Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Pulang


__ADS_3

"Lapor, Pak! Kami menemukan nona Karina berpegangan pada badan speedboat yang terbalik! Kondisinya cukup baik. Tak ada target di sekitar lokasi. Menurut nona Karina, target Frans telah tenggelam!" Suara anak buah Daffa terdengar lewat earphone.


"Bagaimana dengan chip pelacak?" Daffa tiba-tiba bertanya.


"Menurut mesin detektor, titik merah dari chip pelacak yang kita letakkan di bawah sepatu target juga menunjukkan berada di kedalaman laut. Kini, titik merah nya semakin memudar. Itu pertanda kalau jarak jangkauan detektor sudah tak mampu menjangkau sinyal chip merah lagi."


Daffa menghela napas lega. Meski sebenarnya ia ingin melihat sendiri tubuh Frans yang terbujur kaku dengan mata kepala nya sendiri. Namun, mendengar penuturan terkait alat pelacak yang telah ia pasangkan di bawah sepatu Frans tampaknya telah tenggelam ke dasar lautan juga cukup membuat Daffa merasa sedikit lega.


Daffa berharap dengan begini semuanya telah berakhir. Ia kini telah memiliki bukti kejahatan money laundry yang dilakukan oleh Jenderal Sihombing terhadap aktivitas ilegal yang telah dilakukannya sejak lama sekali.


Dengan sekali bisikan pada media dan pejabat yang tepat, Jenderal Sihombing tak akan lagi bisa mengelak dari jeratan hukum yang sepantasnya baginya. Mungkin malah di sisa hidupnya, lelaki tua itu akan menghabiskan masa senja nya di balik jeruji besi.


Daffa juga telah berhasil menangkap para pengerat yang sudah menjadi parasit dalam keluarga besar nya. Satu persatu pelaku di balik rentetan peristiwa ganjil yang menimpa keluarga inti nya akan ia seret jua ke dalam sel abadi.


Lama termenung, Daffa pun memberikan titahnya yang terakhir. "Bawa nona Karina kembali ke kapal. Dan lakukan penyisiran ulang sekali lagi. Khawatir target melakukan tipu daya dan masih berkeliaran di sekitar lokasi!"


"Siap, Pak!"


Daffa melepas earphone nya dengan perasaan enteng. Kini, langkah nya sudah terasa sangat ringan untuk menemui istrinya, Tasya.


Rasanya Daffa ingin sekali memeluk Tasya di sisa hari ini. Rasanya seluruh tubuhnya sudah sangat sangat letih atas semua rangkaian peristiwa yang dialaminya selama hampir seharian ini.


"Tasya.. i miss you so, Dear (Tasya, saya merindukanmu, Sayang).." lirih Daffa di antara semilir angin malam yang menari di tas dek kapal yacht itu.


***


Selepas itu, Karina berhasil diselamatkan tanpa adanya luka tambahan, dan juga dalam kondisi kebasahan di sekujur tubuh. Karina tampak sedikit syok. Dan cenderung lebih diam. Tak ada yang bisa membuat wanita itu menceritakan kejadian kala ia masih berdua bersama Frans di atas speedboat.


Ketika Daffa menjumpai Tasya di kabin lantai dasar, istrinya itu masih pulas tertidur. Dengan perlahan ia menggendong Tasya untuk kembali ke kabin mereka di lantai tiga. Dan Tasya tak terbangun sama sekali.


'Mungkin terlalu letih,' pikir Daffa.


Sekitar dua jam berikutnya, yacht yang mereka naiki berlabuh jua ke daratan. Karina langsung dijemput oleh daddy dan Mami nya untuk pulang ke rumah. Daffa lah yang telah menghubungi orang tua wanita itu.


Sebelum berpisah, Tasya sempat memeluk erat sahabatnya itu. Seraya membisikkan janji, "nanti kita teleponan ya Rin!".

__ADS_1


Karina mengangguk dalam diam. Membuat Tasya melihat heran ke arah sahabatnya yang berlalu pergi itu.


"Kamu kenapa lihatinnya serius banget, Tasy?" Tanya Daffa di sampingnya.


"Hum? Itu.. Karina. Rasa-rasanya ada yang berbeda dari sorot matanya waktu kulihat tadi. Dan dia juga cenderung lebih pendiam.." sahut Tasya setengah melamun.


Daffa berdehem. Ia mengetahui apa kiranya yang membuat Karina berubah. Karena tepat sebelum kapal mereka berlabuh, Daffa terlebih dahulu menemui Karina dan mengatakan sesuatu pada wanita itu.


Flash back.


"Daffa?" Karina yang sedang duduk termenung memandangi laut lepas di pinggiran dek utama terkejut saat tiba-tiba saja Daffa muncul dan menemaninya berdiri di sana.


"Saya bisa menduga apa yang terjadi antara kamu dan Frans di atas speedboat itu," terka Daffa secara langsung.


