Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 104


__ADS_3

Alif


Saat mereka semua sedang bercanda dan membicarakan tentang Mizardi, Alif mendapatkan telepon dari ibunya bahwa Hanin akan datang ke hotel dua puluh menit lagi karena ia akan mengecek tempat catering. Mama Navysah mengatakan bahwa dalam pernikahan mas Raffa, ibu dari Hanin lah yang bertanggung jawab dalam urusan catering.


"Siap mah." jawab Alif, saat ia menutup teleponnya. Alif melihat seorang wanita gemulai dan wajah yang tidak asing baginya.


Ingatan Alif sangat tajam,mampu mengenali teman sekolahnya dulu walaupun dia sudah berubah bentuk. Mizardi.


Alif mengangkat sudut bibirnya,seolah mendapatkan kesempatan untuk berbuat usil pada saudara dan sepupunya itu.


Alif berharap hari ini keberuntungannya untuk mengerjai dua orang yang selalu membuat dirinya kesal.


***


Suara sepatu seorang perempuan begitu nyaring terdengar.


Mereka semua menoleh kearah gerbang ballroom. Terlihat dua orang gadis kakak beradik yang mereka kenal.


Fafa melihat Hanin dan Halwa.Keringat Fafa mulai menetes di dahinya, ia berharap dua orang gadis itu tidak masuk ke dalam ballroom.


Fafa berfikir jika Hanin yang masuk sudah pasti ia akan mendapat makian dan omelan yang begitu tajam. Dan jika Halwa yang masuk, sudah pasti Fafa akan berhadapan dengan si Kribo gila yang notabene pacar dari Halwa. Seperti buah simalakama,hati Fafa kian gundah gulana.


"Jangan mereka ya Allah." gumam Fafa dalam hati.Ia sangat berharap bukan Hanin dan Halwa yang masuk.


Saat Hanin menerima telepon, Halwa menunggu di samping Hanin sembari memainkan ponselnya. Terlihat dari cara Halwa yang mengerakan jarinya dengan cepat sepertinya ia sedang bermain game.


Fafa merasa lega karena mereka sibuk dengan kegiatannya masing - masing dan Fafa berharap ada orang lain yang akan masuk. Entah itu pria ataupun wanita akan Fafa cium yang terpenting bukan mereka.


Fafa melihat seorang pria membawa beberapa buket bunga untuk dekorasi gedung, Fafa terlihat sumringah karena sebentar lagi pria itu akan masuk ke dalam ballroom.


Namun, tidak disangka Hanin memutuskan sambungan telepon dan berjalan cepat melewati pria itu sehingga dialah orang pertama yang masuk ke dalam ballroom.


"Anjayyyy....!!" Fafa terlihat lemas setelah melihat Hanin masuk ke dalam ballroom.


"Si Janin ngapain sih!, kenapa harus dia!" Fafa benar-benar merasa kesal karena prediksinya meleset.


Anggrek melongo dan menutup mulutnya tidak percaya, bagaimana bisa Hanin datang ke ballroom sedangkan acara belum dimulai.


"Cium dia." ujar Alif, "Ingat ya cium bukan kecup." Alif tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu Fafa dan Hanin tidak pernah akur dan sama-sama keras kepala.


"Ganti cewek yang lain, males gue lihat dia." Fafa membuang wajahnya kearah lain.


"Oh tidak bisa!, Ingat kata mama Navysah. Laki-laki dipegang karena ucapanya." tegas Alif


" Ah, lu rese Lif! sengaja ngerjain gue kan, iya kan?!"


"Siapa yang ngerjain, kita kan tadi ikut permainan dan lu kalah. Cepetan sono cium Hanin."


Fafa masih terdiam, ia tidak ada minat sama sekali untuk mencium Hanin.

__ADS_1


"Gue bayar sepuluh juta tapi batalin ya, iya Lif ya nggak usah cium si Janin." Fafa merengek agar Alif mau mengiyakan permintaanya.


"Sepuluh juta buat apa, aku juga punya uang segitu"cibir Alif


"Nol nya gue tambahin satu."


"Nggak Fa!, mau lu tambahin nol dua kali juga gue ogah,permainan tetap permainan dan yang kalah harus menerima hukuman."


Hanin dan Halwa semakin mendekat kearah mereka. Fafa semakin takut karena Hanin pasti akan murka padanya.


"Alif...." sapa Hanin dengan senyuman manis, "Ketemu lagi disini."


"Kamu ngapain sih disini?!" ketus Fafa,ia menatap Hanin tidak suka.


"Dih!, sewot aja lu!, Gue mau ngecek tempat untuk catering, semuanya harus siap. Ibuku kurang enak badan jadi aku dan Halwa yang turun ke lapangan."


"Datang disaat yang tidak tepat!" Fafa memberanikan diri mendekat ke samping tubuh Hanin.


Saat Hanin dan Anggrek sedang saling menyapa, Fafa dengan cepat mencium pipi Hanin.


"Cup." Fafa pergi begitu saja.


Hanin terdiam dan masih mencerna apa yang sedang terjadi padanya dengan sangat singkat. Hanin membelalakan matanya, saat Fafa mulai jauh darinya.


"Fafa!!! Brengs*k kamu...!!" Hanin berlari mengejar Fafa.


Halwa juga masih bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya. Kakaknya dicium secara langsung dan ditinggalkan begitu saja.


" Matilah kau Fafa!, belum tahu kalau kak Hanin murka seperti apa." ucap Halwa


Alif dan Anggrek saling berpandangan, mereka takut sesuatu terjadi pada Fafa.


