Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 6


__ADS_3

"Raffa, aku ikut pulang ke mama Navysah" Kinan berdiri tepat di depan sepeda Raffa.


"Kamu naik ojek aja, atau telepon mang Dirman. Lihat, ban sepedaku di kempesin lagi " Raffa menunjuk kearah bawah sepedanya. " Lagian kalau kamu mau ikut, mau bonceng dimana, ini sepeda gunung Kinan"


"Reseh banget sih!, siapa coba yang kempesin ban kamu. Coba lihat CCTV masa kamu diam terus sih diginiin. Raffa, ini bukan sekali dua kali tapi ini sering banget ban kamu dikempesin. Awas aja kalau ketahuan siapa yang ngerjain kamu akan aku balas!" ujarnya dengan berapi - api.


" Sudahlah tidak perlu diperpanjang, di depan ada bengkel motor. Itung - itung kasih babeh rejeki. Yasudah, sana pulang jangan ikuti aku terus"


"Kamu selalu seperti itu, mengalah terus nggak pernah marah" protesnya "Ayo, aku temenin ke depan, pokoknya pulang aku bonceng disini" dirinya menepuk bagian depan frame sepeda Raffa.


"Ogah!, Ini sepeda tunggal bukan untuk berdua. Habis mengaji sore aku mau bantu Om Rayyan di restoran. Kalau kamu bonceng disini, aku pasti lelah mengayuh karena kamu berat"


"Raffa, aku mau ikut kamu, pokoknya ikut" Kinan merengek seperti anak kecil, kakinya dihentak - hentakan dengan wajah menghiba.


" Dasar Ngeselin!". Akhirnya Raffa luluh dan mengiyakan permintaan Kinan, dirinya tidak ingin jadi pusat perhatian anak-anak lainnya yang melihat Kinan merengek padanya.


"Assalamualaikum beh"


"Walaikumm salam, eh Nak Raffa. Kenapa lagi ini sepedanya?" Babeh Nanang yang sedang santai langsung bangkit mendengar suara yang dikenalinya.


"Biasa beh"


"Ya allah, siapa sih Nak yang jahatin kamu. Setiap dua hari sekali pasti ban nya kempes, kadang juga bocor. Lapor bu guru aja Raff" babe Nanang mengecek ban Raffa, dan memberinya angin.


"Biarkan saja beh biar Allah yang membalasnya, kalau nggak kayak gini aku nggak bisa ketemu babeh disini. Gimana lancar beh usahanya?" Raffa menunduk dan mengecek tekanan anginnya.


"Alhamdulillah, hari ini sudah tiga orang yang servis motor, nggak kayak kemarin sepi banget cuma nambah angin saja. Tumben neng Kinan ikut kesini?" dirinya melihat Kinan berdiri disisi Raffa. Babeh Nanang sering melihat Kinan yang menemani Raffa sekedar menambal ban,sembari menunggu dijemput sopirnya.


" Iya beh, pengen bonceng Raffa "ucap Kinan.


" Ini beh uangnya " Raffa memberi uang warna hijau sebagai jasa tambah angin.


" Nggak usah Nak Raffa, kamu sering kasih uang babeh. Ini gratis, kalau Nak Raffa bocor atau kempes ban nya kesini saja, selalu gratis buat Nak Raffa"


"Jangan gitu beh, ini uang jasanya jangan ditolak, nanti Raffa nggak mau kesini lagi lho kalau ditolak" ancamnya


"Jangan gitu dong, Ya sudah babeh terima. Makasih ya Nak Raffa, semoga rejekinya banyak jadi orang sukses dan nanti dapat jodoh yang terbaik"


" Aamiin" balas Raffa

__ADS_1


" Jodohnya aku beh" celetuk Kinan dan terkekeh.


" Loh, bukannya dek Kinan adiknya Nak Raffa. Masa jodohnya adik sendiri kan nggak mungkin" ucapnya.


Setahu Babe Nanang dulu Raffa memperkenalkan Kinan sebagai adiknya.


"Iya ya beh, nggak mungkin ya jodohnya adik sendiri" Kinan tersenyum getir, ada sedikit rasa nyeri di hatinya, entah kenapa.


"Ayo, katanya mau bonceng. Cepetan!" Raffa


Kinan buru-buru duduk menyamping di frame body sepeda. "Tas nya gimana?"


"Yasudah sini aku bawa" Raffa memakai tas punggung Kinan dan tas miliknya. " Jangan banyak gerak, kalau b*kongmu sakit jangan salahkan aku"


"Kita pulang dulu beh, assalamualaikum"


"Walaikumm salam"


Selama perjalanan Kinan selalu menggerutu.


"Raffa, pelan - pelan"


" Raffa, itu ada polisi tidur"


"Raffa berhenti sebentar, aku lelah"


Hingga keempat kalinya berhenti di pinggir jalan dan kesabaran Raffa sudah habis menghadapi Kinan.


