Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kisah Anna (ysb) di Nevarest bag.1


__ADS_3

[Catatan: Anna yg ada di Nevarest adalah Anna yang sebenarnya ya, readers.. kalau yang di bumi itu adalah Tasya, kembarannya Anna yang hilang ingatan dan diatur oleh Mama Ira untuk menjadi sosok Anna yang tiba-tiba menghilang.]


***


Anna memandang wajah kota Nevarest melalui jendela terbuka di menara tertinggi. Tampak olehnya bangunan-bangunan kecil rumah dengan ukuran yang sama serta model yang berupa-rupa di kejauhan.


Semua bangunan di Kota Nevarest memang diatur serapih mungkin oleh arsitek yang bekerja di istana. Dengan jalanan selebar lima meter yang dibagi menjadi lima jalur oleh garis putih di sepanjang jalan.


Keberadaan jalur itu diperuntukkan untuk penggunaan moda transportasi skuter listrik yang memang menjadi moda transportasi utama para penduduk di negeri Nevarest tersebut.


Skuter yang digunakan di Nevarest memiliki body kecil layaknya skuter manual yang didorong dengan kaki. Tapi skuter listrik tersebut memiliki tambahan baterai yang bisa di charge (di cas). Baterai tersebut berada di bawah tempat duduk pengemudi skuter.


Sementara itu, teknologi di dunia Nevarest hampir serupa dan setara seperti dunia di bumi. Hanya saja, di Nevarest terdapat pembatasan jumlah untuk setiap alat elektronik seperti tv, telpon, kulkas, dll.


Pembatasan jumlah juga berlaku untuk semua alat transportasi. Pembatasan ini bisa berlangsung efektif karena semua alat transportasi dan alat elektronik tersebut dikenakan pajak yang sangat tinggi.


Oleh karena pajak yang tinggi itulah yang menyebabkan penggunaan alat elektronik menjadi terbatas pada kebutuhan istana, beberapa fasilitas umum, serta segelintir orang yang memiliki kekayaan setara dengan atau lebih kaya dari keluarga kerajaan.


Beberapa fasilitas umum yang disediakan gratis oleh pemerintah antara lain, lampu penerangan di sepanjang jalan besar kota Nevarest, wc umum, dispenser, dan wastafel.


Di setiap 200 meter jalanan juga terdapat gerai kecil tempat mengecas skuter. Untuk penggunaannya, penduduk hanya perlu memasukkan satu koin perak untuk mengecas skuter sampai baterai nya full. Satu baterai full bisa dipakai untuk menempuh hingga jarak 500 km.


Koin perak adalah salah satu mata uang yang dipakai di negeri Nevarest. Satu koin perak bernilai sama dengan 100 koin perunggu. Dan 10 koin perak bernilai sama dengan 1 koin emas.


Negeri Nevarest adalah negeri yang paling subur dibandingkan tiga negeri tetangganya. Tanah di negeri Nevarest adalah yang paling subur untuk ditanami dengan berbagai macam tumbuhan.


Kekayaan hayati di negeri Nevarest pun melimpah, sehingga menjadikan pertanian dan perkebunan menjadi mata pencaharian penduduk di Negeri Nevarest.


Iklim yang ada di Nevarest awalnya cenderung tropis. Sehingga suhu udara di sana berkisar antara 28 hingga 31 derajat celsius.


Syukurlah sejak pembangunan ibu kota Nevarest 25 tahun yang lalu, arsitektur kota Nevarest sangat tertata apik. Dengan ditempatkannya pepohonan kecil di sepanjang jalan Nevarest.


Keluarga kerajaan bahkan sudah mengeluarkan dekrit raja no. 31 yang isinya mewajibkan keberadaan tanaman edkar di setiap rumah.


Tanaman edkar adalah tanaman buatan yang bisa menyerap gas panas di udara, lalu mengubahnya menjadi gas oksigen.

__ADS_1


Sehingga dengan keberadaan tanaman edkar di setiap rumah inilah yang menyebabkan udara di ibu kota Nevarest saat ini menjadi lebih sejuk.


Kembali ke Anna yang kini masih memandang pemandangan di luar menara tertinggi. Sudah setengah jam ia berdiri di sini seorang diri sejak pertemuannya kembali dengan Papa nya, Raja Jordan.


Banyak hal yang Anna renungkan selama setengah jam nya di sini. Ingatannya kembali ke waktu sekitar 5 tahun yang lalu, saat ia baru saja tiba melewati pintu ajaib yang berada di tengah ruangan tempat ia berdiri saat ini.


Flash back on.


Saat itu, Anna masih berada di bumi. Setahun sudah ia menunggu kepulangan Papa dari kepergiannya yang tiba-tiba. Ia menyesali dirinya yang tak bersikeras ikut dengan Papa untuk mencari Mama nya yang telah lama hilang.


Setelah melewati setahun dengan kehidupan tanpa Papa, Anna akhirnya mengikuti jejak Papa yang telah menghilang. Ia masih mengingat ucapan Papa sebelum ia pergi menghilang, dulu.


