Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Perpisahan


__ADS_3

masih area 21++


next bab, insya Allah aman..👍👍🙏🥰


***


Keesokan paginya, Tasya terbangun dalam kondisi tubuhnya terasa kaku.


Begitu kesadarannya terkumpul, barulah disadarinya kalau penyebab kekakuan itu tak lain dan tak bukan adalah karena Daffa masih tetap tidur sambil memeluknya sepanjang malam.


Tasya melirik jam di atas nakas. Masih pukul empat pagi. Ia menimbang-nimbang antara tidur kembali atau bangun dan membersihkan diri. Rasanya seluruh tubuh Tasya terasa lengket. Ia ingin segera menyegarkan dirinya dalam basuhan air mandi junub.


Pada akhirnya Tasya memutuskan untuk bangun dan membersihkan diri. Namun, pelukan Daffa yang sangat erat pada tubuhnya membuat Tasya kesulitan untuk melepaskan diri.


Setelah berjibaku untuk waktu yang lama, syukurlah Tasya bisa terbebas dari pelukan Daffa tanpa membangunkan suaminya itu.


Tasya lalu meraih baju piyama nya yang berserakan di atas kasur, dan mengenakannya. Namun, saat ia hendak mengambil celana piyamanya yang terhimpit oleh kaki Daffa, suaminya itu malah terbangun.


Atasan piyama yang Tasya kenakan bentuknya seperti kemeja pendek yang panjangnya tak sampai menutupi pant*at. Sehingga, ketika Daffa terbangun, ia langsung bisa melihat pemandangan bagian belakang tubuh istrinya itu dalam jarak sangat dekat.


Salahkan saja kegilaannya pada Tasya, yang membuat Daffa kemudian menarik pinggang istrinya itu hingga kembali berbaring di atas kasur. Dan.. bisa kalian tebak sendiri, apa yang dilakukan oleh keduanya kemudian bukan?


....


....


***


Setengah jam kemudian, Tasya yang merasa pegal dan linu di bagian lututnya langsung saja menggeser tubuh Daffa yang separuh menimpa tubuhnya.


Dengan langkah terseret, Tasya bergegas menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan membawa dirinya ke kamar mandi.


Ketika sudah masuk ke dalam kamar mandi, tak lama kemudian terdengar suara Daffa di luar pintu.


"Sayang.. mandi bareng yuk..?!" Teriak Daffa.


"Enggak mau!" Jawab Tasya merajuk.


"Sayang.. badan saya juga lengket ini.." Daffa mengiba-iba.


"Terserah!" Jawab Tasya dengan sedikit ketus.


"Kok kamu gitu sih, Dear?.."


"..." Tasya sibuk berendam dalam bath tube berisi air hangat. Rasa-rasanya tubuhnya langsung meleleh saat ia merendamkan dirinya di sana. Ia tak menggubris gedoran Daffa di muka pintu.


"Tasya sayang.. udah adzan subuh.. tolong buka dong.. saya juga kan mau mandi.." ucap Daffa mengiba kembali.


"Nanti.. bentar lagi!" Sahut Tasya dengan singkat.


"Tasya.. Sayang.. kamu marah ya sama saya? Iya.. iya.. saya minta maaf deh ya, Sayang.. Maafin saya untuk kesalahan apapun yang udah saya perbuat.." tutur Daffa dengan gigih.


"... "


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Dan muncullah sosok Tasya dalam balutan bath robes atau jubah mandi berwarna pink.


Daffa sempat terpaku menatap Tasya yang tampak segar sekali. Terlebih lagi saat ia melihat rambut panjang milik istrinya itu kini masih basah, dengan tetesan-tetesan air yang menggoda iman nya.


Glek.


...


'Sabar, Daff.. kamu baru saja mendapatkan dua ronde.. bersabarlah.. masih ada besok malam lagi untuk menjelajah,' pikir mesum Daffa.

__ADS_1


"Memangnya kamu tahu, salah kamu di mana?!" Tanya Tasya tiba-tiba.


Daffa lalu memfokuskan perhatiannya ke mulut Tasya yang baru saja melontarkan tanya. Dan ia pun kembali merasa digoda saat melihat bibir pink milik istrinya itu masih terlihat sedikit bengkak usai pergumulan mereka setengah jam yang lalu.


'Sial! Tasya jahat sekali menggodaku seperti ini!' pikir Daffa menggerutu.


"Daffa Scholinszky! Jawab aku. Memangnya kamu tahu salah kamu di mana?" Tanya Tasya kembali saat dilihatnya Daffa malah memalingkan wajahnya ke lain arah.


Pandangan Tasya lalu menangkap penampakan kalung emas dengan liontin berbentuk hati yang kini ia kenakan di pergelangan tangan. Dan Daffa juga mengikuti arah pandang istrinya itu.


Setelah jeda yang tak terlalu lama, Daffa pun akhirnya mulai bicara.


"Saya mandi dulu. Kamu.. shalat dulu. Setelah itu baru kita bicara!" Daffa memutuskan pada akhirnya.


Tasya tertegun. Dan tak menghalangi langkah Daffa yang melewatinya dan menghilang ke dalam bilik kamar mandi. Sementara itu suara adzan di luar sana masih saling bersahutan, menembus keheningan pagi.


"Allahu Akbar! Allaahu Akbar! Laaa ilaaaha illallah.."


(Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Tiada Tuhan selain Allah..)


***


Usai keduanya shalat, Daffa dan Tasya kini duduk di sofa ruang tamu. Selama beberapa waktu, hanya ada keheningan yang menyelimuti udara di antara keduanya.


Sampai kemudian, tiba-tiba saja Tasya melayangkan bom yang sudah ingin ia ledakkan sedari kemarin sore.


"Kemarin sore, kamu benar ke rumah sakit?" Tanya Tasya menginterogasi.


"Ya. Saya memang ke rumah sakit. Memangnya kenapa, Dear?" Daffa balas bertanya dengan nada santai.


"Sungguh ke rumah sakit?" Tanya Tasya dengan pandangan curiga.


Daffa mengernyit tak suka dengan sikap Tasya.


"Kamu pergi sama siapa?" Tanya Tasya kembali.


Kali ini, Daffa tak langsung menjawab pertanyaan Tasya. Ia terlihat sedikit ragu. Hal ini membuat Tasya semakin menatapnya curiga.


"Sama Joanna kan?!" Terka Tasya to the point.


Daffa tampak terkejut. Ia langsing menyadari sumber kesalahpahaman di antara dirinya dan Tasya.


Daffa berusaha meraih tangan Tasya untuk ia genggam. Namun Tasya menarik tangannya hingga ke bawah meja. Menjauh dari jamahan Daffa.


Daffa merasa gugup.


"Iya. Sama Joanna. Tapi kamu harus tahu, Dear.. antara saya dan Joanna gak ada hubungan lebih. Dia itu adiknya Jo, sahabat saya. Kamu kenal dia juga kan?" Tutur Daffa dengan keringat dingin yang mulai mengucur di atas dahi.


"Gak ada hubungan apa-apa? Sungguh?!"


Tasya tiba-tiba saja bangkit berdiri. Ia lalu menghilang ke dalam ruangan kamar tidur dan kembali muncul tak lama kemudian.


Tasya kembali duduk di hadapan Daffa dan menyodorkan ponsel yang baru saja ia hadiahkan pada istrinya itu kemarin.


"Lalu ini apa, Daff?!" Cecar Tasya seraya menyodorkan ponsel nya untuk Daffa lihat.


Daffa melirik ke layar ponsel. Dan ia sangat terkejut. Sangat-sangat terkejut. Saat ia melihat potret dirinya dan Joanna yang sedang bercumbu.


Daffa menilai, bila dilihat dari sudut pandang orang lain, foto dirinya itu memang tampak sedang bercumbu dengan begitu intens nya.


Seketika itu juga Daffa dilanda kekhawatiran.


