
Setelah beberapa hari Kinan mengambil cuti akhirnya ia bisa kembali melakukan aktifitas sebagai dokter. Kinan bertambah semangat saat Raffa setiap pagi menelepon dirinya. Saling bertukar cerita dan mengutarakan rasa rindu.
Dan Kini Kinan menerima pasien seorang anak kecil berumur delapan tahun. Pasien rekomendasi dari Rio, sahabatnya. Karena ia termasuk pasien baru, Kinan tidak mempunyai daftar riwayat penyakit anak tersebut.
"Sudah berapa lama Faizal mengalami sakit seperti ini bu?" tanya Kinan, ia membaca lembaran kertas nama bocah itu.
" Satu tahun terakhir, dulu sembuh dengan minum herbal tapi beberapa minggu ini kambuh lagi." ujar sang ibu.
"Maaf ya bu dokter, saya mau tanya. Kan bang Rio menyuruh kami kesini untuk ketemu bu dokter. Maaf sebelumnya, ini gratis kan ya?"ibu berkata dengan malu-malu
"Ibu punya kartu sakit pemerintah?" tanya Kinan
"Kagak punya bu dokter, kami udah lima tahun tinggal disini tapi kartu tanda penduduk kami masih daerah." ujarnya, "Kalau nggak bisa lebih baik kita pulang saja, saya benar-benar tidak punya uang untuk membayar semua ini bu dokter, biar kita ke puskesmas saja yang gratis." ia menahan rasa malunya saat mengatakan yang sebenarnya.
"Ibu tidak perlu khawatir soal biaya,jika ibu benar-benar tidak punya uang, aku yang akan membayarnya."
"Beneran bu dokter, ya allah terimakasih banyak bu" sang ibu sangat berterima kasih atas kebaikan hati Kinan. "Semoga ibu selalu sehat, panjang umur." ucapnya seraya memegang tangan Kinan.
"Aamiin."
"Ayo!, dokter periksa dulu ya, adek berbaring di ranjang. Jangan lupa buka celananya, dokter ingin periksa di bagian itu" perintah Kinan, ia melirik ke area bawah.
"Malu dok." Anak itu tidak mau membuka celananya, ia terlihat risih saat Kinan ingin melihat alat v*talnya.
"Tidak apa-apa dek, ibu dokter sudah terbiasa memeriksa area itu. Ayo buka sebentar, ya" bujuk Kinan
"Ayo buka, bu dokter mau periksa zal." sang ibu mendekat di samping anaknya dan ikut membantu melepas celana anak tersebut. "Biar cepat sembuh, untung aja ada Om Rio yang kenal bu dokter, kalau tidak gimana emak bayar rumah sakit ini." bisik sang ibu di telinga anaknya.
Kinan hanya menggulum senyum mendengar penuturan sang ibu.
"Kinan menggunakan stetoskopnya dan mengecek kondisi anak tersebut. Ia juga memeriksa bagian sensitif alat kel*min anak itu dengan detail.
" Adek sakit saat pipis saja atau saat BAB juga sakit? "tanya Kinan
" Saat pipis aja dok, seperti tertahan pipisnya sedikit.Dulu nggak terlalu sakit, tapi sekarang sakit banget.perutnya sakit, disini nih "ia menunjukan perut bagian bawahnya.
" Oke, tutup lagi celananya. " Kinan duduk kembali dan menjelaskan tentang sakit sang anak.
" Kemungkinan anak ibu terkena ISK." ucap Kinan." ISK itu infeksi saluran kemih. Ini biasa terjadi pada pria meskipun umumnya lebih sering terjadi pada kalangan wanita. Mikro organisme berbahaya seperti bakteri dapat masuk ke dalam tubuh melalui anus hingga menyerang uretra, sehingga sangat menyakitkan untuk buang air kecil. "
__ADS_1
"Gejalanya tepat seperti yang dikatakan adik ini. Penyebab utamanya bakteri Escherichia ****, atau bisa di sebut E.**** yang menyerang saluran kencing. "
"Ibu sudah benar membawa Faizal untuk periksa disini,karena jika terus dibiarkan ISK akan menyebabkan sepsis." sambung Kinan. "Sepsis itu respon ekstrem tubuh terhadap infeksi. Tanpa perawatan yang tepat sepsis dapat menyebabkan kerusakan jaringan, kegagalan organ. Saya sarankan Faizal untuk sunat karena anak ibu sudah mengalami ISK yang terjadi berulang kali."
" Dengan sunat, kulit depan p*nis atau kulup akan dipotong. Hal ini akan menghindarkan dari kuman yang terendap di kulit pen*is. Ini salah satu penyebab ISK juga. Selain sunat ada cara lain yaitu dengan memberikan antibiotik, dengan catatan harus dalam, pengawasan dokter."
" Ibu mengerti apa yang saya katakan kan? "tanya Kinan, ia melihat wajah ibu itu terlihat bingung.
" Kagak dok. "sahutnya dengan cepat
" Gubrak!! " Kinan menjatuhkan sebuah file pasien. Ia memijit keningnya yang sedikit pusing.
