
Selesai shalat berjamaah dengan Daffa, Anna memilih untuk duduk di atas kasur. Sudah sekitar setengah jam kira-kira Anna menyibukkan matanya melihat tayangan di televisi.
Sementara itu, Daffa juga duduk di atas kasur, di samping Anna. Ia masih berkutat dengan apa yang dilihatnya di layar laptop yang ada di pangkuannya. Keduanya sedang menunggu makanan yang sudah dipesan oleh Daffa untuk makan malam mereka.
Anna yang tak terbiasa menonton tv, pada akhirnya merasa jenuh dan langsung berganti fokus pada smartphone nya.
Saat ia membuka aplikasi pesan, ternyata ada pesan singkat yang dikirim oleh beberapa temannya. Hampir semua menanyakan ketidakhadirannya di kampus hari ini.
Melvi: An, kamu sakit? Tumben gak nongol di LanDas?
(Landas adalah kependekan dari Lantai Dasar. Tempat Melvi menjajakan belasan boks donat untuk didistribusikan oleh mahasiswa yang ingin menyambi jualan donat)
Ayu: Anna, gak masuk ya hari ini? Padahal tadinya aku mau minta tolong. Itu loh tugas sinopsis novel, aku udah buat tapi takut ada grammer yang salah. Minta tolong cek-kin gitu. Besok masuk, gak?
Sem: An! Gua pesen donat 50 ya buat hr jumat. Buat acara arisan Mami. Jumat kemarin kan Mami nyicip sebiji, dan bilang suka. Topping bebas deh.
Karina: Anna love you! Jangan lama-lama dong honey moon nya. Sepi banget deh gak ada kamu. Udah besok balik ya!
Membaca pesan singkat terakhir dari Karina itu telah menarik segaris senyuman di bibir Anna. Dengan cekatan, ia mengetikkan jemarinya di atas tuts layar hp untuk membalas setiap pesan itu.
Kepada Melvi: maaf, Mel! Aku ijin dulu seminggu. Ada keperluan pribadi. Tapi mungkin hari jumat nanti ada yang mau mesen donat lima boks. Biar nanti kusuruh dia kontak ke kamu langsung ya?
Kepada Ayu: maaf ya, Yu. Aku ga masuk dulu beberapa hari ke depan. Coba kamu kirim soft copy hasil PR kamu. Nanti aku coba cek ya.
Kepada Sem: ok. Siap Sem. Tapi nanggung banget Sem. Dirampungin jadi 60 donat aja gimana? Biar dapat lima boks full donat. Semisal ok, nanti kamu bel aja ya nomor ini: 089765*****. Ngambil donatnya di dia aja. Dia agennya langsung. Aku kemungkinan masih belum bisa masuk hari jumat.
Kepada Karina: 🥰🥰 love you too, Rin. Sorry ya. Pemegang wewenang kepulangan ku ya my hubby. Coba minta ijin sendiri deh ke doi.
Tak lama kemudian, hp Anna bergetar pertanda ada pesan yang masuk. Ternyata Sem yang menjawab.
Sem: ok. Atur aja dah. Emang kenapa ga masuk kuliah?
'hmm?' Anna merasa aneh membaca pesan yang tak biasa dari kawan kelasnya itu. Ia tak menyangka kalau Sem cukup iseng untuk menanyakan penyebab ketidakhadirannya hari ini.
Tapi, demi menjaga hubungan pertemanan yang baik dan sehat, Anna pun menjawab pertanyaan dari Sem tadi dengan jawaban ambigu.
Kepada Sem: aku ada keperluan keluarga, Sem.
Send.
Tak sampai satu menit, balasan dari Sem kembali masuk.
__ADS_1
Sem: o.. syukurlah. Gue kira lu sakit. Oke deh. Moga dilancarin ya urusannya!
Kepada Sem: oke. Makasih ya, Sem!
Tiba-tiba saja Anna merasakan beban di pundaknya. Begitu ia menolehkan kepala, matanya langsung menangkap pemandangan wajah tampan Daffa yang menyandarkan kepala ke pundaknya.
Kedua mata Daffa terpejam rapat. Napas yang keluar dari hidungnya terdengar pelan dan teratur. 'Mungkin ia tertidur? Eh, tapi kan dia mau ada meeting habis isya ini. Bangunin gak ya?' Anna membatin.
Ketika masih bergumul dengan pikirannya sendiri, Anna lalu mendengar suara bel di depan pintu yang berbunyi.
'Apa itu makanan pesanan Daffa ya? Gimana ini? Bangunin aja kali ah!'
"Daff.. Daffa.. itu di depan pintu ada orang. Kayaknya yang nganter makanan deh. Bangun, Daff!" Panggil Anna seraya menepuk pelan paha Daffa.
Daffa lalu menggeliat.
"Emm!"
Saat menggeliat ke kanan, Daffa malah tampak seperti hendak memeluk pinggang Anna. Dan Anna yang melihat laptop di pangkuan Daffa hendak terjatuh pun langsung sigap meraih laptop itu dan meletakkannya di nakas samping kanannya.
Jadi setelah menaruh laptop di atas nakas, dan menahan beban tubuh Daffa yang agak menimpanya, Anna pun akhirnya berubah posisi jadi agak setengah berbaring. Dengan posisi kepala Daffa yang tepat memeluk dadanya.
