Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Karina Hamil


__ADS_3

"Enak aja! Aku yang bayar, masa aku gak ikutan makan sih!" Sergah Karina buru-buru meraih cup es krim ukuran jumbo miliknya.


Karina lalu langsung saja menyendokkan es krim ke dalam mulutnya. Namun.. belum ada lima detik ia menikmati tekstur lembut es krim, tahu-tahu..


"Hueekk!!" Karina menutup mulutnya segera.


Tasya yang duduk di hadapannya menatap heran ke arah sahabatnya itu. Apalagi saat dilihatnya Karina terburu-buru berdiri dan menuju wastafel yang ada di pojok ruangan.


Selama beberapa detik Tasya termangu menatap Karina yang nampak mengeluarkan isi perutnya itu berkali-kali. Ketika dilihatnya Karina seperti kepayahan, Tasya buru-buru bangkit berdiri dan menyusul ke tempat sahabatnya itu berada.


Tasya menepuk pelan punggung sahabatnya itu. Berharap Karina bisa lebih sedikit merasa lega. Setelah beberapa waktu, Karina berhenti memuntahkan sisa makan siangnya yang tak seberapa, lalu mencuci mulut dan wajahnya yang sudah terlihat sangat pucat kini.


Tasya menuntun Karina kembali duduk ke kursi pelanggan mereka. Sementara beberapa pasang mata pelanggan lainnya menatap penasaran ke arah Karina.


Begitu sudah duduk, barulah Tasya berani bicara.


"Kamu kenapa, Rin? Salah makan? Eh, tapi kan kita makannya bareng ya tadi siang. Dan aku ngerasa oke kok. Jadi bukan salah makan ya, berarti. Hmm.. apa.. kamu kurang makan, Rin? Masuk angin?" Tanya Tasya bertubi-tubi.


Karina yang merasa sangat lemas usai memuntahkan sisa makan siangnya tadi, kini duduk dan menyandarkan kepalanya ke atas meja.


"Gak tahu. Tiba-tiba aja eneg banget pas makan es krim tadi," ucap Karina dengan nada lemah.


"Kamu pesan es krim matcha kan kayak biasa? Coba sini aku cobain!" Tasya mengambil cup es krim milik Karina, lalu mencicipinya.


Menurutnya rasanya seperti biasanya. Meski Tasya juga mengakui kalau ia tak terlalu menyukai rasa matcha. Rasanya aneh, menurut bumil itu.


"Kayak biasa kok rasanya. Gak ada yang aneh. Kamu kali makan siang nya kurang. Seingatku siang tadi kamu makannya gak habis separo nya. Iya kan? Padahal nasi padang kalau makan di tempat kan porsi nya lebih sedikit dibanding kalau dibungkus," terka Tasya panjang lebar.


"Tahu. Iya kali. Tapi akhir-akhir ini emang nafsu makan ku lagi dikit sih. Rasanya mulut eneg aja.." ucap Karina seraya memejamkan mata.


"Ehh.. jangan tidur di sini, Rin! Yuk kita pulang aja deh!" Ajak Tasya buru-buru.


"Huh? Pulang sekarang? Kamu gak mau nambah, Tasy?"


"Aku take out aja lah!"


"Oh.. ya udah. Kalau gitu ini uangnya.." Karina terlihat menegakkan badannya untuk mengambil uang dalam dompet yang ada di tas bahu miliknya.

__ADS_1


"Udah! Gak usah! Kali ini aku aja deh yang traktir. Lagian kamu juga gak makan es krim nya kan!" Tukas Tasya menolak traktiran Karina.


"Ooh.. terserah deh.." ucap Karina kembali hendak merebahkan kepalanya ke atas meja.


"Tunggu bentar ya, Rin. Aku mau pesan buat take out dulu. Kira-kira mencair gak ya.."


Tasya lalu kembali ke depan kasir untuk memesan es krim untuk ia bawa pulang. Kepada Mbak Kasir yang ramah, Tasya meminta agar es krim nya dibungkus kemasan agar bisa awet tak mencair sampai ia pulang ke rumah.


Walau harga yang harus Tasya bayarkan lebih mahal dari harga normalnya, Tasya tak mempermasalahkan itu. Pikirnya, toh ini hanya sesekali saja ia lakukan. Jadi ia tak bisa dibilang boros kan?


"Rin Rin! Udah yuk, pulang!" Ajak Tasya kemudian dengan menenteng sekotak es krim untuk dimakannya di rumah.


Karina yang hampir tertidur di kursinya, menatap linglung pada Tasya. Barulah kemudian bangun dan mengikuti langkah sahabatnya itu yang setengah menyeretnya berlalu dari kedai Molan Ice Cream.


