Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Perjamuan


__ADS_3

Sisa acara di hari itu berjalan dengan lancar. Tak banyak tamu yang hadir. Hanya ada sekitar tak lebih dari 20 orang saja.


Kebanyakan adalah saudara dan teman dekat Mama Ira. Ada Tante Salma, Tante Eva, Om Gatot, Om Raja, Fredi dan Jess (putra putri Om Gatot dan Tante Salma), serta beberapa teman dekat Mama Ira yang tak Anna kenal.


Saat acara jamuan berlangsung, Daffa juga mengenalkan seorang wanita usia 50 an yang tadinya Anna kira adalah ibunya Daffa. Tapi dugaan Anna salah.


Saat wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Soraya, Bibi Daffa. Tapi, melihat sikap Daffa pada wanita itu, Anna tahu kalau Bibi Soraya sudah seperti ibu bagi suami barunya itu.


"Anna, kenalkan. Ini Jack, Jill, dan Jo. Mereka kolegaku." Daffa kembali memperkenalkan Anna pada temannya.


Kali ini Anna berhadapan dengan tiga pemuda yang usianya sepertinya tak jauh di atas Daffa.


Daffa menyebutkan ketiga pemuda tampan itu sebagai koleganya. Tapi Anna menilai Daffa memiliki keakraban yang lebih dengan pemuda-pemuda itu.


'mungkin mereka best friend nya?' Anna menduga.


"Lo bakal nyesel, Anna. Karena mau nikah sama Daffa. Emang gak ada cowok laen apa?" Canda Jill, pemuda berkulit cokelat yang menjadi salah satu staff advokat di perusahaan Zi Tech.


Anna membalas candaan Jill dengan segaris senyuman. Ia merasa canggung setiap kali berhadapan dengan laki-laki. Kecuali Daffa, mungkin.


"Jangan dengerin bocah tengil ini, An. Dia emang sirik sama segala yang Daffa punya. Maklum lah, namanya juga OKB. Jadi selalu iri sama Daffa yang notabene nya udh tajir bahkan sebelum dia lahir," Sahut Jack, teman Daffa lainnya yang berprofesi sebagai CEO dari salah satu stasiun TV terkenal, Star-TV.


"Sial! Mana bisa tajir sebelum lahir. Ngaco lu, Jack!" Gerutu Jill.


"Bisa lah. Macam gua juga udah tajir sedari lahir. Lihat aja kulit gua dan Daffa. Putih bagus dong ya. Lha elu. Punya kulit macam warna kopi item." Seloroh Jack.


"Woy! Jangan rasis deh lu. Segala bawa-bawa warna kulit lagi. Kalo Daffa sih namanya lagi beruntung aja rezekinya dapet warna kulit putih. Kalo lu, gua ragu aslinya lo putih dah. Kali aja lu pake suntik pemutih kayak artis-artis asuhan lo. Nih. Lihat kulit gua nih. Cokelat bagus, tanda kemaskulinan gua yang otentik."


"Heh! Gua tuh asli putih dari lahir. Jangan asal ngomong deh lo. Gua laporin lu ke pengacara gua."


"Siapa pengacara lo. Dijamin takut pasti kalo ngadepin pengacara kondang macam gua."


Anna merasa canggung mendengar percakapan nyeleneh teman-teman Daffa ini. Tapi ia juga tak kuasa menahan tawa mendengar percakapan antara Jack dan Jill. Sebuah tawa pendek tak sengaja keluar dari mulut Anna.


"Hey! Udah jangan berisik." Tegur Jo, kawan lain Daffa yang sedari tadi lebih banyak diam. "Maklumin mereka ya, An. Mereka emang sering ribut kalo udah ketemu. Padahal aslinya dua orang ini sama-sama tengil. Kayak Jack dan Jill yang asli!" Ucap Jo lagi sambil menaik turunkan alisnya berkali-kali.


Spontan saja Anna tertawa lebih lebar. Ia melirik Daffa di sampingnya yang hanya tersenyum tipis sedari tadi.


Anna heran, bagaimana Daffa bisa akrab dengan ketiga orang pemuda yang punya sense of humor yang tinggi. Sementara Daffa..

__ADS_1


"Kamu kenapa lihatin saya?" Tanya Daffa merasa heran, saat Anna memperhatikannya dengan pandangan aneh.


Anna mengalihkan pandangan. "Gak apa-apa."


"Ayo, saya kenalin lagi kamu sama yang lain. Lebih baik kamu jangan deket lama-lama sama Jack, Jill, dan Jo kalau gak mau ketularan gilanya mereka!" seloroh Daffa sambil mengajak Anna menemui tamunya yang lain.


Dengan dipapah oleh Daff, Anna diajak duduk ke salah satu kursi tamu yang berada di halaman rumah.


"Tunggu di sini sebentar ya. Saya mau ke kamar kecil," Tutur Daffa.


Anna mengangguk. Mengamati sosok Daffa yang menghilang ke dalam rumah.


