
Anna setengah berjinjit untuk mengambil koper cokelat yang berada di atas lemari. Hampir-hampir koper itu terjatuh menimpanya jika saja Daffa tak sigap menangkap koper itu.
"Makasih, Daff..maaf udah banyak ngerepotin kamu seharian ini." Tutur Anna, merasa tak enak hati.
"Have no mind, Anna (Jangan merasa sungkan, Anna). Kamu harus membiasakan diri untuk tergantung pada saya mulai dari sekarang. Karena kamu sekarang adalah tanggung jawab saya." Jelas Daffa panjang kali lebar.
"..." Anna tertegun mendengar pernyataan Daffa. Selama beberapa detik lamanya pasutri baru itu berpandangan. Hingga sebuah tarikan di baju Anna memutuskan koneksi dua netra milik Anna dan Daffa.
Anna melihat Zizi yang kini sedang memegang sedikit bagian dari gaun yang dikenakannya. Gadis itu memandang Anna dengan ekspresi kosong.
Dan tiba-tiba saja rasa berat untuk pergi kembali menyergap Anna. Ia sebenarnya tak ingin pergi, tapi Anna merasa sangat membutuhkan waktu untuk menjauh selama beberapa waktu dari rumah ini.
Anna merasa tak siap untuk bertemu Frans kembali dalam waktu dekat. Dan ia tak bisa menjamin kalau Frans akan segan untuk kembali ke rumah ini. Bagaimanapun juga, Frans memiliki dalih "mengunjungi Tante nya" jika ia memang berani datang dalam waktu dekat.
Untuk menyebutkan nama lelaki brengsek itu ke siapapun saja rasanya mulut Anna terkunci. Padahal ia ingin sekali menjebloskan lelaki itu ke penjara. Walaupun sebenarnya ia tak memiliki bukti, kalau Frans lah dalang di balik penculikannya tadi pagi.
Maka Anna pun memilih untuk bersembunyi sementara waktu. Meski itu bisa membuatnya tampak seperti seorang pengecut yang lari dari masalah.
Tapi Anna bertekad untuk bisa menghadapi Frans lagi dalam kondisi hati yang lebih tangguh dan tak takut lagi.
Kembali ke Zizi dan Anna.
Anna mengamati adik perempuannya itu lekat-lekat. Zizi masih memegang gaun yang dikenakan oleh Anna dengan cukup erat. Anna pun kemudian mengajak Zizi duduk di tepian kasur.
Perlahan ia mengusap pelan rambut hitam Zizi yang sepanjang dada. Anna mengamati lekat-lekat wajah yang memiliki beberapa kemiripan dengan wajahnya sendiri, hanya saja Zizi lebih tirus dan pucat. Mungkin akibat ia lebih sering berada di dalam kamar.
Anna lalu menggenggam jemari Zizi dan berkata dengan suara lembut.
"Zii.. Kakak sudah menikah sekarang.. kakak mungkin harus pergi selama beberapa hari dan ikut suami Kakak. Sementara Zi di sini dulu ya sama Bi Inem.. juga ada Mama Ira, Dodi dan Tedi. Nanti Kakak pulang lagi. Zi nurut ya sama Bi Inem?"
Mata Anna tiba-tiba terasa perih. Tenggorokannya pun serasa tercekat. Berat rasanya bagi Anna untuk meninggalkan Zizi di rumah ini, meski hanya untuk seminggu.
Walau bagaimanapun juga ia adalah satu-satunya keluarga yang terikat darah dengan Zizi di rumah ini. Dodi adalah saudara tiri hasil pernikahan Mama Ira dengan suami pertamanya. Sementara Tedi, meski darah Ayah sama-sama mengalir di nadi mereka, Tedi masih terlalu kecil untuk menemani Zizi.
Dan Anna juga tak yakin kalau Mama Ira akan mengijinkan Tedi dekat dengan Zizi, mengingat kondisi kejiwaan Zizi yang tak selalu stabil.
