Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Mau ke mana, Ann?" Tanya Karina kepada Anna, seusai perkuliahan Miss. Hapsah berakhir.


"Mau ke Melvi dulu. Biasa lah ambil boks donat. Mau ku sisain?"


Karina dengan cepat menggelengkan kepala. Pertanda ia menolak tawaran Anna.


"Gak, makasih. Kamu tuh. Udah punya suami model top juga, masih aja jualan donat!" Goda Karina, bercampur rasa heran.


Ucapan Karina itu membuat senyum di wajah Anna seketika menghilang. Ia menyadari kalau Karina sepertinya masih mengira dirinya menikah dengan Andrew. Akhirnya, Anna pun kembali berbalik menghadap sahabatnya itu.


"Rin! Aku tuh sebenarnya.." baru juga Anna mau menjelaskan kenyataan yang sebenarnya pada Karina, tapi ucapannya malah dipotong oleh Sella, teman kelas Anna lainnya.


"Oh! Jadi beneran ya itu elo, Na! Suami? OMG?! Jadi kalian udah nikah?!" Teriak Sella histeris. Membuat hampir semua mata kini memandang ke arah mereka bertiga.


"Apaan sih, Sel? Mo zuhur aja bacot Lu masih cempreng gini. Lu habis makan tokek kali ya?" Tegur Bayu kepada Sella.


Seketika itu juga raut muka Sella mendung murka. Ia paling tak senang dengan teman cowoknya yang satu ini. Suka sekali meledeknya dengan kata-kata yang tak mengenakkan hati.


"Heh! Gua tuh lagi ngobrol sama Anna ya! Lo gak usah deh ikutan nimbrung!" Cecar Sella kepada Bayu.


"Duhh.. udah dong, teman-teman. Kalian ini senang banget ribut dah. Udah, mending ke KUA aja sana. Tiap hari dengerin kalian ribut udah kayak ributnya para penganten baru!" Ledek Sem, teman akrab Bayu.


"Lo aja sono yang ke KUA!" Tukas Bayu dan Sella berbarengan.


Keduanya terkejut mendapati mereka mengucapkan kalimat yang persis sama di waktu yang bersamaan pula. Spontan saja keduanya saling melotot ke lawannya.


"Tuh kan! Klop banget lagi, ngomongnya! Gua siap dah jadi saksinya.." ledek Sem kembali. Yang langsung mendapat toyoran di kepala dari Bayu. Sementara Sella memberikannya dengusan acuh.


Sella lalu kembali memfokuskan perhatiannya kepada Anna yang sudah akan melipir pergi dari perbincangan tentang dirinya ini.


"Ini nih Anna, ternyata dia udah nikah loh. Sama model top pula! Jangan-jangan seminggu kemarin dia ijin tuh, buat honeymoon kali ya, Na?" Tanya Sella kembali.


Anna yang sudah hampir berada di dekat pintu pun langsung berbalik dan menyanggah ucapan teman-temannya itu.


"Eehh.. enggak! Enggak! Itu gak bener itu! Berita hoaks itu!" Sergah Anna agak cemas.


"Tapi tadi gua denger Karina ngomong gitu kok.. Udah lah, Na.. ama kita temen sekelas mah ngomong aja apa adanya.. atau.. jangan-jangan lo masih ngerahasiain pernikahan kalian ini ya?" Tanya Sella kembali dengan ekspresi penasaran yang terlihat nyata di wajahnya.


Merasa bingung harus menjawab apa, Anna akhirnya mendelik kesal pada sahabatnya, Karina yang kini malah memberinya tatapan bersalah.

__ADS_1


Kini semua teman sekelas memperhatikan Anna seutuhnya. Mau tak mau, Anna pun akhirnya harus menjelaskan segalanya kepada teman-temannya.


"Err.. jadi.. iya. Minggu lalu tuh aku memang udah nikah.." ucap Anna perlahan.


"Waahhh.. selamett ya, Annaa!"


"Barokallah ya, Anna!!"


"Kok gak undang-undang sih?"


"Lo kalo diundang tuh yang ada malah ngabisin makanan doang! Bisa rugi si Anna!"


Anna merasa kerepotan menanggapi semua ucapan selamat dari teman-teman sekelasnya itu. Satu persatu dari teman perempuannya menghampiri Anna dan memberikannya pelukan selamat.


Anna sibuk menjawab, "ya, makasih.." "ya, dadakan memang.." kepada teman-teman sekelasnya itu, tanpa sempat melanjutkan lagi penjelasannya. Dan, karena cukup lama ia sibuk membalas ucapan selamat dari teman-temannya itulah akhirnya Anna lupa menjelaskan perihal identitas suaminya yang sebenarnya.


Setelah menerima pelukan selamat dari hampir semua teman wanita di kelasnya, Anna lalu ditarik Karina keluar kelas. "Udah dulu ya semua! Anna nya mau jualan donat lagi katanya!" Teriak Karina seraya menggamit lengan Anna keluar kelas.


