Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Perpisahan


__ADS_3

Dua hari kemudian...


"Kalau kamu kangen aku, sering-sering telepon aku ya Rin Rin? Pokoknya kamu harus sering telepon aku!" Tuntut Tasya.


"Iya, bawel! Nanti aku bakal sering telepon kamu. Asal telepon ku diangkat aja ya! Awas kalau aku bel nanti gak diangkat! Pokoknya aku mau minta kamu kirimin Es Krim Molan sebagai ganti rugi nya!" Ancam balik Karina.


"Lho kok gitu sih?!"


"Ya iyalah! Memangnya nelpon antar negara gak mahal apa? Walaupun gak diangkat kan tetap aja kena biaya, Tasy!" Terang Karina.


"Oh.. aku baru tahu.."


"Maka nya ku kasih tahu!"


"Tapi.. gak perlu juga kali, denda nya es krim. Keburu meleleh lah Rin! Payah ah kamu!"


"Gak mau tahu! Maka nya, kamu harus langsung angkat telepon dari ku di dering pertama. Awas ya, Tasy!" Ancam Karina kembali.


Dua sahabat itu sedang berpelukan di ruang tunggu bandara. Sekitar setengah jam lagi pesawat yang akan membawa Karina ke Amerika akan berangkat. Karenanya Tasya ngotot ingin mengantarkan sahabatnya itu.


Pikirnya, mungkin ini adalah pertemuan terakhir mereka, sebelum ia nanti akan kembali ke Nevarest.


Hingga kini, Tasya belum menceritakan perihal asal usul nya yang sebenarnya kepada Karina. Karina hanya mengetahui kalau ia adalah adik kembar Anna yang datang ke Jakarta sini untuk mencari sang kakak yang sudah terpisah dengannya belasan tahun yang silam.


Tasya tak mengatakan perihal dia yang datang dari dunia yang lain, bernama Nevarest. Entahlah.. rasanya mulut wanita itu terasa berat untuk mengakui pada Karina kalau ia berasal dari dunia yang lain.


Tasya takut, jika ia mengatakan perihal Nevarest, Karina belum tentu akan mempercayainya. Dan, jikalau pun sahabatnya itu akan mempercayainya, Tasya takut jika Karina malah akan menjauhinya. Karena mengetahui kalau Tasya pastilah akan kembali ke dunia asalnya lagi, nanti.


Tasya memeluk Karina sangat erat. Meski tetap saja, gundukan di depan perutnya mulai membuatnya memiliki jarak kala ia memeluk sahabatnya itu. Namun, Tasya berusaha untuk menikmati momen terakhir bersama Karina. Bahkan ia pun membiarkan buliran kristal bening meluruh turun di ujung kedua matanya.


"Hiks!" Tasya tak mampu menyembunyikan isak nya lagi.


Sehingga Karina yang mendengar isak nya pun langsung melepaskan pelukannya untuk melihat wajah sang sahabat.


Terlihat jelas, wajah putih sang bumil Tasya kini sudah kemerahan oleh sebab menangis.


Karina menggigit ujung bibirnya. Mencoba menahan diri untuk tidak ikutan menangis.


"Tasya! Jangan nangis dong! Seharusnya malah aku yang nangis, tahu!" Tegur Karina seraya menjawil pipi kanan dan kiri sahabatnya itu.


"Senyum! Ayo cepat senyum! Aku mau lihat senyum dari wajah kamu untuk nganterin keberangkatan ku ke Manhattan. Masa kamu ngasih aku hadiah tangis sih!" Tegur Karina lagi.


"Hiks.. aku bawa hadiah kok buat kamu, Rin! Ini!" Sahut Tasya seraya mengulurkan sebuah kado kecil segenggaman tangan pada Karina.


"Ehh?? Kok dibuka di sini sih?! Malu tahu!"


"Terserah yee! Ini kan udah jadi punyaku, jadi suka-suka aku lah!" Jawab Karina asal.


"Huft!" Tasya mendengus kesal. Namun tak lama kemudian langsung ikut membantu Karina yang tampak kesulitan membuka hadiahnya.

__ADS_1


"Kamu niat gak sih ngasih hadiah?! Susah amat sih ini dibukanya!"


"Dasar Rin Rin! Sabar dong bukanya! Sini, sini! Biar aku aja deh yang buka!"


Tasya mengambil bungkusan kado di tangan Karina, lalu membuka dan mengeluarkan isinya. Begitu berhasil mengeluarkan isinya, ia memberikan hadiah darinya itu kembali kepada Karina.


"Apa ini, Tasy?" Tanya Karina bingung menatap benda pipih seukuran kue cubit dengan tombol yang ada di pertengahan nya.


"Pencet deh!" Titah Tasya.


Masih menatap bingung pada Tasya, Karina pun memencet tombol mini yang ada di pertengahan benda pipih berwarna ungu itu, warna kesukaannya.


Dan, tiba-tiba saja terdengar suara Tasya yang berasal dari bagian belakang benda pipih itu.


'Hey Cantik! Tetap semangat ya!'


Karina seketika terhenyak. Ia langsung memandangi sahabatnya itu. Lalu, kembali menekan tombol tadi. Dan suara Tasya lainnya kembali terdengar.


'Makan yang banyak! Jangan pilih-pilih makanan!'


