
Setibanya di kampus..
"Nanti sore, saya jemput pakai mobil, ya, Sayang!" Ucap Daffa seraya membantu Tasya melepas helm dan jaket yang dikenakan oleh istrinya itu.
"Iya.. tapi pulang nanti kita mampir ke warung Sudiro ya, Sayang? Aku pingin Sate Maranggi.." Tasya memohon.
"Iya, Sayang. Ya udah. Saya berangkat dulu ya!"
Tasya lalu menggamit tangan Daffa untuk ia cium. Setelahnya Daffa pun hendak kembali mengenakan helm nya.
Tapi..
Dua orang mahasiswa muda tiba-tiba saja muncul dan menyapa pasangan suami istri itu.
"Permisi Kakak ganteng dan kakak cantik.." ucap seorang mahasiswa yang berkepala botak.
Tasya mengerjapkan matanya menatap bingung pada dua pemuda yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana itu.
"I..ya?" Pada akhirnya Tasya lah yang membalas sahutan pemuda asing itu. Dalam hatinya ia menduga-duga, 'apa mereka mau minta sumbangan ya?'. Melihat penampilan baju salah satu nya yang agak mengenaskan. Kaos t shirt super ngepres dipadu dengan celana jins yang panjangnya tanggung di atas mata kaki, dengan beberapa tambalan pada celananya itu.
"Begini loh Kak.. anu.." pemuda botak itu tampak ragu-ragu bicara. Sementara kawan di sampingnya dari tadi hanya menyengir kuda saja.
"Heh! Lu aja yang bilang lah!" Bisik si kepala botak pada kawannya yang berambut cepak. Sengaja ia menyikut perut kawannya itu cukup keras. Membuat si kepala cepak sempat mengaduh kesakitan.
"Aduh! Sial lu! Kan tadi kita udah gamsuit. Lu kalah, jadi lu yang ngomong! Berani dong, Men!" Balas bisik si kepala cepak pada si kepala botak. Tak lupa pula ia balas menyikut perut kawannya itu, walau meleset dan dibalas cengiran kemenangan dari si kepala botak.
"Wee.. gak kena!" Ejek si kepala botak.
"Sial Lu!" Umpat si kepala cepak.
Sementara itu Tasya dan Daffa yang menyaksikan dua anak kucing, eh, maksudnya dua pemuda itu sibuk bertengkar, akhirnya merasa bingung. Pada akhirnya Daffa memutuskan untuk mengabaikan dua orang yang masih juga sibuk sendiri, dan hendak memakai kembali helm nya.
"Eh! Kakak ganteng! Sebentar! Sebentar dulu! Jangan pergi dulu, Kak!" Kembali si kepala botak menghentikan Daffa.
Daffa kembali meletakkan helm nya di atas pangkuan. Ia mulai tak sabar menghadapi kedua orang tak jelas di depannya itu. Wajahnya sudah bertekuk-tekuk masam. Macam singa yang makan buah celincing. Buah nan super masam.
Menyadari kalau mereka sudah membuat kesal Daffa, kedua mudi itu pun pada akhirnya mengutarakan maksud mereka secara berbarengan.
"Kita mau pinjam Gold Wing nya Kakak! Mau foto sebentaarrr aja!" Ucap keduanya kompak dan sama persis.
__ADS_1
Tasya melongo heran dengan apa yang baru saja didengarnya itu. Dan ia menatap sang suami yang anehnya malah tersenyum tipis dan langsung saja turun dari atas motornya.
Begitu melihat apa yang sebenarnya dimaksud oleg kedua pemuda itu dengan Gold Wing, Tasya semakin bertambah syok. Bagaimana lah bisa tidak.
Ternyata kedua pemuda itu hanyA ingin berfoto-foto di atas motor milik Daffa. Keduanya tampak bergantian saling memfoto kawannya yang bergaya seperti sedang mengendarai motor, atau bahkan hanya bergaya berdiri sambil bersandar pada motor gede itu.
Tasya tak habis pikir. Bagaimana bisa sebuah motor bisa sebegitu menariknya di mata dua lelaki asing itu.
Tasya lalu hendak mengemukakan rasa herannya itu dengan berbisik pada sang suami yang kini berdiri di sampingnya. Namun Daffa nyatanya sudah lebih dulu menyampaikan isi kepalanya.
"Lihat! Motor saya memang keren, bukan?" Ucap Daffa dengan senyum bangga yang terpampang nyata.
Seketika itu pula Tasya memutuskan untuk diam tak jadi berkomentar. Karena menurutnya sang suami pun sungguhan aneh seperti dua pemuda asing yang kini masih sibuk memotret seluruh body motor gede itu.
Merasa tak bisa menyaksikan kegilaan terhadap motor itu lebih lama lagi, akhirnya Tasya pun mengatakan sesuatu kepada Daffa.
"Katamu kamu ada meeting jam sepuluh. Ini udah jam berapa loh, Say.." ucap Tasya.
Daffa terkejut dan spontan melirik arloji di tangannya. Ia pun tersadar kalau ia bisa terlambat meeting jika tak bersegera berangkat sekarang juga.