"Kemarin itu ada insiden, Dear! Saya lagi ketiduran ketika Joanna nyuri cium. Saya gak sadar kalau saya ciu*man sama dia. Saya kira itu kamu! Sungguhan Dear..!" Papar Daffa dengan nada agak panik.

__ADS_1


Tasya menaikkan sebelah alis nya. Tampak masih sangsi dengan yang disampaikan oleh suaminya itu.


"Beneran, Tasy! Saya gak ada perasaan sama Joanna. Dia itu kayak adik saya aja! Kamu harus percaya sama saya!" Papar Daffa kembali.


Selama beberapa waktu, suasana kembali menghening.


Tasya memainkan liontin hati pada kalung yang ia kenakan di pergelangan tangannya. Dan Daffa pun melihat pergerakan istrinya itu. Kemudian Tasya mengembalikan pandangannya ke wajah Daffa kembali. Begitu pun juga Daffa. Ia pun balas menatap Tasya dengan berani.


Namun tampaknya keberanian saja tak cukup untuk meyakinkan Tasya. Karena kemudian, Tasya kembali berkata.


"Aku gak suka dibohongin, Daff. Aku paling benci kalau dibohongin.."


"Saya gak bohong," sahut singkat Daffa.


"Tapi aku capek. Aku capek dengan hubungan kita ini. Kamu terlalu sempurna untuk aku yang cuma perempuan biasa,"


"Kamu istimewa, Tasy.."


"No! Listen to me (dengarkan aku)! Aku mau kita break dulu. Aku mau healing sendiri dulu. Aku capek, Daff.. Berdampingan dengan kamu yang.. sempurna membuat duniaku jadi buta. Biarkan aku pergi sementara waktu,"


"Saya gak mau!" Tolak Daffa dengan nada meninggi.


"Please, Daff.. give me some time (beri aku waktu).. i'm really need it (aku sungguh membutuhkannya).." pinta Tasya kembali dengan suara lirih.


"Haruskah seperti ini, Tasy?" Tanya Daffa dengan nada lemah.


Tasya memandang Daffa dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Pun jua Daffa menatapnya dengan pandangan hampa.


"Terkadang, kita perlu merasakan kehilangan agar kita bisa lebih bersyukur saat kita masih memiliki sesuatu.." Tasya ber falsafah.


"..."


"..."


"Fine.. i'll give you some time, Tasy.. (baiklah.. aku akan memberimu waktu, Tasy..) but not for a long time (tapi tak lama)! And you have to stay here (dan kamu harus tetap tinggal di sini)! in this penthouse (di penthouse ini)! Dan juga Pak Kiman akan tetap mengantarkan mu kemana pun kamu pergi.." putus Daffa akhirnya.


"Tapi.." Tasya terlihat keberatan.


"Gak ada tapi-tapi! Kamu meminta hati saya untuk menepi. Maka saya akan menepi. Walau itu membuat hati saya juga terluka, Tasy.. Tapi jika memang itu yang kamu inginkan.. perlukan.. saya akan memberi kamu waktu.. satu hari saja,"


Tasya memandangi Daffa dengan pandangan tak percaya.


"Apaan itu! Satu hari, aku mana bisa healing?? Satu bulan!" Tawar Tasya dengan sengit.


"No! Satu hari!" Tegas Daffa.


"Aku gak bakal bisa healing secepat itu lah, Daff! Oke tiga minggu! Kasih aku waktu tiga minggu!"


"Baiklah satu minggu! Jangan meminta lebih, Tasy!"


"Dua minggu!"


"Satu minggu satu hari! Ya, atau gak sama sekali!"


Tasya memandang sebal pada suaminya itu. Berkelebatan benaknya mengumpat. Merasa suaminya itu sungguhan sering bersikap absurd! Tak masuk akal!


"Oke. Deal!" Ucap Tasya akhirnya, mengalah.


"Deal!" Ucap Daffa dengan raut kemenangan di wajahnya. Namun tak lama. Karena kemudian Daffa merasakan sedih saat ia mengingat perpisahan yang akan ia lalui dengan Tasya.


Daffa berharap, segalanya akan segera membaik.


***

__ADS_1


__ADS_2