Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Have a Kiss before Sunset


__ADS_3

[Dear readers.. kita balik lagi ke cerita utama yaa.. ini lanjutan dari bab 41. Yg lupa, boleh review bab 41. Mohon maaf Author gak sempet up 2 hari kemarin. Jenderal Suami menitahkan holiday, dan ya! holiday lah Thor sekeluarga. Yeay!! 😆😆 Sekarang, kita lanjut ngikutin lagi kisahnya Anna dan Daffa yang mau honeymoon yaa.. Happy reading, everybody. Big hug for you from a far, Sistaa.. (peluk hangat dr jauh tuk kalian, teteh) and big salute for you from a far brodaa..(salam hormat dr jauh tuk kalian, Abang..)😁😁]


***


Mendekati maghrib, Anna dan Daffa tiba di hotel Amora. Rencananya mereka akan menginap di hotel bintang tiga ini selama satu malam sebelum berangkat ke bandara di waktu subuh besok, untuk mengejar jadwal keberangkatan mereka ke Lombok.


Begitu masuk ke lobi, Anna dan Daffa langsung menuju meja resepsionis untuk check in.


Di sana seorang resepsionis wanita berparas oriental menyapa mereka dengan ramah.


"Good evening, Mister, Ma'am. Welcome to Amora Hotel. May i help you?" (Selamat sore, Tuan dan Nyonya. Selamat datang di Hotel Amora. Ada yang bisa saya bantu?) Ucap sang resepsionis seraya menatap kagum pada wajah tampan Daffa.


Melihat kilatan di mata resepsionis itu, Anna secara tak sadar menempelkan tubuhnya ke dekat Daffa. Ia lalu memeluk lengan suaminya itu.


Di samping Anna, Daffa tak langsung menjawab pertanyaan sang resepsionis. Ia menoleh ke Anna dan memandang istrinya itu keheranan. Karena tak biasanya Anna menyentuhnya terlebih dahulu. Biasanya, selalu saja Daffa yang mencuri-curi kesempatan untuk bersentuhan dengan gadis, eh, istrinya itu.


Beberapa detik kemudian, Anna sadar dengan sikapnya yang tak biasa. Wajahnya sudah mulai merona ketika ia memutuskan untuk melepaskan kaitan tangannya di lengan Daffa. Tapi lalu Daffa menghentikan usahanya. Pemuda tampan itu memegang erat lengan atas Anna dengan tangannya yang lain, sehingga tangan Anna pun terkunci melingkari lengan Daffa.


Merasa agak jengah, Anna menegur Daffa dengan anggukan kepalanya ke arah sang resepsionis. Berharap Daffa kembali mengalihkan perhatiannya dan menjawab pertanyaan resepsionis tadi.


Tak lama kemudian, terdengar percakapan di antara Daffa dan resepsionis itu.


"We've made a reservation," jawab Daffa. (kami sudah memesan kamar)


"May you lend me your ID card, Sir?" Tanya resepsionis itu lagi. (Boleh kah saya meminjam kartu identitas Anda, Tuan?)


Daffa lalu mengeluarkan KTP dari dompetnya. Dan resepsionis wanita itu memproses KTP Daffa pada sebuah mesin. Setelah membaca apa yang tertampil di layar lap top di hadapannya, sang resepsionis itu lalu memberikan kunci kamar kepada Daffa.


"Ok Mr. Daffa. So you have a reservation for a suite room with twin bed, right? Here is your key room. Please follow our bell boy. He will accompany you to your room," Ucap sang resepsionis dengan wajah tersenyum manis. (Baik, Tuan Daffa. Kamu telah memesan sebuah suite room dengan twin bed, bukan? Ini adalah kunci kamar Anda. Silahkan mengikuti petugas kami. Dia akan mengantarkan Anda ke kamar Anda.)


[*Suite room adalah kamar hotel yang memiliki fasilitas sangat lengkap. Terdapat ruang tidur, ruang memasak, juga ruang bersantai, layaknya apartemen kecil.


*Twin bed adalah istilah untuk satu kamar yang terdiri dari dua kasur kecil terpisah.]


Setelahnya, seorang petugas hotel mengambil dua koper milik Anna dan Daffa. Ia lalu memimpin jalan Anna dan Daffa menuju kamar inap mereka di lantai 21.

__ADS_1


Setelah melewati dinning room di lantai bawah dan menaiki lift, Anna dan Daffa akhirnya tiba juga di depan kamar mereka. Sang bell boy (petugas hotel) lalu membuka pintu kamar, lalu memasukkan kedua koper milik mereka dan menaruhnya di ruang bersantai.


"I'll leave you here, Mister, Ma'am. Good evening," Pamit bell boy sebelum keluar dan menutup pintu kamar. (Aku akan meninggalkan kalian di sini, Tuan, Nyonya. Selamat sore)


Begitu pintu ditutup, Anna langsung menginspeksi kamar inap ia dan Daffa malam ini.


Seperti layaknya suite room lainnya, kamar mereka juga terbilang sangat luas. Dengan sebuah ruangan bersantai, dapur kecil, dua kamar mandi di luar dan di dalam kamar tidur, serta kamar tidur yang ukurannya dua kali kamar tidur Anna di komplek Anggrek Ayu.


"Ini.. luas banget. Apa semua kamar hotel memang seluas ini?" Tanya Anna pada Daffa sembari mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan bernuansa krem itu.


