Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Audiensi


__ADS_3

"Yang Mulia! Yang Mulia Ratu!"


Anna tersadar dari lamunan panjangnya. Pikirannya kembali fokus ke masa kini. Pandangannya pun kembali terpatri pada pemandangan istana dan ibu kota Nevarest yang dilihatnya dari jendela di menara tinggi.


Saat suara barito seorang pengawal akhirnya membangunkannya dari lamunan panjangnya tentang saat-saat pertama Anna tiba di Nevarest.


Anna lalu membalikkan badan.


Etika kerajaan mengajarkannya untuk membalikkan seluruh badan saat menghadap orang yang memanggil kita. Kepada siapapun itu, bahkan kepada seorang pengawal sekali pun.


Seperti saat ini. Anna langsung membalikkan badannya menghadap seorang pengawal yang tadi memanggilnya.


Begitu melihat wajah pengawal tersebut, Anna sempat tercenung selama beberapa detik. Karena pengawal di hadapannya adalah pengawal yang sama dengan pengawal yang dulu menodongkan ujung tombak kepada Anna saat ia baru tiba di Nevarest.


Syukurlah saat itu pengawal yang bernama Abud itu cukup bijak dan tak langsung menancapkan tombak ke leher Anna. Karena setelah beberapa saat mengamati wajah Anna, Abud langsung jatuh terduduk dan mengucap maaf kepadanya.


Saat itu Abud mengira Anna sebagai putri Tasya yang telah menghilang pada tiga bulan yang lalu. Kemudian Abud langsung mengantarkan Anna yang saat itu sangat kebingungan, langsung ke kamar utama kerajaan. Di mana kediaman utama Ratu Elva berada.


Dan, di kamar Sang ratu itulah akhirnya Anna bisa bertemu kembali dengan mama nya. Sekaligus mengetahui sebab sebenarnya mengapa sang Mama memilih untuk pergi meninggalkan ia dan Papa di bumi.


Ternyata penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah kesalahpahaman yang telah diciptakan oleh Mama Ira, ibu tiri Anna, sekaligus juga adalah istri kedua Papa Jordan.


Mendengar cerita dari Mama, Anna sebenarnya hendak langsung berbalik dan kembali ke bumi untuk meminta penjelasan pada ibu tirinya itu. Tapi Mama Elva menahannya.


Sedari dulu Anna memang merasa tak bisa akrab dengan Mama Ira. Tapi Anna tak menduga kalau ibu tirinya itu ternyata memiliki andil dalam terjadinya perpecahan di keluarganya.


"Yang Mulia Ratu! Ratu Anna!"


Suara Abud kembali terdengar dan menyadarkan Anna untuk ke sekian kalinya.


Kali ini Anna langsung balas menyahut Abud.


"Ya?"


"Para menteri dan pejabat tertinggi sudah berkumpul di aula besar. Mereka menunggu kehadiran Yang Mulia Ratu," papar Abud menerangkan.


Anna mengerjap kan mata nya sekali. Ia teringat dengan alasan para menteri dan pejabat itu berkumpul di aula. Tak lain adalah untuk mengabarkan kepulangan Papa Jordan, sekaligus adalah Raja Jordan yang telah lama dikabarkan menghilang dari Nevarest.

__ADS_1


"Baik. Terima kasih, Abud!" Ucap Anna.


Kemudian bersama Abud di depannya, Anna pun menuruni tangga-tangga di menara tinggi.


Setelah sampai di lantai terbawah menara tinggi, Anna pun langsung melangkahkan kakinya ke aula besar. Tempat ia melakukan audiensi kerajaan.


***


Setibanya Anna di Aula, semua menteri dan pejabat istana langsung sedikit menundukkan kepala mereka. Itu adalah bentuk penghormatan pada keluarga kerajaan atau seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi.


Anna kemudian langsung menuju kursi tahta nya yang berada di tempat terujung dari pintu masuk Aula. Dengan posisi kursi Anna sengaja ditempatkan lebih tinggi dari tempat duduk para menteri.


"Salam sejahtera bagi kita semua!" Sapa Anna dengan suara lantang yang dikeraskan dengan pengeras suara.


"Salam sejahtera bagi ratu, keluarga, dan seluruh penduduk negeri Nevarest!" Jawab para hadirin audiensi.


Anna menatap sekilas ke seluruh menteri serta pejabat yang hadir dalam audiensi pada sore hari itu.


Anna lalu menyadari kalau hampir seluruh audien sore hari itu adalah wajah-wajah baru yang tak dikenalnya dengan baik.


Anna memang baru lima tahun tiba di Nevarest. Tapi selama lima tahun ini, Anna sudah melalui semua pendidikan yang harus dilalui oleh setiap anggota kerajaan.


Anna juga sudah diperkenalkan dengan orang-orang kepercayaan ibunda ratu Elva. Tapi, wajah orang-orang yang dipercayai oleh ibunya itu kini hanya tinggal sedikit saja. Terlebih pada audiensi sore ini.