Pandangan Karina pada Tasya mulai berkabut. Ada rasa haru yang mulai menyesakkan hatinya kini, tiap ia mendengar pesan-pesan singkat Tasya melalui hadiah pemberiannya itu.


'Tetap happy di manapun kamu berada!'


'Jangan cengeng, aku gak selalu bisa ngasih tisu buat kamu lagi!'


'Stop dengerin musik lama-lama di kamar mandi!'


'Kalau ketemu cowok baik, udah sikat aja!'


"Konyol kamu, Tasy! Masa kalau aku ketemu cowok baik, aku harus sikatin tuh orang! Bisa-bisa dilemparin sikat deh aku!" Komentar Karin seraya menghapus jejak tangis yang hendak meluruh di ujung matanya.


"Pokoknya, kamu harus ingat pesan-pesan ku ini ya Rin! Kalau perlu sering-seringlah kamu dengerin!" Ucap Tasya sambil kembali memeluk Karina.


"Biar kamu tetep eksis ya?" Seloroh Karina bercanda.


"Konyol! Biar kamu bisa tetap hidup sehat dan bahagia lah Rin!"


"Se ampuh itu nasihat-nasihat kamu, Tasy? Aku kok sangsi ya?"


"Iishhkk! Kamu tuh ya! Pokoknya, ingat pesan-pesanku itu deh!"


"Iya.. iya.. bumil cantik.. jangan marah-marah dong. Entar hilang lho cantik nya!" Goda Karina sambil tersenyum dan melihat wajah Tasya.


"Kamu sih suka ngeyel kalau dibilangin! Bikin aku cepat kesal aja kan jadinya!" Gerutu Tasya setengah memanyunkan bibir.


Karina tersenyum kecil melihat sahabatnya itu merajuk. Lalu, ia kembali bicara.


"Tasy, aku mau ngakuin sesuatu," ucap Karina tiba-tiba dengan wajah cukup serius.

__ADS_1


Melihat ekspresi Karina, Tasya pun jadi ikutan serius.


"Mengaku apa, Rin?"


"Jadi, kamu ingat gak waktu ada acara pensi musik dan kamu nyanyi ke atas panggung di awal acara?" Tanya Karina secara perlahan.


"Hah?! Kok kamu tahu sih kalau aku nyanyi ke atas panggung?!" Tasya terkejut dengan pengakuan Karina itu.


"Tahu lah! Aku kan kenal banget sama suara kamu.. walau saat itu kita lagi berantem.."


"Kita gak berantem. Kamu yang marah sendiri gak jelas!" Koreksi Tasya.


Karina menyengir. "Iya, ya? Oke. Aku memang salah waktu itu. Jadi intinya, waktu itu tuh aku dengar loh kamu nyanyiin lagu nya Naruto itu.. jujur, kamu keren banget! Sayang banget waktu itu aku gak kepikiran tuk merekamnya,"


"Hey! Kok melantur sih! Terus kenapa dengan aku yang menyanyi, hah?" Tasya berusaha memfokuskan pembicaraan.


"Eh, maaf.. maaf. Jadi, sejak dengar kamu nyanyi itu tuh aku sebenarnya mulai agak sadar sih. Mulai mikir kalau sebenarnya kamu tuh gak salah soal pernikahan kamu dengan Daffa.."


"Rin.."


"Hush! Dengerin aku dulu! Aku mau bilang sama kamu kalau aku udah relain Daffa untuk kamu seutuhnya. Aku gak lagi ada rasa sama Daffa, Tasy. Jadi kamu gak usah ngerasa gak enak hati, sampe ngusir suami kamu sejauh mungkin di pojokan sana," ucap Karina seraya melirik ke ujung terjauh ruang tunggu. Di mana Daffa sedang berdiri menunggu Tasya sedari tadi.


"Aku mau kamu hidup bahagia sama Daffa. Sama baby kalian. Kamu harus menikmati setiap kebahagiaan yang bisa kamu rasakan saat ini juga. Nikmati dan syukuri. Itulah pelajaran yang bisa kuambil dari kejadian besar selama beberapa waktu terakhir ini.."


Sesaat, suasana menghening.


"Hh.. iya Rin.. kuharap kamu juga bisa nemuin kebahagiaanmu sendiri di Manhattan sana. Dan jangan lupain aku ya!" Tasya memohon.


"Iya, Tasya endut.."


"Karina, ayo kita berangkat sekarang!"


Panggilan dari Mami di belakangnya membuat Karina menoleh singkat.


"Iya, Mi. Sebentar lagi ya!"


Karina lalu kembali memeluk Tasya dan menikmati pelukan terakhir yang entah kapan bisa ia lakukan lagi dengan sahabatnya itu.


"Baik-baik ya, Tasy!"


"Kamu juga, Rin!"


"Aku berangkat ya! Kita jumpa tahun depan!" Janji Karina.


Tasya merasa tenggorokannya tercekat. Ia tak bisa balas berjanji untuk menjumpai sahabatnya itu lagi tahun depan. Karena kemungkinan besar ia sudah akan kembali ke Nevarest dalam waktu dekat ini.


Akhirnya Tasya memutuskan untuk memberikan senyuman terlebar nya untuk Karina. Seraya melambaikan tangannya berkali-kali pada sahabatnya itu.


"Sayonara, Rin Rin!" Lirih Tasya di antara deru sesak orang yang berlalu lalang di bandara pagi hari itu.

__ADS_1


***


__ADS_2