
~Jangan menyepelekan hal kecil, jika itu sudah dibumbui oleh cinta.
karena itu bisa jadi akan menjadi candu, dengan daya pikat yang luarr biasa!ðŸ¤~
***
"Itu.."
Anna merasakan tangannya berkeringat. Jantungnya pun kian berdegup cepat. Di hadapannya Daffa masih menunggu jawaban Anna atas lamarannya.
"Maaf, Daff.." Daffa menahan napas. Mendengar awal kalimat itu membuatnya hampir pingsan.
'Dia akan menolak ku? Bagaimana bisa?' Daffa bermonolog dalam hati.
Tanpa sadar, Daffa mengepalkan tangannya cukup erat. Sementara menunggu lanjutan kalimat Anna.
"Sebelumnya aku mau berterima kasih untuk pertolongan kamu kemarin lalu di butik. Aku gak tahu apakah aku bisa membalas kebaikanmu itu atau tidak."
"Tak usah memikirkan hal itu. Saya menolong kamu karena saya yang menginginkannya. Jadi kamu tak berhutang apa-apa pada saya," Daffa menyela ucapan Anna.
"Terima kasih.." ucap Anna. "Mengenai tawaran dari Daff. Ada hal yang ingin Anna sampaikan dulu sebelumnya."
"Apa?" Daffa menunggu dengan harap-harap cemas.
"Jadi.."
Tenonet..tenonet..
Dering smartphone yang asalnya dari dalam ransel Anna membuyarkan percakapan kedua muda-mudi itu.
"Maaf.. sebentar ya," Ucap Anna sambil mengambil smartphone nya.
"Hm." Jawab Daffa. Dalam hati ia merutuki siapapun yang sudah mengganggu percakapannya dengan Anna tadi.
'****. Sedikit lagi padahal', Daffa membatin.
"Halo? Ya. Kenapa Rin? Ya.. he em.. mm..udah selesai sih. Mm.. enggak. Enggak.. aku bisa kok. Tapi kan kita ada matkul Listening, Rin, jam 3-an. Apa gak mepet waktunya? Mm.. oke.oke. i'll be there. Yeah.. soon. Soon. Gercep dah ni ya.. Sama-sama Rin.."
Anna memutus sambungan telpon lalu memasukkan smartphone nya kembali ke dalam ransel. Ia lalu menatap Daffa dengan pandangan penuh rasa bersalah.
Daffa yang tadi mendengar pembicaraan telepon Anna bisa menebak apa yang sekiranya akan diucapkan oleh gadis itu. Walau hatinya merasa kesal, tapi ia tak bisa berbuat apapun.
"Daffa.. aku..minta maaf banget." Ucap Anna sambil meremas ransel di pangkuannya.
"Kamu ada hal dadakan yang perlu kamu lakukan ya?" Tanya Daffa memastikan.
"Iya. Jadi teman dekatku tuh lagi down. Dia dikacangin sama gebetannya dan dibuat nunggu sampe 2 jam lebih di acara makan mereka. Terus, pas gebetannya datang, dia malah bilang lagi sibuk dan ninggalin temenku di resto. Jadi dia sekarang lagi perlu aku banget. Mm.. kamu bisa ngerti kan?" Anna menjelaskan panjang lebar.
Daffa menghela napas. Ingin marah pun ia tak bisa. Melihat wajah Anna yang merasa bersalah pun ia tak tega. Akhirnya ia mengangguk, mengijinkan Anna untuk pergi.
"Oke. Kamu boleh pergi."
"Makasih, Daff. I owe you alot." Seru Anna penuh rasa terima kasih. (Terjemah: aku berhutang banyak padamu)
__ADS_1
"Fine. No worry. You just owe one dinner time with me. Pulang kuliah, kita bisa makan bareng?" Usul Daffa.
(Terjemah: oke.gak apa-apa. Kamu cuma punya hutang makan malam bareng sekali ke saya)
Anna nampak berpikir sebentar.
"Insya allah bisa. Tapi aku pulang sekitar jam 5-an."
"Oke. Gak apa-apa. Nanti kalau kamu udah selesai kuliah, kabarin saya ya."
"Iya. Aku pamit duluan gak apa-apa kan Daff?" Anna kembali meminta ijin.
"Mau saya antar?" tawar Daffa seraya berdiri.
"Gak usah. Kamu selesain makan aja. Teman ku nunggu di gerbang depan kok."
"Oke. Hati-hati."
"Ehm." Anna mengangguk. "Assalamu'alaikum!" Seru Anna berpamitan.
"Wa'alaikumussalam."
Dan Anna pun pergi. Membawa serta separo semangat milik Daffa bersamanya.
Lelaki itu mendorong piring makanannya. Ia tak lagi memiliki nafsu makan untuk menghabiskan sisa makanan di piringnya.
Daffa menunduk. Menyapukan rambut miliknya dengan kedua tangan. Ada rasa sesal yang ia rasakan oleh sebab tertundanya pembicaraannya dengan Anna tadi.
Daffa bangkit berdiri. Ia pun melangkah ke luar dari warteg dengan langkah yang terasa berat. Ia tak perlu lagi membayar makanannya. Karena ia sudah memberikan uang 50 ribu rupiah untuk menu makan ia dan Anna di awal tadi saat ia memesan makanannya. Termasuk kembaliannya juga diberikannya kepada penjual warteg itu.
