
" Apa itu sakit?" Hanin melihat sudut bibir Fafa yang robek akibat pukulan dari Aditya.
"Sedikit." Fafa mengambil obat P3K di dalam mobilnya, ia mencoba membersihkan dan mengoleskan salep luka di bibirnya.
"Biar aku saja." Hanin merebut salep itu dan mengoleskan di sudut bibir Fafa.
"Issh.. pelan-pelan, sakit Nin." desis Fafa, ia merasakan perih karena lukanya.
"Ini sudah pelan, kamu tahan dulu sebentar."
Jarak mereka yang sangat dekat membuat Fafa melihat dengan jelas wajah Hanin. Lampu mobil yang temaram tidak menyurutkan wajah Hanin yang masih terlihat dengan cantik walaupun dengan rambut yang berantakan.
Aroma parfum dari tubuh Hanin menyuruak di hidung Fafa. Fafa mencoba untuk memalingkan wajahnya kearah lain.
"Sudah cukup, biar aku sendiri yang mengobati."
"Ini dikit lagi Fa, kamu tahan sebentar. Hadap sini kenapa sih!" gerutu Hanin, ia segera memalingkan wajah Fafa kembali dan mengoleskan salepnya.
"Aku bisa tahan, tapi kamu bisa membangunkan si naga api jika kita berhadapan seperti ini dengan jarak dekat."
"Naga api!? Siapa?" tanyanya dengan polos.
"Dasar bodoh!" lirih Fafa
"Dia beneran polos atau bodoh, sih!? gumamnya lagi dalam hati.
" Kalau dia bangun bahaya, kamu bisa disembur racun mematikan dan mengandung sembilan bulan, hihihi."jelas Fafa dengan cengengesan
" Pletak! " Hanin menjitak kepala Fafa," Nggak lucu! " dengus Hanin dengan kesal.
" Makanya nggak usah deket aku, biar nanti Rena yang obatin, langsung sembuh deh kalau dicium. " Fafa membayangkan Rena yang sedang mengobati dirinya dengan adegan mesum selanjutnya, dia senyum-senyum sendirian.
"Dasar mesum! otakmu kotor pasti sedang membayangkan yang tidak tidak."
"Kenapa, suka - suka akulah mau bayangin apa! Sekarang waktunya lu move on cari pacar baru saja."
Hanin hanya terdiam, baginya Adit adalah pria terbaik namun ternyata itu adalah kesalahan yang terburuk,penuh dengan kepura-puraan bahkan dia mengatakan bahwa Hanin membosankan.
" Sakit sekali hatiku. "lirih Hanin, namun Fafa masih mendengar ucapan Hanin
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia sudah mendapatkan hukumnya. "
" Eh, Fa! kembaranmu sudah punya pacar? " tanya Hanin, terlintas di fikirannya ingin mendekati Alif.
" Kenapa, lu naksir?! "
" Mmm..., naksir juga sih, dia pria keren dan cool, tidak cerewet sepertimu. "
" Jangan bandingkan aku dengannya, aku tidak suka! "Fafa mengatakannya dengan tegas
Hanin melirik kearah Fafa, ia melihat raut wajah Fafa yang terlihat begitu tidak suka saat Hanin membandingkannya dengan Alif.
" Ya sudah anterin aku pulang, aku takut diculik. "
Fafa mengenyitkan dahinya " Eh! Janin, siapa yang mau nyulik lu!" dengusnya dengan kesal. "Penculik juga milih - milih kali, masa nyulik lu! Rugi bandar, makanmu banyak ngabisin isi dompet, cerewet lagi"
"Nih, kalau gue penculik. Gue bakal culik wanita cantik dan sexy.Lah,ngapain nyulik lu dikasih gratis juga ogah!" cibir Fafa kembali
"Fafa...!!!" teriak Hanin, ia menggigit lengan Fafa dengan gemas.
"Ishh...!! sakit Janin, apaan sih kamu!" desis Fafa, ia mengusap lengannya dengan lembut.
"Sakit ini!" Fafa melihat lengannya yang merah akibat gigitan Hanin. "Dasar Drakula tepos!"
Hanin kembali menatap tajam kearah Fafa, entah sudah berapa banyak julukan yang Fafa sematkan padanya. Ia mencubit lengan Fafa dengan gemas. "Untung lu anak tante Navysah, kalau nggak aku kulitin habis kamu, Fa!"
__ADS_1
"Emang uler dikulitin, tapi kalau si naga api yang dikulitin mau juga sih, enak kali ya." selorohnya.
