Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Gelisah


__ADS_3

Ba-dump.


Ba-dump.


Jantung Anna berdentum-dentum.


"Kk..kamu ll..lapar?" Cicit Anna bertanya pada Daffa di atasnya.


Daffa tak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat seraya melahap keseluruhan diri Anna yang terbaring di pangkuannya.


Secara perlahan pandangannya menurun. Mulai dari mata, turun ke hidung, turun ke bibir pink nya Anna.


Membuat wanita muda itu jadi gerah hati karena pandangan Daffa yang bertahan cukup lama di bagian wajahnya yang satu itu.


Hingga tanpa sadar, Anna menggigit sendiri pinggiran bibirnya. Sambil bertahan dari gempuran pesona mata Daffa yang begitu memikat hati.


Dalam satu menit yang serasa seperti berjam-jam lamanya bagi Anna, ia lalu mendapati wajah Daffa yang kian turun dan mendekati wajahnya.


Seiring mendekatnya wajah Daffa ke wajahnya, Anna mendengar deburan ombak hasrat asing yang menggelitiki perutnya. Tangannya tak sadar mengepal di sprei kasur samping tubuh. Bersiap-siap menghadapi sesuatu yang ia tak yakin akan seperti apa rasanya.


Tapi lalu..


"Maaf Pak Daffa. Saya lupa mengingatkan.."


Suara Eva kembali terdengar dekat seperti berada di depan pintu masuk. Tak ayal, Anna terkejut setengah mati. Sehingga ia langsung saja bangun dari pangkuan Daffa dan membentur cukup keras kepala suaminya itu.


Tak ayal, kedua pasutri itu pun mengaduh sakit.


"Argh!" Keluh Daffa.


"Aw!" Anna mengaduh.


Anna langsung berguling dan akhirnya bangun duduk. Ia lalu menjaga jarak dari posisi Daffa berada sambil masih mengelus bagian dahi nya yang tadi terbentur.


Daffa pun tak ubahnya seperti Anna. Ia pun mengelus hidung mancungnya yang serasa retak usai terbentur dengan kepala Anna. Setetes air mata hampir tumpah di ujung kedua matanya.

__ADS_1


Sementara itu, Eva yang tadi tak sengaja menjadi pemecah situasi romantis di dalam kamar, kini terlihat menyesal. Agaknya ia menyadari dengan apa yang baru saja terjadi.


Dengan canggung, malu, dan muka penuh rasa bersalah, Eva pun segera membalikkan badan.


"Mm.. ma..maaf, Pak, Nyo.Nyonya! Saya tadi hanya ingin mengingatkan tentang acara Cocktail Party nya Tuan Chen setengah jam lagi. Apa.. apa perlu saya un..undur kah, Pak?" Tanya Eva dengan suara berdecit.


Eva takut jika Bos nya akan memarahinya karena sudah mengganggu waktu romantis bersama sang istri.


Eva tak ingat kalau Bos nya yang super cuek itu sudah menikah. 'Lagipula, kapan Bos sudah menikah ya? Kenapa tak ada media yang berhasil meliputnya? Mungkin pernikahan ini baru-baru terjadi..?' Eva menduga.


Sementara itu Anna yang sudah mulai pulih dari rasa sakit di dahinya langsung beranjak dari tempat tidur dan memilih kabur ke... Kamar mandi.


Melihat istrinya yang salah tingkah, sedikit meredakan nyeri yang dirasa oleh Daffa. Setelah ekor matanya tak lagi menangkap sosok Anna, Daffa pun berdeham.


"Ehem! Setengah jam lagi, temui saya di depan kamar. Saya mau makan malam dulu.. sama istri saya," titah Daffa kepada Eva.


Sepintas sebelum Eva memberi hormat dan berpamitan, ia sempat melihat sekilas senyuman di bibir tipis Bos Muda nya. Ia tak tahu apa yang telah menyebabkan Bos Daffa tersenyum, meski kegiatannya tadi sempat terganggu.


'tapi syukurlah.. seiya nya Bos gak marah. Lebih baik aku cepat-cepat pergi!' begitu pikir Eva.


Menyadari kalau kini ia bisa dengan bebas mengakui kepada siapapun bahwa Anna adalah 'istri'nya. Memikirkan hal itu saja sudah menarik senyuman kembali di bibir tipis pemuda tampan itu.


