Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Terjatuh di Lembah Cinta


__ADS_3

Keesokan paginya, Anna terbangun oleh kecupan pelan di dahinya. Saat ia perlahan membuka mata, samar-samar Anna mendengar suara adzan mengalun syahdu di kejauhan.


"Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! 2x (Allah Maha Besar!)


Asyhadu anlaailaaha illallah.. 2x (aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah)


asyhadu anna muhammadar rasuulullah.. 2x (aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah)


hayya 'alash shalaahh.. 2x (Mari kita mendirikan shalat!)


hayya 'alal falahh.. 2x (Mari kita menuju kemenangan!)


ashsholaatu khoirum minan nauum.. 2x (shalat itu lebih baik daripada tidur..)


Allaahu akbar! 2x (Allah Maha Besar!)


Laa ilaaha illallaahh.. (tiada Tuhan selain Allah)"


Begitu Anna membuka matanya lebar-lebar, ia disuguhkan dengan penampakan wajah tampan Daffa yang tersenyum hangat kepadanya.


Pada mulanya Anna terpaku dan merasakan hangat di hati saat menatap wajah tersenyum nya Daffa. Anna hampir akan membalas senyuman Daffa itu jika saja ia tak mengingat kejadian semalam. Di mana Daffa yang lagi-lagi telah membuatnya menunggu.


Rasa kesal itu pun kembali datang dan memenuhi benak dan pikiran Anna. Sehingga membuatnya memilih untuk memejamkan matanya kembali.


Tak lama kemudian, Anna mendengar suara Daffa yang menegurnya.


"Dear, Anna. Ini sudah waktu subuh. Shalat berjamaah yuk!" Ajak Daffa dengan suara pelan.


Awalnya Anna ingin mengacuhkan ajakan Daffa kepadanya. Tapi setelah dipikir-pikir kembali, Anna tersadar.


'Jika aku menolak ajakan untuk shalat, aku nanti bisa berdosa. Duh! Tapi kok aku masih kesal ya..' Anna membatin.


Pada akhirnya Anna memutuskan untuk bangun. Dengan langkah yang terlihat diseret, ia membersihkan dirinya lalu bersuci.


Usai bersuci, ia pun bermakmum dalam ibadah subuh yang menentramkan di barisan belakang Daffa. Menjumpai Rabb mereka dalam perjamuan dua rakaat.


***


Usai menunaikan shalat subuh, kedamaian mengalun di batin Anna. Rasa kesal yang tadinya sempat bercokol di benaknya kini menghilang tak bersisa.


Anna beristighfar berkali-kali. Memohon ampun sekaligus bimbingan kepada Allah untuk setiap pilihan dan kekhilafan yang ia lakukan.


Usai Daffa mengucapkan doa bersama yang diaminkan oleh Anna, Anna melanjutkan diri dalam munajat kepada-Nya.


Dalam hatinya ia berbisik,


"Yaa Rabb.. Yaa Rahmaan.. hamba mohon bimbingan-Mu.. hamba mohon segala bantuan-Mu. Hamba mohon penguatan dari-Mu. Bagi hamba untuk bisa menjalani pernikahan ini sebaik yang Engkau Ridhai.


Hamba mohon pengertian-Mu.. hamba mohon pemaafan dari-Mu.. untuk setiap kekhilafan yang entah sengaja maupun yang tak disengajakan oleh diri ini.


Tiadalah harapan terbaik hamba dalam hidup ini, selain kebaikan dunia juga akhirat-Mu.


Maka mohon dekatkan hamba dengan orang-orang yang baik. Kumpulkan hamba bersama dengan orang-orang baik yang juga mampu membuat hamba menjadi seseorang yang lebih baik lagi.


Berikan keyakinan pada diri hamba jika sesuatu yang kau hadirkan dalam hidupku itu memang sesuatu yang baik bagi hamba.


Tangguhkan hamba. Lapangkan hati hamba. Dan jadikan hamba termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang lurus, lagi lembut hatinya.

__ADS_1


Aamiin.. aamiin.. aamiin..


Allahumma aamiin..🤲🏼🤲🏼"


Anna mengusap wajahnya dengan mukena yang menutupi kedua tangannya. Dua bulir air mata tak sempat menetes karena tersapu dan meresap pada kain mukena putih yang ia kenakan.


Usai bermunajat, Anna merasakan damai memeluknya lembut. Ia tak lagi menyimpan kesal terhadap Daffa, suaminya.


Setelah beristighfar berkali-kali lagi, ia menduga, bisa jadi rasa kesal yang sempat dirasakannya semalam adalah tiupan panas yang dihembuskan oleh syaitan durjana.


Agar Anna menjadi istri yang menyimpan dendam pada suaminya. Agar ia menjadi seorang istri yang durhaka pada suaminya.


Na'udzu bIllahi min dzaalik.


Tsumma na'udzu billaahi min dzaalik.


Anna kemudian mengarahkan pandangannya ke depan, tepat ke punggung suaminya yang kini masih terlihat menangkupkan kedua tangan. Nampaknya, bukan hanya Anna yang sedang sibuk curhat kepada Rabbul 'izzati. Karena Daffa pun, terlihat begitu khusyu bermunajat kini.


Anna akhirnya memutuskan untuk menunggu Daffa selesai dengan sesi curhatnya. Selagi menunggu, ia lafadzkan dzikir sederhana yang biasa ia lantunkan sepanjang waktu.


"Subhaanallah.. walhamdulillah.. walaa ilaaha illallah... Wallaahu akbar!"


Begitu terus berulang-ulang, Anna membisikkan dzikir andalannya.


Dan, setelah sekitar lima menit berlalu, Anna melihat Daffa mengakhiri doanya.


