Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kisah Anna (ysb) di Nevarest bag. 3 end


__ADS_3

Anna memegang kenop pintu lalu menariknya. Dengan langkah mantap, ia mengucap Basmallah. Dalam hatinya ia sudah berniat untuk bermalam di villa ini, jika ia tak juga menemukan keberadaan Papa Jordan.


Akhirnya, Anna pun membuka pintu masuk villa lebar-lebar. Dan ia kembali dikejutkan dengan pemandangan yang terhampar di depan matanya.


Pintu masuk yang ketika dibuka seharusnya akan menampilkan bagian dalam villa. Ternyata malah menunjukkan Anna pemandangan tanah lapang yang sangat terang seperti layaknya siang.


Merasa terkejut, Anna langsung menutup kembali pintu di depannya itu dengan terburu-buru. Ia lalu memperhatikan pemandangan di belakangnya.


Hutan yang sunyi. Kegelapan yang begitu pekat. Suara derit ayunan yang telah berkarat. Anna mengedipkan matanya lagi beberapa kali.


Kemudian, Anna membuka pintu masuk villa itu sekali lagi. Dan, pemandangan tanah lapang dengan langit yang tampak terang pun menggoda matanya kembali.


Kembali heran, Anna langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Kali ini, ia tak menutup pintu masuk villa dan membiarkannya tetap terbuka. Dan, suasana malam di hutan yang sunyi itu masih ada di luar sana.


Selama berkali-kali Anna menolehkan kepalanya ke depan dan belakang. Dan ia sangat terkejut dengan pengalaman anehnya itu.


Merasa aneh, Anna mencubit pipinya keras-keras. Mengira ia mungkin sedang bermimpi.


"Aw!" Anna mengaduh, merasakan sakit di pipinya.


"Apa itu proyektor ya?" Anna menduga pemandangan di dalam villa yang ia lihat dari depan pintu itu sebagai hasil proyektor.


Dengan ragu dan rasa penasaran, Anna pun akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam villa.


Serta merta saat itu juga Anna tahu kalau dugaannya salah besar.


Begitu berada di dalam villa, Anna tak menemukan proyektor atau apapun yang mencurigakan. Keberadaan tanah lapang itu bahkan semakin nyata ia rasakan tatkala semilir angin berhembus melewatinya.


Anna kembali menolehkan kepalanya ke belakang, ke pintu masuk villa yang masih terbuka. Pemandangan hutan yang sunyi di kegelapan malam yang pekat itu tetap ada.


Walau merasa aneh dengan apa yang dialaminya saat itu, Anna memutuskan untuk menutup pintu villa. Dan ia pun kini murni berada di dalam villa seutuhnya, atau lebih tepatnya adalah ia berada di suatu tanah lapang yang sangat terang.


Anna lalu berjalan pelan sambil melihat ke sekitar. Tak ada yang bisa dilihatnya selain langit putih tanpa matahari, tanah lapang tanpa keberadaan rumah ataupun penghuninya, serta keberadaan pintu-pintu yang berdiri tanpa tiang penyangga.


Selain pintu yang baru saja ia lewati, Anna juga menemukan lima pintu lainnya. Jadi totalnya ada enam pintu aneh di tanah lapang itu.

__ADS_1


"Apa pintu-pintu itu akan mengantarkan ku ke tempat Papa, ya?" Anna bermonolog pelan.


Benaknya dipenuhi oleh wajah Papa Jordan. Ia begitu rindu pada Papa. Walau keduanya jarang menikmati waktu bersama, tapi hanya Papa Jordan yang Anna miliki.


Anna telah lupa pada wajah Mama. Anna juga tak terlalu ingat dengan saudara kembarnya yang ikut dengan Mama. Anna sangat ingin menemukan mereka sesegera mungkin.


Kemudian, secara tiba-tiba, mata Anna menangkap sebuah pintu yang terlihat lebih indah dibanding pintu yang lain. Hatinya begitu tertarik untuk menarik kenop pintu itu dan masuk ke dalamnya.


Merasa sangat penasaran, Anna pun akhirnya membuka pintu itu dan secepat kilat melewatinya dan menutupnya kembali.


Dan tiba-tiba saja, Anna sudah berada di sebuah ruangan bundar yang tak terlalu besar. Dalam ruangan itu pun Anna belum menemukan orang lain selain dirinya.


Hanya sebuah meja tulis, kursi dan beberapa buku yang tertata rapih di atas meja.


Begitu melihat sampul salah satu buku, Anna menyadari kalau itu adalah sebuah diary. Milik R. E. Linzky. Merasa malu, telah membuka diary milik orang lain, Anna segera menaruh buku diary itu kembali ke atas meja.


Anna lalu mendekati sebuah jendela terbuka yang berada tak jauh dari tempat meja tulis berada. Jendela itu tak memiliki kaca atau penutup, sehingga jika hujan turun, bisa jadi air hujannya akan masuk ke dalam ruangan.