Beberapa teman Anna menjawab, "kalo pesta, kita diundang ya, Anna!". Yang langsung dijawab Anna dengan kalimat, "Iyaa.. insya Allah nanti ku undang semuanya.."


Dan, kerumunan itu pun akhirnya bubar. Banyak yang juga mengikuti langkah Anna dan Karina masuk ke lift untuk turun. Beberapa memilih untuk mampir ke perpus Fakultas, sambil menunggu perkuliahan berikutnya yang akan mulai sekitar satu setengah jam lagi. Beberapa lainnya masih asik berbincang di hall yang ada di depan lift.


"Kok kamu ikut, Rin?" Tanya Anna keheranan, saat menyadari Karina yang mengikuti langkahnya menuju mushola.


"Aku pingin ikut kamu deh. Tadinya mau tiduran di perpus fakultas. Tapi aku masih penasaran banget sama acara honeymoon nya kamu itu. Pas kemarin sore nelpon, kamu ngobrolnya dikit banget," tutur Karina menjelaskan.


[Thor Meli said: Nah.. udah ketahuan yaa siapa yang waktu kemarin sore nelpon dan ngegangguin Anna dan Daffa beromantisan ria.. pelakunya Karina ya, guys..😁😁]


Anna memberikan pandangan kesal kepada Karina.


"See what you've done just now (lihat apa yang baru saja kamu perbuat tadi)!" Anna mencebik kesal.


"You're angry toward me (kamu marah sama aku)?" Tanya Karina kebingungan.


Anna menghela napas sejenak. Masih sambil berjalan, ia lanjut bicara.


"Aku gak marah.. tapi sekarang jadinya semua ikutan salah paham, kan?"


Keduanya sudah sampai di mushala lantai satu. Anna mencari sosok Melvi, namun tak jua menemukannya. Akhirnya dengan sikap biasa, ia terlebih dulu melepas sepatunya untuk mengambil dua boks donat yang berada di pojokan teras mushola.

__ADS_1


Setelahnya, Anna kembali mengenakan sepatunya dan melangkah keluar dari gedung fakultas keguruan bersama Karina.


"Salah paham gimana sih? Memangnya kamu bermaksud untuk nyembunyiin status pernikahanmu ya, Ann? Buat apa coba.." balas Karina.


"Bukan itu maksudku.." sergah Anna.


"Mbak, donatnya masih ada?" Suara seorang pria menghentikan langkah kaki Anna. Serta merta ia menoleh dan menjawab, "Ya! Ada. Mau berapa Kak?" Tanya Anna dengan nada ramah.


"Empat aja," jawab sang pembeli.


"Tunggu sebentar, ya, Kak. Mau yang topingnya apa Kak?" Tanya Anna kembali.


Dengan gesit, Anna meletakkan dua boks donat ke tangan Karina, membuka penutup boks yang ada di atasnya, lalu mengambil plastik putih yang ada di saku samping tas ranselnya.


"Mm.. yang kacang sama keju deh Mbak!" Jawab sang pembeli lagi.


Anna lalu melayani permintaan sang pembeli hingga selesai, baru setelahnya ia melanjutkan kembali langkahnya bersama Karina.


"Kamu tuh, udah punya suami kaya juga, kok masih aja jualan donat sih, Ann?" Tanya Karina tak mengerti.


"Apa hubungannya sih, nikahin orang kaya sama keinginan untuk tetap mandiri, Rin? Lagian hasil jualan donat tuh lumayan loh.. bisnis receh tapi hasilnya gak receh kalo benar-benar ditekunin.." tukas Anna menjelaskan.


Karina memberi Anna tatapan sangsi.


"Memangnya dari dua boks donat ini, kamu bisa dapatin duit M M man?" Ledek Karina.


"Ya gak juga sih, Rin.. but at least i'm trying to have my own money (seiyanya aku berusaha untuk menghasilkan uangku sendiri).."


"Hm.. don't go on. I feel like you teased me, just now (jangan dilanjutkan. Aku merasa kayak kamu sindir, barusan)!" Tukas Karina dengan muka ditekuk.


Anna tertawa ringan. "Maaf, Non.. aku gak bermaksud.."


Ucapan Anna kembali terpotong oleh panggilan seseorang kepadanya. Saat itu ia dan Karina sudah berada di depan lobi fakultas keguruan. Ketika terdengar suara ngebas memanggil nama Anna di kejauhan.


"Anna!"


Seketika itu juga Anna dan Karina menoleh ke sumber suara yang berada tak jauh di depan mereka. Begitu mendapati siapa yang barusan memanggilnya, Anna langsung terkejut. Begitu pun dengan Karina.


"?! What were you doing here (apa yang kamu lakukan di sini)?!" Tanya Anna keheranan.

__ADS_1


***


__ADS_2