
Anna berlari. Ada Frans yang terus mengejarnya dengan seringai yang mengerikan. Tapi lalu Anna terjatuh. Dan tubuhnya terasa berat seperti dihimpit batu.
Ketika Anna menoleh ke atas, benar saja. Ada batu yang sangat besar menimpa tubuhnya. Tapi Anna mencoba menahannya sekuat tenaga dengan tangan telanjang. Hingga kemudian tangannya mulai terasa kebas.
Tak jauh dari tempat Anna berada, Frans menyeringai. Pemuda itu meneteskan air liur kala memandang Anna dengan pandangan penuh hasrat.
Lalu tiba-tiba wajah Frans berubah bentuk menjadi berbulu. Mulutnya pun berubah jadi lebih panjang, layaknya moncong serigala. Hingga Frans benar-benar berubah menjadi serigala berkaos hitam dan bercelana jins.
Serigala Frans mengaum nyaring. "Auuu... Woof. Woof. Woof."
Anna merasa ngeri melihat serigala Frans yang perlahan mulai mendekatinya.
"Tidak! Tidak! Pergi! Pergi! Jangan!" Teriak Anna.
"Anna! Anna! Tenanglah. Ini saya, Daffa. Kamu sudah aman. Saya sudah datang menyelamatkanmu. Tak ada yang perlu kamu takuti lagi."
Samar-samar suara Daffa tertangkap oleh indera pendengaran Anna. Lambat laun Anna tersadar kalau serigala Frans adalah mimpi buruk yang baru saja mengusik alam bawah sadarnya.
"Kamu oke?" Tanya Daffa kembali.
Anna tak langsung menjawab pertanyaan Daffa. Ia sibuk menenangkan debar jantungnya yang masih berdebar kencang usai diburu oleh serigala Frans di alam mimpi.
"Itu hanya mimpi. Itu hanya mimpi!" Layaknya mantra, Anna merapal ucapan yang sama berulang-ulang.
"Ya. Ya. Ya. Itu hanya mimpi. Ada saya di sini. Tak ada yang perlu kamu takutkan lagi," Ucap Daffa ikut menenangkan.
Setelah setengah menit berlalu, barulah Anna sadar dengan posisi kepalanya yang rebahan di atas pangkuan Daffa. Ia bahkan tanpa sadar sudah memeluk erat pinggang lelaki itu entah sejak kapan.
Kedekatannya dengan Daffa saat itu membuat Anna dilanda mabuk oleh perasaan aneh. Aroma mint bunga dari tubuh Daffa menguar dan merasuki setiap indera milik Anna.
Seketika itu juga Anna membenarkan posisi duduknya. Tapi mungkin karena terburu-buru, kaki kirinya yang terkilir malah membentur pintu mobil. Anna pun mengadu sakit.
"Aduh!" Jerit Anna.
"Kenapa? Apa yang sakit?" Tanya Daffa dengan nada khawatir.
Anna meraih kaki kirinya. Dan ya. Rasa nyeri itu kembali dirasakannya.
"Kakimu sakit? Coba saya lihat." Tawar Daffa.
"Enggak. Gak apa-apa. Cuma terkilir aja," Anna menolak pelan.
"Biarkan saya untuk melihatnya, Anna. Mana sini," Daffa memaksa Anna.
Dengan terpaksa Anna mengulurkan kaki kirinya ke Daffa. Dengan begitu ia pun bersandar pada pintu mobil sementara Daffa kini memangku kedua kakinya.
__ADS_1
Pemuda itu terlihat serius mencari sumber rasa sakit yang Anna rasakan.
Lalu, ketika Daffa akhirnya melihat lebam merah di pergelangan kaki kiri Anna, Daffa terlihat sedih. "Apa ini sakit untuk berjalan?" Tanyanya pelan.
Anna menggeleng. Merasa malu untuk mengatakan yang sebenarnya pada pemuda itu. Sementara Daffa lalu memberikannya tatapan sangsi.
"Kamu yakin, ini tak sakit?" Tanya Daffa kembali, dengan agak menekan bagian kaki Anna yang kemerahan.
"Aduh! Sakit!" Keluh Anna spontan.
"Sakit kan. Kalau begitu biar nanti saya gendong kamu dulu!" Tawar Daffa lagi.
Anna spontan menggeleng kuat-kuat.
"Kamu tak memiliki pilihan lain, Anna. Kita sudah sampai di rumah sakit," Ujar Daffa ketika mobil tiba-tiba berhenti di pelataran rumah sakit.