" Yang saya tahu anak saya harus sunat. " jawab ibu itu
" Oke, gini saja. Ibu bawa file ini ke bagian depan, berikan pada suster. Kalau mereka meminta ibu tanda tangan, ibu harus tanda tangan ya. Itu lembar persetujuan untuk tindakan sunat. Lusa adik kesini lagi untuk sunat. Mengerti?" Kinan menerangkan dengan pelan agar sang ibu paham.
" Kalau ini saya ngerti dok,Terima kasih banyak. "
" Iya, semangat ya adik lusa harus sunat. " Kinan mengelus rambut Faisal.
" Iya bu dokter cantik, terima kasih banyak. "
Sang ibu melihat lembar catatan yang ditulis Kinan dengan tulisan yang tidak rapi, tidak bisa terbaca seperti corat-coretan saja. Ia hanya melihat stempel nama dokter Kinan." Cuma ini saja dok, apa saya harus membayar disana juga." ibu itu menggaruk kepalanya.
***
Kinan melihat bang Juna yang baru saja keluar dari ruang prakteknya. Sore ini seperti biasa Kinan akan mampir ke rumah mama Navysah terlebih dahulu.
"Abang...!!" teriak Kinan, ia mengejar Juna dengan sedikit tergesa-gesa. "Mau pulang ya?" tanya Kinan
"Iyalah, masa mau makan. hihihi." Juna terkekeh dengan ucapannya sendiri.
" Aku nebeng ya?"
"Boleh tapi cium dulu." goda Juna, ia menundukan sedikit kepalanya. Juna selalu menganggap Kinan dan Jessica seperti adiknya yang mudah untuk ia goda.
"Apaan sih bang!, aku sudah punya suami. Kalau ada yang dengar pasti terjadi salah paham."
" Jangan dianggap serius Nan, kayak nggak ngerti sifat abang saja sih!" Juna menggulum senyum," Kamu takut si datar itu cemburu padaku."
__ADS_1
" Namanya Raffa bukan si datar! "ketus Kinan.
" Iya, iya terserah kamu deh. " Juna menstater mobilnya dan mengantarkan Kinan pulang.
" Ini nggak papa, aku anterin kamu pulang. " Juna melirik Kinan yang sedang tersenyum melihat layar ponselnya.
" Nggak apa-apa kok, mama Navysah tahu bang Juna kan sudah pernah kesana sama Prita."
"Oke, baiklah tuan putri." jawab Juna dengan cengengesan, "Apa kamu bahagia Nan?"
" Aku sangat bahagia bang, Raffa selalu memperlakukan diriku dengan baik." Kinan tersenyum bahagia
"Aku juga bahagia, kalau ku bahagia Nan."
"Maafkan aku bang tidak bisa menerima abang tapi kita masih bisa berteman kan ya?"
"Tentu dong, masa aku akan bersedih terus menerus. Kalau si datar itu menyakitimu, aku siap menerima kamu Nan, ku tunggu jandamu hihihi."
"Apaan sih bang!" salak Kinan, "Masa do'ain aku kayak Jessica!" Kinan memberengut kesal.
"Bercanda Nan, kamu itu nggak asyik sekarang serius banget nggak kayak dulu suka bercanda."
"Tapi ucapan abang nggak lucu!" gerutu Kinan
"Terus yang lucu apa?"
"Yang lucu itu si Jessica pacaran sama si Bagas, ngeselin kan ya kita tidak diberi tahu!"
"Seriusan!" Juna terkejut mendengar berita tentang adiknya.
"Iya, mereka serius bahkan Jessi sedang belajar agama."
" Aku kira adikku hanya main-main saja, dua bulan yang lalu dia memintaku untuk mengajarinya mengaji." ucap Juna, " Dulu saat abang mengaji, dia selalu mendengarkan walaupun tidak pernah mengerti artinya dan sekarang dia ingin belajar karena pria itu?"
"Nggak bang, bukan karena Bagas tetapi Jessi memang niat ingin berubah."
"Baguslah...!"
"Kau tahu Nan, orang tua abang non muslim. Dulu, abang sangat takut saat pertama kali menjadi mualaf. Abang harus curi-curi waktu disaat mereka semua pergi, baru abang salat. Abang harus banyak berbohong, bilangnya mau kuliah padahal belajar mengaji sama ustad di masjid. Orang - orang begitu heran dan sinis, kok ada si sipit masuk masjid, apa dia amnesia. Perkataan itu yang sering abang dengar, hihihi. " Juna terkekeh mengingat kejadian terdahulu.
__ADS_1
" Tapi sekarang alhamdulillah, orang tua abang menerima keputusan ini. Abang menjadi lebih bahagia didukung keluarga. Makanya, kamu yang muslim sejak lahir harus selalu bersyukur karena kamu tidak mengalami apa yang abang alami, susahnya beribadah di rumah sendiri.
"Iya bang, aku juga sedang semoga bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi."