
Begitu menutup pintu kamar inapnya, Anna baru teringat dengan kartu ATM hitam yang menurut Daffa berisi uang belanjanya sehari-hari. Dalam hatinya Anna penasaran, kira-kira berapa banyak uang belanja yang diberikan Daffa kepadanya perbulan.
Jika untuk uang jajan saja Daffa bermaksud memberinya tiga juta per hari. Itu berarti untuk sebulan ia akan menerima sembilan puluh juta dari pemuda itu! Dan itu hanya untuk uang jajan. Belum ditambah uang belanja.
Tangan Anna bergetar merinding saat mengingat isi uang dalam kartu ATM hitam yang ada dalam tasnya. Merasa takut kartu itu akan dicuri, Anna pun menggenggam tas selempang nya erat-erat.
Itu adalah pemandangan yang menggelikan untuk dilihat oleh orang-orang di sekitar Anna. Bagaimana tidak?
Dengan penampilan Anna yang tampak biasa (sandal jepit swallom, gaya rambut asal, serta baju yang sering bisa ditemukan di pasar kaki lima), Anna terlihat sangat menjaga tas dompet yang tersampir di bahunya.
Tas dompet yang dibawa Anna pun terlihat 'sangat murah' bahkan meski dibandingkan dengan tas-tas yang dijual di toko suvenir sana.
Anna sempat terpikirkan untuk kembali ke kamar inapnya dan menaruh kartu ATM hitam itu saja di dalam kamar. Tapi niatnya itu ia urungkan, karena di dalam kamar pun bisa jadi tak akan aman.
Mengingat terkadang ada pegawai hotel yang berlalu lalang masuk untuk mengantarkan makanan pesanan atau pun mengambil baju laundry an. Alhasil Anna pun akhirnya memutuskan untuk membawa saja kartu ATM hitam itu ke mana-kemana bersamanya.
"Nyonya Anna!" Sebuah suara pelan menyapa Anna tiba-tiba dari arah belakang.
Walau sebenarnya suara wanita itu terdengar pelan, tapi karena Anna merasa was-was menjaga tas dompet berisi kartu ATM hitam dari Daffa, ia pun jadi sangat terkejut.
Anna hampir saja hendak memukul orang yang memanggilnya jika saja ia tak segera berbalik dan melihat identitas orang itu.
"Eva!" Anna berseru kaget.
Sekretaris Eva memberikan Anna senyuman hangat miliknya.
Dengan gaun hitam sepanjang lutut serta belahan atas dress yang sedikit memperlihatkan dua gunung kembar miliknya, Eva tampil begitu cantik dan elegan.
Anna lalu membandingkan penampilan Eva dengan penampilannya sendiri. Dan Anna merasa sedikit kecewa pada dirinya sendiri.
'Apa aku juga harus berusaha mempercantik diri ya seperti Eva? Dia sepertinya menyukai Daffa. Bagaimana jika Daffa nanti tertarik padanya?'
Deg..
Anna merasa patah hati oleh sebab fantasi liarnya sendiri.
"Nyonya hendak berjalan-jalan? Bagaimana jika saya menemani Nyonya? Saya juga sedang ingin menikmati angin pagi," Suara Eva kembali memasuki indera pendengaran Anna yang sempat tercenung.
"Oh! Mm.. boleh.. boleh.." sahut Anna spontan sebelum ia menyadari apa yang diucapkannya sendiri.
Akhirnya Anna dan Eva pun berjalan berdampingan keluar dari hotel.
__ADS_1
Kepada Eva, Anna tak merasakan rasa tak suka seperti yang ia rasakan kepada Joanna ataupun Mrs. Corrine yang juga menyukai Daffa. Anna hanya merasa sedikit ketidaknyamanan saja saat berada dekat dengan wanita itu.
Dari Eva, Anna pun tak menerima tatapan tak suka ataupun benci seperti yang diterimanya dari wanita-wanita lain yang menyukai Daffa. Jadi Anna akhirnya memilih untuk bersikap lebih pendiam saja dibanding ia biasanya.
Namun oleh sebab rasa penasaran, akhirnya Anna pun menanyakan sesuatu kepada Eva.
"Eva.. kamu.."
Baru dua patah kata Anna bicara, ucapannya tiba-tiba saja dipotong oleh Eva.
"Panggil saja saya Bella, Nyonya. Saya lebih senang jika orang-orang memanggil saya dengan nama itu," Eva memohon.
"Huh?" Anna membeo tak mengerti.
Alhasil Eva pun menerangkan lebih lanjut lagi.
"Nama panjang saya kan Eva Bellinda. Tapi saya lebih biasa dipanggil Bella dibanding Eva. Teman-teman sekantor pun memanggil saya dengan nama Bella.." tutur Bella menjelaskan.
[Dan mulai dari saat ini, kita akan memanggil sekretaris Eva dengan nama Bella ya, guys.. Mel pingin ganti namanya biar lebih enak dipanggil. Xixixi..🤭😁😁]
"Oh.." Anna pun memahami asal muasal nama Bella akhirnya. "Tapi Daffa manggil kamu dengan nama.."
"Eva. Ya. Kalau dengan Pak Daffa, saya jelas tak bisa menegur beliau kan untuk memanggil saya dengan nama yang saya suka? Bisa-bisa nanti saya mungkin akan dipecat!" Ucap Bella melanjutkan kalimat Anna.
