Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Pertemuan dan Perpisahan


__ADS_3

Maha Guru Sodik mendekati meja tempat Jordan dan Anna berada. Di belakangnya, seorang gadis menyertainya dalam diam.


Mata Anna beralih dari Kakek Sodik, ke gadis pendiam, dan kembali lagi ke Kakek Sodik.


Anna baru menyadari kalau ternyata saat mereka bertemu pertama kalinya, Maha Guru Sodik sudah memakai pakaian khas penduduk negeri Nevarest. Yakni kaos dalam yang ditutupi rompi tanpa lengan.


Sama seperti saat ini, penampilan Kakek Sodik (demikian kita akan menyebutnya untuk seterusnya) pun tak berubah. Ia masih mengenakan baju rompi warna tanah yang sudah terlihat biasa namun rapih.


Sementara gadis pendiam yang mengikutinya sedari awal mengenakan baju dengan warna serupa, warna tanah.


Begitu sampai di depan Jordan dan Anna, Kakek Sodik segera duduk di bangku kosong yang ada di hadapan mereka. Diikuti kemudian oleh gadis pendiam serta Raja Jordan yang ikut kembali duduk.


"Lama tak berjumpa, Anna! Duduklah!" Kakek Sodik memberi perintah kepada Anna yang terlihat masih kebingungan.


Dengan perasaan bingung, Anna pun kembali duduk. Lalu ia tersadar dengan keadaan membeku yang terjadi di sekitarnya saat itu. Sehingga Anna pun bertanya entah pada siapa.


"Apa yang terjadi dengan semua orang? Kenapa mereka membeku sementara kita tidak?" Tanya Anna.


"Mereka tidak membeku, Anna. Mereka hanya mengalami pemberhentian waktu. Mereka akan kembali normal nanti," jawab Papa Jordan.


"Ya. Sudahlah, Nak. Lebih baik kita makan dahulu. Tak baik berlama-lama membiarkan makanan yang sudah terhidang. Ayo, silahkan makan!" Kakek Sodik mempersilahkan.


Anna termangu dengan tingkah kakek di hadapannya itu.


Seingat Anna, terakhir kali ia bertemu Kakek Sodik, kakek itu begitu pendiam dan irit kata.


Tapi lihatlah sikap kakek Sodik saat ini. Ia tampak sibuk menyantap makanan pesanan Anna dan Jordan dengan lahap, tanpa menghiraukan apapun.


Di samping Anna, Papa Jordan ikut melahap makanan di meja dalam diam. Jelas ia sudah terbiasa dengan sikap eksentrik guru spiritualnya itu.


"Unge, makanlah. Perjalanan kita masih panjang!" Ucap Kakek Sodik tiba-tiba.


Anna menduga yang dipanggil Unge barusan oleh Kakek Sodik adalah si gadis pendiam. Karena detik kemudian, gadis pendiam yang tadinya hanya duduk diam pun akhirnya ikut makan. Walau ia tak se lahap Kakek Sodik.


Sementara itu, Anna mau tak mau pun akhirnya ikut menyantap pesanannya. Meski ia merasa masih aneh karena mereka berempat sibuk makan di saat segala hal di sekitar mereka menjadi patung.


Anna tak makan terlalu banyak. Jadi ia selesai lebih dulu. Tak lama, Jordan dan Unge juga selesai. Tinggal Kakek Sodik yang masih terlihat lahap menyantap makanan yang terhidang di meja.


'Kupikir tadi Papa memesan terlalu banyak makanan. Sepertinya Papa tahu kalau Kakek Sodik akan datang,' Anna membatin.


Setelah semua piring bersih dari hidangannya, barulah Kakek Sodik selesai makan.

__ADS_1


Baru lima menit kemudian Kakek Sodik berbicara lagi.


"Jordan, setelah ini kembalilah langsung ke kerajaanmu. Lakukan yang menurutmu terbaik untuk kerajaanmu. Dan berhati-hatilah dengan Orang Barat. Terutama pada purnama ke 11. Kau harus tetap berada di tempatmu," ucap Kakek Sodik.


"Baik, guru!" Sahut Jordan.


Di samping Jordan, Anna tak mengerti dengan ucapan Kakek Sodik. Tapi ia memilih untuk diam. 'Toh Kakek itu bukan berbicara padanya,' pikir Anna.


Kemudian, Kakek Sodik beranjak berdiri. Pun jua dengan Unge.


Tapi sebelum membalikkan badan, ia menatap Anna dan berseru, "Kau, Nak! Ikuti Aku!".


Lalu Kakek itu berdiri dan mulai beranjak pergi. Diikuti oleh Unge di belakangnya. Serta. Jordan yang juga ikut berdiri dan memberikan penghormatan terakhir dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Sementara itu, Anna masih duduk termangu. Tak mengerti dengan ucapan Kakek Sodik barusan.


Tapi kemudian suara Jordan terdengar menegurnya. "Anna! Ikutilah Maha Guru!"


"Anna ikut... Kakek itu, Pa?" Tanya Anna memastikan.