***


"Non Karina kenapa, Non?" Tanya Pak Kurdi saat melihat majikan muda nya itu tampak pucat usai keluar dari kedai es krim.


"Gak tahu, Pak. Masuk angin kali ya. Tapi takut sakit magh juga sih. Soalnya dia muntah-muntah tadi," sahut Tasya menerangkan.


"Apa kita mampir ke klinik di depan, Non?" Pak Kurdi memberikan saran.


Tadi pagi Tasya memang sudah berpamitan pada suaminya itu kalau ia akan menebeng pulang pada Karina. Karenanya Pak Kiman tak menjemputnya seperti biasa.


"Boleh, Pak."


"Hmm.. gak mau! Aku gak mau disuntik, Tasy!" Tolak Karina dengan mata yang terpejam.


"Hihihi.. siapa bilang kamu mau disuntik, Rin Rin?! Kita cek aja dulu kamu sakit apa. Urusan suntik menyuntik mah belakangan aja.." ucap Tasya dengan santai nya.


Karina membuka separo matanya untuk melihat senyum jahil yang terpasang di wajah Tasya. Ia sedikit sebal karena sepertinya Tasya malah mengharapkan dirinya agar disuntik nanti.


"Pokoknya, kalau dokter bilang ga usah disuntik, kamu gak usah kasih saran suntik suntikan ya, Tasy! Awas loh!" Ancam Karina dengan wajah yang masih pias pucat.


"Iya.. iya.. Non.. kamu tuh lucu deh. Udah umur segede gaban gini.. masa takut sama suntikan! Gimana kalau nanti nikah punya suami, kerjaannya kan disuntik mulu loh, Rin!" Seloroh Tasya dengan suara sangat pelan.


Seketika itu pula Karina langsung melotot, membuka kedua matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Sial kamu, Tasy! Aku tuh masih di bawah umur tahu! Jadi jangan ngebahas hal mesyum jajanan kamu dan suamimu itu di depan ku! Bisa-bisa terkontaminasi nanti pikiran ku yang polos ini!" Tegur Karina tak terima.


"Hahahhahaha! Sekarang aja kamu belum ngerasain, kalau udah tahu, pasti nanti ketagihan deh!"


"Wadoohh!! Ampun ratu! Tolong kembalikan Tasya ku yang polos, baik hati dan tak jahil.." ucap Karina seraya berpura-pura mengangkat kedua tangannya seperti sedang berdoa.


Di depan kemudi, Pak Kurdi terlihat menghela napas lega kala melihat majikan muda nya masih bisa bersenda gurau dengan sahabatnya itu.


"Jadi ke klinik kan, Non?" Tanya Pak Kurdi mengingatkan.


"Jadi lah, Pak!" Sahut Tasya.


"Gak usah lah, Pak!" Sahut Karina berbarengan dengan Tasya.


Kedua mudi itu pun kembali ribut panjang kali lebar, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Tasya. Alhasil mobil yang mereka naiki pun kemudian berhenti di sebuah klinik di pinggir jalan.


Tasya ikut turun untuk menemani Karina. Dan sepanjang memasuki klinik, keduanya masih saja bersenda gurau tentang apa saja. Membuat pegawai klinik yang bertugas sebagai resepsionis pun akhirnya menegur keduanya untuk memelankan suara.


Setelah mendaftar dan menunggu sekitar sepuluh menit (syukurlah antrian di klinik itu tidaklah banyak, jadi Tasya dan Karina tak perlu menunggu lama), nama Karina pun dipanggil masuk.


Merasa sedikit takut, Karina menarik juga tangan Tasya untuk ikut masuk menemui dokter.


Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter wanita ramah yang bernama Dok Tanti, Karina pun kembali duduk di samping Tasya untuk menunggu hasil pemeriksaan sang dokter.


"Jadi, teman ku sakit apa ya, Dok? Lambung ya?" Terka Tasya sok tahu.


Terlebih dahulu Dok Tanti tersenyum ramah kepada kedua mudi di depannya itu. Baru kemudian memberikan penjelasan.


"Berdasarkan pemeriksaan urine, saya pastikan kalau Nona Karina bukanlah sakit lambung atau sakit lainnya," terang Dok Tanti.


"Terus, aku sakit apa, Dok?" Tanya Karina kini mulai cemas jika penyakitnya ternyata adalah penyakit parah nan mematikan.


"Nona Karina, Anda tidaklah sedang sakit apapun. Semua gejala yang Anda rasakan akhir-akhir ini adalah gejala awal yang normal dirasakan oleh wanita lainnya yang sedang hamil muda. Selamat, Anda hamil!"


"Hah?!"


"Apa?!"

__ADS_1


***


__ADS_2