Hampir tujuh puluh persen para menteri yang dipercayai oleh ibunda Ratu kini telah diganti dengan sosok menteri yang baru. Sebagian dari mereka mengundurkan diri, dan sebagian lainnya...dibunuh.


Anna merinding saat ingatannya sekilas berbalik ke sembilan bulan yang lalu. Saat Bunda Rani nya mulai sering terbaring di pembaringan karena racun yang sengaja diberikan oleh entah siapa.


Saat itulah mulai sering terjadi pembunuhan para pejabat yang dikenal telah lama mendukung keluarga kerajaan.


Anna yang belum begitu mengenal alur dan intrik yang ada di istana, mulanya tak menganggap serius kejadian-kejadian tragis itu. Karena saat itu ia sedang fokus mencari pengobatan terbaik untuk ibunda ratu yang sakit.


Lalu, tiba-tiba saja ia didesak untuk menggantikan posisi ibunda ratu sekitar empat bulan yang lalu. Dan dengan terpaksa, sebulan kemudian ia pun naik tahta menjadi ratu tunggal negeri Nevarest.


Anna pun mulai disibukkan dengan kegiatan membaca laporan-membaca laporan dan membaca laporan. Terlalu banyaknya laporan yang harus dibaca dan seringkali tak ia pahami membuat Anna hampir ingin menyerah dan turun tahta.


Tapi, Anna mencoba menabahkan diri. Melihat ibunda ratu yang sakit di pembaringan. Menanti kedatangan Papa Jordan yang hingga lima tahun ia tunggu di Nevarest belum jua datang.

__ADS_1


Walau sepelik apapun kendala yang ia hadapi sebagai ratu tunggal di Negeri Nevarest saat ini, dalam lubuk hatinya Anna masih yakin akan adanya jalan keluar.


Akan selalu ada harapan bagi mereka yang tak pernah menyerah pada takdir. Begitulah prinsip hidup Anna selama ini.


Kembali ke Aula Besar tempat Audiensi berlangsung.


Anna menjernihkan pikirannya kembali sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.


"Kepada semua petinggi istana, terima kasih telah hadir di audiensi sore ini. Mungkin hampir kalian semua bertanya-tanya, apa alasan audiensi kali ini diadakan?" Anna melempar pandang tanya kepada para audien.


Terlihat semua menteri dan pejabat istana saling berpandangan satu sama lain.


'Sepertinya kedatangan Papa belum tersebar. Syukurlah!' Anna membatin.


Anna kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Telah kita ketahui, bahwa masa-masa suram telah dilalui oleh negeri kita tercinta. Sejak peperangan besar Agara, perpecahan saudara dua negeri, hingga menghilangnya raja muda kita, raja Jordan, beberapa tahun silam,"


"Meski begitu, kita bersama terus bangkit dan membangun diri hingga menjadi negeri yang kuat seperti sekarang ini. Tanpa intervensi dari pihak manapun!"


Saat mengucapkan kalimat terakhir barusan, Anna sengaja mengeraskan suaranya. Seraya memandang tajam pada para menteri yang diduga menjadi kaki tangan kekuatan asing yang saat ini membayangi negeri Nevarest.


Beberapa dari menteri itu terlihat menundukkan wajahnya. Beberapa lainnya nampak mengalihkan pandangan ke arah yang lain. Dan amat sedikit yang berani membalas tatapan Anna dengan berani.


Salah satu dari yang sedikit itu adalah Menteri Pertahanan dan Keamanan Negeri, Alul Lazam.


Selama beberapa detik Anna sengaja beradu pandang dengan Alul Lazam. Sampai akhirnya Alul Lazam berkedip dan mengalihkan pandangannya. Walah keangkuhan masih jelas terpatri di setiap garis wajah pucat nya.


Kemudian Anna kembali melanjutkan orasinya.


"Puji syukur kepada Yang Maha Pencipta. Karena hari ini, Sang Perancang Takdir telah mengasihi kita dengan sesuatu yang teramat baik!"


Kali ini, semua kepala para petinggi istana itu fokus menatap Anna. Merasa penasaran dengan berita yang akan disampaikan oleh sang ratu muda itu.


Anna lalu berdiri dari kursi tahtanya. Ia pun tersenyum dengan mantap. Dan akhirnya menyampaikan berita 'baik' itu.


"Dengan ini Da kabarkan kepada kalian semua. Bahwa, raja agung kita yang telah lama menghilang, kini telah kembali ke sisi kita. Ayo kita sambut raja agung kita, Raja Jordan Ammani Frost!"

__ADS_1


Seketika itu juga, semua audien yang berada di Aula Besar pun gempar. Terlebih lagi ketika sosok Raja Jordan tiba-tiba muncul dari pintu belakang yang berada di balik tahta yang diduduki Anna.


***


__ADS_2