Karina merasa gugup. Pegangannya pada pinggiran dek seketika mengencang erat. Hingga kini, ia masih mencoba menenangkan diri atas apa yang telah dilakukannya terhadap Frans di atas speedboat itu.


Terutama saat ia melihat pandangan damai yang ia tangkap di mata Frans di detik-detik terakhir sebelum lelaki itu tenggelam ke dasar laut.


Karina teringat saat Frans meraihnya kala speedboat hendak terbalik. Entah kenapa ia merasakan niat baik dalam sikap Frans saat itu.


Namun entahlah.. kini, di hadapan hamparan lautan yang berwarna biru ini, Karina berusaha untuk menemukan jawaban atas segala kebimbangan yang dirasakannya. Sekaligus juga berharap bisa menemukan ketenangan atas rasa gelisah nya karena telah membunuh Frans.


Ya. Karina mengakui kalau ia telah menjadi penyebab lelaki brengsek itu terluka parah hingga akhirnya tenggelam ke dasar lautan sana. Entah di mana jasad Frans kini, Karina berharap ia tak lagi bisa melihat seringai mengerikan milik lelaki brengsek itu.


"Maksud kamu apa, Daff?!" Tanya Karina dengan nada gugup yang begitu kentara.


"Frans tak mungkin bisa tenggelam jika ia tak mengalami luka yang sangat parah terlebih dahulu. Sementara ketika ia pergi dengan speedboat itu, Frans terlihat masih cukup segar. Jadi.."


Karina bungkam. Merasa seperti sedang menunggu vonis atas perbuatan nya membunuh Frans. Dengan Daffa yang bertindak sebagai hakim nya kini.


"Jadi saya hanya ingin mengatakan. Perbuatan kamu masih bisa dibenarkan." Ucap Daffa akhirnya.


Seketika Karina menoleh ke Daffa. Terkejut dengan kalimat pemuda itu. Dan Daffa pun balas memandang Karina dengan pandangan yang terlihat mengandung simpati.


"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri atas apa yamg sudah terjadi. Lagipula mungkin itu memang sudah jadi takdir terbaik untuk lelaki itu. Mengingat semua perbuatan jahat yang telah dilakukannya, kurasa mati seperti itu sangatlah pantas!"

__ADS_1


Karina tertegun.


"Semuanya sudah berakhir. Dan sekarang kita semua bisa melanjutkan hidup kita lagi. Tak usah mengingat masa lalu lagi. Lagi pula tak ada yang tahu apapun soal apa yang terjadi pada Frans. Anak buah ku pun tahu nya kalau Frans tenggelam dan mungkin tak sengaja terkena luka tembakan saat ia melarikan diri,"


"Apapun alasannya itu, yang jelas, itu tak ada kaitannya denganmu, Rin," ucap Daffa mengakhiri.


"Kamu.." Karina terlihat ragu bicara. Entah kenapa hatinya diselimuti oleh kabut haru atas ucapan dari pemuda di sampingnya itu.


"Terima kasih.." ucap Karina pada akhirnya.


Dan tak lama setelahnya, Daffa meninggalkan Karina sendiri menikmati pemandangan laut kala malam di dek. Namun kali itu Daffa yakin, kalau Karina akan bisa berdamai dengan dirinya sendiri.


Flash back end.


"Mungkin dia masih merasa letih, Sayang.. apalagi yang dia hadapi hari ini itu bukan lah hal kecil," ucap Daffa menenangkan Tasya yang masih memandangi kepergian Karina.


"Hmm.. mungkin memang gitu ya."


"Sudah. Ayo kita pulang, ini sudah malam banget, Sayang. Saya rindu tidur bareng kamu lagi di penthouse," ucap Daffa seraya menarik Tasya ke dalam pelukannya.


"Gombal! Baru juga dua malam kita tidur pisah. Udah kayak dua tahun aja!" Sergah Tasya.


"Saya kan cinta sama kamu, Sayang.. kamu memangnya gak rindu sama saya?" Tanya Daffa dengan nada sedih.


"Ishk.. jangan di sini dong, Daff ngobrolnya. Malu tahu sama anak buah kamu tuh!" Sahut Tasya malu-malu sambil memandangi belasan anak buah Daffa yang mengiringi langkah keduanya di depan dan di belakang mereka.


"Gak usah malu, Tasy. Anggap aja mereka angin. Kan malam gini gak terlalu kelihatan juga kali.."


"Huh! Dasar! Tahu ah!" Ucap Tasya seraya melepaskan diri dari bersandar pada sang suami, dan malah menggegaskan langkahnya menuju mobil bentley yang dilihatnya ada di depan jalan.


"Hey! Tunggu saya dong, Tasy!" Panggil Daffa setengah berlari mengejar Tasya.


Dan keduanya pun pulang menuju penthouse milik mereka dengan menaiki Bentley yang dikendarai oleh sopir setia mereka, Pak Kiman.


***

__ADS_1


__ADS_2