
Di mobil...
"Kita mau makan di mana, Daff?" Tanya Anna penasaran.
Daffa menengok wajah istrinya itu. Beberapa helai rambut Anna tampak keluar dari kepangan di belakang kepalanya.
Bros berbentuk empat tiara yang menghiasi sisi kanan rambut Anna pun terlihat miring dari posisi awalnya. Spontan saja, Daffa meraih rambut Anna dan merapihkan bros tiara itu.
"Mommy-nya Jason kebetulan punya resto kecil yang makanan nya superb. Saya sering banget ke sana. Kebanyakan menu nya west food. Tapi menurut saya cita rasanya cocok juga untuk lidah kita," Papar Daffa.
Jason adalah desainer yang merancang baju yang dikenakan Anna saat ini.
Anna tertegun saat mendapati jarak antara dirinya dan Daffa yang teramat dekat. Terlebih lagi ketika Daffa membenarkan letak bros di kepalanya, Daffa juga sambil bicara.
Jadi indra pendengaran Anna bisa menangkap jelas suara barito milik suaminya itu. Membuat jantungnya jadi berdegup tak menentu.
Lalu, Daffa menarik kepangan rambut Anna hingga berada menyamping di sisi kanan bahunya. Dan dengan sengaja, Daffa melepaskan karet yang mengikat kepangan rambut Anna hingga terlepas.
"Hey! Jahil banget sih. Gerah tahu!" Anna menggerutu.
Anna berusaha mengambil kembali ikat rambut di tangan Daffa, tapi pemuda itu sengaja menyembunyikan ikat rambutnya ke sisi terjauh sehingga Anna tak bisa meraihnya.
"Apaan sih, Daff!"
"Udah, begitu aja. Saya lebih suka kalau rambut kamu tergerai," Bujuk Daffa.
"Tapi kan gerah, Daff!"
"Setelah saya ingat-ingat, saya selalu lihat rambut kamu diikat kuncir belakang. Baru kali ini saya lihat rambut hitam kamu terurai. Kamu jadi kelihatan lebih cantik!" Puji Daffa.
Pipi Anna seketika merona. Merasa malu, ia pun mengalihkan pandangannya ke sisi lain jendela.
"Apaan sih."
"Beneran, An. Saya gak bohong," Tutur Daffa seraya meraih jemari Anna.
"Iya, gak bohong. Cuma ngegombal!" Anna mencebik.
Tiba-tiba Anna teringat ketika Daffa memeluk gadis menyebalkan di acara tadi. Seketika itu juga mulut Anna langsung tertutup rapat.
Anna merasa kesal sekaligus lelah untuk bicara dengan Daffa di waktu yang bersamaan. Alhasil, ia terus berdiam diri sambil memalingkan mukanya dari pandangan Daffa.
"Saya enggak ngegombal, Anna. Saya serius memuji kamu. Kamu kok gitu sih." Daffa keheranan dengan sikap Anna yang tiba-tiba mendiamkannya.
"..."
"Hei.. Anna.." panggil Daffa lagi.
"Maaf, Daff. Aku ngantuk. Aku tidur dulu ya!" Ucap Anna dan langsung memejamkan mata.
__ADS_1
Daffa merasa kebingungan sekaligus kesal. Tapi ia mencoba untuk memahami kondisi Anna. Akhirnya sisa perjalanan dalam mobil itu pun berlalu dalam keheningan.
***
Sekitar 17 menit kemudian Daffa dan Anna sampai di restoran milik Mommy nya Jason. Sepertinya Daffa memang sudah menjadi langganan di resto itu. Karena pelayan di sana pun langsung menyapanya dengan akrab.
"Di tempat biasanya, Tuan?" Tanya pelayan wanita cantik berseragam warna peach.
"Kali ini saya mau ruangan private," Jawab Daffa. "Yang view nya paling oke," Tambahnya lagi.
Pelayan wanita itu langsung melirik ke arah Anna. Dan untuk sekilas, Anna mendapati kilatan rasa iri di mata wanita itu. Membuat Anna jadi merasa tak nyaman saja.
" Baik. Mari ikut saya!" Ujar pelayan wanita itu.
Pelayan itu langsung berbalik badan dan mengantarkan Anna dan Daffa ke ruangan berukuran 2x3 meter di lantai dua.
Saat itu Daffa menawarkan untuk memapah Anna dan ia tak menolaknya. Tapi Anna cukup terkejut, ketika mereka dibawa ke ruangan khusus lesehan yang hanya terdiri dari satu meja persegi saja.
Saat duduk, Anna bisa menyaksikan pemandangan danau kehijauan di luar sana. Beberapa burung entah jenis apa tampak bergerombol memakan sesuatu di pinggir danau.
