Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 154


__ADS_3

Hanin pergi ke rumah orangtuanya dan tidur di kamarnya sendiri. Rumahnya terasa sepi karena ayah dan adiknya bekerja sedangkan ibunya belum pulang dari klinik kecantikan.


Hanin tidur di ranjang hingga siang hari.


"Nin, kamu lagi ngapain?" bu Ria masuk ke dalam kamar Hanin, ia mendapat informasi dari asisten rumah tangga bahwa anaknya datang dengan wajah masam.


" Bangun, sudah siang masih tidur saja!" sambung bu Ria sembari menyibakan selimut Hanin. "Kamu kenapa Nak?!"


"Apaan sih mah! Hanin ngantuk." Ia menarik kembali selimutnya.


"Katakan ada apa denganmu, apa kamu bertengkar dengan suamimu?" tanya bu Ria


"Iya mah, aku bertengkar dengannya karena Fafa selalu menyuruhku untuk keluar dari pekerjaan. Fafa masih marah denganku karena aku tidak penurut dan sekarang dia di kelilingi banyak wanita, aku kesal mah!"


"Hanin, mama dan ayah capek menasehati kamu. Mama minta kamu patuhi semua perkataan suamimu untuk keluar dari pekerjaan."


" Mah! Berapa kali Hanin katakan, aku suka dengan pekerjaanku mah."


"Kalau begitu bersiaplah menjadi janda!"


"Mama...!!" teriak Hanin, " Kok gitu, sih do'ain anaknya!"


"Mama bicara kenyataan, jika kamu memang mencintai suamimu kamu harus menurut dengan Fafa, toh kamu bisa kerja dari rumah. Fafa tidak mengekangmu Nin, dia begitu sayang padamu hingga tidak ingin kamu kenapa-napa tapi kamu selalu menjadi istri pembangkang."


" Hanin, kalau suami kita baik dan benar kamu harus menurut padanya.Memangnya kamu mau suamimu diambil wanita lain?! "


" Mama kok ngomong gitu, sih! " Hanin mengerucutkan bibirnya." Tapi mama memang ada benarnya juga, sekarang Fafa tidak pernah menyentuhku semenjak aku keguguran. Aku harus bagaimana mah agar Fafa tidak perpaling pada wanita lain"


" Anak mama satu ini memang bodohnya kebangetan kalau soal laki-laki. " bu Ria menjitak anaknya. " Serahkan semuanya pada mama, nanti mama ajarin."


" Tapi aku masih bisa kerja kan ya? Aku mau ngambek dan tinggal disini ah, pasti Fafa luluh dan mau menjemputku."


" Tidak usah mimpi! Fafa tidak akan menjemputmu kali ini, percaya sama mama."ujar bu Ria, " Sekarang lebih baik kamu pergi ke kantornya, minta maaf atas kesalahanmu sekalian bawa makan siang untuknya."


Hanin menuruti perkataan ibunya kali ini, ia pergi ke kantor Fafa dengan membawa makanan dan beberapa paperbag di tangannya. Namun, saat dia masuk ke dalam ruangan, Hanin dikejutkan dengan seorang wanita cantik yang ia pernah lihat sebelumnya. Hanin melihat suaminya sedang makan siang di ruangan dengan tertawa lebar.


" A..."sapa Hanin dengan tersenyum, walaupun dalam hatinya ia begitu cemburu melihat suaminya bersama wanita lain dalam satu ruangan. Ia sengaja duduk di samping suaminya dan memeluk lengannya.


" Sayang, aku membawakan rendang kesukaanmu. " Hanin menyingkirkan makanan yang berada di meja dan mengantinya dengan makanan yang ia bawa dari dapur ibunya.


"Ini aku juga sedang makan dengan Putri, dia membawakan aku rawon. Ini enak banget Nin." Fafa sengaja membakar hati istrinya agar Hanin cemburu.


"Ini juga enak A, cobalah dulu." Hanin dengan sedikit memaksa langsung menyuapi Fafa rendang.

__ADS_1


"Enak kan ya?" tanya Hanin


"Iya enak dan pastinya ini bukan masakanmu." cibir Fafa pada istrinya. "Kalau kamu yang masak, daging tidak akan seempuk ini."


Hanin merasa malu karena diejek suaminya di depan wanita lain. Ia menundukan kepala dan terdiam.


"Sebaiknya saya pulang dulu kak, kelamaan menunggu kak Antoni." Putri membereskan kotak makanannya . Sebenarnya ia datang untuk bertemu kakaknya dengan membawakan makanan dari ibunya, namun Antoni sedang berada di luar kantor dan dia bertemu dengan Fafa. Fafa tahu kebiasaan Putri yang selalu membawa makanan untuk Antoni, ia begitu antusias untuk menikmati makanan itu.


"Besok kesini lagi ya, bawa makanan untukku." Fafa mengedipkan matanya ke arah Putri


"Hmm..." putri memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa setiap kali ia membawa makanan untuk kakaknya pasti Fafa lah yang menghabiskan.


Hanin melirik tajam ke arah suaminya yang sedang mengedipkan matanya pada wanita lain.


"Lama-lama aku colok matamu A!" sembur Hanin dengan mencubiti lengan suaminya.


