
Pesta masih belum berakhir, tamu undangan masih terlihat keluar masuk ballroom. Ini pertama kalinya Davian dan Navysah menggelar hajatan pernikahan anaknya sehingga semua rekan dan sahabat banyak yang diundang ke dalam acara.
Alunan musik terdengar begitu merdu dari wedding singer dan saat ini Jihan berdiri diatas panggung untuk mempersembahkan sebuah lagu.
"Wah, mau nyanyi lagu apa mba?" tanya salah seorang MC.
" Pesan Terakhir by Lyodra" Jihan menatap kearah Raffa sembari tersenyum kecut.
Rio yang merasa kecolongan langsung berlari tergopoh-gopoh dan meminta Jihan untuk turun. "Ayo, turun. Please!" Rio memelas, ia tidak ingin Jihan menyanyi dan terlihat sangat menyedihkan.
"Sekali saja." jawab Jihan.
" Ayo turun mba." Alif yang kini kembali ke ballroom, langsung meminta Jihan untuk turun. Ia tidak ingin ada gosip dan desas desus yang berkembang di acara pernikahan kakaknya.
"Nggak!"
Dan Alunan musik mulai terdengar dan Jihan mulai menyanyi.
Telah kucoba terus bertahan
Tentang cinta yang kurasa
Ku mencinta, kau tak cinta
Tak sanggupku terus bertahan
Sadarku tak berhak untuk terus memaksamu
Memaksamu, mencintaiku sepenuh hati
Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu
Tapi terimalah permintaan terakhirku.
Genggam tanganku sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku' tuk yang terakhir
Ku kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi dimana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu...
__ADS_1
Ku tak membencimu
Ku harap kau pun begitu
Tak ingin kau jauh
Tapi takdir menginginkan kita, tuk berpisah...
Jihan menyanyi dengan suara serak seolah menahan tangis, namun bait terakhir airmata lolos begitu saja.Lagu yang begitu dalam ia nyanyikan untuk pria yang sekarang milik orang lain.
Raffa ingin beranjak dan ingin sekali menghampiri Jihan, namun tangan Om Shafiq menahan dan tidak mengizinkannya untuk pergi dari pelaminan. Gelengan kepala Om Shafiq menyadarkan Raffa untuk tetap diam karena banyak tamu yang masih berada di dalam ballroom.
Rio merasa terenyuh, Jihan menangis sesenggukan dan turun dari panggungnya. Beberapa orang yang melihat kini mulai berbisik-bisik. Dan Navysah harus menenangkan Jihan, memeluknya, memberi kekuatan agar ikhlas menerima kenyataan.
"Tante sayang kamu Jihan." Navysah membelai rambut Jihan yang kini menangis keras di pelukan Navysah.
"Tante... a...aku..." Jihan tidak sanggup berkata apa-apa lagi sampai sesenggukan.
"Tante mengerti, terima kasih sudah menjadi sahabat Raffa. Kamu gadis baik, tante do'akan semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik. Kalian juga masih bisa berteman."
"Terima kasih tan." Jihan mencium takzim Navysah dan beralih mencium tangan Davian.
"Raffa." lirih Jihan, saat berada tepat di depannya dan saling bersalaman.
"Raffa.... huhuhu..." Jihan menangis sembari memeluk Raffa dengan erat,menumpahkan semua rasa sesak di dadanya saat ini. "Aku... Aku... huhuhu."
"Sudahlah, jangan menangis. Kita masih bisa berteman."Raffa melirik Kinan yang kini hanya diam tidak melihat kearahnya.
" Aku tahu,terima kasih untuk semuanya."
Namun Jihan kini pingsan tak sadarkan diri di pelukan Raffa.
" Alif..., alif... "teriak Raffa, ia membopong Jihan, namun tangan Om Shafiq kembali menahannya agar tidak pergi dari pelaminan." Maaf Om, Raffa harus membawa Jihan. "
Raffa kini membopong Jihan ke lantai atas. Beberapa orang kembali berbisik-bisik dan mengaitkan Jihan sebagai pacar Raffa yang kini ditinggal nikah.
"Gimana Lif?" tanya Raffa pada Alif tentang keadaan Jihan,kini mereka berada di kamar pengantin.
"Aman."
Beberapa saat Jihan siuman dari pingsannya dan Anggrek memberinya teh hangat.
"Sudah bangun?" tanya Raffa, ia duduk di sisi Jihan.
"Raffa, maaf..." lirih Jihan.