__ADS_1
Oleh sebab itulah Anna sebenarnya ingin mengajak serta Zizi bersamanya. Tapi ia khawatir jika Zizi akan merasa tak nyaman mengikuti Daffa ke Lombok. Bilamana mereka harus sering berpindah tempat mengikuti pekerjaan Daffa.
Akhirnya Anna memutuskan untuk menitipkan Zizi terlebih dahulu selama seminggu ini di sini. Nanti, ia akan membujuk Daffa agar Zizi bisa tinggal menetap bersama mereka sepulangnya dari Lombok. Walau Anna juga tak tahu, dimana mereka akan tinggal sepulangnya mereka nanti.
"Zi.. Zizi paham kan maksud Kakak?" Tanya Anna kembali kepada Zizi.
Perlahan Zizi menganggukkan kepalanya. Tak lama, ia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Daffa. Dan kemudian dari mulut gadis remaja itu, keluar lah dua kata yang membuat Anna sekaligus Daffa cukup terkejut.
"Jaga Kakak."
Sesak di dada Anna pecah kala ia mendengar permintaan Zizi kepada Daffa barusan. Serta merta pula ia peluk tubuh ringkih Zizi dan tak lupa mengecup penuh kasih dahi dan kepala adik perempuannya itu.
Daffa sendiri sempat tertegun. Ia tak menyangka kalau gadis penderita Schizophrenia di hadapannya itu bisa memberikan permintaan sekaligus peringatan kepadanya.
Perlahan, dengan nada mantap Daffa pun menjawab, "Saya akan menjaga Kakak kamu sebaik-baiknya." Dan seolah belum merasa cukup meyakinkan, Daffa kembali berkata, "Saya pastikan untuk membawanya pulang kembali tanpa kurang suatu apa."
Dua bulir bening spontan saja mengaliri kedua pipi putih Anna saat ia masih memeluk erat Zizi. Ia berusaha sekuat mungkin untuk menunjukkan sisi tangguhnya kepada Zizi, jadi dihapusnya segera air mata di pipinya itu. Dan barulah kemudian kembali menatap wajah Zizi.
"Dan Zizi juga harus nurut kata Bi Inem ya! Jangan sampai sepulangnya Kakak nanti, kamu semakin kurus atau malah sakit. Kakak mau kamu sehat! Kalau bisa malah lebih gemuk. Biar Zizi gak kalah gemuk sama Kakak. Ya?" Pinta Anna pada adiknya itu.
Yang diajak bicara malah kembali diam menunduk. Tapi Anna tahu. Ia yakin kalau Zizi mengerti dengan apa yang dikatakannya. Walau seringkali orang-orang menganggap Zizi gila. Tapi Anna yakin kalau Zizi hanya sedikit sakit. Zizi hanya...
Ia berharap adiknya itu bisa segera pulih. Walau sebenarnya Anna juga tak ingat sejak kapan dan oleh sebab apa Zizi bisa seperti ini.
Beberapa tahun yang lalu Anna memang pernah mengalami kecelakaan. Dan kecelakaan itu menyebabkan ingatannya hilang. Dokter mengatakan kalau ingatannya masih berkemungkinan untuk kembali, walau itu membutuhkan waktu yang sangat lama.
Selama beberapa tahun ke belakang ini Anna berusaha mengingat kembali kehidupannya. Ia sudah minum berbagai macam obat, tapi itu tak jua membuahkan hasil. Akhirnya, demi bisa melanjutkan hidupnya lagi, Anna pun kembali bangkit dan menguatkan dirinya.
Ia kembali 'belajar' mengenali kehidupannya. Dimulai dari keluarganya di rumah ini. Dari Mama Ira, Bi Inem dan juga Dodi, Anna mengenal kembali kehidupan miliknya sebelum ia hilang ingatan.
Sayangnya hingga saat ini, ia masih belum bisa mengingat kehidupannya sebelumnya. Walau hanya secuil ingatan saja.
