Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Toleransi


__ADS_3

Saat ini, Anna sedang berada di dalam kamar Daffa.


Tadi, setelah ia memberikan kado kepada Ayah, Daffa langsung mengajaknya untuk beristirahat terlebih dahulu. Apalagi mereka belum shalat maghrib.


Memikirkan shalat maghrib yang baru saja ditunaikannya, Anna terpikirkan dengan orang-orang di bawah sana yang sedang sibuk dalam ber pesta.


Tapi Anna berpositif thinking dan menganggap mungkin keluarga besar Daffa adalah penganut non muslim. Karena ketika siang tadi di salon pun Tante Soraya tak ikut shalat zuhur bersamanya. Ataupun juga tak shalat ashar di butiknya Jason.


"Kamu lagi mikirin apa, Sayang?" Daffa yang baru selesai berdzikir, tiba-tiba saja berbalik dan melontarkan tanya.


Anna mengerjap beberapa kali. Meski mulanya ragu, tapi pada akhirnya Anna dikalahkan juga oleh rasa penasarannya.


"Keluarga kamu, semuanya non muslim ya?"


Daffa menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya itu jadi masalah?"


Anna buru-buru menyahut, "Gak apa-apa, sih.. Cuma penasaran aja."


Daffa lalu meraih Anna yang masih mengenakan mukena pinjaman dari salah satu pelayannya di sini, hingga istrinya itu berada di atas pangkuannya. Dengan penuh kasih, Daffa mengecup ujung kepala Anna, sebelum akhirnya berkata.


"Well, saya harap kamu bisa berpikiran terbuka soal perbedaan yang ada dalam keluarga ini. Terlebih lagi soal agama. Kebanyakan di sini orang-orang nya bisa dibilang agnostik.


Mereka tak intens menjalani kepercayaan mana pun. Tapi mereka tahu, ada sesuatu yang di luar nalar manusia yang menggerakkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan hingga bisa terjadi.


Secara KTP, di keluarga ini ada yang Muslim, Kristen, Hindu, Budha dan beberapa nama ajaran lain yang tak saya ingat namanya apa. Tapi umumnya, orang-orang di rumah ini lebih fokus pada kehidupan dunia, jadi tak terlalu mementingkan kehidupan setelah kematian.


Kecuali mungkin Ayah Zion, yang seorang penganut Budha yang cukup taat. Menurutnya, hal yang paling penting untuk diingat oleh seseorang adalah berbuat baik. Ayah meyakini sesuatu yang disebut "karma". Bahwasanya yang baik akan mendapatkan ganjaran kebaikan, pun jua sebaliknya.

__ADS_1


Ayah juga meyakini bahwa pikiran yang positif menjadi modal utama seorang pebisnis. Bahwasanya seseorang yang ingin sukses maka ia harus memulainya terlebih dulu dengan cara memperbaiki pola pikirnya tentang masa depan.


Dia yang ingin sukses, maka ia harus berpikiran kalau ia bisa sukses. Baru setelahnya ia fokus merancang langkah-langkah tepat yang bisa dilakukannya untuk menuju kesuksesan itu.


Bila ia mengalami kegagalan, maka ia akan mewajibkan dirinya untuk kembali bangkit. Karena calon orang yang sukses akan meyakini, bahwa keterpurukannya pada kegagalan bukanlah langkah yang akan membawanya pada kesuksesan. Karena kegagalan itu sendiri sebenarnya adalah kesuksesan yang tertunda.


Selain Ayah Zion, ada juga beberapa sepupu lain Saya yang memiliki keyakinan lain yang berbeda-beda dan taat pada ajarannya. Tapi jika kamu menanyakan apakah orang-orang yang tinggal di mansion ini adalah orang yang beragama? Well.. saya rasa itu sulit untuk dijawab.


Lagipula Anna.. Bukankah dalam ajaran kita diajarkan untuk bertenggang rasa. Bahkan dalam ayat suci-Nya juga disebutkan, 'Lakum diinukum, waliyadiin..' bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.


Kita tak berhak untuk memaksakan keyakinan kita untuk diyakini oleh orang lain. Karena masalah keyakinan itu adanya di hati. Bahkan manusia yang menjadi pemilik hati itu sendiri terkadang tak memiliki kuasa atas hatinya.


