
Kinan
Sejak mama Navysah pulang dari Semarang, Kinan ingin sekali menjenguknya namun ia tidak berani karena takut Raffa marah padanya.Sudah beberapa kali ia menelepon Raffa untuk meminta maaf namun panggilannya selalu ditolak dan tidak pernah bisa menghubunginya. Kinan selalu bertanya tentang keadaan Raffa dari Rio karena ayahnya bekerja di rumah mama Navysah.
Rio selalu menjadi tempat mengadu disaat Kinan tidak mempunyai tempat untuk bercerita. Ia pun menjadi penghubung antara Kinan dan Raffa yang selalu gengsi untuk saling meminta maaf.
Saat mama Ifa dan Ayah Shafiq menjenguk mama Navysah, ia tidak ikut dengan alasan pergi berbelanja dan sibuk mendaftar kuliah. Jauh dari lubuk hati yang terdalam ia sangat merindukan mama Navysah dan ingin bertemu dengannya tapi apalah daya ia merasa malu bertemu dengan Raffa.
"Aku kangen mama Navysah" ia menangis terisak di dalam kamar, matanya terlihat merah dan bengkak karena sudah lama menangis." Apa Raffa masih marah padaku? Kenapa sulit sekali menghubunginya." tanyanya bermonolog sendiri. "Aku harus bagaimana, huhuhu.." ia menyusut air hidungnya dan menutup wajahnya dengan bantal. Namun dari luar kamar diketuk oleh seseorang.
"Kinan, mama masuk ya" Ifa membuka pintu kamar Kinan. Hari ini ia libur kerja sehingga mempunyai banyak waktu di rumah bersama anak - anak. Ia ingin menanyakan sesuatu yang terjadi dengan putrinya yang beberapa minggu terakhir terlihat murung dan tidak bersemangat. Ia pun merasa heran karena sekarang Kinan tidak pernah lagi menginap di rumah Navysah,sedangkan dulu ia sangat bersemangat dan sering menginap disana karena lebih ramai dan bisa bermain dengan si double kembar.
"Kamu kenapa?, coba ceritakan sama mama Ifa" ia mengelus rambut anaknya yang terurai dan mencoba melihat wajah putrinya bersembunyi dibalik guling yang dia peluk. "Apa ada masalah denganmu dan Raffa" sambungnya lagi.
"Nggak ada apa-apa mah" balasnya dengan suara sengau dan tercekat di tenggorokan.
"Jangan bohong..!, mama tahu kamu ada masalah buktinya kamu tidak mau diajak kesana dan sekarang tidak pernah menginap" Ifa menarik guling yang dipeluk anaknya dan terlihat wajah sendu putrinya karena menangis.
"Ya ampun, kenapa wajahmu seperti ini" ia menolehkan wajah anaknya ke kanan dan ke kiri terlihat mata yang bengkak dan jelek. Dan Kinan langsung memeluk erat ibunya.
"Mama...,Kinan salah mah sama Raffa. Dia benci sama Kinan, aku mau minta maaf tapi ia memblokir nomorku mah. Huhuhu..." ia menceritakan pada ibunya apa yang sebenarnya terjadi dengan berurai air mata. Ia berharap saat ini ibunya bisa membantu mengatasi masalahnya.
"Iya.. Coba kamu tenang dulu dan ceritakan kenapa kamu bersalah dengannya dan kenapa Raffa menghindarimu." tanyanya.
"Aku.. a....ku mencium Raffa saat itu,Aku tidak ingin membatalkan perjodohan ini mah. Aku ingin dia tahu tentang perasaanku tapi sekarang dia marah dan tidak ingin bicara lagi denganku,aku harus bagaimana mah huhuhu..." ia memeluk ibunya dengan erat, tekanan berat yang selama ini ia tahan kini ia ceritakan pada ibunya.
" Apa...! " teriak Ifa, ia tidak percaya anaknya senekat itu dan berani mencium anak dari Navysah.
" Iya mah, aku menciumnya disini"ia menunjuk bibirnya.
