Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 31


__ADS_3

Davian sudah mendengar cerita dari Feri bahwa anaknya datang ke kantor dan pulang dalam keadaan marah karena tidak terima Ayahnya mengambil keputusan sepihak tanpa berdiskusi dengannya.


"Mas..?" sapa Navysah, ia ingin segera memberitahukan suaminya bahwa Raffa marah dengannya.


"Aku sudah tahu, tidurlah jangan sampai kamu banyak pikiran, aku tidak ingin kamu sakit" ucapnya sembari melepaskan dasi dan masuk ke dalam bathroom.


"Bagaimana aku bisa tidur sedangkan anakku marah padaku" ia meremas guling yang tepat berada di sampingnya dan sengaja menunggu suaminya keluar dari bathroom.


"Mas..., cup.. Cup.. " Navysah langsung mencium pipi suaminya, ia mencoba merayu dan mengiba agar suaminya mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan,berharap Davian akan sedikit melunak dan mengerti akan keinginan anaknya.


"Tidak usah merayuku, aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Aku tidak akan merubah keputusanku! " ia sengaja menekankan kata terakhirnya.


"Mas, hiks.. hiks.." Navysah memeluk suaminya dari belakang, airmata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras.


"Navysah, please jangan seperti ini. Aku melakukan semua ini untuk keluarga kita.Aku tahu kamu sangat menyayangi Raffa tapi kita harus tegas terhadapnya." tegas Davian, ia masuk ke dalam ruang kerjanya dan berkutat dengan laptop serta berkasnya. Ia tahu Raffa akan datang meminta penjelasan darinya.Dan benar saja, dua puluh menit kemudian Raffa masuk kedalam ruang kerjanya.


"Ayah, tolong jelaskan padaku. Kenapa Ayah langsung mengurus semua kuliahku di Amerika dan kenapa aku diharuskan masuk ke fakultas ekonomi,Raffa nggak mau yah!." seru nya dengan nada sedikit meninggi.


"Kamu harus kuliah disana ambil fakultas ekonomi agar kamu bisa meneruskan bisnis Ayah setelah kamu pulang darisana." tegas Davian dengan suara beratnya.


"Nggak, Raffa nggak mau!, "Ia menggelengkan kepalanya."Raffa mau animasi, Raffa ingin menggambar dan memiliki studio sendiri. Itu cita-cita Raffa yah. Kenapa Ayah tidak mengerti keinginan Raffa!" teriak Raffa


"Raffa..!!" teriak Davian, ia menatap tajam kearah anaknya dan ini pertama kali Davian dan Raffa saling berteriak. "Berani kamu berteriak sama Ayah!" serunya. "Jika kamu ingin meminta kejelasan duduklah terlebih dahulu, kita bicara baik-baik antara Ayah dan anak. Dan antara sesama lelaki" sambungnya lagi.

__ADS_1


Raffa menatap tajam Ayahnya, ia menarik kasar kursi dan duduk tepat di depan Ayahnya. Ia menahan diri, dengan wajah ditekuk dan memulai pembicaraan "Kenapa ayah lakukan semua ini kepadaku?" tanya Raffa


Davian menghembuskan nafas kasarnya "Dengarkan Ayah dahulu sampai selesai, jangan memotong pembicaraan Ayah." ucapnya.


"Raffa, kamu anak sulung Ayah dan hanya padamu Ayah berharap lebih. Si double kembar masih sangat kecil, Ayah tidak bisa menyerahkan perusahaan properti pada mereka, Ayah hanya percaya padamu" sambungnya lagi. Ia menatap wajah anaknya dengan sendu "Ayah membangun semua bisnis dari nol bersama Om Feri, banyak yang menginginkan jabatan ini. Ayah sudah lelah Nak, umur Ayah hampir lima puluh tahun. Jika kau lulus kuliah kau bisa menggantikan Ayah. Om Feri hanya punya anak Kendrew, ia masih kecil dan kurang cekatan seperti Fafa. Kalaupun dia besar nanti ia akan mengurus perusahaan milik almarhum kakeknya di Solo. Om Feri anak tunggal, suatu saat ia akan pulang ke kampung halaman. Kau tahu, jika Om Feri mau dia bisa saja menambah saham lima persen lebih tinggi dari saham Ayah, itu mudah baginya tapi ia tidak akan melakukannya karena kita keluarga.Ia menjaga agar saham Ayah tetap paling tinggi agar kelak kamu yang menggantikan, bukan dia ataupun orang lain. Alif sibuk dengan dunia sendiri, Fafa kurang tekun dalam hidupnya, yang ada dipikirannya hanya bermain. Inka suatu saat akan mengurus bisnis mama di butik dan garmen. Inha akan dipersiapkan untuk bisnis restoran. Semuanya sudah kami atur agar bisnis bisa berjalan dengan semestinya. Ayah tidak pernah membedakanmu dengan anak lainnya walaupun kamu bukan darah daging Ayah namun Ayah sangat menyayangimu Raffa "ucap Davian.


" Kalau bukan kamu siapa lagi yang mengurus perusahaan Ayah. " ia berbicara secara halus agar anaknya mengerti.


