
Keesokan harinya, Tasya bangun pagi-pagi dengan tak bersemangat. Ia menyadari, kalau ia sepertinya tak terbiasa hidup hanya seorang diri. Terlebih lagi Penthouse nya berukuran luas. Jadi Tasya merasakan benar, betapa lengang nya rumah nya itu tanpa kehadiran Daffa.
Sebelumnya Daffa memang sering pulang larut malam, dan Tasya harus melalui waktu sorenya seorang diri di penthouse. Tapi keesokan paginya Daffa pasti selalu ada untuk menemaninya sarapan pagi, atau bahkan mengajaknya berolahraga malam di atas kasur.
Namun, semalam tadi Tasya merasa sangat kesepian. Ia agak menyesali keputusannya untuk melakukan break dari Daffa. Namun, apalah daya, ia sudah membuat keputusan ini. Karenanya Tasya harus menanggung konsekuensi nya. Bukankah ada tujuan baik dari apa yang mereka lakukan saat ini?
Tasya berharap, apa yang mereka niatkan bisa mendapat hasil yang baik pada akhirnya..
Seperti biasanya, Tasya berangkat pagi-pagi ke kampus. Hari Rabu ini, ia ada kuliah jam sembilan, tapi sebelum itu, Tasya ingin menjajakan donatnya terlebih dulu di depan lobi. Biasanya, donatnya lebih cepat habis diincar oleh para mahasiswa yang tak sempat sarapan pagi.
Dan benar saja, sekitar jam setengah sembilan, dari tiga boks donat yang Tasya ambil dari Melvi, dua boks nya telah habis, sementara menyisakan tujuh potong donat pada boks yang terakhir.
Tasya lalu memotret dua boks yg kosong untuk dilaporkan kepada Melvi dan menaruhnya kembali ke mushola di lantai dasar. Setelahnya, Tasya hendak beranjak menuju lantai tiga untuk mengikuti perkuliahan pagi itu.
***
Perkuliahan pagi itu selesai pukul setengah sebelas. Tasya lalu hendak mengambil kembali boks donat yang masih penuh isinya untuk ia jajaki di depan perpus.
Ketika masih ada di mushola lantai satu itu, Tasya menyempatkan diri untuk melihat layar ponsel nya. Ia menanti jawaban dari Karina yang tak masuk kuliah pagi tadi. Namun pertanyaan nya itu belum jua dibalas oleh sahabatnya itu.
Ketika Tasya hendak memencet tombol panggilan ke nomor Karina, seorang wanita muda berkerudung hitam, menghampiri Tasya. Ia lalu mengatakan kalau ia hendak membeli donat kepadanya.
Tasya pun lalu melayani wanita itu dan menerima uang beserta secarik kertas berukuran sangat kecil yang menempel pada lembaran uang kertas merah yang dipegangnya.
Mulanya Tasya mengernyit bingung, "ini apa?"
"Diam dan baca lah!" Ucap wanita itu dengan nada yang terkesan darurat, meski ekspresi wajahnya terlihat normal.
Maka Tasya pun membaca apa yang tertulis di kertas yang menempel pada uang di tangannya itu. Begini isi tulisannya,
'Sahabatmu ada padaku. Diam, dan dia akan selamat. Sekarang, bersikap tenanglah, dan berikan kertas ini kembali padaku. Aku akan memberitahumu lokasi Karina berada. Pulang ke rumah mu sekarang juga!'
"Siapa--?!!"ucapan Tasya yang hendak menanyakan identitas wanita di depannya itu mesti terpotong oleh bisikan kasar wanita itu.
"Syuut..! Diam dan bersikap biasa lah!" Wanita itu berbisik mengancam, dengan wajah yang tersenyum.
Wanita itu lalu meraih sesuatu di dalam saku nya, yang ternyata adalah ponsel. Ia lalu memperlihatkan sebuah potret Karina yang diikat dengan mata yang ditutupi selembar kain hitam.
__ADS_1
'Frans?! Apa ini ulah Frans?! Atau..orang yang telah melukai Ayah Zion?! Tapi kalau memang ini dilakukan oleh orang yang melukai ayah Zion, kenapa mereka juga melibatkan aku?!' benak Tasya berkecamuk kusut.
"Tunggulah di rumah. Akan ada pesan lanjutan yang menunggumu di rumah." Bisik wanita itu kembali, sebelum akhirnya mengambil kertas itu dari tangan Tasya, dan berlalu pergi.
Tasya masih terkejut dengan apa yang dilihatnya di ponsel wanita tadi. Merasa gugup dan kalut, Tasya pun bergegas menelpon Karina. Namun teleponnya tak jua diangkat-angkat.
Merasa khawatir atas nasib sahabatnya, Tasya pun bergegas meletakkan semua boks donat kembali ke tempatnya. Ia lalu menelpon Pak Kiman untuk mengantarkannya pulang ke penthouse.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit di depan gerbang kampus, Pak Kiman pun akhirnya datang. Dan Tasya lalu menitahkannya untuk langsung pulang ke penthouse.
"Apa ada sesuatu yang salah, Nyonya?" Tanya Pak Kiman menyelidik, saat dilihatnya Nyonya Muda nya itu tampak kalut.
