
Selanjutnya Anna mengikuti Tante Soraya pergi ke sebuah Salon Kecantikan yang jarak tempuhnya sekitar setengah jam dari apartemen Anna. Saat sampai di sana, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit.
Salon yang dituju oleh Tante Soraya bernama Salon & Spa Eu de Belle (dibaca yudebel). Letaknya ada di sisi jalan yang sibuk oleh hilir mudik mobil pribadi. Begitu masuk ke dalam spa, Anna disuguhi dengan pemandangan ruangan bergaya modern kontemporer.
Hampir seluruh bagian ruangan berwarna putih dan keemasan. Menampilkan jelas kemewahan yang dipancarkan oleh salon spa tersebut.
"Selamat pagi, Madam Soraya!" Sapa seorang wanita cantik dari balik meja resepsionis.
"Pagi Vivianne. Hari ini, sesuai pesanan Tante ya," ujar Tante Soraya.
"Baik, Madam. Perawatan full body untuk dua orang ya, Madam. Kelas Luxury." Ucap Vivianne.
"Ya.." sahut Tante Soraya.
Anna yang tak mengerti dengan percakapan antara dua orang di depannya itu, hanya bisa menatap bingung.
Lebih bingung lagi ketika ia diajak masuk ke dalam ruangan lain dalam salon. Di mana di sana lah ia merasakan sarana spa dan salon untuk pertama kalinya.
Dimulai dari perawatan wajah (facial, steam wajah, dan masker), perawatan badan (massage, masker, scrub, dan berendam di bak berisi lelehan cokelat asli), perawatan kuku tangan dan kaki (manicure dan pedicure), dan yang terakhir adalah perawatan rambut (Anna tegas-tegas menolak saran Tante nya untuk memotong rambut. Alhasil ia hanya melakukan trimming, hair mask, creambath, toning, dan smoothing saja).
Selama hampir lima jam lamanya Anna melakukan perawatan full body bersama Tante Soraya. Hanya sekali saja ia ijin pergi untuk shalat zuhur di ruang istirahat pegawai. Sementara Tante Soraya melanjutkan perawatan badan nya.
Selesai melakukan perawatan, Anna dibuat pangling dengan pantulan dirinya di cermin.
Tampak pada cermin di depannya, seorang wanita yang sangat cantik. Kulit wajahnya terlihat lebih glowing (yang juga diakui Anna jafi terasa lebih lembut dan elastis), alisnya terlihat lebih rapih, rambutnya pun terlihat hitam halus dan bergelombang, sepwrti rambut artis yang ada di iklan sampo di televisi.
Anna lalu melihat tampilan kuku nya yang sudah dihias cantik dengan kutek berwarna baby pink.
Flash back on.
Sebelum kukunya diwarnai, Anna sudah meminta jenis kutek yang halal dan tidak menghalangi wudhu. Dan syukurlah Salon & Spa Eu de Belle ternyata menyediakan jenis kutek yang diinginkan Anna. Sehingga Anna tak merasa was-was jika air wudhu tak bisa ikut meresap ke dalam kukunya. Padahal itu kan salah satu syarat sah nya wudhu.
Terhadap keinginan Anna ini, Tante Soraya sempat memberinya pandangan menilai. Tante pun sempat berujar, "Kamu ternyata perhatian banget ya soal halal haram. Tante gak nyangka lho, Ann.."
Anna yang dipuji seperti itu langsung tersipu malu. "Anna juga tahu itu dari senior sih Tante.. kata Teh Anis, kita mesti tahu jelas kehalalan sesuatu yang akan kita gunakan. Karena dari sana lah hukum ibadah bisa dinilai sah atau tidak. Percuma dong ya kalau kita capek wudhu dan shalat, tapi ternyata wudhu kita gak sah cuma karena alasan air yang gak bisa masuk ke pori-pori kulit di balik kuku. Lantaran memakai cat warna kuku yang gak halal dan menutup rapat semua pori-pori.."
"Hmm? Anis?"
__ADS_1
"Iya. Beliau ini senior Anna di kampus, Tante. Orangnya cantik, baik, solehah pula. Anna kagum banget sama beliau. Tapi Anna belum bisa sih se solehah Teh Anis.."
Tante Soraya terlihat merenungkan sesuatu. "Kamu memangnya kuliah di mana sayang?"
"Universitas Airlangga, Tante.."
"Jurusan?"
"Pendidikan Bahasa Inggris, Tante.."
Sesuatu berkelebat di mata Tante Soraya. Tapi Anna tak sempat menangkap ekspresi apa yang tadi sempat melintas di wajah Tante Soraya. Karena Tante Soraya lalu memutuskan untuk memejamkan kembali kedua matanya, sambil menikmati dua orang petugas melakukan meni pedi pada tangan dan kakinya.
Flash back end.
Anna kembali melihat pantulan dirinya dalam cermin. Meski ia masih mengenakan baju yang sama, tapi ia merasa dirinya terlihat jauh berbeda.