Merasa haus, Anna mengambil sebuah gelas berisi cairan oranye di meja bundar yang ada di dekatnya.


Baru juga Anna menenggak separuh isi dalam gelasnya, ketika Anna mendengar sebuah teriakan nyaring milik seorang wanita.


"Kalau jalan tuh lihat-lihat dong. Lihat, bajuku jadi basah kan." Seru suara yang terdengar cukup nyaring.


Anna mencari asal suara sampai matanya menangkap sesosok gadis muda seumurnya tengah mengelap bagian pinggang dress pink nya.


Anna lalu menangkap sosok Zizi yang tampak diam kebingungan di hadapan gadis yang tadi marah-marah. Anna terkejut.


'bagaimana Zizi bisa ada di sini? Bukankah seharusnya ia ada di taman belakang bersama Bi Inem?' Anna bertanya dalam hati.


Anna bersyukur, dress pengantin yang dikenakannya tak terlalu berat. Rasanya seperti memakai dress yang biasa dipakainya sehari-hari.


"Maaf, ini adik aku. Tolong maafkan dia kalau dia sudah menumpahkan minuman ke baju kamu. Dia gak sengaja," Tutur Anna saat ia sudah berada di samping Zizi.


Menyadari kehadiran Anna, Zizi langsung mendekat dan berdiri di belakang Anna.


"Ooh.. " gadis itu tampak menahan kekesalannya untuk sesaat.


Karena sesaat kemudian, saat Anna berbalik hendak mengajak Zizi kembali ke kamarnya, Anna mendengar gadis itu mencibir.


"Pantaslah. Orang kampung memang gak punya etika!"


Anna merasa kesal. Ia langsung berbalik dan hendak mengejar gadis menyebalkan tadi. Tapi tarikan di bajunya membuatnya tertahan.


Zizi seolah memintanya untuk mengacuhkan gadis menyebalkan tadi. Anna pun menyabarkan diri. Ia lalu mengajak Zizi kembali ke kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


***


Acara perjamuan berakhir sekitar jam 1 siang. Anna dan Daffa masing-masing menyalami orang yang mereka kenal.


Ketika tamu yang Anna kenal sudah pulang, Anna melihat ke arah Daffa berada. Saat itu ia sedang bersalaman dengan seorang pria paruh baya.


Keduanya sepertinya sedang membincangkan sesuatu yang menyenangkan. Karena Anna melihat Daffa tersenyum hangat pada Bapak itu.


Anna memutuskan untuk duduk sambil mengamati pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Ia tak menyangka kalau hari ini ia akan benar-benar menikah. Rasanya seperti masih bermimpi saja, pikir Anna.


Tak lama Bapak yang tadi berbincang dengan Daffa pun berlalu pergi. Tapi lalu Anna menangkap pemandangan yang membuatnya kesal.


Gadis yang tadi sempat menghina Zizi "anak kampungan" terlihat berbincang santai dengan Daffa.


Yang membuat Anna merasa sebal adalah karena gadis itu memeluk lengan Daffa dengan akrab, dan Daffa membiarkannya.


Anna langsung berdiri. Ia tak sadar kalau ia sudah akan menghampiri suaminya dan gadis menyebalkan itu jika saja ia tak mendengar Tedi, adik bungsunya memanggil.


"Kakak..Kak Anna.." panggil Tedi.


"Ya.. ya, Ted?" Tanya Anna dengan perhatian teralih.


"Mama di mana?" Tanya Tedi dengan suara pelan.


Anna memandang Tedi. Adik bungsunya itu tampak pucat sekali. Seketika itu juga perhatian Anna fokus beralih pada Tedi. Rasa khawatir pun menyusup ke dalam hatinya.


Anna berjongkok di depan Tedi dan bertanya. "Tedi sakit? Udah makan? Udah minum obat, sayang?"


Anna meraih jemari Tedi. Ia terkejut karena jemari Tedi agak lebih dingin dibanding biasanya.


"Tedi mau Mama.." pinta Tedi.


"Tedi capek? Tedi balik ke kamar dulu aja ya, sayang. Nanti Kakak yang cari Mama. Oke?" Bujuk Anna.


Tedi mengangguk. Maka setelahnya Anna pun masuk ke dalam rumah untuk mengantarkan Tedi ke kamarnya. Kamar Tedi berada dekat dengan dapur.


Tepat sebelum melewati pintu masuk, Anna melirik sekali lagi ke arah Daffa. Dan Anna langsung menyesalinya. Karena pemandangan terakhir yang dilihatnya membuat hatinya sangat kesal.


Gadis yang tadi memeluk lengan Daffa, baru saja memeluk Daffa cukup erat. Dan Daffa terlihat membalas pelukan gadis itu dengan satu tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menepuk pelan kepala gadis itu.

__ADS_1


"Ugh! Dasar nyebelin!" Anna mendesis kesal.


***


__ADS_2