Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Perkara Keran di Kamar Mandi


__ADS_3

Ba-dump. Ba-dump.


Dua jantung berdentum kencang


Ba-dump. Ba-dump.


Dua pasang netra yang terus terpejam


Ba-dump. Ba-dump.


Dua bibir sibuk mencari,


Merasa haus oleh sebab rasa yang asing


Ba-dump. Ba-dump.


Tangan-tangan yang memegang erat,


Ba-dump. Ba-dump.


Memeluk rasa yang telah tumpah, lagi membuncah


Ba-dump. Ba-dump.


Sementara dunia seolah kosong,


Ba-dump. Ba-dump.


Dan denting waktu dirasa terhenti.


'Oh, Tuhan! Perasaan apakah ini?' batin Anna berkecamuk.


Anna tak tahu apa yang merasukinya kini. Ia merasa tak bisa berhenti untuk terus meluruh dalam ci*umannya dengan Daffa. Ada rasa asing yang terus membesar dan mengoyak keseluruhan isi jiwanya. Tapi anehnya ia merasa tak sakit ataupun terluka. Hanya haus dan haus saja yang dirasakan Anna, sehingga ia membiarkan dirinya bergumul dalam ci*uman dari pemuda itu.


Sampai ketika ia merasa tak lagi mampu untuk berdiri, sehingga keseluruhan tubuhnya ia sandarkan pada tubuh Daffa. Kedua tangan kekar milik pemuda di hadapannya itu dengan sigap menangkap pinggang ramping Anna. Dan pergumulan itu terus berlanjut. Sampai...


Daffa berhenti. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan bibirnya dari bibir Anna. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Dan, benar saja. Ketika kedua bibir mereka tak lagi berpa*gut, Anna megap-megap mengambil napas dari udara kosong di antara mereka.


"Hah! Hah! Hah! Hah!" Anna bernapas cepat-cepat.


Daffa memerhatikan wajah Anna yang kini tampak kemerahan. Pupil gadis itu terlihat membesar dan memandang Daffa dengan pandangan yang menghipnotis.


Setelah napas Anna mulai kembali normal, Daffa pun tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.


"Kamu..!" Daffa berhenti. Antara merasa geli hati dan sedikit kepayahan karena ia masih berjuang untuk memadamkan bara yang masih berkobar di bagian anggota tubuh di bawah perutnya.


"Kamu kenapa nahan napas?" Tanya Daffa akhirnya.

__ADS_1


"Aku.. aku lupa." Anna mengaku dengan ekspresi polos.


"Hah?!" Daffa kaget. Tak pelak, ia langsung saja tertawa terbahak-bahak. Dan Anna yang masih berada dalam kurungan tangan kekarnya itu pun turut terguncang bersamaan dengan tubuh Daffa.


Menyadari jawaban konyolnya barusan, Anna menunduk malu. Saat menunduk itu, Anna tak sengaja malah merebahkan kepalanya di dada bidang milik Daffa. Dan ia bisa mendengar jelas suara jantung Daffa yang juga masih berdentum kencang.


Ba-dump. Ba-dump.


Tanpa sadar, seulas senyum kembali hadir di bibir merahnya Anna.


'Ternyata bukan aku saja yang merasa grogi. Sepertinya Daffa pun grogi. Detak jantungnya kencang sekali,' Anna membatin.


Ketika Daffa telah berhenti tertawa, ia membiarkan Anna menyandarkan kepala padanya. Merasa sedikit jengah, Anna lalu hendak melepaskan dirinya dari pelukan suaminya itu. Tapi Daffa malah menahan tubuh dan kepala Anna hingga tetap melekat dengan tubuh kekarnya.


"Tolong.. sebentar lagi saja. Ijinkan saya memeluk kamu selama beberapa saat lagi," pinta Daffa.


Kemudian dengan penuh kasih dikecupnya ujung kepala Anna. Membuat Daffa samar-samar bisa menangkap aroma bunga dari rambut hitam istrinya itu.