"Kamu itu nyusahin saja!, sana naik ojek. Aku bisa telat pulang kerumah sebentar lagi ustadzah Lisna kerumah untuk menggaji. Dan seharusnya aku yang lelah karena berat mengayuh sepeda bukannya kamu " ketus Raffa.


"Kamu tidak ikhlas boncengin aku!" salak Kinan


"Sudah tahu aku tidak ikhlas kamu tetap memaksa. Aku kan sudah bilang, kalau bonceng disini pasti b*kongmu sakit tapi kamu keras kepala minta ikut"


" Oke, aku naik ojek saja. Terima kasih sudah kasih tumpangan. Pergi sana!" salak nya lagi.


"Yasudah, baguslah kalau kamu naik ojek jadi aku nggak berat mengayuh sepeda. Ini tasmu!" Raffa melempar tas kearah Kinan dan berlalu begitu saja.


"Raffa...!!" teriak Kinan " Nggak pengertian banget sih, tega banget ninggalin aku gitu saja" Dirinya berkaca-kaca melihat Raffa yang pergi meninggalkanya.

__ADS_1


~POV Kinan


Sepanjang perjalanan dia selalu meminta Raffa untuk berhenti. Ini kali pertamanya dia membonceng Raffa dengan sepeda, jarak yang begitu dekat membuat wajah Kinan bersemu merah. Kini juga kali pertama dia melihat Raffa dengan jarak yang dekat. Perasaannya tidak karuan, detak jantungnya begitu cepat melihat wajah Raffa yang penuh dengan keringat namun terlihat sangat seksi baginya.


"Ya allah, dia yang mengayuh kenapa aku yang ngos-ngosan"


"Dia yang lelah mengayuh, kenapa aku yang lemas"


" Wajahnya terlihat seksi dengan bulir - bulir keringat di dahi nya. Apa yang harus aku lakukan, kenapa jantungku deg - degan. Aku merasa tidak nyaman duduk seperti ini. Lebih baik berhenti dulu, istirahat menenangkan perasaanku "


" Kamu nyusahin saja"


" Sudah tahu tidak ikhlas, kamu tetap memaksa". Ucapan Raffa membuat diriku naik darah. Dan dia meninggalkanku sendiri,sungguh sangat tidak berperasaan.


"Benar-benar tidak peka. Menjengkelkan!" ucapnya. " Eh, tunggu dulu. Ini pertama kalinya juga dia melihat Raffa ketus dan marah. Sejak kecil dia tidak pernah melihat Raffa marah seperti itu.


" Apa aku sudah keterlaluan padanya hingga Raffa marah padaku"


"Seharusnya aku yang marah, kenapa dia yang marah"


Terlintas ucapan Rio padanya" Kamu itu maunya diturutin terus, keras kepala, manja. Untung Raffa sabar banget sama lu "


" Apa aku seburuk itu "ucapnya dalam hati.


" Nggak ah, aku biasa saja. Raffa yang salah titik" ucapnya bermonolog dan sembari memesan ojek online untuk mengantar pulang ke rumah.


~POV Raffa


Sepanjang perjalanan dia fokus mengayuh sepeda, angin yang berhembus membuat rambut Kinan terurai dan mengenai wajahnya. Aroma shampo dengan wangi bunga menyeruak di indera penciumannya. Sesekali melihat wajah Kinan yang terlihat sangat dekat,dengan mulut yang selalu mengomel entah apa yang diucapkannya. Tahi lalat yang tepat dibawah bibir tipisnya kini terlihat sangat jelas, dan Kinan selalu minta berhenti di pinggir jalan dengan alasan b*kongnya sakit, lelah. Diriku merasa kasihan melihatnya selalu menggerutu hingga akhirnya aku harus bersikap ketus dan marah agar dia bisa naik ojek dengan nyaman. Kasihan adikku jika harus ikut membonceng sampai rumah.


Sesampainya dirumah aku mengganti pakaian dan mengaji bersama ustadzah Lisna namun tidak ada tanda - tanda Kinan datang ke rumah. Ingin rasanya mengirim pesan namun saat ini tidak tepat, pasti dirinya sedang merajuk, kesal dengan sikapku tadi.


Setelah mengaji, jadwal selanjutnya membantu Um Rayyan di restoran namun fisik yang terkuras habis karena mengayuh sepeda dengan beban berat membuat kakiku sakit dan akhirnya tertidur di ranjang hingga malam.


Tengah malam diriku terbangun, kulihat jam dinding pukul satu malam . Mengecek pesan di handphone tidak ada pesan satu pun dari adikku Kinan.


" Mungkin dia masih marah, Yasudah aku shalat isya dan tahajud dulu. Besok kutanya dia, apa masih marah denganku"


* **

__ADS_1


Matursuwun sudah mampir, jangan lupa like, Vote and comment. Love you All reader 😘😘


__ADS_2