Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 53


__ADS_3

Rumah kediaman pak Sulaiman kini terasa sangat ramai sejak pagi hari, para pelayat berdatangan untuk melihat jenazah yang terakhir kalinya. Mereka sebagian membantu merangkai bunga untuk ditaruh di keranda mayat, dan sebagian orang membantu untuk proses pemakaman.


Keluarganya tidak menyangka ibu akan meninggalkan mereka secepat ini, bahkan tidak ada yang tahu saat ibunya sakaratul maut.


Penyesalan dan penyesalan selalu datang di akhir kejadian dan Febri merutuki kebodohannya, andai ia tidak kelelahan setelah bekerja dan tidak tidur terlalu cepat pasti saat ini ibunya masih hidup.Sejak semalam setelah ibunya meminum obat ia hanya bicara agar mereka harus saling menjaga dan selalu rukun.


"Titip Navysah dan Naysila, mereka kakak tirimu tapi sangat sayang padamu Nak"


"Sudah punya anak, jadilah Ayah yang baik tidak slengean terus. Urus bengkel dan Ayah dengan baik. Mama titip Ayah "


"Kamu anak lelaki mama satu - satunya. Jangan lupa salat, jadilah pria yang bertanggung jawab "


Pesan terakhir ibunya sebelum ia tertidur pulas, dan begitu mudahnya sang ibu menghembuskan nafas terakhir hingga tidak ada seorang pun yang mengetahui. Sedangkan saat malam itu Ayahnya tidur di sofa agak jauh jarak dari ranjang ibunya.Ia pun tidak menyangka sang istri akan pergi setelah pamit dengannya.


"Terima kasih sudah menjadi suami terbaikku,menyayangi kami dan mau menerimaku yang dulu janda dua anak"


"Jagalah kesehatan, jangan lupa salat dan makan"


"Titip anak-anak, mereka akan selalu menyayangimu "


Kini pak Sulaiman terduduk lemas dan selalu melihat wajah istri kesayangannya. Istri yang selama ini menguatkan dirinya, selalu ada disaat senang dan susah, istri yang selalu menjadikan rumah ramai penuh dengan canda tawa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan berharap ini semua adalah mimpi dan akan kembali seperti semula.Namun inilah kenyataan bahwa sang pencipta lebih mencintai istrinya.


Navysah melantunkan do'a di sisi ibunya, matanya kini bengkak dan sembab karena seharian menangisi ibunya. Dan Naysila, ia dilarikan ke rumah sakit karena penyakit asmanya kambuh. Inilah pukulan terberat dari keluarga Sulaiman, kehilangan sosok istri dan ibu dari anak - anak yang sangat dicintainya.


Keluarga Rico datang ke rumah Navysah, sejak dua hari yang lalu mereka sengaja pulang kampung untuk menjenguk ibu Yani dan menyempatkan diri untuk menengok kampung halaman.


Si double kembar sengaja dititipkan dirumah Maya dan di rumah Naysila yang tidak jauh dari rumah mereka. Richi yang saat itu ikut pulang kampung kini beralih profesi menjadi baby sitter dadakan untuk mengurus princess mungil bersama mbak Nita. Sedangkan si double pangeran, mereka dititipkan bersama Nara dan Nopal.


Davian, Denis, Febri dan Raffa menggotong jenazah ke tempat peristirahatan yang terakhir. Pak Sulaiman yang sudah tua sengaja tidak mereka ijinkan untuk ikut menggotong keranda mayat istrinya.


Davian sempat terkejut dengan banyaknya pelayat yang ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman. Ia melihat ribuan orang ikut serta mengantarkan jenazah mertua ke peristirahatan yang terakhir.


Bahkan Davian dan Denis yang masuk keliang lahat untuk membereskan jenazah mertuanya, mereka melakukan tugas terakhir sebagai seorang anak dan mereka tidak peduli dengan celana dan kakinya yang terlihat kotor terkena tanah galian berwarna merah.