" Raffa, Ayah tidak pernah melarang kamu untuk belajar animasi, melukis atau mendesain rumah orang. Jangan pikir Ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan diluar rumah, semuanya Ayah tahu. Itu bakat kamu, Ayah tidak melarang jadikan itu sebagai hobi bukan pekerjaan utama. Dan sudah saatnya kamu belajar keluar negeri, belajar yang tekun dan pulang menggantikan Ayah. Apa kamu tidak kasihan sama Ayah dan mama Navysah yang tua ini, kami sudah lelah ingin beristirahat dengan tenang" ia sengaja menggunakan nama istrinya karena ia tahu Raffa sangat menyayangi ibunya.


"Tapi Raffa ingin usaha sendiri yah, bukan usaha dari Ayah." ucapnya tegas, ia masih kekeh dengan tujuan hidupnya, cita - citanya.


"Jangan bicara omong kosong Raffa!, kamu pikir membuat perusahaan itu semudah membalikan telapak tangan" cibirnya. "Ayah sudah jatuh bangun membangun bisnis ini, kau tahu perusahaan properti Ayah hampir bangkrut dan membuat Ayah pusing hingga akhirnya mama Navysah harus menjual usaha travel nya dan ia harus melobi tante Ifa dan beberapa temannya. Kalau dulu mama tidak membantu Ayah sudah pasti kita hidup di kontrakan, bisnis Ayah tinggal nama dan kalian semua tidak akan menikmati hidup semudah ini. " tegas Davian lagi, ia mengingat bagaimana istrinya mati - matian membantu bisnisnya saat berada di titik terbawah.


" Ayah jahat!, Raffa harus memahami Ayah tapi kenapa Ayah tidak memahami keinginan Raffa." sahutnya, airmata yang sejak tadi ditahan kini mulai lolos. Harapan nya hancur sudah, cita-citanya tidak akan pernah ia capai dan ini seperti mimpi buruk baginya.


"Terserah kamu mau bilang Ayah jahat atau apapun. Kamu itu anak laki-laki pertama Ayah, sudah seharusnya kamu yang akan bertanggung jawab kedepannya. Jadilah anak lelaki hebat yang bisa Ayah dan mama banggakan. Jadilah panutan untuk adik-adikmu"


"Raffa akan menjadi orang hebat dan bisa dibanggakan Ayah dan Mama serta menjadi panutan adik-adik dengan cara Raffa sendiri!, " tegasnya, "Raffa akan buktikan kalau Raffa mampu menggapai cita - cita Raffa bagaimanapun caranya" ia keluar dengan membanting pintu dengan keras, wajahnya merah padam penuh amarah baginya berbicara dengan Ayahnya hanya akan membuang - buang waktu. Ia tahu Ayahnya sama keras kepala dengan dirinya. Ia berpapasan dengan ibunya yang berada di luar ruangan, sapaan dari ibunya terdengar begitu saja tanpa ingin ia balas. Dirinya masuk kedalam kamar dan memasukkan beberapa baju sekolah dan kaos miliknya.


"Raffa, kamu mau kemana Nak?" tanya Navysah, ia kaget anaknya sedang membereskan beberapa pakaian.


"Raffa mau pergi mah sementara, Raffa kesal sama Ayah dan Mama. Kenapa tidak ada yang mengerti keinginan Raffa, " ucapnya sembari menitihkan airmata. "Orang lain selalu mendukung cita - cita Raffa, kenapa kalian tidak!, Raffa kecewa sama Mama dan Ayah."

__ADS_1


"Sayang, dengarkan dulu mama bicara. Sini mama peluk agar kamu tenang" Navysah merentangkan tangannya berusaha memeluk Raffa namun ditepis oleh sang anak. "Kita bicarakan lagi ya, Jangan pergi dari rumah Nak. Kamu mau tinggal dimana?"


"Kemana saja, yang penting nggak disini!" seru Raffa, ia membawa ras ransel nya dan bergegas keluar kamar.


"Raffa, jangan tinggalkan mama Nak" Navysah mencoba menghentikan anaknya pergi dari rumah. "Raffa..!!" teriaknya sembari memegang dadanya,terasa sesak dan nyeri di dadanya. Ia tidak menyangka anaknya akan senekat ini pergi dari rumah.


Di ruang televisi Fafa dan Alif melihat sang kakak membawa tas besar, suara teriakan dari ibunya menambah kekacauan di rumah. Fafa dan Alif langsung berlari ke arah Raffa yang sedang memakai sepatu. "Mas mau kemana?" tanya Alif, sedangkan Fafa memeluk tubuh kakaknya agar tidak pergi dari rumah. "Jangan pergi mas" pinta Fafa


"Mas pergi dulu, kalian jaga rumah nitip mama ya" ucapnya dengan senyum, ia tidak ingin adiknya tahu tentang pertengkaranya dengan sang Ayah.


"Nggak boleh, Fafa nggak mau mas pergi!." sahutnya lagi


"Cuma sebentar, mas ingin jalan - jalan" ia mengusap kepala kedua adiknya secara bergantian.


Navysah langsung memeluk anaknya "Raffa jangan pergi seperti ini, Mama tidak bisa hidup tanpa kamu Nak."bujuk Navysah


" Cukup mah..! Raffa ingin sendiri dulu, menenangkan pikiran Raffa yang sedang kacau. Raffa capek mah"ia melepaskan pelukan ibunya dan berlari cepat keluar rumah.


" Raffa...!!! " Navysah menangis tersedu-sedu dan lemas hingga duduk di lantai, ia tidak kuasa melihat anak yang disayanginya pergi dari rumah,pandangannya begitu kabur dan dadanya terasa nyeri.


"Brug..!!"


"Mama...!! " teriak kedua anak kembarnya, ia melihat ibunya pingsan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2