Ifa hanya tertawa keras dan menggelengkan kepala, perbuatan anaknya sungguh berani dari apa yang dia pikirkan" Itu sudah terjadi jangan kamu sesali. Sekarang minta maaflah, datang ke rumah sana sekalian jenguk mama Navysah. Dia pasti kangen denganmu"
"Aku takut mah, aku malu sama Raffa"
" Kamu harus berani minta maaf, mama yakin dia akan memaafkan semua kesalahanmu. Perihal pertunangan masih mama usahakan, tunggu mama Navysah sembuh. Mama juga mendengar Raffa akan ke Inggris dua minggu lagi jangan sampai kamu menyesal"
Ia termenung, ia tahu Raffa akan kuliah di Inggris. Informasi yang ia dapatkan dari Rio. Setelah semua berkas dan urusan sekolah selesai ia akan berangkat untuk menempuh pendidikan dan sudah dipastikan ia akan jarang bertemu dengan lelaki pujaannya. "Aku sudah pasrah mah, percuma memaksa dia walaupun aku mencintainya" lirih Kinan
"Kamu... itu.." belum selesai Ifa bicara, kini ponsel Kinan berdering.
"Drt.. Drt.. Drt..." handphone Kinan bergetar kembali dan satu nama tertera di layarnya.
"Apa Yo" ucapnya
"Gue mau kasih info. Raffa mau main di rumah gue. Lu bisa ke rumah dia sekarang kan lu kangen sama emaknya"
"Beneran Yo" serunya, ia langsung mengusap sisa air mata dengan lengan bajunya dan kembali bersemangat.
"Iya, lu cepetan kesana. Raffa gue ajakin main bola tanding sama kampung sebelah" ia meyakinkan Kinan agar mau ke rumah Raffa.
__ADS_1
"Oke, gue ke rumah mama Navysah sekarang" ucapnya sembari menutup telepon.
"Dasar Kitis!, kalau sudah bahagia lupa sama gue" decaknya, ia melihat ponselnya yang tidak terhubung." Mana tidak ucapkan terima kasih lagi" ia mendengus kesal kembali.
Kinan buru-buru mengganti dress yang ia ambil di lemari tanpa melihat ibunya yang kini menatapnya dengan intens.
" Lihat!, kalau denger nama mama Navysah langsung deh mama Ifa dilupain." gerutu Ifa, ia mengerucutkan bibirnya.
Kinan langsung menoleh dan berhamburan memeluknya. " Nggak mah, Kinan nggak lupa kok sama mama. Tadi cuma reflek pengen cepetan kesana soalnya Raffa nggak ada di rumah" ia mencium pipi ibunya agar tidak marah.
Ifa mengulum senyum melihat anaknya kembali bersemangat, " Hadeewwhh..., Cinta matinya cuma sama Raffa. Ya sudahlah cepat pergi kesana kalau bisa temui dia, bilang padanya untuk segera menikahimu"
"Mama...!!" teriak Kinan, " Selalu begitu godain aku" ia mengerucutkan bibirnya dan terlihat sangat imut.
"Tapi kamu senang kan kalau suatu saat Raffa beneran menikahimu."
Dan Kinan hanya tersipu malu, wajahnya seketika merona mendengar ucapan ibunya.
"Tuh liat kan wajahnya sudah kayak kepiting rebus, ada merah-merahnya gitu" goda Ifa kembali sembari bergegas keluar dari kamar Kinan.
"Mama ngeselin...!" seru Kinan, ia mencoba mengatur detak jantungnya, mendengar nama Raffa saja ia sudah deg - degan apalagi jika suatu saat nanti menikah dengannya. " Jangan berharap lebih Kinan, kamu harus move on karena Raffa tidak mencintaimu" ucapnya bermonolog.
Ia masuk ke dalam rumah mama Navysah dan disambut oleh princess kembar. Mereka sangat senang karena Kinan bisa datang lagi ke rumah . Saat mereka mengajaknya bermain, Kinan menolak dan segera menemui mama Navysah di kamar. Ia menengok ke kanan dan kiri berharap tidak bertemu dengan Raffa.