"Hmm.. enggak semuanya sih seluas ini. Yang kita pesan ini suite room. Kalau yang ukurannya lebih kecil namanya standard room," Papar Daffa menjelaskan.


"Ooh.. aku gak pernah nginep di hotel, sih sebelumnya. Jadi gak ngerti kalo..ehh! Waahh! Daff, sunset!" Baru separuh jalan bicara, Anna berseru senang saat melihat pemandangan matahari terbenam di kaca pintu menuju balkon.


Anna lalu mendekat ke pintu geser yang hampir seluruh bagiannya terbuat dari kaca itu.


Memandangi semburat jingga kemerahan yang dipancarkan matahari kala meninggalkan peraduannya memang akan selalu menarik hati siapa pun yang melihatnya. Apalagi Anna dan Daffa berada di lantai 21, lantai teratas hotel Amora. Jadi ia juga bisa melihat keseluruhan wajah kota Jakarta dari atas sini.


Dalam diam, Anna menyentuh bayangan bintang terbesarnya galaksi bima sakti itu di kaca. Ditemani sayup-sayup senandung adzan di seantero kota yang menyusup melalui celah-celah pintu.


"Maha Suci Allah.. cantik banget, ya.." Anna bergumam, mengagumi senja. Matanya begitu lekat memandangi pergantian warna alam dari jingga menjadi merah dan akhirnya menggelap itu.


Di sampingnya, Daffa menyahut pelan, "ya. Memang cantik."


Tapi yang Daffa kagumi bukanlah senja seperti yang sedang dilihat oleh Anna. Yang sedang memikat jiwa pemuda itu adalah sosok gadis yang kini sedang berdiri di sampingnya.


Anna masih mengenakan gaun pernikahan mereka saat ini. Ia terlihat sangat cantik dengan rambut hitam bergelombang sepanjang pinggangnya. Beberapa helai rambut tampak menjuntai ikal di kedua sisi wajah gadis itu.


Ditambah kedua mata Anna yang seolah menyimpan kerlip bintang dengan kilauannya yang memikat hati. Semburat merah milik sang senja pun mengenai wajah gadis itu, sehingga turut pula memberi nuansa hidup pada wajah Anna. Tak lupa pula, seulas senyuman termanis yang pernah Daffa lihat, tersungging di bibir Anna yang masih berwarna merah darah dari pewarna bibir.


'My angel..' Daffa bergumam pelan.


Di sampingnya, Anna menoleh saat mendengar gumaman pelan Daffa.


"Apa Daff?" Tanya Anna kemudian.

__ADS_1


Begitu menoleh, mata Anna langsung bersirobok dengan mata Daffa. Selama beberapa waktu kemudian, keduanya terdiam.


Dua pasang mata milik muda-mudi itu seolah terpaut dan tak bisa dilepaskan, baik satu dan dari yang lainnya.


Dan di saat dunia mulai hening, oleh sebab ditinggalkan sayup adzan yang telah berakhir, kedua hati berdentum keras oleh sebab hadirnya sebuah rasa yang asing.


Ba-dump.


Ba-dump.


Darah Anna berdesir kencang. Ia merasa harus beralih dari tatapan sendu milik Daffa. Tapi, ia merasa hatinya tak memiliki daya untuk berpaling. Telinga Anna serasa berdenging oleh dentum jantungnya sendiri. Anna bahkan merasa sedang berdiri tanpa pijakan kaki.


'Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdentum begitu keras? Kenapa juga Daffa memandangku dengan tatapan seperti itu. Seperti... Ah.. ' Anna membatin sendiri.


Perlahan rona merah oleh sebab perasaan asing pun mewarnai wajah putih Anna. Tapi Anna tetap tak kuasa untuk melepas kontak dengan mata hazzlenut milik Daffa. Ia justru merasakan adanya magnet yang menariknya untuk mendekati pemuda itu.


Dan ternyata, apa yang dirasakan oleh Anna pun dirasakan juga oleh Daffa. Pemuda itu merasakan gravitasi aneh untuk mendekati wanita tercantik yang pernah dilihatnya itu. Ia tak lagi bisa mengingat dimana dan siapa dirinya. Yang ada di benak Daffa saat ini adalah bahwa ia harus ikut meluruh dalam perasaan hangat di hatinya kini. Ia ingin merengkuh bidadari di hadapannya itu (Anna).


Dan akhirnya, secara perlahan dan tanpa disadari, jarak di antara kedua muda dan mudi itu pun menyempit, hingga akhirnya tiada lagi. Wajah keduanya pun kini hanya menyisakan jarak 2 cm saja. Sehingga keduanya bisa saling merasakan hembusan nafas satu dan yang lainnya.


Ba-dump.. ba-dump..


Dentum itu terdengar semakin keras. Entah milik siapa dentum itu, keduanya tak lagi bisa membedakan, ataupun perduli.


Bagi Anna, hanya ada Daffa di matanya kini.


Dan bagi Daffa, hanya ada Anna saat ini.


Anna dan Daffa pun akhirnya meluruh bersama perasaan yang mendera keduanya saat itu.


Then finally, they have their first kiss before sunset. (Mereka berci*uman di hadapan matahari terbenam)


***


[Err... I'm feeling like flying now. have i growth my wings ?.. (err ... Thor ngerasa kayak lagi terbang sekarang. Apa Thor udah numbuhin sayap kah?🤭🤭)

__ADS_1


***


__ADS_2