"Dan kamu Putri!, jangan pernah membawa makanan untuk suamiku lagi karena aku yang akan membawa makanan untuknya." ucap Hanin dengan tegas


"Iy... Iya... kak,kalau begitu saya pulang dulu." Putri begitu takut melihat wajah Hanin yang begitu menampakan wajah tidak suka kepadanya.


"Put, nggak cium aku dulu seperti biasa." goda Fafa, ia sengaja berbohong agar Hanin bertambah panas.


"AAaaaaaa.....!!!" teriak Hanin dengan begitu keras. Putri buru - buru pergi dari ruangan Fafa yang terasa sangat mengerikan.


"Mereka pasangan aneh dan ajaib, hiii.. seram." Putri bergedik takut.


"Hm.." Fafa kembali ke kursi kerjanya dan membaca berkas. "Kalau tidak ada kepentingan, lebih baik kamu pulang." sambungnya lagi tanpa melihat kearah Hanin.


"A..." rengek Hanin dengan manja, ia mendekat dan duduk di pangkuan suaminya.


"Cepat turun! Aku sedang sibuk." ketus Fafa, namun Hanin tidak mau turun dan terus bergerak disana.


"Hanin, jangan kelewatan ya! Aku masih marah denganmu! " ucap Fafa dengan suara berat, mencoba menahan hasratnya kembali saat Hanin kembali bergerak sembari menciumi pipinya.


"A...." bisik Hanin di telinga suaminya sembari mengalungkan tangan di leher suami. "Yakin tidak mau?!" Hanin menawarkan diri untuk melakukan sesuatu kegiatan yang mengasyikan.


"Tidak!! Cepat turun! Ingat ya, aku masih marah denganmu!" ketus Fafa, juniornya terbangun hingga membuat sesak celananya,Ia menurunkan Hanin dari pangkuan dan kembali fokus ke laptop.


Hanin meremas tangannya karena Fafa tidak tergoda padanya, ia membawa paperbag ke ruangan pribadi Fafa.


"Mau ngapain kamu masuk ke kamar?" tanya Fafa saat melihat istrinya masuk ke ruangan pribadinya.


"Aku mau tidur!"

__ADS_1


Fafa tidak peduli saat Hanin menggunakan ruangan pribadinya, yang terpenting bagi Fafa sekarang ia bisa bernafas lega karena Hanin tidak menggodanya lagi.


"Aku hampir tergoda dengan rayuan si Janin dan sekarang kepalaku terasa sakit karena tidak tersalurkan." gumam Fafa dalam hati.


Lima belas menit kemudian Hanin berteriak keras dari dalam ruangan pribadi, ia menyebut nama suaminya berulang kali.


"Ada apa sih Janin teriak! Dia pikir ini hutan!" Fafa masuk ke dalam kamar pribadinya dan hanya melongo melihat keadaan istrinya.


"Kamu sedang apa?" Fafa melihat istrinya menggunakan lingerie tipis berwarna silver yang membentuk jelas tubuh Hanin serta kedua gundukan d*da yang tidak memakai bra. Fafa hanya bisa tertegun dan menelan salivanya.


"Aku..., aku ingin tidur disini." Hanin merebahkan dirinya di ranjang dan berpose sexy agar suaminya tergoda.


" Terserah!" Fafa membalikan tubuhnya, hawa panasnya tiba-tiba muncul saat melihat kemolekan tubuh istrinya. Pikirannya mesum dan seolah ingin dipuaskan.


" Aku akan resign dari pekerjaanku, itu kan yang kamu mau. "ucap Hanin


Fafa membalikan tubuhnya setelah mendengar ucapan dari Hanin.


" Kamu serius?" Fafa seolah tak percaya dengan keputusan yang Hanin ambil.


" Aku serius A! "


Fafa tersenyum lebar dan memeluk istrinya dengan cepat.


" Apa alasanmu? " tanya Fafa penasaran, ia mencium pipi Hanin dengan lembut.


" Karena aku mau jadi istri soleha dan aku tidak mau kamu pergi dariku."


"Istri soleha modelnya begini." cibir Fafa melihat Hanin dari atas ke bawah.


"Kalau istri soleha pakai jilbab, nurut sama suami, masak makanan yang enak, tidak teriak-teriak. Kalau kamu bukan soleha tapi solehman."


"AA...!!" teriak Hanin sembari mencubit lengan suaminya.


Fafa dengan terampil merem*s milik istrinya yang selalu membuat dirinya panas dingin.


Hanin menikmati setiap sentuhan suaminya yang selalu membuat dirinya terbang melayang berkali-kali.


Di luar ruangan Fafa,


Antoni mengetuk pintu ruangan Fafa berkali-kali, karena tidak ada jawaban ia masuk ke dalam ruangan. Dan kini, Antoni hanya melihat piring bekas makanan di meja tamu Fafa. Ia hanya menghela nafas kasarnya karena semua makanan miliknya dihabiskan tanpa sisa.


"Setiap kali adikku membawa makanan pasti si curut itu yang menghabiskan." lirih Antoni. Ia begitu kesal karena hari ini tugasnya begitu banyak, setelah memesan tiket pesawat dan mengantarkan Rena ke bandara ia hanya mendapati bekas makanan.

__ADS_1


Antoni mendengar lirih suara ******* seorang wanita dari kamar pribadi Fafa. Ia menutup telinganya dan keluar dari ruangan Fafa.


"Benar-benar bos gila, siang begini sedang...., Ah sudahlah."


__ADS_2