakinkan dalam hal penilaian, berbeda dengan Alif yang hanya melengos jika ditanya tentang cewek cantik.
Fafa melihat dari ujung kepala hingga kaki Kinan " Not bad" ucapnya dengan gaya tengil, berputar dari sisi kanan dan kiri seolah sedang melakukan penjurian. "Delapan puluh lima lah" sambungnya lagi.
Navysah gemas dengan kelakuan anaknya yang satu ini "Gayamu Fafa, mules mama lihatnya sok - sok an jadi juri penilaian kostum, kemarin juri chef makanan, entar apalagi coba, hah..." Navysah menghela nafas panjangnya. " Emang cita - cita kamu mau jadi apa, kalau si Alif mau jadi dokter. Kalau kamu apa?" tanya Navysah
" Fafa mau jadi youtuber, punya youtube chanel sendiri bisa saling sapa, hello gaes, whats up bro, lagi ngapain bro, yuk capcus yuk!" ia memperagakan beberapa gaya tengilnya dan seolah sedang menyapa penggemarnya.
"Astagfirullah" ucap Navysah, ia tidak menyangka anaknya punya pemikiran dan cita-cita sebagai youtuber. Dan sang Ayah yang sejak tadi diam mendengarkan pembicaraan mereka kini tertawa terbahak-bahak mendengar cita - cita anaknya hingga perutnya terasa kram "Ya allah,Enek bener sama bocah satu ini tingkahnya selalu ajaib sendiri out of the box"
* **
Mereka tiba di restoran D&R Restaurant, Pak Ari pun segera membuka pintu untuk sang majikan. "Tidak perlu Pak, saya bisa sendiri" ucap Navysah
"Nggak apa-apa bu, sudah tugas saya" ia pun membantu anak-anak keluar dari mobil. "Hati-hati non Inka, nanti kejedot atap mobil" ia memegang kepala Inka agar aman.
"Terima kasih Mang" ucapnya, ia lebih suka memanggil Mamang Ari bukan Pak Ari karena dulu sudah terbiasa memanggil Mang Dirman.
"Iya" ia pun menurunkan Inha dari mobil.
"Makasih Mamang" ucap Inha dengan lembut.
"Iya non Inha yang paling cantik" ucapnya, ia lebih suka dengan Inha selain penurut, Inha anak yang imut dan lemah lembut.
Inka mendengar Mang Ari memuji kembarnya, ia menoleh kembali "Kok aku nggak dipuji kayak Haha?" protesnya dengan cemberut, mereka berdua memang saling iri. Jika ada yang memuji lainnya maka yang satu harus dipuji juga, sama jika ibunya memeluk kembarannya, maka yang satu harus di peluk juga.
"Iya non Inka juga cantik dan imut " ucapnya lagi, dan benar saja raut wajah Inka berubah ceria kembali.
"Biasa Mang kalau satunya nggak dipuji gitu langsung protes, sawan seharian ntar" kelakar Navysah.
"Iya bu mereka lucu, apalagi kalau saya salah sebut nama pasti langsung protes. Maklumlah mereka sangat mirip, saya masih bingung membedakan mereka. Cuma non Inha yang paling kalem dan saya hafal, hehehe" ia terkekeh
"Iya mereka memang seperti itu, Ayo Pak kita makan rame-rame" pintanya.
__ADS_1
"Tidak usah bu, saya jaga mobil saja"
"Mobilnya nggak bakalan ilang walaupun nggak dijagain, Ayo makan jangan sungkan. Ini berlaku untuk semua sopir saya sejak dulu. Bapak santai saja, Ayo" ucapnya sembari masuk ke dalam restoran.
Mereka memilih private room di restoran karena tahu anak mereka tidak bisa diam dalam ruangan.
Setelah selesai makan mereka pergi nonton bioskop, mereka menonton film animasi anak-anak yang sedang booming di tanah air. Davian pun terlihat jenuh melihat film yang tidak sesuai dengan umurnya. Ia tertidur di bahu istrinya. Sedangkan Kinan hanya bisa menghela nafasnya "Seharusnya aku nonton film bersama Raffa, film romantis bukan film kartun begini " gumamnya dalam hati. Terlihat hanya double kembar yang sedang menikmati film layar lebar di depannya sembari mengunyah popcorn dan lemontea.
