
W A R N I N G!!!
DI BAWAH 21 TAHUN,
MELIPIR JAUH DULU DAH YA! 🙏😁🥰🤭
***
Acara pensi musik berakhir sekitar jam setengah lima sore. Setelah acara selesai, Anna bersama ke dua puluh delapan orang anggota panitia berjibaku membereskan peralatan sisa acara.
Sekitar jam setengah enam, Anna dan hampir semua mahasiswi diminta untuk pulang terlebih dulu oleh ketua Panitia, sekaligus merangkap ketua BEM, Kak Daniel. Sementara para mahasiswa lah yang akan membereskan sisa-sisa acara.
Ketika Anna keluar dari gerbang kampus, Daffa sudah berdiri menunggunya di dekat mobil. Saat mata Daffa menangkap sosok Anna yang berjalan ke arahnya, serta merta ia langsung berjalan menghampiri istrinya itu.
Anna yang dipandang dengan begitu intens nya oleg Daffa, tak kuasa menahan rona merah yang menjalar ke seluruh kulit wajahnya yang putih. Ia merasa sedikit malu, apalagi saat Daffa langsung meraih pinggang Anna dan memberinya kecupan di kening.
Anna melirik ke samping, dan ia langsung ingin menyembunyikan diri. Begitu dilihatnya teman-teman panitia pensi yang keluar gerbang bersamanya kini menatapnya dengan pandangan iri dan terkesima.
'Salahkan Daffa dengan sejuta pesonanya pada wanita!' gerutu Anna di dalam hati.
"Daff! Lepasin dulu dong! Aku malu tahu! Lihat! Teman-temanku ngelihatin kita loh!" Anna menegur Daffa dengan suara nyaris berbisik.
Daffa yang masih memeluk Anna untuk mencium aroma istrinya itu, tak ber segera melepaskan Anna. Ia malah menegur Anna dengan suara yang agak kencang.
"Kamu manggil apa tadi, Sayang?" Tegur Daffa sekaligus sindiran bagi Anna.
Anna yang tak langsung menyadari maksud Daffa, kembali mengutarakan keinginannya.
"Lepasin aku, Daff! Aku malu.. itu ada teman-temanku.." tutur Anna kembali.
Daffa kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Anna. Bagi orang lain yang melihat posisi pasutri itu, mereka mungkin mengira Daffa sedang mencium leher Anna. Seketika itu juga teman mahasiswi Anna yang masih berkumpul (ada sekitar lima orang) langsung berbisik-bisik heboh.
Sementara itu, Anna menangkap suara Daffa yang berbisik pelan, "Panggil saya Sayang dong, Ann.. baru nanti saya lepasin kamu!"
Blush..
__ADS_1
Wajah Anna kian merona. 'Benar! Aku lupa untuk memanggilnya dengan panggilan itu..Duh..Malu amat ya..' Anna membatin.
"Hmm..? Kamu kok diam aja sih, Dear..? Katanya mau nyapa teman-teman kampus kamu.. mereka masih nungguin kita loh itu.." bisik Daffa kembali, terdengar seperti godaan nakal di telinga Anna.
Akhirnya, dengan menanggung rasa malu dan canggung, Anna pun memanggil Daffa dengan panggilan Sayang. "Ss.. sayang.. tolong lepasin aku ya sekarang..?" Lirih Anna memohon.
"Oke, Dear.." sahut Daffa dengan patuh.
Seketika itu juga Daffa langsung merenggangkan pelukannya. Melihat ada kesempatan untuk melepaskan diri, Anna langsung agak mendorong dada bidang Daffa menjauh.
Setelahnya Anna menggamit tangan kanan Daffa untuk ia ciumi punggungnya. Dan barulah kemudian, ia menghadap ke arah teman-teman wanita nya yang ternyata masih menikmati pemandangan lovey-dovey pasutri baru itu.
Anna masih merasa malu saat ia menyapa teman-temannya. Ia berdeham pelan sambil memandang sedikit ke bagian bawah dari wajah teman-temannya itu.
"Semuanya! Aku pulang duluan yaa.." pamit Anna dengan malu-malu.
"Ehh.. bentar dulu dong, Ann.. Masa kita gak dikenalin sih sama cowok ganteng ini.. Dia siapanya Lo?" Celetuk Inge, dengan mulut kompor nya.
Anna sedikit memelototi Inge. Tapi saat dilihatnya teman-teman yang lain pun memberinya pandangan bertanya mengenai identitas Daffa baginya, akhirnya Anna mau tak mau pun memperkenalkan suaminya itu.