Hanin membuang wajahnya kearah lain, ia tidak ingin meladeni ucapan Fafa yang menyebalkan baginya, Fafa yang selalu menyahuti ucapannya dan tidak pernah berhenti untuk mengejeknya.
Sepanjang perjalanan Hanin selalu diam, ia masih sedikit syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya.Fafa pun tidak berani untuk menggodanya, ia hanya mengantarkan Hanin di gerbang utama.
"Turunlah, kita sudah sampai."
"Kamu ingin masuk?" tanya Hanin, matanya benar-benar bengkak karena seharian menangis.
"Kamu ingin membuat diriku malu." cebik Fafa, "Lihat penampilan diriku seperti ini,tadi aku berniat tidur tapi emak menyuruhku beli makanan. Turunlah cepat, aku sudah mengantuk!" ia melirik kearah bawah yang hanya menggunakan kolor pendek.
"Iya deh,PANGERAN KOLOR hihihi..." Hanin menekankan kalimat terakhir sembari cekikikan.
"Terima kasih, kali ini aku tulus mengucapkannya."ujar Hanin
"Hmmm..."
Namun suara ibu Hanin begitu kencang memanggilnya. Ia terlihat berlari menghampiri anaknya.
"Hanin, kamu nggak apa-apa kan Nak!? Apa ada yang luka, mama akan memberi hukuman yang berat untuk pria brengsek itu, dia sudah berani ingin merusakmu,huhuhu." Bu Ria menangis, memeluk anaknya.Ia mengecek setiap tubuh anaknya, melihat apakah Hanin terluka.
Bu Ria mendapat kabar dari Hanin saat di kantor polisi.Ia begitu marah karena pacar Hanin ingin memp*rkosa anaknya.
Pak Dewa pun memeluk anaknya dengan erat," Maafkan Ayah Nak, ini juga kesalahan Ayah, karena Ayah kamu diperlukan tidak baik seperti ini "
" Hanin tidak apa-apa yah,Hanin mohon ayah jangan merasa bersalah." ia tersenyum agar sang ayah tahu bahwa dia baik-baik saja. "Untung ada teman yang bantuin Hanin tadi. "
Bu Ria langsung mengetuk kaca mobil Fafa yang belum sempat pergi dari tempatnya.
"Ya ampun, kenapa sih harus ketemu orangtua si Janin disini. Malu banget aku pakai kolor gini." Fafa tersenyum kikuk, mau tak mau ia turun dari mobilnya.
"Hai Om, tante.." sapa Fafa dengan sopan, ia merasa tidak nyaman dengan situasi yang seperti ini.
Bu Ria dan Pak Dewa melihat penampilan Fafa dari atas sampai bawah, mereka saling berpandangan dengan menahan tawa.
"Iya tan, tadi cuma kebetulan lewat." ujarnya sembari menggaruk kepalanya.
"Ayo masuk, minum dulu." ajak bu Ria.
"Tidak tan, sudah malam saya pulang saja."
"Ah, jangan menolak permintaan orangtua, ayo masuk sebentar saja." bu Ria sedikit memaksa Fafa, ia menarik tangan Fafa agar mengikutinya.
"Tapi tan." Fafa mau tak mau mengikutinya karena tidak enak hati.
"Maaf tan, celana saya pendek karena tidak tahu akan ada kejadian seperti ini."
"Tidak apa-apa Nak, tante mengerti.Ayo makan dulu ya atau mau minum?!"
"Tidak usah tan, Fafa mau pulang saja. Ini sudah jam dua malam lebih baik Fafa pulang, saya sudah mengantuk."
"Yasudah, tidur disini saja di kamar tamu." bujuk bu Ria, ia begitu senang karena Fafa begitu sopan di matanya.
"Tidak perlu tan, tidak baik bermalam di rumah wanita, nanti minta dinikahin lagi, hihihi."
"Ya, kalau mau menikah ya tidak papa ya yah ya." ucapnya pada sang suami.
"Maunya sama tante, hihihi." goda Fafa, " Tapi yang ada aku dipanggang Om Dewa, ya Om." goda Fafa kembali.
Pak Dewa hanya menggulum senyum dengan gurauan Fafa.Ia merasa senang dengan sikap Fafa yang apa adanya, mau bercanda walaupun mereka tidak terlalu akrab.
Hanin hanya memutas bola matanya dengan malas. Kelakuan Fafa sama saja, selalu bercanda tidak melihat tempat.
"Fafa permisi dulu tan,sudah malam, assalamualaikum.
__ADS_1
" Walaikumm salam. "
* **
Satu minggu telah berlalu, Fafa dan Hanin bertemu di kantor polisi, kali ini Hanin mencabut laporannya untuk kasus Adit.