Kembali ke Zizi dan Anna saat ini.
Setelah menghabiskan beberapa menit bersama dalam perbincangan hangat, Anna kembali membereskan beberapa baju yang akan dibawanya pergi. Sementara Zizi kembali duduk dalam diam di atas kasur. Ia terlihat ikut merapihkan baju milik Anna yang ada di koper.
__ADS_1
Daffa sendiri berdiri di dekat pintu dan memperhatikan kedua adik-kakak itu. Ia lalu berpesan kepada Anna, "bawa bajunya sedikit aja. Mungkin tiga pasang juga sudah cukup."
Anna sejenak berhenti dan memberi pandangan protes pada suaminya itu.
"Gak bisa cukuplah, Daff. Tiga stel untuk satu minggu? Kamu mau sambil nyuci baju kah tiap hari buat salinan?" Protes Anna.
Daffa memberikan Anna senyuman nakal. "Cukup kok.. Udah, tenang aja. Ikuti saja kataku."
Merasa sebal karena Daffa tak memberi penjelasan lebih, pada akhirnya Anna tetap mengikuti permintaan Daffa. Ia pun mengeluarkan kembali beberapa baju yang sudah disusun rapih dalam koper.
***
Anna sudah menitip pesan pada Bi Inem untuk menjaga dan menemani Zizi. Ia juga sudah berpesan pada Dodi untuk segera memberinya kabar jika terjadi sesuatu. Syukurlah Dodi termasuk tipikal pemuda yang jarang keluyuran malam. Jadi Anna merasa cukup percaya pada adik tirinya itu.
Dan kini Anna dan Daffa berpamitan pada Mama Ira di ruang tamu. Koper kecil berisi baju Anna sudah ditaruh ke bagasi oleh Pak Kiman. Dan kini Sopir pribadi Daffa itu sudah bersiap untuk membawa Anna dan Daffa pergi ke hotel yang sudah Daffa pesan.
Lokasi hotelnya cukup dekat dengan bandara, jadi jadwal take off pesawat mereka jam 5 subuh besok pun kiranya bisa mereka kejar.
"Kamu cuma bawa satu koper itu aja, Anna?" Tanya Mama Ira kala melihat koper yang diangkut oleh Pak Kiman hanya ada satu, itupun ukurannya cukup kecil.
Anna melirik kesal pada Daffa. Sebagai tanda bagi suaminya itu untuk menjawab pertanyaan Mama Ira.
Daffa segera tanggap dengan maksud Anna. Ia pun menjawab keheranan Mama Ira dengan jawaban yang lebih lengkap dibandingkan jawaban yang diberikannya kepada Anna. Ini membuat Anna jadi tambah kesal pada pemuda itu.
"Daffa yang minta Anna bawa baju sedikit aja, Ma. Biar gak repot. Lagipula nanti kita kan bisa shopping di sana." Sahut Daffa menerangkan.
Mama Ira pun ber "ooh" ria. Sementara di samping Daffa, Anna terlihat menekuk wajahnya. Ia merasa kesal.
"Ya sudah kalau begitu kalian bergegaslah. Agar kalian bisa lebih cepat beristirahat. Kalian sudah melewati hari yang luar biasa seharian ini." Usir halus Mama Ira.
Maka Anna dan Daffa pun keluar runah, lalu memasuki mobil.
"Hati-hati." Itu adalah ucapan terakhir dari Mama Ira sebelum Anna menutup pintu mobil Bentley milik Daffa.
***
__ADS_1
Bersambung..
(psst.. psst.. 😚😚 reader yang baik nan cerdas sekalian, Thor mau tanya, kira-kira Thor mesti nulis detail ttg malam pertama Anna dan Daffa gak ya? Masih ragu. Tapi benernya mauu..😜 tolong jawab di komen yapp. Terima kasih.. have a nice day everybody..😘😘)