Seperti saat ini, ia menyandarkan kepalanya ke sandaran springbed dan menatap langit-langit kamar yang berwarna kuning gading. Sebuah senyuman bahagia tersungging begitu lebarnya di wajah tampan pemuda itu.


***


Setelah melalui makan malam bersama yang sedikit canggung (canggung bagi Anna, tidak dengan Daffa), Daffa pun berpamitan pergi untuk menghadiri acara Cocktail Party yang digagas oleh Mr. Chen. Dan Anna memilih untuk tetap berada di kamar.


Di dalam kamar, Anna berusaha menyibukkan diri dengan kegiatan melihat tv, memainkan game di smartphone, mengecek soft copy tugas sinopsis Novel milik Ayu, menelpon orang di rumah, hingga akhirnya ia menatap pemandangan di luar melalui jendela kamar inapnya.


Saat selesai melakukan semua itu, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Berkali-kali Anna menguap sudah. Bercangkir-cangkir teh dihabiskannya sudah. Tapi Daffa belum jua kembali dari acara cocktail party.


Merasa tak lagi bisa menahan rasa kantuk, akhirnya Anna memutuskan untuk tidur lebih dulu. Ia pun beranjak bangun dari kursi goyang di pinggir jendela, lalu membersihkan diri sebelum akhirnya membaringkan badannya di kasur ukuran king size itu.

__ADS_1


Begitu tubuhnya dibaringkan di kasur sebelah kiri, Anna merasa disergap oleh kesepian yang tak mengenakkan. Matanya nanar menatap langit-langit kamar. Tapi pikirannya nyalang entah kemana. Entah ke sosok siapa.


Sebelum Anna benar-benar menyadari apa yang dipikirkan olehnya sendiri, indera pendengarnya menangkap suara getar smartphone nya yang sengaja ia bisukan. Itu kebiasaan Anna sedari dulu setiap kali hendak beranjak tidur. Tujuannya agar waktu tidurnya tak diganggu.


Mendengar getaran hp yang beradu dengan kayu nakas, mata Anna seketika itu juga terbuka lebar. Tangannya pun sigap meraih hp nya untuk melihat pesan yang baru saja masuk. Dan ternyata, itu dari Daffa. Isinya,


Dari Daffa: Dear Anna. Acara meeting saya belum selesai. Kamu gak usah tunggu saya. Tidur duluan aja ya. Maaf.🙏🌷


Bruk.


Anna langsung melempar hp nya asal ke atas kasur. Tiba-tiba saja rasa kesal memenuhi hatinya.


'Telat banget ngasih tahunya! Kenapa gak dari awal aja bilang kalo pulang malam. Kan aku gak perlu nungguin!' Anna menggerutu.


Anna pun langsung memejamkan matanya kembali rapat-rapat. Namun rasa kesal itu masih mengurungnya begitu erat.


Pada akhirnya ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya. Walau posisinya itu pun tak bertahan lama.


Lima detik kemudian, selimut yang menutupi tubuhnya itu dihempaskan nya ke bawah. Sehingga kini hanya bagian pinggang sampai kakinya saja yang tertutupi selimut.


Anna mendesah keras. Lalu memiringkan badannya ke kanan, ke bagian kasur yang tampak kosong. Dan ia mendesah sekali lagi. Kali ini matanya mulai meredup.


Perlahan rasa kesal itu pun menghilang. Berganti oleh rasa sesak dan sedih karena keheningan dan kesepian yang melingkupinya di kamar inap yang luas itu.


Anna tak tahu jam berapa ia akhirnya tertidur lelap. Tapi ia jelas menyadari, bahkan dalam tidur pun, hatinya tetap merasakan sesak dan gelisah yang sama seperti saat ia masih terjaga.


Samar-samar di kejauhan, telinga Anna menangkap lagu "Sampai Menutup Mata" yang dinyanyikan oleh Acha Septriasa mengalun merdu.


[Aku tak mudah, untuk mencintai..


Aku tak mudah, mengaku ku cinta..


Aku tak mudah, mengatakan aku jatuh cinta...]


***

__ADS_1


__ADS_2