Seseorang tak bisa menjelaskan, mengapa ia menyukai sesuatu, ataupun membencinya. Seperti Saya yang hingga sekarang juga tak bisa mengerti, dengan jalan takdir dan pertemuan di antara kita berdua. Mengapa saya mencintai kamu, sejak pandangan pertama? Saya tak tahu, Anna. Saya hanya tahu, saya hanya merasakan ketertarikan secara tiba-tiba terhadap kamu di pertemuan pertama kita hampir tiga minggu yang lalu.


Saya hanya bisa meyakini, kalau apa yang terjadi di antara kita, tentulah sudah digariskan dalam buku takdir-Nya.


Lalu saya mencoba mengenal kamu, dan tahu kalau kamu adalah seorang yang baik, cantik.."


Anna menyadari, kalau ini adalah pertama kalinya Daffa mengatakan kalau ia mencintainya. Meski suaminya itu mungkin tak menyadari ucapannya sendiri.


Dan kemudian, Daffa pun melanjutkan kembali kalimatnya.


"...cerdas.. hangat.. dan saya suka. Dan semakin suka sama kamu. Tahulah saya, kalau ini adalah kuasa Tuhan. Kuasa Allah Yang Maha Cinta.


Dia lah Yang Maha membolak/balikkan hati manusia. Dari biasa menjadi suka. Dari suka bisa pula menjadi benci. Itu lah sebabnya ada pepatah tua yang mengatakan, 'jangan membenci sesuatu dengan terlalu.. karena sewaktu-waktu jika kamu berubah menyukainya, kamu tak akan merasa malu. Pun jua sebaliknya.'


Dan saya rasa ini juga berlaku untuk masalah keyakinan orang-orang di rumah ini. Tak usah memusingkan apa agama siapa. Yang utama adalah kita bisa menjadi agen penebar kebaikan bagi sesama.

__ADS_1


Jika dalam agama kita diajarkan tentang "hablum minan naas" dan "hablum minallah".. Yaitu menjaga baik "hubungan dengan manusia" dan "hubungan dengan Allah".. maka bagaimana kita bersikap dan berakhlak kepada manusia adalah satu bentuk kita untuk menjaga baik hubungan dengan manusia.


Sementara untuk hubungan kita dengan Allah, Sang Pencipta, biarlah itu menjadi urusan antara diri kita sendiri dengan Allah. Jadi tak perlu memusingkan juga perihal agama yang dianut oleh orang lain.


Jika orang itu baik, maka balaslah dengan kebaikan. Tapi jika orang itu tak baik..."


Sampai di sini Daffa menggantungkan kalimatnya. Anna yang penasaran dengan kelanjutan kalimat suaminya itu pun akhirnya menengadahkan kepala untuk bertanya.


"Kalau orangnya gak baik..?" Tanya Anna.


"Well.. dalam agama kita memang diajarkan untuk memaafkan orang lain yang menyakiti kita. Tapi jangan memaafkan mereka yang menyakiti agama kita. Tapi.."


Daffa kembali menunda ucapannya.


"Tapi..?" Anna kembali menengadah.


"Tapi saya bukan tipikal yang pemaaf pada mereka yang berani menyakiti orang-orang yang saya sayangi!"


Anna tersentak. Sekilas tadi ia melihat kilatan emosi pada ekspresi suaminya itu. Seolah-olah Daffa sedang menyimpan dendam pada siapapun yang telah melukai orang-orang yang disayangi nya.


Glek..


Anna menelan ludah. Ia langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja sebentuk wajah Frans muncul di benak Anna.


Hingga kini, Anna belum berani menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat penculikan di hari pernikahannya dua minggu yang lalu. Anna bahkan juga belum mengatakan kepada siapapun, termasuk Daffa, bahwa ia mengenal pelaku utama dari kejadian penculikan dirinya saat itu.


Anna membayangkan reaksi Daffa, jika suaminya itu tahu tentang peran Frans sebenar nya dalam penculikan itu.

__ADS_1


Anna bergidik ngeri. Melihat ekspresi di wajah Daffa tadi saja sudah membuat Anna berjengit. Tak pernah sekalipun Anna membayangkan Daffa bisa menunjukkan ekspresi setajam dan seberbahaya tadi.


***


__ADS_2