Kedua pemuda yang tadi sibuk berfoto dengan motor gede itu pun langsung melipir ke samping. Mereka ikut mendengar teguran dari Tasya pada suaminya itu. Lagipula mereka sudah merasa puas karena berhasil memiliki foto langsung bersama motor impian mereka.
Tasya tersenyum geli. Tak menyangka akan menjumpai kejadian lucu sepagi ini. Ia memberi anggukan singkat dan senyuman ramah pada kedua pemuda itu. Sebelum akhirnya beralih memperhatikan sang suami yang kembali memakai helm dan menaiki motor nya.
"Kalau gitu saya berangkat ya, Sayang.."
"Iya.. jangan kelewat ngebut ya! Hati-hati!" Tasya memperingatkan.
Daffa mengangguk singkat, dan akhirnya melaju pergi dengan motor Gold Wing miliknya.
Setelah Tasya tak lagi melihat sosok Daffa, ia pun berpamitan singkat pada dua pemuda yang masih sibuk menyengir kuda pada layar ponsel mereka masing-masing.
Tasya menebak, pastilah keduanya sedang mengagumi hasil potretan mereka dengan motor gede impiannya tadi.
Seketika saja seulas senyum kembali tertarik di wajah wanita cantik itu. Masih tak habis pikir kala menyaksikan kesukaan dua lelaki tadi pada sebuah motor.
'gila! Hihihi.. dan kayaknya Daffa juga sedikit.. ihihihi.. apa semua cowok memang gitu ya? Suka motor udah kayak suka sama cewek aja!' batin Tasya berkelana jauh.
***
__ADS_1
Sore hari nya..
Daffa benar menjemput Tasya dengan menggunakan mobil. Meski mobil yang ia bawa bukanlah Bentley seperti yang biasanya mereka naiki. Daffa datang ke kampus Tasya dengan mengendarai mobil Rush. Mobil yang menurut Daffa memiliki space yang lebih nyaman untuk bumil seperti Tasya.
Tasya yang tak mengerti mobil, mengiyakan saja ucapan sang suami. Ia langsung duduk di kursi depan, menemani Daffa yang duduk di balik kemudi.
Selama di perjalanan, keduanya mengobrol panjang lebar.
"Sayang, kita kan udah mau balik ke Nevarest, jadi kenapa kamu masih tetap pingin kuliah? Saya masih gak ngerti sama keinginan kamu ini," tanya Daffa tiba-tiba.
"Hh.. soalnya aku gak tahu mau ngapain lagi, Daff.. yang aku tahu di bumi ini kan ya cuma kampus aja. Gak apa-apa kan kalau aku masih pingin kuliah dulu sementara ini?" Tasya memohon.
"Oke.. apapun buat kamu, deh, Tasy.."
"Oiya, aku udah janji mau undang teman-teman kampus kalau kita ngadain pesta nikah. Menurut kamu, kita adain pesta nikah juga gak di sini? Tapi kayaknya sayang banget ya. Nanti kan kita juga bakal adain pesta di Nevarest.."
"Hey.. urusan di Nevarest dipikirinnya nanti aja. Kamu udah janji sama teman-teman kamu, jadi kita tunaikan janji kamu dulu yang satu itu ya. Kita akan buat pesta besar untuk pernikahan nanti. Anggap aja itu pesta perpisahan sebelum kita pulang ke Nevarest. Iya kan?" Saran Daffa.
"Hh.. iya. Aku ikut aja deh.." Tasya menatap sedih keluar jendela.
Agaknya ia merasa berat untuk meninggalkan kehidupannya di sini. Bagaimana pun juga sudah bertahun-tahun lamanya ia tinggal di bumi. Ia sudah memiliki banyak teman dan saudara baru di dunia ini.
Memikirkan jika ia akan pergi berpisah dengan semua yang sudah ia sayangi di dunia ini, rasanya menyisakan rasa berat dalam benak dan pikiran wanita itu.
Daffa menyadari perubahan mood sang istri. Maka ia pun menegurnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok sedih sih?"
"Hh.. ya sedih lah, Daff.. mikirin perpisahan dengan semua yang ada di sini, rasanya sedih banget," sahut Tasya dengan pandangan sendu.
Daffa memberi Tasya senyuman sabar. Diraihnya tangan Tasya dengan tangan kirinya, sebelum ia kembali bicara.
"Setiap perjumpaan pastilah juga disertai dengan perpisahan, Sayang.. ada sebab nya kita berjumpa, ada sebab nya pula kita harus berpisah. Jangan terlalu bersedih atas setiap perjumpaan dan perpisahan yang harus kita lewati. Karena pada dasarnya, memang itulah hakikatnya penciptaan kita, bukan? Yakin lah, pada akhirnya pasti kita akan kembali dipertemukan di jannah-Nya yang indah."
Tasya menatap sendu pada Daffa. Mencoba mencerna kalimat suaminya itu baik-baik. Setelah beberapa lama, ia pun akhirnya menyahut.
"Aamiin.. allahumma aamiin.."
***
__ADS_1