"Gimana? Rasanya segar kan ya muka dan badan?" Tanya Tante Soraya kemudian.
"Iya, Tante. Rasanya kulit seger banget!" Seru Anna dengan senyuman malu-malu.
"Tapi bayarnya, Tante? Dimana ya kasirnya?" Tanya Anna.
"Udah. Gak usah dipikirin. Udah masuk ke tagihan bulanan nya Daffa kok. Kita have fun aja ya, Sayang.."
Dengan malu-malu, Anna mengikuti langkah Tante Soraya kembali masuk ke dalam mobil. Padahal dalam hatinya ia cukup penasaran dengan besar biaya perawatan yang dilakukannya tadi.
'hmm.. mungkin sekitar satu jutaan kali ya..' Anna membatin.
Ia tak tahu, kalau tagihan yang sebenarnya masuk ke rekening Daffa untuk perawatan mereka berdua saat itu adalah seratus sepuluh juta.
***
Dari salon, Anna diajak Tante Soraya pergi ke butik. Ia lalu ditawarkan untuk memilih baju yang disukainya.
Mulanya Anna menolak, tapi setelah Tante Soraya agak memaksanya, akhirnya Anna oun mau memilih baju di butik itu. Butik ini adalah butik yang sama seperti yang pernah Anna kunjungi bersama Daffa. Seingat Anna, pemiliknya bernama Jason, lelaki berpenampilan flamboyan nan ceria.
"Aiyo, Yo! Unni Soraya lama sangat lah tiba nya. Jason tunggu dari setengah jam lalu ini, Unni.. Apa kabar, Unni cantik?" Sapa suara bernada tinggi dari arah dalam ruangan.
__ADS_1
Begitu Anna menengok kan kepala nya ke sumber suara, ia pun menangkap citra sosok Jason, sang pemilik butik.
"Yan Chen! Kamu tuh ya. Panggil lah Tante. Jangan Unni. Malu Tante sama umur, Chen!" Tegur Tante Soraya dengan wajah sedikit berwarna pink.
"No. No. No. Ay kata berapa kali, ya, Unni. Di butik Jason ini, semua wanita adalah Unni bagi Jason. Jadi no panggil "tante" atau "Oma" ya, Unni. Lagipula Unni kan masih cantik.. Dan waw, glowed up! Habis treatment/perawatan kah ya, Unni?" Seru Yan Chen berapi-api, seraya, meraih kedua bahu Tante Soraya untuk cipika-cipiki.
"Kamu ini, bisa aja Chen.. Chen. Iya tadi habis selesai treatment.."
"Good. Treatment itu memang menu wajib ya, Unni buat sosialita cantik berhati dermawan macam Unni. minimal seminggu sekali lah ya, Unni.. Aiyaya! Unni datang bawa siapa ini? bidadari kah?!" Seru Jason dengan nada terkejut saat menyadari keberadaan Anna.
Sebuah senyuman ceria meluncur keluar dari wajah Anna. Ia selalu merasa ingin tersenyum saat melihat Jason bicara.
"Aiyo, Yo! Bidadari nya tersenyum! Nasib baik hari ini buat Jason. Eh, tunggu dulu. Macam kenal sama Unni bidadari ini..hmm.."
"Hai, Jason!" Anna menyapa.
"Oh, wait up! Ay know you! You ini calon istrinya Uda Daffa yee? Tunggu-tunggu. Sudah nikah ya, Unni. Berarti sekarang udah jadi istri sah nya Uda dong yaa.. happy wedding ya, Unni.. maaf, Jes tak sempat hadir di acara you waktu itu. Ada kepentingan yang urgent/darurat waktu itu.." seru Jason berapi-api.
Tante Soraya menatap Anna dengan pandangan tanya. Anna pun langsung memberikan penjelasan.
"Waktu itu Anna pesan gaun pengantin sama Daffa di Jason, Tante.."
"Ooh.. gitu.. Jadi Yan Chen,"
"Jason, Unni! Panggil Ay Jason lah.. Yan Chen itu nama Ay kecil dulu. Nama hot Ay sekarang tuh Jason!" Tegur Jason seraya menarik siku lengan Tante Soraya dan Anna untuk masuk ke ruangan butik yang lebih dalam.
"Iya. Iya. Lupa melulu, nih, Tante. Maaf Jes.."
"No problemo, Unni sayang.. oke. Jadi, Ay tebak. Uni Soraya mestilah mau cari gaun untuk sore ini kan? Acara birthday nya Papi Zion kan, kan?" Jason menebak.
"Iya.. pesanan Tante udah siap pakai kan, Jes?" Tanya Tante Soraya.
"Tentu siap lah Unni Sayang.. buat You, bidadari cantik pun sudah ay siapkan. Uda Daffa dah phone/menelpon Ay tadi pagi.." seru Jason melirik sekilas pada Anna.
"You, you tunggu dulu di sini. Sementara Ay ambil koleksi best yang sudah Ay siapkan, ye!" Titah Jason, sebelum menghilang ke ruangan lain.
***
__ADS_1