Tasya sejenak berpikir untuk memberitahu Pak Kiman yang sebenarnya. Namun, saat ia mengingat pesan ancaman tadi, Tasya pun akhirnya mengurungkan niatnya. Ia akan memastikan sesuatu terlebih dahulu. Karenanya ia harus kembali ke penthouse dan menunggu kabar selanjutnya dari musuhnya yang masih bersembunyi di balik tabir.
"Gak apa-apa, Pak. Cuma agak pusing aja," Tasya berdusta.
Di mobil, Tasya memutuskan untuk memejamkan kedua matanya. Sehingga Pak Kiman pun sepertinya percaya dengan penuturannya tadi dan tak lagi mengajaknya berbincang.
Sementara itu, pikiran Tasya meliar ke mana-mana. Dan ia baru kembali membuka kedua matanya saat mereka sudah sampai di depan gedung tempat penthouse Daffa berada.
Setelahnya Tasya masuk ke dalam penthouse, dan duduk di ruang tamu. Ia kembali mencoba memanggil Karina, namun panggilannya masih tak jua diangkat. Merasa sangat kalut, Tasya sudah akan menghubungi Daffa, ketika sebuah pesan dari nomor asing yang lain masuk ke ponselnya.
'telpon aku. Akan ku beritahukan lokasinya'
Mulanya Tasya tak mengerti dengan isi dari pesan itu, namun ketika benaknya mengaitkannya dengan hilangnya Karina, Tasya pun segera beranjak berdiri dan menelpon nomor asing itu dengan tak sabar.
Dalam dering pertama, telepon dari Tasya langsung diangkat.
"Sia--"
"Diam dan dengarkan aku! Kau dengar suara ini?" Suara pria di seberang telepon terdengar serak dan berupa bisikan yang tak terlalu jelas.
Namun Tasya langsung bisa mengenali suara sahabatnya Karina, yang menyumpah-nyumpah kemudian, sebelum akhirnya keheningan kembali mengisi panggilan telepon itu.
"Apa--"
"Diam dan dengarkan aku!! Jangan mengatakan apapun jika aku tak menyuruhmu! Nyawa sahabatmu sangat bergantung pada kepatuhan mu dengan aturanku. Katakan 'Ya Sayang' jika kau mengerti," ancam suara lelaki itu lagi.
__ADS_1
"Ya,.. Sayang.." Tasya membeo.
"Bagus. Sekarang, lakukan yang kuminta, atau.."
Kembali Tasya mendengar jeritan Karina di seberang telepon. Seketika Tasya merasa marah. Sangat-sangat marah pada pelaku dibalik penculikan Karina.
"Jangan--!!"
"DIAM! ikuti perintahku atau sahabatmu akan menjadi santapan buaya hidup-hidup!" Suara itu kembali mengancam.
Tasya merasakan teror yang sangat nyata. Ia jelas tak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya Karina. Sehingga pada akhirnya ia pun diam dan tak mengatakan apapun lagi.
"Bagus. Sekarang, kemasi beberapa pakaian mu ke dalam koper, dan juga bawa kartu identitas mu ke bandara Soetta. Menyamar dan pergilah diam-diam. Tunggulah di depan terminal 1 gerbang C3. Di sana akan ada orang yang mengantarkan tiket padamu. Pergilah sekarang juga! dan ingat! jangan katakan apapun pada siapa pun juga!"
Klik. Panggilan telepon pun terputus.
Tasya memandangi layar ponselnya yang kini gelap. Pikirannya berkecamuk kusut, sementara ia juga merasa sangat khawatir pada nasib sahabatnya, Karina.
Di kala ia membereskan beberapa pakaian dan memasukkannya ke dalam koper kecil, sebentuk rasa bersalah tiba-tiba saja menelusup masuk ke dalam hatinya. 'Maaf ya, Rin.. karena aku kamu..'
***
Usai mengemas sedikit dari pakaiannya, Tasya pun lalu mengganti bajunya dengan baju gamis milik Teh Anis yang sempat ia pinjam di acara pesta ulang tahun Ayah Zion beberapa hari lalu. Dengan tangan gugup, ia juga mengenakan kerudung praktis satu satunya yang ia miliki. Lalu pergi ke bandara Soetta dengan menggunakan taksi on line yang sudah dipesannya..
Sesampainya di bandara Soetta, Tasya langsung menuju gerbang C3 yang tadi telah diperintahkan oleh orang di telpon. Dan sekitar lima menit kemudian, seseorang menyerahkan tiket pesawat kepadanya.
Merasa seperti orang linglung, Tasya pun melihat pada tiketnya, dan membaca jadwal penerbangannya. Ada waktu lima belas menit lagi sebelum pesawat berangkat.
Setelah lima belas menit berlalu, Tasya pun akhirnya melewati gerbang C3 untuk menaiki pesawat yang akan membawanya menuju entah kemana.
Begitu Tasya menemukan kursi duduknya yang ada di pinggir jendela, Tasya dibuat terkejut saat ia mendengar sapaan suara pria yang cukup dikenalnya.
"Anna.."
"Kamu?!"
***
__ADS_1