Begitu melihat pemandangan di luar jendela, Anna akhirnya menyadari kalau ruangan tempat ia berada saat ini ternyata adalah sebuah menara.


Anna memperkirakan kalau ruangan tempatnya berada sekitar lima belas meter tingginya.


Letak menara tempat Anna berada pun sepertinya termasuk dalam bagian istana.


Anna lalu mencari jalan untuk bisa keluar dari menara itu. Ia akhirnya menemukan sesuatu di lantai yang tampak seperti ring besi.


Ring besi itu menempel pada sebuah kayu berbentuk kotak seukuran 1x1m. Dan kayu kotak itu menempel rata di lantai pojok berseberangan dengan meja tulis.


Terbersit di pikiran Anna kalau ring besi itu mungkin adalah kenop pintu. Ia pun mencoba mengangkat ring besi itu, dan tebakannya kali ini ternyata benar.


Sebuah tangga dari bebatuan terlihat berundak-undak menurun di balik pintu kayu kotak itu. Akhirnya Anna memberanikan diri untuk menuruni tangga-tangga itu.


Setelah lima belas menit melewati tangga yang menurun, Anna akhirnya sampai di bawah menara.


Begitu sudah keluar dari menara, Anna dihadapkan pada pemandangan yang menyejukkan mata.

__ADS_1


Hamparan rumput halaman yang berwarna hijau. Taman bunga daffodil yang sedang bermekaran dengan cantik. Serta bangunan istana yang berdiri kokoh nan megah tak jauh dari taman bunga.


Seolah terhipnotis, kaki Anna melangkah maju menelusuri jalanan setapak melewati taman bunga hingga akhirnya ia tiba di sebuah puri kecil.


Puri itu sepertinya termasuk ke dalam bagian istana, hanya letaknya ada di bagian belakang istana.


Puri itu berbentuk seperti bangunan rumah ukuran 24 dengan model China klasik.


Tersembunyi di balik sekumpulan bunga daffodil, Anna bisa melihat beberapa orang wanita muda yang hilir mudik membawa nampan minuman.


Melihat gaya busana wanita-wanita itu, mengingatkan Anna pada pelayan-pelayan istana di film-film China. Dress mereka berwarna krem pucat dengan panjang hingga menutupi mata kaki.


Di bagian pinggangnya, terikat tali dari bahan kain berwarna serupa, dengan ikatan pita di bagian belakang. Rambut para wanita itu semuanya disanggul ke atas. Dengan alas kaki berupa sepatu datar yang terbuat dari bahan kain juga.


Pada mulanya Anna ingin mengamati dulu orang-orang yang tinggal di tempat itu. Ia ingin memastikan apakah ia masih berada di bumi yang sama dengan tempat tinggal lamanya di perum Anggrek Ayu.


Karena secara logika, apa yang Anna alami hari ini sangatlah tidak masuk akal.


Bagaimana bisa sebuah pintu di rumah terbengkalai bisa membawanya pergi ke dunia yang berbeda jauh. Terutama dengan keberadaan pintu-pintu ajaib itu, sampai akhirnya membawa Anna ke tempat ini.


Anna sangsi, jika ia masih berada di kota Jakarta, tempat tinggalnya. Melihat model rumah, keberadaan istana, serta gaya busana wanita-wanita yang baru saja dilihatnya.


"Aku jelas-jelas sedang tidak bermimpi," ujar Anna seraya mencubit pipinya kembali.


Rasa sakit di pipinya itu benar-benar nyata.


"Apa iya, aku melakukan perjalanan waktu ke masa lampau? Ke jaman di mana masih berdiri istana?" Anna kembali menduga.


Tapi, belum sempat Anna mengamati lebih lama, ketika ia merasakan sebuah benda runcing nan dingin menekan bagian belakang kepalanya. Sebuah suara pria pun terdengar dari belakang Anna.


"Siapa kau, penyusup! Area ini adalah area terlarang untuk rakyat biasa! Beraninya kau memasuki area ini!" Hardik suara di belakang Anna.


Jantung Anna serasa melompat saat mendengar hardikan orang itu kepadanya. Terlebih ketika ia hendak berbalik, ujung benda runcing yang menekan tengkuknya itu sempat menggores sedikit bagian kulit luar tengkuknya.


Rasa takut pun akhirnya hadir dan mencekam Anna saat itu juga. Terlebih ketika ia benar-benar sudah berbalik dan mendapati sesosok pria muda berpakaian prajurit tengah menodongkan ujung tombaknya ke wajah Anna.

__ADS_1


Seketika itu juga, wajah Anna langsung pucat pasi. Dalam hati ia berharap, semoga ia bisa melewati hari yang aneh ini dan bertemu Papa Jordan kembali, secepat mungkin.


***


__ADS_2