Anna lalu mengajak Bella untuk duduk pada kursi pantai yang tersedia gratis di pinggir pantai. Itu adalah kursi yang sama di mana ia menunggu Daffa membeli seafood dan bertemu dengan cowok tak berperasaan yang mengambil tempat duduknya.
Mengingat cowok menyebalkan itu, selintas harap melewati benak Anna.
'Semoga gak ketemu cowok itu lagi!' Anna bermonolog dalam hati.
"Kamu sudah berapa lama kerja dengan Daffa, Bel?" Tiba-tiba Anna menanyakan sesuatu pada wanita berambut cokelat sebahu itu.
Setiap kali melihat penampilan Bella, Anna merasa umur mereka berbeda sangat jauh, padahal pada kenyataannya keduanya hanya terpaut usia dua tahun saja.
Bella memang memiliki pembawaan dewasa yang tak dibuat-buat.
'Dan, jika saja Bella tak menyukai Daffa, aku mungkin akan akrab dengannya,' Anna berbisik dalam hati.
"Sebenarnya saya sudah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan cabang Zi Tech selama tujuh tahun bila dihitung dari waktu sejak saya magang. Tapi secara formal saya baru menjadi sekretarisnya Pak Daffa sekitar tiga tahun ini. Sejak Pak Daffa pertama kali datang di keluarga Tuan Zion," tutur Bella bercerita.
Kuping Anna seketika terangkat. Ia menyadari sesuatu. Sepertinya ia bisa mengenal keluarga Daffa dari mulut Bella.
__ADS_1
"Kamu sepertinya cukup tahu tentang keluarga Daffa.." Anna berkomentar dengan suara pelan.
Bella menyadari maksud Anna berkomentar seperti itu. Dan akhirnya kalimat Bella berikutnya menjadi jalan pembuka bagi Anna untuk mengetahui perihal kondisi dalam keluarga besar Daffa.
"Saya cukup tahu banyak tentang keluarga Zion. Karena bagaimanapun juga sedari umur sepuluh tahun saya sudah hidup dan dibesarkan di mansion utama tempat keluarga besar Zion tinggal," Bella mengaku.
"Oh! Sampai saat ini?!" Anna bersemangat bertanya.
Sepintas Anna menangkap raut sedih di wajah Bella. Tapi itu hanya sepintas saja. Karena detik berikutnya, raut sedih itu berganti dengan ekspresi tangguh. Seolah-olah keputusan untuk pindah dari mansion Daffa adalah pilihan terbaik yang dilakukan oleh wanita bertubuh mungil itu.
Melihat eskpresi Bella tadi, Anna jadi bingung tak mengerti.
"Tidak. Saat ini saya tak lagi tinggal di mansion keluarga Zion. Saya sekarang tinggal di apartemen kecil yang saya beli sendiri.
'Jika memang Bella menyukai Daffa, bukankah akan lebih mudah jika ia tetap tinggal di mansion keluarga Daffa? Lalu kenapa dia pindah?' batin Anna bertanya-tanya.
"Kenapa? Bukankah ayah angkat kamu juga masih tinggal di mansion keluarganya Daffa? Ayah angkat kamu itu Pak Kiman kan?" Tanya Anna kembali.
Anna tak sengaja mendapatkan fakta terkait ayah angkat Bella itu saat ia mendengar obrolan Daffa dengan Pak Kiman, sopir pribadinya Daffa itu.
Seketika saja ekspresi di wajah Bella mengeras.
"Dia bukan ayah angkat saya!" Tolak Bella dengan nada agak meninggi.
Anna terkejut dengan sanggahan Bella tersebut. Menurut cerita Daffa, ketika Bella masih kecil ia diasuh oleh Pak Kiman, yang adalah teman baik ibu dan ayah Bella. Saat itu ibu dan ayah Bella terjebak kecelakaan maut yang mengambil nyawa mereka, meninggalkan si kecil Bella tanpa siapapun lagi di dunia ini.
Akhirnya, Pak Kiman pun yang saat itu baru berumur awal tiga puluhan dan masih single, memberanikan diri untuk membantu merawat Bella kecil.
'Tapi kenapa sepertinya Bella tak menyukai Pak Kiman? Padahal dalam beberapa kali interaksi ku dengan sopir pribadinya Daffa itu, aku bisa menilai kalau Pak Kiman adalah orang yang baik. Tapi kenapa..?' Anna bermonolog di dalam hati.
Belum sempat Anna bertanya pada Bella, ketika sebuah suara bass menyapa Anna dari jarak yang cukup dekat dengannya.
"Hey, Ms. Anna! We meet again! (kita berjumpa lagi!)" Sapa suara seorang lelaki.
'Duh. Jangan bilang ini lelaki menyebalkan yang kemarin. Baru juga tadi pagi ketemu di kedai nasi uduk. Masa sekarang udah ketemu lagi!' Anna setengah menerka dan setengah menggerutu di dalam hati.
Kemudian Anna menolehkan kepalanya ke arah suara tadi berasal. Dan, benar saja.
Pemuda tampan berwajah blasteran Indo dengan tubuh atletis itu tampak jelas dalam jarak pandang netra nya Anna.
Pemuda itu kali ini kembali muncul dengan keseluruhan tubuhnya yang basah, serta keberadaan papan surfing yang diapit nya di lengan kiri.
__ADS_1
Anna mencebik di dalam hati. Sungguhan tak menyukai perjumpaannya kembali dengan pemuda ini.
***