
Sepulang dari kuliah, Tasya meminta antar pada bodyguard nya untuk mampir terlebih dahulu ke rumah Mama Ira. Ia hendak mengambil baju ganti Zizi yang tak sempat dibawa.
Sesampainya di perum Anggrek Ayu, Tasya tak mendapati keberadaan Mama Ira dan Tedi. Hanya ada Dodi, adik sambung nya seorang di rumah.
"Mama ke mana, Dod?" Tanya Tasya penasaran.
"Mama lagi check up Tedi, Kak. Katanya hari jumat ini Tedi mau operasi pencangkokan jantung," Tutur Dori menjelaskan.
"Alhamdulillah! Udah ketemu pendonornya, Dod?" Tasya merasa sangat senang kala mendengar berita baik ini. Meskipun kini ia telah mengingat kembali ingatannya yang hilang, Tasya tetap memiliki rasa sayang yang ditujukannya pada Tedi. Ia menduga, bisa jadi Tedi benar adalah anak dari Ayah kandungnya, Raja Jordan.
"Udah, Kak. Dengan bantuan koneksinya Kak Daffa, akhirnya kita bisa cepat nemuin pendonor jantung untuk Tedi," tutur Dodi menerangkan.
Dalam hati nya Tasya berterima kasih pada suaminya, Daffa.
Setelah beberapa waktu, Tasya pun kembali menaiki tangga menuju kamar lamanya di lantai atas.
"Kalau gitu, Kakak mau ambil bajunya Zizi dulu ya, Dod. Nanti tolong sampein aja ke Mama kalau Kakak ke sini,"
"Baik, Kak."
Setelah beberapa langkah Tasya melewati anak tangga, tahu-tahu Dodi kembali menghentikannya.
"Kak.." panggil Dodi tiba-tiba.
Tasya pun berbalik dan menyahut, "Ya? Kenapa Dod?"
Mulanya Dodi nampak ragu untuk bicara. Membuat Tasya jadi penasaran dengan isi pikiran adik sambungnya itu.
Tasya menilai, Dodi tak berbuat salah dalam kegiatan pencucian identitasnya sebagai Anna. Karena saat baru tiba di rumah ini pun, Tasya amat jarang bertemu dengan Dodi. Pemuda itu lebih sering mengasingkan diri atau pulang lewat maghrib.
Jadi Tasya mengira kalau Dodi mungkin benar-benar mengira dirinya adalah Anna. Karenanya, Tasya tak menyimpan amarah pada pemuda yang baru saja lulus SMA itu.
"Kenapa, Dod?" Tanya Tasya kembali, saat dilihatnya Dodi masih canggung untuk menyampaikan isi pikirannya.
"Mm.. Zizi, sekarang tinggal sama Kakak? Di Penthouse?" Tanya Dodi tiba-tiba.
__ADS_1
Tasya mengerutkan kening. Ia menyadari ada sesuatu yang berlangsung di antara Dodi dan Zizi. Karena tadi pun saat ia menelpon Zizi melalui nomor Teh Anis, Zizi mengatakan ingin okut pulang dan mengambil bajunya sendiri.
Tapi, karena Tasya tahu kalau Teh Anis sedang demam, Tasya tak mengijinkan Zizi untuk ikut, dan memintanya untuk menemani Teh Anis terlebih dahulu.
Tasya lalu menangkap desah kekecewaan dalam nada suara Zizi di telepon sebelum percakapan mereka berakhir.
"Enggak. Sementara ini, Zizi tinggal sama senior nya Kakak. Sepupunya Kak Daffa juga sih.." ucap Tasya menjelaskan.
Dan, Tasya menangkap sebuah kilatan senang di mata Dodi. Walau itu hanya sekilas saja. Merasa penasaran, Tasya pun melempar umpan.
"Kamu mau tahu alamatnya?"
"Mau, Kak!" Sahut Dodi terburu-buru.
Menyadari jawabannya yang tampak ingin mengetahui alamat tinggal Zizi kini, Dodi pun langsung menunduk diam. Tasya mendapati daun telinga adik sambungnya itu berubah kemerahan.
'Hmm.. Sepertinya ada yang perlu ku awasi nih!' Tasya membatin dalam hati.
"Oke.. nanti Kakak kirim ya via chat," Tasya pun melontar janji.