Suami tampannya itu kemudian menolehkan kepala ke belakang, ke arah Anna. Dan seulas senyum hangat pun tersungging di bibirnya yang tipis dan lagi berwarna pink alami.


Kembali Anna mengucap syukur atas rahmat Allah yang telah menganugerahinya seorang suami yang lembut dalam bertutur kata, lagi penyayang dalam berakhlak.


Dengan spontan Anna meraih tangan kanan Daffa, lalu mengecup punggung tangan suaminya itu dengan takzim.


Tes.


Secercah rasa hangat memeluk hati Anna..


Sebongkah rasa asing pun kembali datang menyergapnya dengan lembut..


Dengan amat sangat lembut..


Hingga Anna tak lagi merasakan rasanya dunia di sekitarnya.


Hingga telinga Anna terasa pengang oleh kebisuan yang menghangatkan hati.


Dan akhirnya, embun cinta pun menetes sudah ke dalam sanubari Anna.


Saat itulah Anna akhirnya menyadari, kalau hatinya mulai terjatuh dalam lembah cinta.


Lembah cinta ini dimiliki oleh seorang pemuda, yang beberapa hari lalu masih menjadi seorang yang asing dalam hidup Anna.


Dan, nama dari pemuda asing itu tak lain dan tak bukan adalah Daffa. Daffa Skolinzki.


***


"Anna? Anna!"


"huh? ya?" Anna tercenung menatap kosong pada wajah tampannya Daffa.

__ADS_1


Baru disadarinya kini penyebab ia merasakan perasaan asing yang telah berkali-kali menghinggapinya sejak ia bertemu Daffa pertama kalinya.


'Jatuh cinta? aku jatuh cinta pada Daffa?' batin Anna bermonolog.


Anna sangat terkejut dengan kenyataan yang baru disadarinya tadi.


Pantaslah Anna tak suka dengan Joanna, gadis muda yang bersikap terlalu akrab dengan Daffa.


Pantaslah Anna merasa tak suka pada Tasya, tunangan Daffa yang bahkan belum pernah ditemuinya. Bahkan juga terhadap Eva, sekretaris Daffa.


Pantaslah Anna merasakan berdebar-debar setiap kali berada dekat dengan Daffa. Ataupun gelisah saat tak bersama dengan Daffa. Anna akhirnya tahu nama perasaan yang dirasakannya terhadap Daffa semalam tadi.


Anna merasakan rindu.


Dan rindu itu muncul karena adanya bibit cinta yang baru tumbuh menjadi benih di dalam hati Anna.


Semua perasaan aneh dan debur jantung yang tak menentu itu disebabkan oleh satu rasa asing bernama cinta.


"Anna? are you okay? do you hear me?"


kembali suara Daffa memasuki indera pendengaran Anna.


Anna mengerjapkan matanya dua kali untuk memfokuskan pandangannya kembali ke wajah Daffa. Dan, menyadari wajah keduanya kini berjarak sangat dekat, telah memunculkan kembali rona merah di wajah Anna.


Anna menundukkan wajahnya. Mencoba mengibaskan rasa malu terhadap suaminya itu.


Dengan terbata-bata, Anna segera menjawab pertanyaan Daffa.


"I.. i'm o.kay!" sergah Anna seraya mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.


"Are you sure? (apa kamu yakin?)" tanya Daffa kembali.


"Y..yeah.. surely yes. (ya. tentu saja)" sahut Anna kembali. Kali ini dengan nada yang lebih terdengar meyakinkan.


"But your face look so red. (tapi wajahmu tampak kemerahan) apa kamu demam?" tanya Daffa seraya meraih kening Anna dengan lengan kanannya.


"No. no, Daff! i'm fine! cuma.. laper! ya. aku laper. kita sarapan yuk!" ajak Anna, mencoba mengalihkan perhatian Daffa darinya.


"Hmm..is that so? (begitu kah?)" tanya Daffa, masih tak yakin dengan kebenaran jawaban Anna.


"Ya! ayo. kita sarapan di luar gimana? aku rasa kaki ku sudan lebih baik. lihat. Aku tak lagi merasa terlalu sakit saat melangkah," tutur Anna seraya bangkit berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauhi Daffa.


"Hey! watch out! (awas!)" teriak Daffa saat melihat Anna hampir tersandung oleh bawahan mukenahnya.


Tapi syukurlah Anna bisa menjaga keseimbangan dan tak terjatuh. Walaupun ia sedikit merasa malu saat berbalik lagi dan menghadap suaminya itu. Tapi Anna memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat terakhirnya, "Lihat kan? i'm okay, Daff!" ujar Anna.


Daffa mendesah pelan. Ia lalu memberikan Anna senyuman hangatnya sebelum akhirnya berkata.


"Ya sudah, siap-siap dulu sana. Kita sarapan di luar. Saya dengar, di dekat sini ada tempat yang jualan nasi uduk," tutur Daffa.


"Oke. Aku mandi sebentar ya!"


Dan Anna pun melepas mukenah nya. Setelah itu ia mengambil pakaian ganti dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dalam hatinya Anna bersyukur. Karena ia berhasil mengalihkan Daffa dari dirinya. Anna berharap perasaannya pada Daffa tak disadari oleh pemuda itu. Karena ia takut, ia takut jika perhatian yang ditunjukkan Daffa terhadapnya selama beberapa hari ini hanyalah semu.


Anna ingin memastikan terlebih dulu perasaan Daffa terhadapnya. Mungkin dimulai dengan mengenal keluarga Daffa terlebih dahulu. Apakah keluarga Daffa sama seperti yang diceritakan oleh pemuda itu atau tidak.

__ADS_1


***


__ADS_2