Papa berkata," Anna! Papa akan mencari Mama. Dan Papa akan membawa Mama kembali. Kamu tunggu di sini. Tunggulah dengan Mama Ira di sini. Jika ada sesuatu, hubungi Om Sam!"


Dan Papa pun pergi. Dengan meninggalkan secarik kertas tempat ia akan mencari Mama.


Mulanya ketika membaca tulisan yang tertera pada kertas itu, Anna merasa Papa menuliskan coretan tak jelas. Bagaimana bisa tidak jelas, jika pada kertas yang ditinggalkan oleh Papa itu tertulis, "rumah kosong nomor 7 vila terbengkalai di Hutan Jati Bongor Km 16."


Tapi, ketika Anna merasa hampir hilang harapan sebab Papa yang tak junjung pulang, Anna pun akhirnya memutuskan untuk mencari alamat yang tertera pada kertas itu.


Setibanya Anna di pinggir jalan besar Hutan Jati Bongor Km 16, Anna sempat kebingungan mencari letak pasti vila terbengkalai yang dimaksud oleh Papa.


Petunjuk di google map nga hanya bisa melacak km 16 pintu masuk Hutan Jati Bongor. Dan Anna bingung, ke arah mana yang akan membawanya menuju villa terbengkalai yang dimaksud oleh tulisan Papa.


Setelah setengah jam menunggu, Anna tak jua mendapati orang lewat yang bisa ia tanya. Hampir ketika ia sudah akan berbalik arah dan memesan grab untuk pulang ke rumahnya, ujung mata Anna menangkap sosok orang di kejauhan dalam hutan.


Anna berhenti dari langkahnya yang sudah akan berbalik pulang. Dan ia menajamkan pandangannya ke arah sosok orang di kejauhan itu.


Setelah yakin kalau matanya benar-benar melihat orang itu, Anna pun bergegas mengeratkan tangannya pada tali ransel dan bergegas mengejar orang itu.


Jarak antara Anna dan orang itu sekitar 20 meter. Jadi Anna cukup yakin jika ia memanggil orang itu pasti ia akan mendengarnya.


Akhirnya dengan sekencang yang ia bisa, Anna pun berteriak, "Pak! Tunggu! Saya mau tanya!"


Sayangnya orang itu seperti tak mendengar panggilan Anna. Maka Anna pun kembali meneriaki Bapak itu sambil mengejarnya masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


"Pak! Tunggu! Pak!" Teriak Anna kembali.


Jarak keduanya sudah semakin dekat. Kini hanya berkisar sekitar sepuluh meter saja.


Merasa lebih bersemangat karena jarak yang kian dekat, Anna pun kembali memanggil sosok yang kini bisa dikenalinya sebagai bapak renta.


Bapak itu terlihat memanggul keranjang dari anyaman yang berisi ranting dan kayu kecil yang sesekali bapak itu pungut di perjalanan nya.


"Bapak! Permisi Pak! Tolong tunggu!" Panggil Anna kembali.


Dan usaha Anna kali itu berhasil. Bapak itu pun akhirnya mendengar suaranya dan berhenti. Ia kemudian berbalik dan Anna pun bisa memastikan usia bapak itu yang berumur sekitar 60 tahun-an. Ternyata ia seorang kakek-kakek.


Anna bergegas menggaskan larinya ke tempat kakek itu menunggu. Setelah sampai di depan kakek itu, Anna merasa sangat letih hingga ia tak langsung bisa menyapa dan bertanya pada kakek itu lagi.


Kakek itu tampak sabar menunggu Anna. Melihat Kakek itu entah kenapa Anna merasakan perasaan familiar, seolah ia pernah menjumpai Kakek itu entah di mana.


Menyadari jalan pikirannya yang mulai aneh, Anna berusaha menjernihkan pikirannya. Ia harus tetap waspada menghadapi siapa pun. Apalagi di tengah keremangan dalam hutan menjelang sore ini.


Anna merasa harus cepat menemukan alamat yang ditujunya sebelum kegelapan benar-benar menguasai hutan.


Setelah merasa lebih baik, Anna pun akhirnya menyapa kakek itu.


"Permisi, Kek! Saya mau tanya. Apa Kakek tahu villa terbengkalai yang ada di dekat-dekat sini?" Tanya Anna.


Kakek itu memberikan Anna senyuman ramah sebelum akhirnya menjawab pertanyaan. Anna.


"Ayo ikut Kakek!" Dan kemudian sang Kakek pun berbalik membelakangi Anna dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Eh?" Anna merasa bingung, cemas dan was was.


Bagaimana lah bisa tidak was-was. Kakek itu menuntunnya masuk ke dalam area hutan yang kian pekat oleh pohon-pohon tinggi yang tak dikenal Anna.


Hari sudah mulai sore saat Anna akhirnya mulai mengikuti langkah kakek itu memasuki area hutan. Walau pikirannya merasa was-was. Tapi entah kenapa hati Anna merasa Kakek itu benar akan mengantarkannya ke tempat yang ia tuju.


***

__ADS_1


__ADS_2