Sekitar 2 menit kemudian, Anna dan Daffa menikmati keheningan bersama senja. Hingga saat senja telah benar-benar pergi, dan langit yang hampir sempurna menggelapkan diri, Anna tersadar akan sesuatu.


"Eh! Kita belum sholat maghrib," ujar Anna. Secara reflek, ia mendorong dada Daffa dengan cukup keras. Dan Daffa yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Anna pun terhuyung mundur hingga punggungnya menyentuh kaca balkon.


Anna lalu bergegas menuju ruang bersantai, tempat di mana koper kecilnya berada. Ia tak memperhatikan wajah frustasi Daffa yang merasa terabaikan oleh istri yang baru dinikahinya itu.


Dari dalam koper kecilnya, Anna mengeluarkan peralatan mandi, baju ganti, juga alat shalat. Ia membawa tumpukan kain di tangannya itu ke kamar tidur dan menaruhnya di salah satu kasur.


Begitu berada dalam kamar mandi, Anna langsung melucuti pakaian yang dikenakannya dan menaruhnya di pinggir wastafel. Tapi begitu ia memasuki bagian kamar mandi yang terdapat bath tube, Anna malah kebingungan. Karena ia tak tahu bagaimana cara mengalirkan air untuk mandi. Ini terjadi lantaran, di sana ia tak melihat satupun keran atau tombol.


Anna menggaruk kepalanya yang tak gatal. Setelah bolak-balik mencari sumber tempat air keluar, dan tak jua menemukannya. Anna pun melirik wastafel tempat ia menaruh baju kotornya. Ia pun sempat kebingungan melihat keran wastafel itu. Karena ia juga tak menemukan kenop atau tombol di sana.


Setelah usaha menekan sana dan sini, secara tak sengaja akhirnya Anna berhasil menemukan cara mengalirkan air di wastafel itu. Ternyata ia hanya perlu agak menundukkan pipa air, dan setelah terdengar bunyi 'tuk' pelan, maka air akan mengalir dari pipa kecil yang terbuat dari stainless steel itu.


Setelah berhasil menyalakan keran di wastafel, Anna jadi bersemangat lagi untuk menemukan cara menghidupkan keran air shower. Ia pun kembali ke tempat bath tube berada, dan menyelidiki rangkaian pipa shower lebih seksama lagi.


Dua menit berlalu tanpa hasil, Anna akhirnya menyerah. Ia putuskan untuk menanyakan pada Daffa cara menghidupkan keran air di sana. Tapi sebelum itu, ia ke tempat wastafel untuk memakai kembali baju kotornya. 'Tak mungkin juga kan dia keluar hanya mengenakan handuk?' begitu pikir Anna.


Sayangnya, begitu ia melihat ke pinggir wastafel, di mana ia menaruh gaunnya tadi. Anna menggerutu kesal lantaran gaunnya yang berbahan satin itu malah terjatuh ke bak wastafel. Begitu ia mengangkat gaunnya dari sana, ternyata beberapa tempat di bagian gaunnya telah basah oleh sebab air yang menggenang di bak.


Tadi ketika berhasil menyalakan keran di wastafel, Anna memang belum mencabut tutup penyumbat bak wastafelnya. Jadi terdapat genangan air di bak wastafel itu.


Merasa agak kesal dengan apa yang terjadi, Anna akhirnya memaksakan diri untuk mengenakan gaun yang telah basah di beberapa bagiannya itu. Setelahnya, Anna langsung keluar dari kamar mandi dan mencari Daffa.


Daffa tak lagi berada di dekat pintu kaca yang menuju balkon. Jadi Anna mulai mencari suaminya itu ke ruangan lain.


"Daff..!" Panggil Anna.


"Daffaa..!" Panggil Anna kembali.

__ADS_1


Tak lama, Anna mendengar suara aliran air tak jauh dari posisi ia berada. Saat itu Anna berada di ruang bersantai. Jadi ketika ia mendengar suara aliran air dari shower, Anna pun menerka kalau Daffa sedang mandi di kamar mandi yang lain.