"Aku akan mengejar mereka." Alif


"Aku ikut." Anggrek mengekori Alif


* **


Hanin mengejar Fafa hingga masuk lift. Wajahnya terlihat merah padam karena amarahnya pada Fafa.


Fafa seolah tidak peduli dan hanya memencet tombol lift untuk naik ke lantai atas.


"Berani-beraninya kamu mencimku, apa alasannya?" sentak Hanin


"Tidak ada alasan, Maaf..." balas Fafa, ia hanya bisa mengatakan maaf karena memang apa yang sudah ia lakukan salah.


"Hanya dengan minta maaf semuanya akan mudah." bentak Hanin, " Aku malu dicium di depan umum. Ada banyak karyawan, Alif, Halwa, Anggrek yang melihat."


"Maaf, tadi hanya bercanda." Fafa keluar dari Lift dan masuk ke dalam kamar hotelnya, Hanin ikut mengekorinya tanpa sadar.

__ADS_1


"Kamu fikir aku apa, HAH...!!!" bentak Hanin, ia meninju lengan Fafa dengan keras. Fafa tidak bergeming saat Hanin memukuli tubuhnya, sedikit sakit namun ia pantas mendapatkannya.


"Kamu fikir ini lucu!!! " teriak Hanin, " Kenapa sih kamu menjengkelkan seperti ini!! "


"Hanin cukup, tolong jangan berteriak. Kamu boleh memukulku tapi jangan pernah berteriak."


Fafa sejak kecil tidak pernah mendengar mama Navysah berteriak keras padanya, ibunya selalu berbicara lembut walaupun Fafa bersalah.


" Aku tanya, apa kejadian seperti itu lucu?!, di tempat umum kamu menciumku." bentak Hanin lagi


"Oke, oke gue salah. Kan gue udah minta maaf. Kalau lu merasa rugi dicium gue yasudah balikin aja. Lu boleh cium gue lagi disini." Fafa menunjuk pipi kiri nya.


"Plak...!!" satu tamparan keras mendarat di pipi Fafa.


" Aku serius Fafa, ku fikir aku bercanda.!!" Hanin kian emosi karena Fafa terlihat tidak menyesal dan seolah bergurau dengannya.


"Beraninya kamu menamparku!"seru Fafa, ia tidak suka dengan kekerasan dan kini Fafa tersulut emosi karena Hanin menamparnya kali ini.


" Kenapa!, marah! Sakit kan, malu rasanya ditampar seorang perempuan. "cibir Hanin.


Fafa hanya mengenggam erat jari tangannya, ia tidak ingin berbuat kasar pada Hanin." Pergilah dari kamarku, sekarang. "perintah Fafa, ia membuang wajahnya kearah lain.


" Kenapa tidak terima!, sakit kan."Hanin semakin mendekat kearah tubuh Fafa dan menjambaknya dengan keras.


" Hanin lepaskan!" desis Fafa saat rambutnya ditarik paksa." Jangan pernah kasar padaku. "


Fafa mencengkram kedua tangan Hanin dengan erat." Jangan membuatku marah. " geram Fafa, " Aku tidak mau menyakiti perempuan."


"Aku tidak peduli! kamu menyebalkan selalu membuatku marah!" Hanin berteriak keras di depan wajah Fafa, hingga terpaan nafasnya terdengar begitu berat meluapkan emosinya yang memuncak. Hanin kembali merangsek tubuh Fafa seolah ingin mencakarnya.


Fafa kembali mencengkram kedua tangan Hanin dengan kuat, ia melihat bibir Hanin dari jarak yang sangat dekat. Bibir berwarna soft pink.Bibir yang selalu ia inginkan dari setiap perempuan yang menjadi pacarnya, entah sudah beberapa minggu, Fafa tidak merasakan bibir lembut milik pacarnya. Haus


Tanpa sadar Fafa mencium bibir Hanin dan melum*atnya dengan lembut agar tidak berteriak.


Hanin membelalakan matanya, ia mendapat serangan dadakan kedua kalinya dari Fafa. Hanin terlihat syok dan langsung diam membisu.


Fafa melepaskan tangan Hanin, ia tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan. "Maaf." Fafa tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya, ia meninggalkan Hanin yang masih termenung di kamar hotel.


Alif dan Anggrek yang baru saja melihat kejadian di kamar itu hanya mampu menggelengkan kepala dengan sikap Fafa kelewat batas.


"Kalau saja mama Navysah tahu kamu kayak gini, sudah pasti kamu diomelin Fa. Bisa jadi menikah dadakan sama si Hanin." gumam Alif dalam hati.


"Aku pasti sudah gila, fikiranku ikut kotor gara-gara Fafa." gumam Alif dalam hati, ia melirik bibir Anggrek yang terlihat begitu menggoda, ingin rasanya Alif merasakannya juga.


* **


Ayok yang belum vaksin jangan lupa ya untuk vaksin, jaga kesehatan dan jangan lupa pakai masker.


Memang tidak ada visual disetiap novel yang aku buat karena aku juga tidak hafal dengan aktor /aktris Indonesia apalagi luar negeri. Mohon maaf πŸ™

__ADS_1


Kira2 siapa ya yang cocok untuk pemeran Raffa Kinan, Alif, Fafa dan Hanin menurut para reader? Jangan lupa comment di bawah (Kalau aku bingung , aku searching dulu wajah aktor /aktris nya. Hehehehe 🀣🀣🀣)


Matursuwun sudah mampir ☺️😊😘😘😘


__ADS_2