Cinta Navysah Season 2

Cinta Navysah Season 2
Bab 46


__ADS_3

Mereka kini berada di lantai atas Mall, Raffa hanya cengengesan melihat arena permainan di depannya sedangkan Davian menghembuskan nafas kasarnya.


"Terus kamu mau apa dari Ayah?" ia memijit dahinya, saat ini ia merasa akan dikerjai anaknya.


" Season pertama disini yah" ia menunjuk area permainan tim*zone, kita senang-senang seperti dulu saat aku kecil "ucap Raffa, ia selalu ingat masa kecil saat bermain bersama Ayah dan ibunya di Mall.


" Emang ada berapa season? " tanyanya." Baru yang pertama saja sudah buat Ayah malu" protesnya, "Raffa ayah sudah tua nggak jaman main beginian" Davian membuang wajahnya kearah lain dan terdengar suara cekikikan dari Pak Ari yang berada di belakangnya. Raffa sengaja menyuruh Pak Ari ikut bersamanya untuk memvideo maupun memfoto kegiatan mereka.


"Ada dua season, Ayah pokoknya hari ini harus libur kerja. Waktu Ayah hari ini hanya untuk aku. Tadi kan ayah sudah janji akan menuruti keinginanku agar aku meneruskan perusahaan. Masa main bersamaku nggak mau" ia menggerucutkan bibirnya, kesal karena Ayahnya tidak mau diajak bermain.


"Ya sudah Ayah mau untuk kali ini, yang penting kamu harus pegang janji kamu untuk mengurus perusahaan" ucap Davian.


"Oke yah janji!" ia menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut juga oleh jari kelingking Ayahnya.


Davian menengok ke arah kanan dan kiri melihat beberapa orang yang melirik ke arah mereka. Saat ini Raffa ingin bermain bom-bom car dan mereka saling beradu kecepatan dan saling menabrak. Ini pertama kalinya Davian kembali seperti anak kecil dan ia harus melakukannya agar sang anak mau meneruskan perusahaannya. Setelah permainan itu selesai mereka naik ke lantai dancing, Raffa mengajak Ayahnya untuk menari sesuai dengan layar monitor.


"Ayo yah!" ajak Raffa, ia menggandeng Ayahnya ke lantai dancing.


"Malu, Ayah sudah tua nggak bisa menari"bisiknya," Lihatlah sebagian orang melihat kearah kita" Davian menunjuk mereka dengan dagunya.


"Raffa nggak peduli" ia kekeh dengan keinginannya, dan sang Ayah hanya mendengus kesal. Mereka mengikuti layar monitor dan menari, terdengar suara riuh dari penonton yang melihat Ayah dan anak itu menari.


" Uwoooww... Itu kan Davian Ahmad dengan anaknya Raffa Ahmad. Sumpah mereka uwuw banget, keluarga yang tampan luar biasa" ucap salah seorang perempuan lainnya.


"Mau dong jadi pacar anaknya"

__ADS_1


"Aku mau bapaknya saja lebih sixpack. Wooww banget!.."teriak


"Coba aku jadi menantunya, nggak bakalan aku lepasin tuh kakak ganteng"


"Aku pilih anaknya saja, ganteng banget apalagi senyumnya itu bikin cewek-cewek meleleh"


" Kita taruhan ya siapa yang menang bapaknya atau anaknya" sayup-sayup terdengar suara gerombolan cewek saling berbisik.


"Daddy, daddy"


"Son, son" mereka memberi semangat diluar arena. Dan akhirnya permainan dimenangkan oleh Raffa.


"Yeeyyyy... aku menang" ucap Raffa,ia mengambil sapu tangan disaku nya dan menyeka keringat yang menetes di dahinya.


"Ya allah, pengen jadi sapu tangannya. Bisa kali nyenggol wajahnya dikit" ucap seorang gadis alay, " Sexy banget sih" ia menatap Raffa tanpa berkedip.


"Mana mau Ayah main beginian kalau nggak dipaksa kamu,Mama Navysah tuh yang dulu suka main kayak gini. Saat membawamu ke Mall, malah dia yang main sama si Maya. Urat malu mereka sudah putus, sudah punya anak masih main beginian, hihihi" Davian tertawa mengingat kembali istrinya yang dulu sangat antusias melihat lantai dancing.


" Tapi Ayah juga cinta kan sama mama"tanya Raffa sembari meneguk air mineral di dalam tas nya dan memberikan sebotol air untuk Ayahnya juga.