Seketika itu juga Anna merasa jengah dengan posisi 'ambigu' keduanya saat itu. Anna serba salah dan sekaligus merasa gugup untuk membangunkan Daffa.
Walaupun Anna menggerutu, jantungnya tetap saja berdegup tak menentu. Anna bahkan cukup yakin kalau Daffa tersadar saat itu juga, suaminya itu pasti bisa mendengar degup jantungnya yang bertalu begitu kencang.
"Permisi, Pak Daffa! Saya masuk mengantarkan pesanan. Sekaligus mengingatkan pada acara meeting dengan Mr. Chen setengah jam lagi.."
Sebuah suara wanita terdengar di telinga Anna. Sepertinya wanita itu langsung masuk dan kini sudah ada di ruang bersantai.
Seketika itu juga, dengan refleks Anna langsung mendorong tubuh Daffa yang menempel layaknya anak koala dari tubuhnya. Ia juga langsung duduk bangun dari kasur dan merapihkan bajunya yang agak kusut.
Sementara itu Daffa yang didorong dengan agak keras akhirnya terbangun. Ia merasakan pusing tiba-tiba usai dibangunkan dengan 'penuh cinta' oleh istri tersayangnya itu.
"Apa Anda tertidur lagi, Pak?..eh..?"
Suara wanita asing itu kini sudah terdengar sangat dekat.
Ketika Anna menolehkan wajahnya ke muka pintu kamar, pandangan Anna langsung menangkap sosok wanita cantik. Tinggi wanita itu berkisar 155cm dengan proporsi badan yang cenderung bisa dibilang kurus.
Wanita itu memiliki wajah baby face mirip artis Acha Septriansah. Ia memakai gaun malam berwarna hitam yang membalut tubuh rampingnya dengan pas.
__ADS_1
"Mm.. maaf. Anda siapa ya? Saya sekretarisnya Pak Daffa.." sapa wanita cantik itu.
Anna masih merasa gugup karena hampir tertangkap basah dalam posisi yang cukup intim dengan Daffa.
'Tapi melihat di wajah wanita itu yang hanya menampakkan rasa penasaran terhadap identitasnya, sepertinya wanita itu memang tidak melihat yang tak sepatutnya,' pikir Anna.
"Anna.. apa yang kamu lakukan? Kepala saya pusing sekali!" Suara Daffa yang masih terdengar berat, menyadarkan Anna dan Eva pada keberadaan sosoknya.
Daffa terlihat memegang kepalanya yang masih terasa pusing karena tadi sempat terbentur bagian kepala ranjang. Tapi kemudian netranya menangkap keberadaan Eva di dekat pintu.
"Oh! Eva. Taruh saja makanannya di ruang bersantai!" Titah Daffa dengan acuh.
Mendengar perintah atasannya itu, Bella pun langsung sigap dan hendak berbalik pergi. Walau dalam hatinya ia masih penasaran dengan sosok wanita yang berada di dalam kamar bersama bos nya tadi.
Eva tak menyangka, bos nya yang terkenal dingin dan acuh pada setiap perhatian wanita akhirnya bisa tertangkap basah berada dalam kamar berduaan dengan seorang wanita. 'wanita yang sangat cantik!' puji Eva.
Namun, saat badan Eva baru juga berbalik. Tiba-tiba kembali terdengar suara bos nya memanggil.
"Oh, ya Eva! Tunggu dulu!"
"Ya, Pak?" Sahut Eva spontan seraya membalikkan badan.
"Perkenalkan, ini Anna, istri saya. Dan Anna, ini Eva, sekretaris saya, sekaligus juga anak asuhnya Pak Kiman. Jadi, dia sudah seperti adik saya sendiri," tutur Daffa menjelaskan.
Pada mulanya Anna menangkap keterkejutan di wajah Eva saat Daffa memperkenalkannya sebagai istrinya. Anna menduga mungkin berita ini sangat mengejutkannya.
Tapi lalu, Anna menangkap kekakuan dan rasa sedih di mata Eva saat Daffa mengucapkan kalimat perkenalan tentangnya.
Seketika hati Anna dirundung gelisah. Dalam hati ia membatin, 'Kenapa Eva seperti tak menyukai kalimat perkenalan Daffa tentangnya? Apa dia tak suka Daffa menganggapnya sebagai adik?'
Belum sempat Anna menilai Eva lebih lama, wanita muda itu segera pamit dan berlalu pergi usai menyapa Anna dengan sapaan sopan.
"Salam kenal, Nyonya Anna. Jika perlu sesuatu, silahkan menghubungi saya. Jangan sungkan. Kalau begitu, saya pamit ya, Pak!" Pamit Eva.
Dan pintu pun kembali ditutup. Meninggalkan Anna yang masih menebak-nebak nama dari ekspresi ganjil yang ditangkapnya di wajah Eva tadi.
Anna serius berpikir hingga tak sadar. Saat Daffa sudah berada di dekatnya dan memanggilnya berkali-kali.
Anna baru sadar dengan pertanyaan Daffa ketika suaminya itu tiba-tiba menarik Anna hingga ia terbaring di atas pangkuan Daffa.
"A.. apaan sih?!" tanya Anna sambil menatap gugup ke atasnya, tepat ke wajah Daffa.
__ADS_1
"Saya lapar! Saya mau makan!" Tutur Daffa dengan pandangan mata yang jelas terlihat sangat 'kelaparan'.
***