Tapi kemudian, saat langkahnya baru saja menginjak jalan di depan warteg, terdengar suara penjual warteg menghentikan langkahnya.
"Mas! Mas! Mas ganteng!"
Mulanya Daffa tak mengindahkan suara penjual itu. Ia baru berhenti ketika mbak penjual warteg itu menarik lengan bajunya.
"Ya?" Tanya Daffa.
"Ini, Mas. Mbak nya tadi bayar uang makannya lagi. Saya udah bilang kalo makanannya udah dibayar sama Mas-nya. Tapi dia ngotot. Dan suruh ngembaliin uang yang Mas-nya bayarin tadi. Jadi ini uang dari Mbak-nya," Seru Mbak penjual warteg itu seraya menyodorkan segulung uang.
Daffa melirik sekilas uang yang disodorkan padanya. Nampak uang sepuluh ribuan di matanya.
"Buat kamu aja!" Ucap Daffa seraya berbalik pergi.
"Beneran gak apa-apa ini, Mas, buat saya?" Tanya penjual warteg meyakinkan.
"Ya." Tapi baru dua langkah Daffa melanjutkan langkahnya, ia berhenti tiba-tiba. Tak lama, ia berbalik kembali pada penjual warteg itu.
"Mm.. itu uang dari Anna?" Tanya Daffa tiba-tiba.
Mbak penjual warteg yang sudah mau memasukkan uang berwarna ungu itu ke kantongnya pun terhenti. Dilihatnya Daffa dengan pandangan bingung. Baru kemudian ia menjawab, "iya. Ini uang dari mbak yang tadi.".
"Maksud saya, uang yang dikasih Anna itu beneran uang lembaran yang itu bukan?" Tanya Daffa kembali.
__ADS_1
"i..ya..?"
"..."
"..."
"Boleh deh saya ambil uangnya!" Seru Daffa tiba-tiba.
Dengan masih penuh rasa bingung, penjual warteg itu pun mengulurkan uang sepuluh ribuan yang hampir ditaruhnya ke dalam kantong.
Uang itu kemudian secepat kilat hilang berpindah ke tangan Daffa. Terlihat wajah tampan pemuda itu tersenyum kegirangan saat melihat uang sepuluh ribuan di tangannya itu.
Melihat Daffa yang berlalu pergi, penjual warteg pun berdecak pelan.
"Penampilannya sih tampan dan kaya. Tapi ngelihat duit sepuluh rebu aja udah kayak dapet duit sekoper. Aneh."
***
Daffa masuk ke dalam mobil Bentley hitam miliknya yang terparkir di sisi jalan dekat gerbang kampus.
Di kursi depan Pak Kiman memperhatikan sikap Tuan Muda nya sejak ia melihat sosoknya keluar dari gang kecil samping kampus. Majikan mudanya itu tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali melihat sesuatu dalam genggamannya.
Pak Kiman merasa penasaran dengan apa yang berada dalam genggaman Tuan Muda nya itu. Baru kali ini ia mendapati sesuatu yang mampu menampilkan senyuman lebar di wajah Prince of Ice nya Tuan Daffa.
Pak Kiman diam menunggu perintah Tuan Daffa. Biasanya Tuan Daffa akan langsung menyebutkan nama tujuannya saat baru memasuki mobil. Tapi sepuluh menit sudah berlalu, Tuan Daffa masih juga tersenyum seraya melihat sesuatu di tangannya.
Tergerak oleh rasa penasaran, Pak Kiman pun menggeser kaca spion di dekat kepalanya. Dari kaca spion, ia melihat satu lembaran ungu uang sepuluh ribu di tangan Tuan Muda nya.
Pak Kiman terheran-heran. Ia sulit mengerti jalan pikiran Tuan Muda nya.
Dengan harta triliunan yang akan Tuan Muda nya dapatkan dari Zi-Tech Empire, Tuan Muda nya itu tampak menyenangi uang sepuluh ribu yang ada di tangannya. Pak Kiman pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Menyerah untuk mengerti jalan pikiran Daffa, Pak Kiman pun berdehem pelan untuk menyadarkan Tuan Muda nya itu.
"Ehem. Maaf, Tuan Muda. Kita akan kemana sekarang?"
Mendengar deheman Pak Kiman, Daffa tersadar dari lamunannya. Ia tak sadar masih tersenyum ketika matanya menangkap pandangan Pak Kiman padanya. Tapi begitu tersadar, Daffa langsung memasang wajah dinginnya kembali sambil berdehem pelan.
"Ehm. Ke.. kantor saja"
Daffa lalu memasukkan uang sepuluh ribu di tangannya ke dalam saku dengan hati-hati.
Melihat tingkah Tuan Mudanya itu, Pak Kiman akhirnya tergoda untuk bertanya pada Daffa.
"Sepertinya Tuan mendapat kabar gembira."
Spontan saja Daffa menepuk pelan saku tempat ia menaruh uang dari Anna tadi. Ia tak sadar kalau segaris senyuman kembali menghiasi wajahnya.
Dengan nada baritonnya Daffa berkata, "saya mendapat cindera mata yang bagus sekali".
Masih tak mengerti dengan jawaban Tuan Muda nya, Pak Kiman memilih untuk diam kembali. Mobil Bentley hitam itu pun membawa keduanya melaju menuju kantor Daffa kembali.
***
__ADS_1