* **
Raffa kembali dari Velodrome, namun dirinya melihat rumah yang sepi tak perpenghuni. "Semuanya makan diluar sama adik-adik Den" ucap budhe Salma sembari menata lauknya.
"Iya budhe, tadi mama Navysah sudah telepon. Kinan ikut?" tanyanya
"Iya non Kinan juga ikut, mana dia cantik banget tadi."
Raffa mengenyitkan dahinya merasa bingung dengan ucapan budhe Salma namun ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi tentang Kinan, meskipun dia tahu jika Kinan pergi keluar rumah dan dandan ia terlihat sangat cantik.
"Assalamualaikum"
"Walaikumm salam"
Raffa yang sedang menonton acara berita kini menoleh ke sumber suara, terlihat Inka yang sedang tidur digendong Ayahnya dan Pak Ari yang menggendong Inha, diikuti ibunya dan Kinan. Ia melihat Kinan yang memakai jilbab dan membawa beberapa kantong mainan yang langsung direbut Alif dan Fafa.
Ia tidak berniat menyapa duluan, ia ingin tahu seberapa kuat gadis cerewet ini akan mendiamkan nya. Dan ia bergegas pergi ke kamar untuk tidur, karena dirinya memang sangat ngantuk. Ia melepas kaos dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Raffaaaa...!!!" teriak Kinan, ia langsung masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu dan melihat tubuh Raffa yang begitu bersih walaupun kulitnya lebih gelap dari seluruh keluarganya, ia pun melihat beberapa otot bisep di lengan Raffa.
"Glek.." ia menelan salivanya, Dan ia menundukkan kepalanya dan merasa gugup "Dilihat bikin deg-degan, nggak dilihat mubazir" gumamnya dalam hati.
"Kalau masuk ketuk pintu dulu, gimana kalau aku sedang telanjang. Kamu itu suka asal masuk kamar orang saja" cebiknya, ia langsung memakai kaosnya kembali. "Ada apa?"
Kinan berani mengangkat wajahnya kembali saat Raffa sudah mengenakan kaosnya. "Kamu bohong, katanya langsung pulang kenapa main sama Rio. Aku kan ingin ikut" ucapnya
"Kalau kamu ikut, emang kamu mau di taruh dimana.Sepeda motor hanya untuk dua orang tidak lebih"
"Kan bisa naik mobil?" ujarnya lagi.
__ADS_1
"Jakarta weekend macet, aku ingin naik motor. Toh kamu bilang mau nonton, kan udah nonton sama mama dan adik - adik " ucapnya
"Iya tapi nontonnya kartun" lirihnya, namun masih bisa di dengar Raffa.
"Terus maunya apa?" tanya Raffa, ia melihat Kinan yang masih memakai jilbab terlihat berbeda dan semakin cantik. "Nggak usah cemberut, nggak usah cerewet gitu nanti cantiknya ilang" ia mencoba merayu Kinan agar dirinya bisa segera tidur dan beristirahat.
"Jadi aku cantik?" tanyanya
"Hmmm" balasnya malas
"Beneran nggak bohong" tanyanya lagi
"Iya, masa aku bohong sih. Cepetan keluar sana aku mau tidur"
"Ah, kamu memang suka bohongin aku buktinya tadi siang juga ngilang, bohong terus." Dan Raffa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apa yang Kinan ucapkan memang benar dirinya suka kucing-kucingan.
" Terus kamu maunya apa?" ia beringsut masuk ke dalam selimut, matanya udah tidak bisa diajak kompromi.
" Besok seharian jalan sama aku" pintanya.
"Besok les, Rio mau kesini" ucapnya di sela-sela menuju mimpinya.
" Sehabis les" pintanya lagi, ia melihat Raffa sudah tidak bergerak "Raff, Raffa kok kamu tidur sih" ia menowel pipi Raffa dan mengelus rambutnya "Tidur saja masih tetep ganteng" gumamnya dalam hati.
" Jangan sentuh aku, pergilah " ucapnya lirih namun matanya sudah tertutup rapat "Ya besok terserah kamu mau kemana, aku ngantuk banget sekarang"
\* \*\*
Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun
__ADS_1