Dan di sekitar danau, terdapat semak-semak bunga yang berwarna-warni. Bentuknya melingkari sekitaran danau. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
"Gimana? Kamu suka?" Suara Daffa tertangkap oleh telinga Anna.
"Suka. Tapi.."
"Tapi..?"
"Kok gitu? Memangnya kenapa?" Daffa merasa heran.
"Yaa lihat deh tempat ini. Ini tuh lesehan. Padahal di lantai bawah kelihatannya tampilannya formil banget. Kupikir kamu lebih cocok sama yang formal-formal kayak di lantai bawah," Sahut Anna.
"Kamu nganggap saya orang yang serius ya, An?" Daffa menerka.
Anna mengangkat kedua bahunya. "Kamu memang selalu tampak serius. Sejauh yang aku kenal."
"..."
"..."
Sejenak, kedua pasangan itu terdiam. Daffa serius memandangi Anna. Sementara Anna mengalihkan pandangannya ke danau di luar.
"Ehem.. Jadi, pesanannya apa saja ya, Tuan?"
Pandangan Anna dan Daffa serentak beralih ke pelayan wanita yang tadi menyambut mereka di pintu masuk.
Anna lalu didera rasa malu. Ia hampir lupa kalau mereka belum memesan makanan. Sementara Daffa dengan cueknya langsung mengambil buku menu yang berada di atas meja.
"Kamu oke kan makan steak?" Tanya Daffa pada Anna.
__ADS_1
"Terserah!" Anna menjawab asal sambil menopangkan dagu dan memandang danau.
"..." Daffa terdiam memandang wajah cantik Anna.
Lama-lama ia ingin mengacak-acak rambut hitam istrinya itu oleh sebab rasa kesal yang dirasakannya terhadap Anna. Rasanya susah sekali menyenangkan hati istrinya itu.
Daffa lalu menyebutkan pesanan untuk mereka berdua, tanpa memalingkan pandangannya dari wajah Anna. Ini membuat Anna lama-lama menjadi jengah.
"Kenapa sih lihatin aja?" Tanya Anna.
"Lagi inget-inget muka istri sendiri. Kenapa? Itu juga gak boleh?" Sahut Daffa dengan nada kesal.
Anna memelototi Daffa. Dan Daffa balas memelototinya. Adu pandang itu tertunda saat dua orang pelayan datang membawa pesanan mereka.
Dan selanjutnya, keduanya pun menyantap hidangan di depan mereka dalam diam.
***
Usai makan, keduanya segera keluar dari restauran. Ketika Anna sudah masuk ke dalam mobil, Daffa kembali masuk ke dalam restoran.
"Tunggu sebentar. Dompetku sepertinya terjatuh di kloset," Begitu kata Daffa.
Maka Anna menunggu di dalam mobil. Dengan Pak Kiman yang berdiri menyandar di luar pintu mobil.
Selang beberapa detik sosok Daffa menghilang ke dalam restoran, muncul seseorang yang membuat mood Anna kembali buruk.
Sosok gadis menyebalkan yang Anna lihat berpelukan dengan Daffa di acara pernikahannya muncul entah dari mana.
Gadis itu mendekati mobil tempat Anna berada. Ia lalu menyapa Pak Kiman.
"Daffa di dalam mobil?" Tanya gadis menyebalkan itu pada Pak Kiman.
Gadis itu hampir mau menempelkan wajahnya ke kaca mobil untuk mencari sosok Daffa. Syukurlah Pak Kiman bergegas menjawab pertanyaan gadis menyebalkan itu.
"Tuan Muda ada di dalam restoran, Non."
"Oh.."
Tampak oleh Anna, gadis itu tak percaya dengan jawaban Pak Kiman. Terlihat dari ia yang masih mencoba ingin menengok menembus kaca hitam mobil yang ditumpangi Anna.
Anna sendiri, berusaha untuk diam setenang mungkin. Ia memilih untuk bersembunyi di balik kaca hitam mobil yang menutupi keberadaan dirinya di dalam mobil.
Tapi Anna sudah mengambil ancang-ancang jika gadis menyebalkan itu menempelkan wajahnya ke kaca dan menyadari keberadaannya, Anna memilih untuk pura-pura tidur saja.
Tapi kemudian..
"Joanna?" Indera pendengaran Anna menangkap suara Daffa.
Spontan saja Anna membuka matanya kembali dan menoleh ke asal suara. Dan lalu langsung menyesali apa yang ditangkap oleh netra nya.
__ADS_1
Gadis menyebalkan itu tampak terkejut sekaligus senang, saat mendengar panggilan Daffa kepadanya. Sehingga beberapa saat kemudian, ia dengan 'tak tahu malunya' memeluk Daffa di muka umum.
***