Setelah jenazah tertutup rapat dengan tanah dan sebuah nisan sebagai tandanya, Denis mengumandangkan adzan dan lantunan do'a dengan suara yang tercekat ia menuntaskan semuanya. Ia pun mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu proses pemakaman.


Navysah hanya bisa duduk bersimpuh di samping makam, hanya airmata yang kini mengalir deras di wajahnya, Denis dan Febri pamit terlebih dahulu untuk mengurus semua acara yang berada di rumah,Denis pun harus melihat kondisi istrinya yang sakit.


Davian memeluk istrinya, mencoba untuk menguatkan. " Sabar sayang, mungkin ini yang terbaik untuk kita semua. Sekarang mama sudah tidak merasakan sakit lagi, beliau sudah tenang disana. Ikhlaskan ya yang. " tanpa terasa air matanya ikut mengalir di sudut wajahnya." Kamu jangan sedih terus, jaga kesehatan. Aku nggak mau kamu sakit" sambungnya lagi.

__ADS_1


Navysah tidak menjawab ucapan suaminya, ia hanya merebahkan kepala di dada suaminya. "Mama sudah tidak ada mas, aku dan Naysila sangat kehilangan" lirihnya.


"Bukan hanya kamu yang kehilangan sayang, aku pun merasa kehilangan mama mertua yang paling baik. Lihat tadi, banyak orang yang melayat mama, kau tahu apa artinya itu?" tanya Davian. " Itu artinya mama sangat di sayangi oleh semua orang" ia mengusap punggung istrinya agar kuat dengan semua kenyataan pahit ini. " Mama orang yang baik dan penyayang, sudah pasti Allah juga sayang padanya. InsyaAllah surga untuknya"


Navysah mengusap nisan ibunya, ia meraba setiap huruf yang berada di nisan itu dan menangis. "Aku tidak tahu harus menceritakan keluh kesahku pada siapa lagi mah, karena engkau tempatku bersandar dan bermanja"lirihnya.


Raffa membuang wajahnya ke arah lain, ia tidak sanggup melihat ibunya menangis dan sangat menyedihkan.


Davian hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, ia merasa nyeri dan sakit melihat istrinya rapuh." Masih ada mbak Naysila, ia pengganti mama dan kamu harus semangat menjalani hidup, ada aku dan anak-anak.Ayo kita pulang, ini sudah sore pasti si double kembar rewel" ia memapah tubuh istrinya untuk bangit.


"Bruk.." tubuh Navysah jatuh di pangkuan Davian, ia pingsan tak sadarkan diri.


"Mama...!!" teriak Raffa, ia panik ibunya pingsan dan segera membantu Ayahnya membopong tubuh ibunya untuk pulang ke rumah.




Naysila pulang dari rumah sakit setelah ia mendapatkan perawatan disana. Ia merasa kecewa karena tidak bisa melihat sang ibu dimakamkan. Seperti Navysah, ia terlihat menangis, pikirannya kosong dan hanya berbaring di ranjang ibunya. Ia merasa sangat terpukul, setiap hari ia selalu bersama ibunya dirumah karena memang jarak rumah mereka yang berdekatan. Hampir setiap hari juga ibunya selalu memasak untuknya. Baginya masakan mama yang terbaik.



"Mah..., Naysila kangen mama" lirihnya, ia mengusap bantal yang sering dipakai ibunya tidur. Ia menciumi bantal itu dan merasakan aroma tubuh ibunya yang masih tertinggal. "Mama suka bantal ini, Naysila nggak akan mencucinya. Mama ada disini" ia mengusap kembali bantalnya dan memeluknya dengan erat.


"Bagaimana Naysila bisa hidup dengan baik, sekarang mama sudah nggak ada. Mama biasa masakin Naysila dan datang ke rumah untuk menengok Opal" sambungnya lagi. "Rasanya aku mau menyusul mama saja biar mama nggak sendirian" lirihnya lagi.