"Semuanya, kenalin ini Daffa. Daff--" Anna seketika menghentikan ucapannya saat ia mendapat cubitan di pinggang dari Daffa. "Aduh! Apaan sih?" Kini Anna memelototi suaminya itu yang begitu tega mencubitnya di depan teman-temannya.
Daffa memberi Anna senyuman jahil terlebih dahulu, sebelum ia kembali merangkul pinggang Anna hingga bahu keduanya menempel berdekatan.
"Hai semuanya! Perkenalkan, nama saya Daffa Scholinszki, suaminya Anna. Ya kan, Sayang?.." Daffa akhirnya memperkenalkan dirinya sendiri karena Anna tak juga mengerti dengan maksud cubitan tegurannya tadi.
Di samping Daffa, Anna kembali menunduk malu. Tapi kemudian ia mengangkat wajahnya untuk mengiyakan ucapan Daffa barusan. "Ehem! Iya. Semuanya, ini suami ku, Daffa," ucap Anna menguatkan pernyataan Daffa.
Seketika itu juga senyuman di wajah Daffa langsung melebar hingga kedua matanya terlihat menyipit. 'Akhirnya Anna memperkenalkan diriku sebagai suaminya juga pada teman-temannya! Semoga setelah ini, berita kami telah menikah tersebar cepat. Jadi aku tak perlu memikirkan persaingan laki-laki dari kampus nya Anna,' batin Daffa bermonolog.
"Ehh? Lo kapan nikahnya, Anna? Kok gua gak diundang sih?" Celetuk Inge kembali.
"Iya.. aku juga gak diundang,"
"Sama.. gua juga enggak. Tega deh Anna!"
__ADS_1
Anna sedikit merasa bersalah saat mendengar keluhan teman-temannya itu. Tapi laku Daffa menggantikan Anna memberikan penjelasan.
"Mohon maaf yaa semua.. kami memang baru nikah secara agama kira-kira hampir dua minggu yang lalu. Tapi nanti kalau kami ngadain resepsi, saya pastikan untuk mengirimkan undangan ke semua teman kampusnya Anna, termasuk kalian juga," tutur Daffa menenangkan.
"Oo.. gitu.." koor kelima teman wanita Anna.
"Mm.. kalau gitu, aku pulang duluan gak apa-apa ya semua! Kita jumpa lagi besok ya!" Pamit Anna terburu-buru, seraya setengah menarik lengan Daffa menuju pintu masuk mobil.
"Ok ladies.. see you!" Ucap Daffa ikutan pamit diri.
"Bye Anna! Bye Daff!" Koor kelima teman Anna kembali dari luar mobil.
Begitu keduanya sudah masuk ke dalam mobil dan pintu sudah terkunci, Anna langsung menghadap ke arah Daffa untuk menegur tingkah suaminya itu tadi yang dianggapnya agak berlebihan. Namun, belum sempat Anna menyelesaikan satu kata, Daffa tahu-tahu langsung menyergapnya dengan ci*uman di bibir. Ci*uman yang cukup lama...
...
...
Sekitar satu menit kemudian, Daffa melepaskan bibirnya dari bibir Anna. Penampilan istrinya itu kini terlihat kacau sekali. Rambutnya yang tadi dikuncir kuda, kini tergerai bebas dan sedikit berantakan.
Bibir Anna terlihat sedikit membengkak akibat serangan bibir Daffa. Melihat hasil perbuatannya, Daffa malah tersenyum puas.
Anna kini tampak megap-megap mengambil napas. Matanya membukat besar menatap bingung pada Daffa. "Ap..pa itu?hah. Hah." Tanya Anna tak mengerti dengan serangan Daffa kepadanya tadi.
Daffa lalu mengangkat tubuh Anna hingga ia berpindah jadi di atas pangkuannya. Jarak wajah keduanya kini sangatlah dekat. Sehingga Daffa bisa melihat rona pink di jedua pipi Anna. 'My Lovely Angel.. (bidadari ku yang menggemaskan!)' puji Daffa pada istrinya itu.
Daffa lalu menyurukkan kepalanya di antara leher dan pundak kanan Anna. Dengan pelan dihirupnya aroma istrinya itu. Sebuah aksi yang langsung menciptakan sensasi merinding ke seluruh bagian tubuh Anna.
"Dd.. Daff!" Anna mencoba untuk bangkit dari pangkuan Daffa. Tapi lengan Daffa seolah telah menahan pinggangnya dengan cukup kuat.
Anna melirik ke bagian depan, dan syukurlah Pak Kiman yang berada di balik kemudi telah sigap menutup partisi di antara kursi depan dan kursi belakang sedari tadi.
"Hmm.. i miss you so, Dear.. (saya rindu kamu banget, Sayang..)" lirih Daffa di telinga kanan Anna.
***
__ADS_1