"Tidak apa-apa, Kinan pasti mengerti." Raffa tersenyum kecut, ia tahu konsekuensi apa yang akan diterimanya pastinya Kinan akan mengomel atau mendiamkan dirinya.
"Kita masih bisa berteman baik, ada Rio dan aku." Raffa mengelus rambut Jihan, "Terima kasih sudah banyak menolong aku dan Rio." ucap Raffa dengan tulus.
__ADS_1
"Peluk aku untuk yang terakhir kali." pinta Jihan tanpa mendengarkan ucapan Raffa.
"Terima kasih Raffa, sudah baik dan selalu menjagaku di Inggris." ucap Jihan di sela-sela pelukannya.
"Iya, sekarang kamu pulang nanti Alif akan mengantarkanmu."
Alif menuruti perintah kakaknya untuk mengantarkan Jihan sekaligus Anggrek
* **
Kinan
Ia begitu sangat bahagia sejak awal acara dan kini statusnya yang single berubah menjadi istri Raffa, seorang pria yang ia cintai.
Raffa tidak terlalu banyak bicara selama acara berlangsung, ia hanya tersenyum pada Kinan dan menggenggam erat jari tangannya, begitu lembut dan hangat genggaman penuh cinta. Raffa bukan seseorang yang pintar merayu, namun ia selalu melakukannya dengan tindakan.
Dan saat seorang gadis menyanyikan sebuah lagu untuk suaminya, Kinan begitu cemburu.
Lagu yang sangat dalam dengan sebuah lirik "Tapi dimana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu..."
Menyebalkan!, apalagi saat Kinan melihat Jihan meneteskan airmata saat menyanyi, melihat gadis itu dipeluk mama Navysah dengan lembut. Dan kini kini ia melihat sebagian tamu berbisik membicarakan mereka.
Saat Jihan memeluk Raffa dengan erat, menangis di dadanya dengan begitu terisak, seolah tidak ingin rela melepaskannya. Memeluk Raffa kembali di depan mata, apalagi saat Jihan tidak sadarkan diri dan dengan begitu sigap Raffa menggendongnya begitu panik serta meninggalkan Kinan di tengah acara. Kinan mencoba untuk sabar.
Dan puncak dari segala rasa kesalnya,bahwa ia tahu Jihan menggunakan ranjangnya dan memporak-porandakan setiap hiasan indah yang tertata di atas ranjangnya, cukup sudah ia berada di titik kesabaran.
* **
Kinan terbaring di ranjang dengan perasaan sangat kesal.Mengingat kembali kejadian yang baru saja menimpanya. Sangat menjengkelkan.
"Sudah tidur?" tanya Raffa, ia mengelus rambut Kinan dengan lembut namun Kinan tidak menjawab dan hanya merubah posisi tidurnya.
"Kamu marah?" ucap Raffa sembari melepaskan sepatu dan jas yang melekat sejak siang hari.
Masih tidak ada jawaban dari Kinan.
"Nan.." Raffa menusuk - nusuk pipi Kinan dengan jarinya. Mencoba untuk menggoda Kinan agar menjawab pertanyaannya.
"Apaan sih!" salak Kinan,ia mengusap pipi yang sudah disentuh Raffa. "Pergi saja sama Jihan, dia kan selalu ada untukmu." sindirnya.
Raffa hanya menggulum senyum, "Maaf ya tadi aku ninggalin kamu di pelaminan. Jihan pingsan."
Kinan tetap diam, membalikan badannya dan menangis.
" Jangan marah." Raffa memeluk Kinan dari belakang, namun Kinan langsung beranjak dari ranjangnya dan duduk di sofa.
"Tega kamu Raffa ninggalin aku di pelaminan hanya untuk Jihan. Dia juga tidur kan di ranjang kita huhuhu..." Kinan menangis, hatinya begitu pedih mengingat raut wajah Raffa yang begitu panik saat Jihan pingsan,bahkan saat Ayah Shafiq memintanya untuk tetap bertahan di pelaminan, Raffa menolak.
__ADS_1
"Dia sahabatku, dia pingsan. Masa aku hanya diam dan melihat." Raffa duduk disisi Kinan dan mencoba untuk merengkuhnya, namun masih ditolak. "Aku tidak tahu mau dibawa kemana Jihan, jadi aku bawa ke kamar kita. Ada Alif dan Anggrek kok, kami tidak hanya berdua." Ia mencoba menjelaskan pada Kinan situasi yang terjadi.
" Jangan marah ya sayang." Raffa mencoba merayu Kinan. Namun masih saja Kinan menolak