Denis hanya bisa mendengarkan ucapan istrinya dari balik pintu, ia pun sangat kehilangan mertua yang sangat disayanginya. Ia mengusap airmata dan duduk di taman belakang bersama Davian.



Mereka berdua merokok dan memandang langit hitam yang penuh bintang. Terdengar beberapa kali helaan nafas dari kakak iparnya.



" Naysila dan Navysah butuh waktu untuk menata hidup kembali dan kamu harus siap dengan semua keadaan terburuk ini" Denis menghisap rokoknya dan menghembuskan asap keudara. "Mereka sangat dekat dengan mama bahkan segalanya tentang mama, kamu harus sabar jika Navysah akan sering melamun dan tidak punya semangat untuk hidup" sambungnya lagi. "Naysila pun akan seperti itu, akupun harus kuat dan sabar"


__ADS_1


" Aku tahu mas" jawabnya tanpa melihat kearah iparnya, " Sakit banget kehilangan mama Yani. Dia mama yang luar biasa" ucapnya lagi, " Dan hal yang paling buruk adalah Navysah akan depresi karena kehilangan ibunya, aku harus mengantisipasi hal itu" ia sudah membayangkan istrinya stress berat, ia berencana akan membawa Navysah ke psikiater jika istrinya benar-benar depresi.



"Kemungkinan juga Naysila akan seperti itu, apalagi ia tiap hari bertemu dan sangat bergantung dengan ibunya. Walaupun dia sudah tua ia suka bergelayut di lengan dan menceritakan keluh kesahnya pada mama" ucapnya, " Kamu pulanglah, biar kami yang akan mengurus semua tahlilan mama. Kamu pasti sibuk dengan pekerjaan." ucapnya sembari ia menyesap kopi di cangkir.



"Lusa aku pulang bersama anak - anak, biarkan Navysah disini terlebih dahulu. Aku tidak akan memaksanya pulang, siapa tahu ia masih ingin ziarah ke makam mama"



" Terserah kamu saja gimana baiknya, mas cuma minta jaga Navysah dengan baik, dia sudah mas anggap adik kandung mas sendiri. Kalau kamu menyakitinya bersiaplah berhadapan dengan mas lagi" ancamnya



"Cih..! Mas itu selalu begitu tidak percaya denganku. Itu masa lalu, aku juga tidak ingin Navysah kabur lagi bisa-bisa aku stress berat jagain duo bocil yang ajaib nggak ada capeknya" ia menggulum senyum.



"Oh jadi stress nya bukan karena kehilangan istri tapi karena si bocil" sahutnya.



"Iyalah, ditinggal seminggu saja aku sudah angkat tangan biar Raffa saja yang jaga, ia kan sabar dengan kelakuan adik-adiknya. Aku mana tahan, pusing banget dengan tingkah bocil terkadang bikin emosi jiwa "



Denis hanya mendengus kesal, ia tahu adik iparnya tidak sabaran dalam menghadapi Fafa dan Inka yang super aktif. " Akan ada waktunya mereka akan bersikap lembut dan normal, namanya juga anak - anak senang dengan dunianya sendiri, dulu Nopal juga seperti itu aktif banget dan selalu meminta hal yang tidak masuk akal. Lihat sekarang dia sudah kuliah dan jadi anak yang baik dan sopan. Semua butuh proses Dav, yang penting kamu sebagai Ayah harus sabar" Denis memberi sedikit nasihat pada adik iparnya agar selalu sabar dengan anak - anaknya.


Dan Davian hanya bisa tersenyum mendengar penuturan dari sang kakak ipar.



\* \*\*



Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun All reader, mohon bersabar ini ujian. Update menunggu waktu luang 🙏, Vote dan kasih kopinya yang banyak biar aku semangat nulis ( maksa banget ya. Hahahaha... 🤣🤣🤣)

__ADS_1


__ADS_2