"Dulu Ayah jatuh cinta terlebih dahulu denganmu yang tampan, imut dan cerewet" Davian menggulum senyum mengingat dulu saat Raffa kecil,


"Kamu sangat pintar dan bawel, kalau bisa kamu jangan tumbuh besar, biarkan seperti dulu saat Ayah bertemu denganmu.Biar Ayah bisa gendong kamu terus" ia menepuk bahu anaknya yang kini sama tinggi dengannya. " Nyatanya kamu sudah sebesar ini dan menjadi anak baik,bisa melindungi adik-adik.Ayah bangga padamu" sambungnya lagi.


"Kalau Ayah meninggal terlebih dahulu, kamu harus menjaga keluarga kita. Menjaga mama dan adik - adik,cuma kamu yang Ayah andalkan" Davian menatap anaknya dengan intens, ia mengatakan dengan penuh penekanan si setiap kalimatnya.

__ADS_1


"Apaan sih yah!, jangan ngomong begitu Raffa tidak suka. Ayah akan sehat terus, sampai tua bersama mama dan kita semua"


Davian menggelengkan kepalanya, " Umur tidak akan ada yang tahu,terkadang kita sehat hari ini. Besok bisa saja meninggal.Seperti jodoh pun tidak ada yang tahu. Dulu Ayah tidak ingin menikah,apalagi dengan ibumu yang sableng itu" ia menggulum senyum. "Tapi jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang bisa menolak kuasanya dan Ayah sangat berterima kasih dengan nenek Fera karena dia selalu memaksa Ayah untuk segera menikah, akhirnya terpaksa deh Ayah memilih ibumu.. hahaha...


"Oh,jadi Ayah terpaksa menikahi mama" Raffa mengenyitkan dahinya, " Raffa laporin yah sama mama, hehehe" ancamnya, ia tahu Ayahnya takut jika ibunya merajuk.


"Jangan!, bisa berabe kalau mamah ngambek yang ada rumah seperti neraka, adik-adik nggak diurus. Nanti Ayah nggak dapat jatah juga, hahaha" selorohnya. Raffa hanya memutar bola matanya malas.


"Itu dulu, awalnya Ayah hanya ingin status saja, ibumu dari dulu memang cantik dan karena kesabarannya juga membuat Ayah jatuh cinta padanya. Bahkan cinta banget, sampai Ayah hampir gila saat ibumu kabur dari rumah dan saat dia koma karena melahirkan Alif dan Fafa." ia mengelus punggung anaknya. "Ayah hanya bisa berdoa, biar Ayah duluan yang pergi dari kalian jangan mama. Ayah tidak akan sanggup lagi menghadapi situasi itu kembali. Kalau mama kesepian masih ada kamu anak yang paling dia sayang. Dan kamu bisa jadi pengganti Ayah untuk melindungi adik-adik"


"Apaan sih yah! Jangan bercanda seperti ini. Raffa beneran nggak suka Ayah ngomong begini" ketusnya. "Ayo main lagi daripada Ayah tambah ngawur ngomong yang nggak jelas" ia menarik lengan Ayahnya dan bermain kembali. Mereka bermain tembak-tembakan, basket, balapan mobil hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.


"Ayah, ayo kita salat setelah itu baru makan siang. Aku lapar"


Mereka bertiga salat di mushola mall yang cukup kecil, setelah itu mereka makan siang di foodcourt.


Raffa dan Pak Ari memesan ayam goreng penyet, sedangkan Ayahnya memesan soto Lamongan. Pak Ari sengaja memisahkan diri dari mereka agar ayah dan anak itu saling mengobrol.


Raffa mengunyah makanannya dan ia terlihat sangat lahap, piringnya langsung licin tandas seketika.


"Enakan masakan mama Navysah" ucapnya, " Ayam tadi terlalu asin" sambungnya lagi. Davian hanya tersenyum mendengar anaknya berbicara. Ini pertama kalinya Raffa banyak mengobrol dengannya, seperti dulu saat dia kecil.


"Sambalnya hambar tapi aku lapar jadi dihabiskan" sambungnya lagi, "Kalau sambal mama enak, pedasnya pas bikin pengen makan terus" ia mengomentari masakan yang baru saja ia makan.


"Masakan mama memang paling enak, tiada duanya" ucap sang Ayah, " Makanya Ayah betah makan dirumah, dulu mama selalu membawakan bekal untuk Ayah sampai - sampai di kantor Ayah diketawain Om Rayyan dan Om Feri katanya kayak anak kecil dan itu bukan karakter Ayah banget,tapi Ayah tidak ambil pusing. Ayah selalu menghabiskan makanan mama karena memang enak "ia tersenyum kembali mengingat masa itu.

__ADS_1


Setelah itu Mereka kembali ke rumah untuk melanjutkan season kedua permintaan Raffa...


__ADS_2