Fafa tidak habis fikir dengan jalan fikiran Hanin,hingga Fafa pulang terlebih dahulu. Ia merasa kesal karena Hanin tidak menjawab pertanyaannya dan alasan mengapa ia mencabut laporan sang mantan pacar.
Setelah semuanya berakhir, Hanin menjadi wanita yang sedikit pendiam. Ia lebih memfokuskan diri untuk bekerja hingga larut malam. Dan sesekali Hanin mabuk di apartemennya seperti biasa. Ia merasa sedikit trauma untuk menjalin cinta dengan lawan jenis, perkataan Adit masih terniang di telinganya.
"Bersamamu terasa jenuh Hanin! kamu begitu polos dan tidak menarik walaupun kamu cantik."
"Aku memang payah!" ucap Hanin dengan meneguk minumannya. Ia merasa lapar dan mencari makanan namun Hanin tidak menemukan apapun di lemari pendinginnya.
" Tidak ada makanan padahal aku sangat lapar."
Hanin turun dari apartemennya untuk mencari makanan. Ia mengendarai mobil mencari pedagang kaki lima yang masih menjajakan dagangannya di pinggir jalan.
Ia membeli sepiring nasi goreng dan memakannya di dalam mobil.
" Bahkan disaat seperti ini aku kangen denganmu dit. "lirih Hanin, air menetes di sudut matanya.
* **
Di sebuah Cafe,
" Masih berhubungan dengan Rena? tanya Keken sembari menghisap rokoknya.
"Masihlah, dia yang terakhir." Fafa menggulum senyum, mengingat wajah Rena yang cantik. " Dia selalu membuatku puas."
"Emang lu udah ngapain aja sama dia!?" Keken begitu penasaran dengan kata puas yang Fafa ucapkan.
"Tidak seperti yang kamu bayangkan Ken, nggak usah mesum. Kami hanya sedikit pemanasan saja, dia begitu lihai membuat diriku panas dingin." Fafa menggulum senyum saat mengatakannya.
"Sebagai cassanova tingkat dewa, gue sih nggak yakin kalau Rena masih virgin! buktinya dia sudah lihai aja bikin lu panas dingin."
"Bener banget!" sahut Khaffi, " Gue sih males kalau punya pacar model dia, matrenya kebangetan!" Khaffi sering melihat transaksi tidak wajar di rekening Fafa, ia melihat beberapa kali Rena membelanjakan kartu kredit Fafa untuk membeli tas mewah.
"Fa, bulan depan lu ada permintaan untuk iklan suplemen vitamin pria. Mau lu ambil nggak job ini."
"Bolehlah, sudah lama gue nggak ambil iklan."
"Eh, ******! Kita belum selesai bicara." dengus Keken dengan kesal. "Gue tanya sekali lagi, lu yakin sama si Rena?"
"Yakin, gue bakal nikahin dia secepatnya."
"Gue memang brengsek Fa! Gue suka gonta ganti pacar dan begituan, tapi perlu lu tahu, Gue juga pengen suatu saat punya bini yang baik dan virgin. Gue nggak munafik kalau virgin itu sangat berharga bagiku."
"Lu ceramah apa sih Ken! kayak emak gue aja cerewet." Fafa tidak suka saat orang lain menjelekan pacarnya.
" Jangan sampai menyesal di kemudian hari Fa. Feeling gue jelek kalau lu sama dia. Dia cuma manfaatin lu aja. Lihat keluarganya seperti apa, saran gue mendingan lu dengerin emak lu ngomong,putus dengannya lebih baik. Wanita yang polos tidak akan selihai itu sampai membuatmu panas dingin,pasti dia sudah pernah melakukan dengan pria lain. Buka mata dan hatimu Fa! "
" Brakk...!! " Fafa menggebrak mejanya dengan keras.
" Gue tahu lu sama Khaffi tidak suka kalau gue sama Rena, tapi lu nggak perlu jelekin dia Ken! "
Fafa pergi meninggalkan kedua sahabatnya dengan hati kesal. Ia tidak mau mendengar cerita buruk tentang pacarnya
" Ngambek dia Ken." ujar Khaffi
"Biarkan saja, Fafa memang keras kepala. Akan aku adukan ke tante Navysah, aku tidak ingin saudaraku terjebak dengan rayuan manis wanita j*lang itu!" geram Keken, ia menatap punggung Fafa hingga tak terlihat lagi.
* **
Mohon maaf, sementara tidak update rutin. 🙏
__ADS_1
Pekerjaan di dunia nyata begitu padat,Matursuwun yang sudah mampir 😘😘🙂😄