"Ya. Ikutilah apa kata Maha Guru. Beliau tahu dengan apa yang seharusnya dilakukan," jawab Jordan.


Dengan perasaan bingung, Anna pun menggegaskan langkahnya mengejar Kakek Sodik dan Unge. Sambil setengah berlari, Anna memikirkan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


Anna tak tahu kemana takdir akan membawanya pergi. Di satu waktu ia kehilangan Papa. Lalu ia berusaha untuk mencarinya dan menunggunya.


Baru kemarin takdir mempertemukannya kembali dengan Papa, tapi sekarang Papa malah menyuruhnya untuk pergi?


Walau begitu, Anna adalah anak yang patuh. Ia yakin kalau Papa tak akan membiarkannya pergi bersama orang yang jahat. Walau hingga kini Anna tetap merasa aneh karena harus mengikuti orang asing.


Dan, tiba-tiba saja Anna tergerak untuk menengok ke belakang kembali.


Ia melihat, waktu kembali berjalan. Dan aktivitas orang-orang yang ada di kedai pun kembali berlangsung.


Mata Anna fokus ke tempat di mana ia tadi berada. Dan, apa yang dilihatnya membuatnya tak bisa menahan senyum.


Tampak olehnya wajah kebingungan pelayan yang tadi mengantarkan makanan ke meja Anna. Pikir Anna, 'Pasti pelayan kedai kebingungan. Karena baru 'sedetik' yang laku ia menaruh piring di atas meja. Dan detik berikutnya, semua makanan di atas piring telah raib!'


Anna lalu berpikir, 'Memainkan waktu sungguh kegiatan yang menarik!'.


Ketiganya pun berlalu pergi. Dengan Anna dan Unge yang mengikuti langkah Kakek Sodik dalam diam.

__ADS_1


***


Setelah berjalan cukup lama, kaki Anna mulai merasa pegal. Tapi ia menyabarkan diri dan tidak mengeluh.


'Mungkin sudah dua jam berlalu. Kemana sebenarnya Kakek Sodik akan pergi?' Anna bermonolog dalam hati.


Kemudian Anna melirik ke samping kirinya. Tatapannya bersirobok dengan mata badam nya Unge. Spontan saja Anna memberi segaris senyuman pada Unge. Yang, dijawab langsung dengan sikap acuh.


Anna merasa agak sebal pada Unge. Tapi ia tidak me unjukkan kekesalannya.


Akhirnya Anna memutuskan untuk meneruskan sisa perjalanannya dalam diam.


Sekitar satu jam kemudian, kaki Anna benar-benar bergetar karena kepayahan berjalan kaki. Ia menyesalkan pilihan Kakek Sodik untuk tidak menyewa skuter atau minta diantarkan Papa saja sekalian.


Tapi kemudian Anna tersadar. Tak mungkin bagi dua alat transportasi semacam skuter atau mobik untuk bisa melewati jalan kecil berbatu yang telah mereka lewati.


Apalagi lebar jalanan nya pun sempit dan terdapat banyak genangan air, bekas hujan semalaman.


Mereka harus melewati jalanan berbatu, menyebrangi sungai, mendaki bukit yang dipenuhi oleh pepohonan berduri, sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan mereka.


"Kita sudah sampai. Selamat datang, Anna. Ke Desa Kabut. Kamu akan tinggal di sini selama beberapa waktu. Untuk meningkatkan inner power mu. Lagipula, tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sementara waktu ini," ujar Kakek Sodik.


Anna pun menatap pemandangan sebuah desa kecil dari atas bukit. Desa itu tampak sepi, karena hanya terdapat sekitar belasan rumah di sana. Beberapa orang tampak menunggangi hewan yang memanggul karung entah berisi apa.


Suara decitan burung terdengar merdu saat menyambut kedatangan Anna di desa Kabut. Dengan suara pelan, Anna bergumam, 'Sepertinya desa ini desa yang damai'.


Dan, Unge yang sedari awal perjalanan selalu diam. Tiba-tiba saja mengomentari gumaman pelan Anna.


"Ini memang desa yang damai. Karena seperti namanya, Desa Kabut. Desa ini keberadaannya ditutupi oleh kabut Chi dari batu mulia Anakki. Tak ada orang yang bisa masuk ke desa ini, tanpa seijin sang pemegang kunci,"


"Oh!... Siapa pemegang kunci desa ini?" Anna spontan bertanya.


Dan Unge kembali menjawab pertanyaan Anna. Walau dengan sebuah pertanyaan pula.


"Siapa lagi?" Ucap Unge, seraya mengedikkan kepalanya ke arah Kakek Sodik.


"Oh.."


Selanjutnya, Anna mengikuti langkah Kakek Sodik dan Unge memasuki desa. Dengan sebuah harapan dalam hati, "Semoga ada hal baik yang bisa terjadi padaku di desa ini. Dan semoga, aku bisa segers pulang dan berkumpul lagi dengan Papa dan Mama Elva. Aamiin.."


***

__ADS_1


__ADS_2