"Tapi sebelum main ke sana, kamu harus ngebel dulu kakak ya! Khawatirnya Zizi lagi main di tempat Kakak kan.." ucap Tasya menggantung.
"Oh? Baik, Kak.."
"Kalau gitu, Kakak ke atas dulu ya, Dod!" Pamit Tasya kemudian.
***
Usai mengemas baju ganti Zizi, Tasya lalu minta diantar kembali ke arah kampus, lebih persisnya adalah ke kosan Teh Anis yang berjarak sangat dekat dari kampus.
Tak lupa juga Tasya membeli bubur dan parasetamol untuk Teh Anis, serta makan malam untuknya dan Zizi.
Daffa baru saja memberinya kabar kalau ia akan kembali pulang karut malam. Karenanya Tasya memutuskan untuk makan malam bersama Zizi dan Teh Anis.
Usai menjenguk Teh Anis dan mengantarkan baju ganti untuk Zizi, Tasya pun berpamitan pulang. Namun, saat ia sedang berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba saja sesuatu terlempar dan mengenai kepalanya.
__ADS_1
"Dasar cewek gatel!" Sebuah umpatan dari suara wanita terdengar tak jauh dari posisi Tasya berada.
Tasya pun menyadari bahwa sesuatu yang dilempar dan mengenai kepalanya tadi adalah telur mentah. Telur itu pun akhirnya pecah dan membasahi rambut Tasya dengan cairan putih dan kuningnya.
Tasya menatap tajam pada wanita yang baru saja melemparinya telur. Wanita itu masih sangat muda. Usianya mungkin masih berkisar anak SMA.
Ingin marsh pun rasanya tak elok. Alhasil Tasya memutuskan untuk mengacuhkan gadis muda itu.
"Dasar cewek gatel! Ngapain juga lo di sini! Mau nempelin Andrew lagi ya, Lo! Udah punya suami juga! Masih aja keganjenan mepetin laki-laki lain!" Cecar gadis muda itu tak henti-henti.
Tasya tetap mengacuhkan gadis itu. Usai membuang sisa pecahan telur dari rambutnya, Tasya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil nya. Dua bodyguard nya tampak merasa bersalah karena kalah cepat dan tak bisa mengantisipasi serangan dadakan tadi.
"Apa kami perlu menahan gadis itu, Nyonya?"
"Jangan! Biarkan saja dia. Dia masih anak-anak," Tasya memberikan larangan.
Tasya pun tetap melanjutkan langkahnya untuk memasuki mobil. Namun ia sempat dibuat oleng saat gadis di belakangnya itu tiba-tiba saja menarik rambutnya dengan cukup keras.
Syukurlah salah satu bodyguardnya cukup sigap dan langsung membantu Tasya melepaskan diri. Ketika Tasya menoleh ke belakang, gadi ls muda yang menyerangnya tadi kini sudah ada dalam tahanan lengan kekar bodyguardnya.
"Kita amankan saja dia ya, Nyonya?" Saran salah satu bodyguardnya.
Tasya memandang lekat pada gadis yang kini memandanginya dengan tatapan benci. Tasya menduga, kalau gadi ini mungkin juga adalah salah satu fans dari model Andrew itu.
Dalam hatinya Tasya menyesali tingkah anak muda jaman sekarang. Yang begitu mudah tersulut emosi hanya dikarenakan artis idola yang tak ia kenal.
"Lepaskan saja dia!" Ucap Tasya, mengulang titah yang sama.
Namun tiba-tiba saja, terdengar suara seorang pria yang berteriak, tak jauh dari tempat mereka berada kini.
"Tunggu dulu! Lepaskan gadis itu! Apa yang kalian lakukan padanya?! Kalian-- Anna?"
Lelaki itu terkejut saat mendapati sosok Anna yang kini menghadap padanya. Tadi ia tak mengenali Anna yang membelakanginya. Ia hanya melihat sepupunya, Denada yang berada dalam posisi ditahan oleh seorang lelaki bertubuh kekar.
Sementara itu, Tasya memandang lelaki di depannya dengan pandangan terkejut. Ia tak menyangka akan kembali bertemu dengan pemuda itu di tempat seperti ini.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi, Tuan!" Sapa Tasya dengan sikap formal.
***