"Aku takut bertemu dengannya walaupun sebenarnya aku kangen" gumamnya dalam hati. Ia mengetuk pintu kamar mama Navysah dan masuk setelah mendapat izin dari penghuni kamar.
"Mama" Kinan melihat Navysah yang sedang berbaring di ranjang. Seperti biasanya Navysah kurang semangat menjalani harinya.
"Sayang, kamu datang. Mama kangen kamu" ia memeluk Kinan dengan erat, baginya Kinan sudah seperti putrinya sendiri. Sejak kecil ia sudah memberikan sebagian kasih sayangnya untuk Kinan walaupun mereka tidak mempunyai hubungan darah. Jika Raffa diberikan sesuatu barang, maka Kinan pun akan mendapatkan barang yang sama hanya berbeda warna.
"Maafkan Kinan mah, maaf" ia menangis di pelukan wanita yang selalu ia anggap ibunya.
"Nggak papa sayang, mama tahu kamu sibuk mendaftar kuliah. Raffa juga akan kuliah di Inggris itu keinginannya" ucapnya sembari menyelipkan rambut Kinan ke belakang telinga.
__ADS_1
"Oh... ya..." ia pura - pura berbohong tidak tahu tentang kuliah Raffa.
"Kamu daftar kuliah dimana sayang?"
"Aku daftar di fakultas kedokteran di Jakarta mah, nggak jauh agar aku bisa terus merawat dan menjaga mama juga. Mama harus semangat, adik-adik butuh mama. Kinan juga butuh mama Navysah"
"Alhamdulillah kalau kamu ingin menjadi dokter, jadi kalau mama sakit kamu bisa merawat mama. Kalau mama nggak ada titip adik-adik" ucapnya.
"Mama...!!" seru Kinan, " Aku nggak suka kalau mama ngomong begitu. Mama harus panjang umur agar bisa melihat semua anak - anak mama sukses dan menikah, punya banyak cucu. Pokoknya mama harus sehat hiks.. hiks.. " ia menangis dan memeluk ibunya,tidak bisa membayangkan jika wanita yang di depannya hilang dari kehidupan ini.Akan sangat menyakitkan baginya.
" Umur manusia tidak ada yang tahu Nan, saat ini sehat besok bisa saja meninggal "ia mengelus punggung Kinan dengan lembut." Maafkan mama dan Ayah Davi tidak bisa menepati janji kami untuk menikahkan kamu dengan Raffa. Bagi mama Raffa segalanya, kebahagiaan dia yang utama. Maafkan mama Kinan"
"Iya mah, tidak apa-apa jika Raffa tidak ingin menikahiku mah, saat itu aku sudah mengutarakan isi hatiku tapi ternyata dia hanya menganggapku adik"ia menghela nafas panjangnya." Aku yang salah sudah mempunyai perasaan lebih padanya"ia menundukkan kepala. " Sekarang, mama tidak usah khawatir dan jangan merasa terbebani yang penting mama sehat dan tertawa lagi bersama kita, Kinan rindu mama yang dulu."
" Mama jadi terharu, kamu yang biasa manja sekarang sudah berpikiran dewasa. Apa kamu yakin tidak apa-apa jika kami ingkar janji " tegasnya
" Kinan memang cinta sama Raffa, kalau jodoh kita bersama kalau tidak yasudah. Pastinya Kinan akan menangis seharian dan patah hati jika dia menikah dengan gadis lain hiks.. hiks.. hahaha.. " ia sengaja berseloroh dan beradegan menangis agar suasana sedikit ceria.
"Kamu itu anak mama yang baik" ia mencium kening Kinan.
"Mah.. mah, daripada disini mending kita ke atas nyanyi karaoke. Ayo kita dangdutan mah. "
Belum ada jawaban dari ibunya ia langsung menggandengnya dengan erat. Ia berharap dengan menyanyi akan sedikit menghilangkan perasaan sedih ibunya.
__ADS_1
Namun dibalik pintu ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan dan bergegas pergi ke kamarnya.