Anna mendekat ke salah satu pintu yang berada di ruangan bersantai itu. Setelahnya, Anna memanggil Daffa ketika didengarnya aktivitas manndi Daffa telah selesai.


"Daff, kamu udah mandi? Aku juga mau mandi..," panggil Anna dengan suara pelan.


"Ya, sebentar!" Sahut Daffa.


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Dan Anna langsung dihadapkan pada pemandangan yang membuat wajahnya seketika merah menyala.


Di pintu kamar mandi, tampak Daffa hanya mengenakan sehelai handuk putih yang menutupi area vital bawahnya. Anna melihat jelas otot perut Daffa yang berundak-undak. Juga otot lengan Daffa yang berukuran sedang dan likat. Itu mengingatkan Anna pada roti sobek yang ia suka.


Butiran air sisa mandi masih terlihat di beberapa bagian tubuh kekar Daffa. Meninggalkan kesan segar di mata dan benak Anna. Lalu tiba-tiba saja dentum kencang kembali bertabuh di dada gadis itu. Tak sengaja Anna teringat pada ci*umannya dengan Daffa kala sunset tadi.


Merasa malu, Anna secepat kilat langsung membalikkan badan dan membelakangi sosok suaminya itu. Dan seketika itu juga suasana berubah jadi hening. Sampai akhirnya terdengar suara batuk Daffa. "Eh.hem!"


"Kamu mau mandi? Memangnya kamar mandi di kamar rusak?" Tanya Daffa dengan suara yang terdengar lebih berat dari biasanya.


Masih membelakangi Daffa, Anna malu-malu menjawab, "Iya. Aku.. gak ngerti cara hidupin kerannya." Dan beberapa saat kemudian, Anna lanjut bicara, "Soalnya gak ada kenop untuk muterin keran airnya sih."


"Ooh..," sahut Daffa. "Mau kutunjukin caranya?" Daffa menawarkan bantuan.


Anna menggeleng cepat. "Enggak! Enggak perlu. Aku mandi di kamar mandi sini aja deh!"


"Ooh.. Oke. Silahkan. Di dalam, model keran airnya diputar kok kenop nya," Ucap Daffa menjelaskan.


Setelahnya Daffa melewati Anna dengan langkah yang lebar dan agak cepat. Sementara Anna masih saja diam terpaku di tempat.


Ba-dump. Ba-dump.


Kembali, Anna bisa mendengar dentum jantungnya yang lebih kencang dibanding biasanya. Terlebih ketika aroma badan Daffa yang segar menguar dan memikat Anna. Tanpa sadar, Anna sudah mengepalkan kedua tangannya di depan dada, layaknya ia sedang berdoa. Ia berharap Daffa tak bisa membaca benak dan hasrat liar yang baru saja muncul dipikirannya.


Sebelum sosok Daffa menghilang ke dalam kamar tidur, Anna bergegas masuk ke kamar mandi yang tadi ditinggalkan oleh Daffa.


"Harus bergegas ini. Waktu maghrib kan mepet banget," gumam Anna perlahan. Anna mengacuhkan rasa asing yang tadi sempat kembali menyergapnya saat melihat Daffa yang hanya memakai handuk.


Debur jantung Anna pun perlahan kembali normal. Dan di pikirannya kini hanya ada satu tujuan saja. "Aku harus cepat-cepat shalat. Sebelum waktu maghrib terlewat!" Begitu pikir Anna.


***


Sementara itu Daffa yang baru masuk ke ruangan tidur kini sibuk memadamkan bara hasrat yang tadi sempat kembali muncul.


Bagaimanalah tidak muncul, jika ia melihat pemandangan tubuh bagian belakang Anna yang terlihat transparan di balik gaun putihnya yang telah basah. Entah disengaja atau tidak, yang jelas Daffa kini harus kembali mandi air dingin untuk menidurkan kembali bara hasratnya.


"Jangan-jangan Anna sengaja melakukannya? Ish. Harus cepat-cepat sholat sekarang. Setelah itu mungkin kami bisa melanjutkan kembali momen romantis kami yang tadi." Daffa pun berandai-andai.


***

__ADS_1


__ADS_2