Daffa bergegas membuka pintu, keluar dari mobil, lalu membuka pintu mobil di sisi bagian Anna.
Anna yang sudah akan menjejakkan kakinya ke tanah pun tertegun melihat kesigapan Daffa dalam berpindah tempat.
Pemuda itu hendak meraih bahu Anna dan tempat di bagian belakang lututnya untuk menggendong Anna ala princess. Tapi Anna menepis tangan Daffa.
"Jangan. Aku masih bisa berjalan."
"Tapi kakimu sakit, Anna!" Tegur Daffa.
Akhirnya Daffa mengikuti Anna yang berjalan tertatih. Sampai kemudian Anna hampir terjatuh, beruntung Daffa sigap menangkapnya.
"Apa kubilang. Kakimu itu sakit, Anna. Biar saya gendong kamu ya!" Tegur Daffa.
Daffa pun hendak bersiap menggendong Anna dengan gaya princess. Tapi Anna kembali menepis tangan Daffa.
"Jangan, Daff! Aku malu," Anna mengaku.
Daffa menatap serius ke dalam mata Anna. Dan gadis itu segera menundukkan pandangannya oleh sebab malu.
Daffa mendesah. Ia akhirnya mengalah.
"Kalau begitu, biar saya bantu memapah kamu saja. Oke. Kali ini, tolong jangan lagi menolak niat baik saya, Anna!" Pinta Daffa.
"..."
"..."
"Oke..." Jawab Anna dengan kepala tertunduk malu. "Terima kasih.." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Akhirnya Daffa memapah Anna hingga masuk ke ruang IGD.
***
"Nona Anna hanya terkilir di bagian kaki. Mungkin butuh waktu sekitar seminggu sebelum ia bisa beraktifitas normal lagi.
"Biarkan ia istirahat terlebih dulu. Jika memar di kakinya tak juga membaik, silahkan datang kembali." Ucap dokter pria yang memeriksa Anna.
Daffa lalu bertanya dengan suara pelan, ketika dilihatnya Anna tak memperhatikan.
"Bagaimana dengan.. " Daffa bingung untuk menanyakannya.
'bagaimana aku harus menanyakan kondisi Anna usai ia dilecehkan oleh lelaki bangs*at tadi?' batin Daffa merasa galau.
Syukurlah tampaknya dokter itu mengerti dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Daffa. Dengan tersenyum menenangkan, dokter itu lalu berkata,
"Tuan tidak perlu khawatir. Tadi saya sudah mengecek dan menanyakannya kepada pasien, kalau ia tidak mengalami tindak pelecehan yang paling kita takutkan. Pelaku sepertinya hanya sempat meninggalkan luka lecet di beberapa tempat saja."
Daffa menatap tajam dokter pria itu. Dalam hatinya ia menggerutu.
'kau bilang itu 'hanya'?! Sial! Dokter ini sungguh menyebalkan.'
Merasa bingung karena menerima tatapan sengit dari Daffa, dokter itu akhirnya memutuskan untuk segera pamit.
"Berikan pasien waktu untuk menenangkan diri. Trauma yang dialaminya hari ini akan membutuhkan waktu bagi hatinya untuk menerima kejadian ini. Dan ingat untuk menghabiskan obat yang saya resepkan. Saya permisi dulu."
Dokter itu pun berlalu pergi. Meninggalkan Anna dan Daffa berdua di ruangan itu.
Keduanya memilih untuk diam selama beberapa menit kemudian. Dengan Daffa menatap Anna lewat tatapan sendu. Serta Anna yang memandang langit melalui kaca jendela.
Ruangan tempat mereka berada kini sepertinya adalah ruang rawat VIP. Terlihat dari ukurannya yang sangat luas, dan hanya ditempati oleh Anna sebagai pasien satu-satunya di sana.
Anna mendesah. Setelah lama terdiam dan merenungkan banyak hal, ia memberanikan diri untuk menatap Daffa.
"Jam berapa sekarang Daff?" Tanya Anna.
Daffa lalu melihat jam di pergelangan tangan kanannya.
"Jam setengah sepuluh," Jawab Daffa.
Anna kembali diam. Daffa pun ikut terdiam. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Sampai akhirnya kebisuan di antara keduanya pecah oleh ajakan tiba-tiba Anna.
"Ayo kita pulang. Sekarang juga. Ada acara pernikahan yang menunggu kita di rumah."
Daffa tercengang. Sementara Anna menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh.
__ADS_1
***